Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Kuberikan Dua Serangan


__ADS_3

Song Wanting adalah primadona kepolisian, begitu dia bergabung dengan biro Naga, tidak butuh waktu lama sampai merebut perhatian dan menjadi idola baru.


Song Wanting terlebih dahulu melapor pada tetua Li sesaat setelah tiba, lalu bergabung dengan pasukan lainnya.


"Nona Song, siapa pria yang bersamamu?"


Hua Man, bintang yang bersinar di antara pasukan Naga, datang menyapa song Wanting. Dia juga terpesona dan menaruh hati padanya.


"Kenalkan, ini adalah dokter Lin yang direkomendasikan langsung oleh tetua Huang dan tetua Lu sebagai tenaga medis."


Song Wanting juga sengaja mengenalkan Lin Chen sebagai rekomendasi tetua, dia tidak mau mereka menganggapnya remeh.


"Halo semua, mohon bantuannya."


Lin Chen mencoba bersikap ramah di antara tatapan iri pasukan yang lain, sebenarnya Song Wanting bukan satu-satunya wanita yang bergabung, hanya saja dialah yang paling menonjol. Bukan cuma kecantikan dan perangainya tapi juga keahlian nya. Dia bergabung sebagai tim sniper, juga sangat kuat dalam pertarungan jarak dekat.


Direkomendasikan oleh tetua Huang dan tetua Lu? ini membuat kaget, tidak pernah sekalipun dua tetua secara langsung merekomendasikan seseorang.


Lalu kenapa kalau direkomendasikan? itu tidak akan merubah apa-apa, lagipula Lin Chen seorang dokter, bukan pasukan seperti mereka.


"Tidak tau apakah dokter Lin bersedia bertukar sedikit kebijaksanaan di atas ring." kata Hua man.


"Hua Man, jangan keterlaluan." Song Wanting yang merasa Huan Man sedang mencari kesempatan mulai protes. Hua Man adalah orang terkuat, meskipun dia tau Lin Chen juga kuat tapi menurutnya belum cukup kuat untuk bertarung dengan Hua Man.


"Kenapa? ini toh tidak melanggar peraturan? ini juga hanya pemanasan saja sebelum kita berangkat."


"Kita tidak tau apa yang menunggu kita di medan perang sana. Kalau hanya luka kecil saja dokter Lin tidak bisa menanggungnya maka percuma saja dia ikut. Lagipula dia seorang dokter kan, mana mungkin tidak bisa mengobati luka sendiri."


Tanpa di komando, pasukan Naga secara otomatis membuat lingkaran dan menyisakan Lin Chen dan Hua Man di tengah. Song Wanting secara tidak sadar ikut terseret melingkar.


Arena sudah siap, mustahil membatalkan nya. Ini juga sudah menjadi tradisi bagi pasukan Naga, jika lingkaran sudah tercipta maka dua orang yang berada di dalamnya harus memberi hiburan.


"Kamu sangat ingin bertarung?"


"Kecuali kalo dokter Lin takut dan mengakui kekalahan."

__ADS_1


"hehe silahkan kalau begitu."


Lin Chen langsung mencabut belati dari pinggangnya, itu bukan belati miliknya sendiri tapi belati yang diberikan sebagai perlengkapan. Belatinya sendiri tetap di pinggangnya.


"Kamu.... "


Hua Man tidak menyangka Lin Chen akan mencabut belatinya, ini hanya salam perkenalan biasa dan tidak sampai harus menggunakan belati.


Tatapan mata pasukan lain pun sama, tidak mengira gerakan Lin Chen. Namun, belati sudah terhunus, mustahil disarungkan lagi.


"Kecuali kamu takut dan mengakui kekalahan."


Kali ini Lin Chen berkata, meniru ucapan Hua Man sebelumnya.


"Haha bagus, bagus, aku akui kamu cukup berani."


Hua Man juga mencabut belati.


Dari jauh tampak sepasang mata menatap tajam ke dalam lingkaran. Dia adalah tetua Li. Lin Chen sukses menarik perhatian nya.


Di dalam lingkaran, Hua Man tidak menunggu lagi. Dengan gerakan yang tangkas, belati di tangannya menusuk lurus ke dada Lin Chen.


"Terlalu lemah." ujar Lin Chen saat ujung belati Hua Man menusuk badan belati Lin Chen.


