Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Tidak Ada Maaf Yang Kedua


__ADS_3

Alamat yang diberikan oleh Mao Dong adalah sebuah bar yang cukup ramai. Tujuan Lin Chen datang hanya untuk mencari bukti dan kalau memang tebakannya benar maka malam ini adalah malam terakhir bagi Bong Lei.


Dia sudah memaafkannya sekali tapi tidak ada yang kedua kali apalagi ketiga kali.


Lin Chen tidak mudah tersulut amarah dan dengan mudah bisa memaafkan tapi lain cerita kalau sudah merusak kliniknya. Baginya klinik kecil itu adalah rumahnya dan siapa pun yang mencoba mengacaukan klinik nya maka orang itu layak dilenyapkan.


Orang-orang seperti Bong Lei tidak pernah akan bertobat dan kalau dibiarkan pasti akan terus mengganggu.


'Lalu kenapa kalau ada keluarga Wu yang menyokongnya? aku tidak akan mundur.' ucap Lin Chen dalam hati.


Lin Chen memasuki bar dan duduk di kursi pojok agar tidak terlalu menarik perhatian. Sementara Indra nya terus mengamati.


Sepuluh menit berlalu, namun tidak ada informasi apa pun yang dia dapat. Saat akan pergi, tiba-tiba dia menangkap sosok Bong Lei yang turun dari lantai dua bersama kaki tangannya.


"Kak Bong, sayang sekali pria itu tidak ada di sana."


"Jangan khawatir, malam nanti kita ke klinik itu lagi, bawa lebih banyak anak buah. Kita ratakan klinik itu kalau dia tetap tidak mau menyerah kan barang itu."


Lin Chen kini yakin, orang inilah yang mengobrak-abrik kliniknya. Tepat ketika Bong Lei dan anak buahnya berjalan, dia melihat Lin Chen yang saatiu sudah berdiri.


"Haha tidak kusangka kamu datang sendiri."


Bong Lei tertawa senang, dia sama sekali tidak takut. sebenarnya dia juga sedikit takut sejak Lin Chen membuatnya tidak berdaya tapi ini adalah tempatnya, anak buahnya dua kali lebih banyak dari pertemuan terakhir mereka.


"Tangkap orang ini! aku mau kaki dan tangannya. tapi ingat jangan membunuhnya, aku masih butuh barang yang dia sembunyikan." perintah Bong Lei.


Dua orang di sampingnya langsung bergerak maju dan menyerang Lin Chen dengan tinjunya.


Lin Chen yang dari awal sudah berniat melumpuhkan Bong Li tentu saja tidak tinggal diam, sebelum dua orang ini mendekat, dia lebih dulu bergerak dan memberikan tendangan keras yang membuat dua orang ini terpental jatuh dan tidak bangun lagi.


"Kurang ajar! berani kamu melukai orang ku? cepat! tunggu apa lagi hajar!"

__ADS_1


Bong Lei berteriak keras, sementara kerumunan yang tadinya banyak itu berlarian ketika melihat keributan. "Kunci pintunya." Bong Lei berseru lagi.


Kini hanya ada Lin Chen di ruangan besar itu, dia dikepung lebih dari tiga puluh orang yang menatapnya dengan pandangan membunuh.


Dua orang lagi bergerak maju, namun seperti yang pertama, dua orang ini langsung tersungkur ketika sebuah tendangan mendarat di dada mereka.


Lin Chen tidak menunggu lagi, dia bergerak cepat membagi pukulan dan tendangan, sama sekali tidak memberi ampun. Dia bagaikan serigala yang masuk ke kandang domba.


Tidak sampai satu menit, tiga puluh orang anak buah Bong Lei sudah terkapar, ada yang mengerang kesakitan dan ada pula yang diam tak bergerak. Entah tewas atau hanya pingsan, Lin Chen juga tidak peduli.


"Bong Lei, aku sudah memberimu ampunan namun kami masih saja menggangguku, menurutmu, apa yang harus aku lakukan padamu."


Kata Lin Chen sambil menatap dingin Bong Lei yang mulai gemetar ketakutan.


Tukk!


"Tuan, ampuni aku sekali ini saja. Aku janji tidak akan mengganggu anda lagi."


