Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Menyelamatkan Tetua Li


__ADS_3

Lin Chen ragu untuk mendekat, dia tidak mau membuat Tiku-tikus itu menjadi semakin liar dan beringas yang akhirnya akan membuat tetua Yun dan yang lainnya semakin terpojok.


Sementara tetua Yun membagi dua kelompok untuk memecah perhatian. Satu kelompok dipimpin sendiri olehnya dan satu kelompok lain di pimpin oleh tetua Li, mereka berlari ke dua arah yang berbeda.


Semua gerakan anggota Pasukan Naga ini dilihat Lin Chen tanpa bisa berbuat apa-apa. Kalau dia sendiri, dia tidak akan terlalu pusing karena dia yakin akan kemampuannya.


"Senapan runduk. Ah iya betul juga." Lin Chen menepuk pahanya, kenapa sampai dia melupakan senjata ini? selama ini dia terus membawa senapan runduk itu. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menggunakannya.


Jarak efisien dari senapan runduk di tangan Lin Chen hanya delapan ratus meter dan Lin Chen sendiri cukup yakin dengan akurasi tembakannya di jarak tiga ratus meter. Ini sudah cukup mengingat jarak antara dirinya dan target hanya sekitar tiga ratus meter.


Yeah paling tidak ada beberapa dari target yang bisa dibunuhnya.


Lin Chen mengambil posisi, sesuai yang di pelajari sewaktu latihan menembak.


Dua ratus meter, Lin Chen membidik dan.


Slurp


Peluru pertama ditembakkan, namun tidak mengenai telak sasaran, yaitu mata. Peluru itu hanya lima senti dari target. Lin Chen membidik lagi dan kali ini tepat sasaran.


Tikus Api yang tertembak itu pun tumbang dan tewas karena titik lemahnya ditembusi peluru tajam.


"Bagus!" gumam Lin Chen. "Selanjutnya kamu." sambung Lin Chen lagi sambil membidik Tikus kedua.


Setelah beberapa kali percobaan, kini Lin Chen mulai terbiasa. Bidikannya selalu tepat sasaran. Bahkan Tikus Api yang sedang berlari pun bisa Lin Chen jatuhkan dengan mudah tapi tentu saja jaraknya tetap di bawah tiga ratus meter.


Lin Chen terus menembak dan membidik, sudah lebih dari lima Tikus Api yang tewas karena tertembak. Memang Tikus-tikus Api ini juga mendeteksi dan langsung berpencar mencari Lin Chen namun Lin Chen yang sudah menghilangkan auranya tidak dapat ditemukan.


Dan karena tim itu terbagi dua, Lin Chen tidak bisa mengikuti mereka semua dan memutuskan untuk mengikuti tim tetua Li yang di dalamnya ada Song Wanting.


Lin Chen mengikuti tim tetua Li sampai ke tanah berbatu. Dari tempatnya berada sekarang dia bisa mendengar suara teriakan dan cuitan dari Tikus Api. Tim tetua Li kini berhadapan langsung dengan Tikus-tikus Api.


Tetua Li tampak sangat kewalahan, hanya tinggal tiga orang saja yang tersisa termasuk Song Wanting dan kondisi mereka sudah sangat payah. Lalu Lin Chen mengambil posisi tembak yang pas.

__ADS_1


"Wanting! pergi, biar aku membuka jalan untuk kalian." Seru tetua Li.


"Tapi tetua."


"Tidak ada tapi tapi, cepat! atau tidak ada yang bisa selamat." tetua Li menggertakkan giginya sambil terus merangsek maju menghadang lima ekor Tikus Api yang marah.


Mendengar seruan ini, Lin Chen yang awalnya kurang suka dengan tetua Li mengangguk kagum. Seorang tetua yang dengan berani mengorbankan dirinya demi keselamatan timnya. Ini benar-benar di luar ekspektasi nya tentang tetua Li.


Dia sebenarnya ingin memanggil Song Wanting tapi Ia takut ada tikus api yang mendeteksi lokasinya.


Sratt...


Baju tetua Li terkoyak lagi. Dia kini dikepung oleh lima Tikus Api.


"Tetua!"


"Pergii!"