Hua Man juga bukannya pria yang baru saja memegang belati, setelah tusukannya dapat ditahan, Ia menarik sedikit belatinya dan dengan langkah memutar, belatinya kembali mengincar dada Lin Chen.


Sebuah gerakan yang lincah dan cepat dari bintang baru pasukan Naga. Namun lagi-lagi Lin Chen berhasil menahannya.


"Bagaimana dengan ini?"


Ucap Hua Man yang gusar. Dua serangan dengan kekuatan penuhnya sama sekali tidak berdaya menghadapi Lin Chen. Namun, sebelum sempat menyerang lagi untuk yang ketiga kalinya, Lin Chen sudah berada di sampingnya dan menyayat pinggang nya.


"Bagiku, tidak ada yang ketiga. Cukup dua kali." kata Lin Chen dingin. Lalu dua sayatan lagi muncul di lengan kanan dan paha Hua Man. Terakhir, Lin menancapkan belatinya di pundak Hua Man.


Lin Chen mengukur kekuatan nya sehingga tidak sampai melukai parah dan menghindari titik-titik vital namun, tetap saja empat luka berdarah membuat Hua Man jatuh berlutut.

__ADS_1


"Tenang saja, kamu tidak akan mati. Itu hanya luka luar, lagipula aku ini dokter kan, kamu tidak akan mati selama ada aku."


Lin Chen berkata arogan, membalas ucapan Hua Man sebelumnya.


"Jadi, apa masih ada yang ingin bertukar sedikit kebijaksanaan?" Lin Chen menatap pasukan Naga satu persatu. Tatapannya yang dingin membuat mereka semua terdiam melihat Lin Chen yang berdiri sambil memainkan belati di tangannya.


Siapa yang berani maju? Hua Man saja, yang terbaik dari mereka tidak berdaya, apalagi mereka.


"Ehem... sudah, sudah, bereskan peralatan kalian, satu menit lagi kita berangkat."


Tetua Li yang melihat dari jauh angkat bicara, "Dokter Lin obati luka Hua Man." katanya lagi tapi masih tetap tidak puas dengan Lin Chen.


Hanya mengalahkan Hua Man bukan berarti yang terkuat dan cukup untuk mengakuinya, pasukan ini hanya rekrutan baru dan hanya sebagian adalah orang lama, itu pun hanya anggota biasa-biasa saja.


"Sedikit luka dan darah tidak menghambat pasukan Naga."


Lin Chen mengabaikan tetua Li, bukan dia yang mulai. Kalau tetua Li tidak suka juga bukan masalah, dia bisa pulang dan kembali ke kehidupan nya.


Tetua Li tidak berbicara lagi, hanya saja tatapan matanya yang tajam menatap Lin Chen.


Di atas pesawat pengangkut, Hua Man yang telah mengolesi lukanya sendiri duduk diam. Dia masih tidak percaya dia dikalahkan dengan mudah oleh seorang dokter yang terlihat lemah.


"Dokter Lin, apa kamu sungguh tidak akan memeriksa luka Hua Man?" tanya Song Wanting yang duduk di dekat Lin Chen.


"Lukanya tidak berbahaya, biarkan saja. Sedikit darah yang yang keluar bukanlah apa-apa bagi pasukan Naga."


Lin Chen benar-benar tidak peduli, bukan kejam tapi bersikap arogan itu perlu, apalagi dia di tengah-tengah pasukan yang menganggap kekuatan adalah segalanya.


"Oke."


Song Wanting berkata singkat tapi matanya berbinar, sikap dan perbuatan Lin Chen sangat hebat, tak ada ketahuan sedikit pun dalam tindakannya bahkan perintah tetua Li saja diacuhkan.


Bagaimana dengan yang lain? mereka tentu saja kagum. Secara tidak langsung mereka pun mengakui Lin Chen dalam hati.


"Eh, kamu kenapa? apa tidak nyaman?" Lin Chen melirik Song Wanting yang menggeser duduknya kedekat Lin Chen.

__ADS_1


"A-aku baik-baik saja. Perjalanan masih cukup lama, kamu bisa istirahat kalau mau." katanya. Sikapnya yang sedikit perhatian membuat Lin Chen merasa aneh namun berbeda dengan Song Wanting, dia melirik kearah lain.


Di sana dia melihat anggota wanita yang menatap Lin Chen dengan tatapan yang lain, seperti mau menelan Lin Chen utuh. Dia seolah berkata, jangan mendekat, dia milikku.


__ADS_2