Sayangnya Lin Chen datang tidak untuk memberi ampunan, dia justru datang untuk memberi hukuman.


"Bukankah tadi kau bilang malam nanti akan kembali ke klinik?"


"Tidak, aku tidak berani."


"Huh berani tidak berani. Tidak akan ada yang kedua kali bagimu."


Merasa tidak ada kesempatan lagi, Bong Lei segera bangun, "Aku adalah anggota Macan Terbang, dan Macan Terbang tidak akan melepasmu."


"Ya, ya, ya, tapi sebelum itu aku yang tak akan melepasmu lebih dulu."


Bukk!

__ADS_1


Dengan satu tendangan keras, Bong Lei terlempar sejauh lima meter sampai menabrak dinding. Dia tidak akan bangun lagi karena Lin Chen menekan titik akupunktur di dadanya. Itu tidak sulit bagi Lin Chen.


Dengan begitu dia tidak akan mendapat masalah, paling-paling hanya akan dimintai keterangan saja jika ada yang melapor.


Zaman sudah berubah, membunuh adalah kejahatan serius. Bong Lei hanya akan divonis gagal ginjal atau semacamnya kalau diperiksa, sama seperti anak buahnya yang pingsan.


Melenyapkan Bong Lei bukanlah perkara yang rumit, kalau saja Lin Chen tidak harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu, dia akan langsung melacak nya begitu masuk ke dalam bar.


Lin Chen kembali ke klinik, mengobati Tong Dji dan masuk ke kamarnya. Meskipun Lin Chen bisa dengan mudah menyerap energi spiritual atau menelan pil tapi tubuh yang yang sekarang masih perlu untuk tidur, begitu juga dengan makan. Dia belum sampai ke tingkat dimana dia bisa tidak tidur atau makan sampai berhari-hari.


Di bar.


Bong Shan adalah kakak dari Bong Lei, dia menjabat sebagai wakil ketua dari Macan Terbang.


Saat ini dia tampak sangat marah melihat Bong Lei yang sudah terbujur kaku. Tidak ada jejak pertemuan di tubuhnya, hanya dikatakan kalau dia tewas karena aliran darah yang tidak stabil karena gaya hidup yang bebas.


"Sialan! cepat selidiki siapa yang membuat semua masalah ini." serunya, namun, setelah beberapa saat, tak ada hasil yang memuaskan. Orang-orang yang sebelumnya ikut berasa di bar tidak ada yang mengenali Lin Chen.


Masalah ini menguap begitu saja sampai suatu hari dia mendapat kabar kalau Bong Lei sebelumnya melaksanakan perintah tuan Wu untuk berurusan dengan seseorang yang memiliki Giok murni dan menginginkan nya.


Bong Shan bergerak cepat dan dengan mengandalkan jaringan mata-mata Macan Terbang, akhirnya dia menemukan kalau Lin Chen berhubungan dengan kematian Bong Lei. Siapa Lin Chen? dia sendiri tidak tau, yang dia tau Lin Chen adalah seorang dokter pengobatan tradisional yang entah dengan cara apa berhasil memenangkan bijih Giok.


"Lin Chen! tunggu saja, kau harus membayar semua ini dengan hidupmu." kata Bong Shan dengan geram.


Sementara itu Lin Chen saat ini sedang berada di desa, dia telah selesai memasang formasi lima elemen di kebun herbanya.


"Kekuatan ku masih sangat kurang, tapi paling tidak ini jauh lebih baik daripada menggunakan kertas jimat."


Lin Chen mendesah pelan sambil menikmati aliran energi spiritual yang berkumpul di dalam rumah kaca yang dibangun khusus untuk tanaman herba.


"Nah kau tumbuhlah dengan baik di sini." gumam Lin Chen lagi setelah selesai menanam pohon apel emas spiritual. Dahulu, apel ini tumbuh di dalam pot yang berisi tanah dari sampah langit, namun seiring berjalannya waktu, energi dalam tanah itu berkurang sehingga pohon apel tidak berbuah lagi.

__ADS_1


Lin Chen lalu menaman nya di dalam rumah kaca dan sesuai harapan, pohon apel spiritual kini tumbuh subur berkat energi spiritual yang terkumpul.


__ADS_2