Song Wanting berlari pergi, meninggalkan tetua Li yang semakin lama semakin lemah. Beruntung pil vialitas yang Lin Chen berikan sebelumya sangat membantu, tapi sampai kapan?


Sadar akan berkurangnya Tikus Api yang terus mengikutinya, Song Wanting pun berhenti, dia tidak melihat prosesnya tapi Tikus-tikus Api itu tergeletak begitu saja dengan darah yang mengalir dari matanya yang kini berlubang.


"Chen!"


Song Wanting berseru keras melihat Lin Chen yang mendatanginya sambil tersenyum, tiku-tikus api yang semula mengejarnya kini tidak ada lagi.


"Kamu sangat hebat bisa membidik dengan tepat." ujar Wong Wanting namun Lin Chen tidak menanggapinya, dia hanya mengangguk ringan dan mengajak Sing Wanting untuk membantu tetua Li.


Sementara itu tetua Li yang kini berjuang sendiri sudah sangat tidak berdaya, nafasnya sudah tidak beraturan dan dia kini hanya bisa bertahan sambil berjalan mundur.


"Ini sudah sampai batasku. aku harap kalian semua bisa baik-baik saja." gumam tetua Li. Saat ini dia akan menggunakan kekuatan terakhirnya.


Sesaat kemudian, dia melompat mundur lalu berseru nyaring sambil mengambil pose dengan merentangkan kedua tangannya ke samping. Dia berdiri kokoh.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, fluktuasi udara berubah di sekitar tubuhnya, ada energi yang tidak tampak menyelimuti seluruh tubuh tetua Li. Tangan kanannya yang menggenggam belati besar ia pegang erat-erat dan menunjuk ke depan.


"Ayo majulah! hari ini, aku tetua Li dari dari Pasukan Naga akan bertarung sampai akhir!"


Tetua Li menerjang membawa kekuatan penuhnya yang, belati nya sampai menimbulkan suara seperti sayatan saat dia bergerak.


Jika itu hanya binatang biasa, sudah dapat dipastikan binatang itu akan langsung terbelah dan terbunuh bahkan sebelum belati itu mengenai tubuh nya, sayangnya ini adalah Tikus Api, hewan yang belum pernah ada dan muncul entah dari mana. Bahkan saat di puncaknya saja tetua Li hanya bisa membunuh dua ekor saja.


Seperti merasakan bahaya, Tikus Api yang kini berjumlah lima ekor itu mendengus pelan dan mengambil sedikit jarak tapi bukan berarti mereka takut.


Satu Tikus Api melompat menghadang belati tetua Li dengan cakarnya sementara yang lain mengambil posisi dari samping dan belakang tetua Li.


Benar saja, tikus yang menghadang itu tidak merasakan apa-apa saat berbenturan dengan belati tetua Li. Tikus itu tampak meremehkan serangan itu itu namun, tetua Li yang sarat akan pengalaman bertarung tentu saja tidak kehilangan momentumnya. Saat belatinya berbenturan dengan kuku Tikus Api itu, gerakan belatinya berubah dan langsung menusuk bagian rahang bawah. Gerakan ini berhasil melukai Tikus Api.


Bisa dibayangkan kekuatan tusukan ini, Tikus Api yang biasanya kebal itupun terluka, darah merembes dari luka itu.


Ciiit


Tikus Api lain mencicit, tampak marah karena rekannya terluka.


Tetua Li mencabut belati dengan cepat lalu melompat menghindari serangan dari samping.


*****


*****


Tikus Api kembali terluka ketika belati di tangan tetua Li melukai bagian dalam kaki depannya saat mencoba menyerang Tetua Li.


Namun, serangan ketiga, keempat dan kelima tidak bisa dihindari lagi oleh tetua Li. Tubuhnya kembali tersayat oleh kuku tajam Tikus Api.


Tetua Li kembali melompat menjauh, tenaganya mulai habis karena dua serangan barusan. Dia tampak pasrah ketika sebuah cakar kembali mengincar dadanya. Dalam pikirannya, cakar ini akan membuatnya terluka parah dan kemungkinan terburuknya dirinya akan tewas dengan dada terbelah.


psiuu

__ADS_1


Suara teredam dari senapan runduk terdengar, sesaat kemudian cakar Tikus Api yang hanya berjarak satu senti dari dada tetua Li terkulai.


__ADS_2