
"Keluarlah! bukankah sudah saat nya kau keluar?"
Lin Chen tidak memandang orang-orang di depannya, pandangannya justru ke arah yang lain sambil tersenyum. Ucapan nya juga biasa saja, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Bahkan Jun Xing dan lainnya yang juga sudah pulih kembali juga bingung. Siapa yang Lin Chen suruh keluar?
Di tempat lain yang jaraknya tidak kurang dari tiga ratus meter, seorang pria paruh baya tampak terkesiap mendengar ucapan Lin Chen, dia bertanya-tanya apakah kehadiran dirinya sudah diketahui? tapi bukankah itu mustahil, dia sudah menyembunyikan diri dengan sangat baik.
Tapi bukan hanya itu yang membuatnya kaget, melainkan kondisi Jun Xing dan lainnya yang telah pulih kembali serta dipenuhi vitalitas. Seketika timbul keserakahan di dalam matanya. Pil itu pasti sangat berharga dan bernilai tinggi.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memaksamu keluar." Lin Chen memungut sebuah tongkat kayu bulat yang banyak berserakan di tanah.
Lalu tanpa mengenal belas kasihan, Lin Chen memukul siapa pun yang ada di dekatnya. Saking kerasnya pukulannya, hanya dua kali digunakan, tongkat kayu itu hancur dan patah jadi terpaksa dia memungut tongkat yang baru.
Apanya yang tingkat prajurit, di depan Lin Chen semua tidak lebih dari sampah. Pengalaman bertarung dan kekuatan Qi spiritual yang terus bergerak mengalir di seluruh tubuhnya membuat setengah dari anggota Macan Terbang terkapar.
Suara erangan kesakitan pun terdengar di mana-mana, raungan minta tolong mau pun permohonan ampun tidak melambatkan gerakan Lin Chen, dia justru semakin semakin semangat.
Target utamanya adalah sepuluh tingkat prajurit ini, kekuatan musuhnya pasti melemah dengan hilangnya mereka.
"Tidak! jangan kesini."
"Jangan, jangan, aaa."
Tidak sampai lima menit, sepuluh tingkat prajurit itu sudah tergeletak tak berdaya berikut puluhan lainnya, sementara sisanya sudah melarikan diri.
Pembantaian, mungkin inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi ini. Tak ada tidak terluka, yang paling ringan adalah patah tulang lengan atau kaki sedangkan yang berat adalah yang kepalanya pecah, entah sudah tewas atau hanya pingsan Lin Chen juga tidak peduli. Mao Dong bisa menyelesaikan sisanya.
"Saudara Jun, apakah memang pimpinan semenakutkan ini?" Bahkan Mao Dong yang notabene mantan anggota Harimau Terbang juga kaget.
"Tuan sangat kuat, benar-benar tidak terkalahkan."
Jun Xing tidak menanggapi Mao Dong, pancaran kekaguman sangat jelas di matanya melihat Lin Chen yang masih berdiri dengan tongkat kayu yang baru.
Berbeda dengan Mao Dong, Jun Xing dasarnya adalah pegiat beladiri yang menganggap kekuatan di atas segalanya. Sedangkan Mao Dong, meskipun termasuk pegiat beladiri juga namun dia lebih condong ke bidang manajemen.
"Tuan, tuan... am-ampuni kami. Kami tidak berani lagi."
__ADS_1
"Meskipun kalian masih berani, hidup kalian hanya sampai disini, tak ada kesempatan kedua."
Sahut Lin Chen dingin, dalam sekali pandang dia tau ada beberapa orang yang tewas dari sepuluh tingkat prajurit ini, sisanya bisa dipastikan tidak akan berguna lagi.
"Jadi kau masih belum mau keluar? oke, biar aku saja yang datang."
Selepas itu Lin Chen melompat dan berlari mendekati orang yang bersembunyi, sesaat kemudian dia sudah tiba, tepat di depan orang itu.
Glek!
Orang itu menelan ludahnya, ini diluar prediksinya. Organisasi tidak pernah memberitahu informasi kekuatan Paviliun Langit. Dia juga tidak tau kalau yang berdiri di depannya ini adalah pimpinan Paviliun Langit, Lin Chen.
"Aku tidak akan bertanya lagi. Katakan, siapa pemimpinmu."
Di bawah tatapan Lin Chen yang dingin, orang itu berkata dengan takut-takut. "Kau tidak akan bisa melihat matahari besok kalau berani macam-macam." katanya.
"Biarkan aku pergi maka masalah ini hanya akan sampai disini saja." sambungnya lagi. Meskipun dia yakin tidak sanggup melawan Lin Chen tapi organisasi di belakangnya pasti membuat Lin tidak akan berani macam-macam dengannya.
"Mau pulang? hehe tidak usah pulang, tinggallah di sini."
Lin Chen tidak peduli lagi, mau siapa pun yang ada di belakang orang ini dia tidak akan mundur. Keluarga Wu sudah menjadi musuhnya sejak mengepung dan menyerang anggotanya jadi tidak masalah kalau harus menambah satu musuh lagi.
"Eh? pedangmu cukup bagus."
Lin Chen yang tidak mau berbasa basi lagi menyabetkan tongkat nya tapi ditangkis dan ditahan menggunakan pedang oleh orang itu. Hanya satu tebasan, tongkat di tangannya terpotong hancur.
Pedang di tangan orang itu memancarkan sedikit aura saat digunakan, Lin Chen dapat merasakannya dengan jelas. Hanya karena orang di depannya ini yang lemah sehingga tidak dapat mengeluarkan potensi senjatanya.
"Hehe kini kau tau, kalau begitu matilah!"
Melihat tongkat kayu di tangan Lin Chen yang patah serta Lin Chen yang memuji pedangnya, orang ini seketika menjadi besar kepala. Dia beranggapan Lin Chen takut, lagipula dia juga di tingkat prajurit tahap puncak, tidak seperti sepuluh orang yang hanya tingkat prajurit rendah.
Mengandalkan pedangnya, orang ini menyerang lebih dahulu, fluktuasi aura tingkat prajurit puncak juga meledak dari tubuhnya.
Sayangnya dia bukanlah apa-apa bagi Lin Chen, dia dengan mudah menghindar sambil terus mengagumi pedang lawan.
Sampai gerakan ke lima, Lin Chen sudah dapat menemukan celah. Tinjunya yang kuat bersarang di dada orang itu dan membuatnya terlempar seraya menyemburkan darah segar dari mulutnya.
__ADS_1
lalu dengan satu kali lompatan, Lin Chen mendaratkan kakinya di dada orang itu.
Krek!
Terdengar suara tulang patah, orang itu pun tewas dengan mata melotot pasrah.
Lin Chen dengan santai lalu mengambil pedang di tangan orang itu.
Sekali pegang saja dia sudah tau kualitas pedang ini, pedang itu bahkan sanggup menahan getaran Qi spiritual yang Lin Chen salurkan.
Sratt!
Hanya dengan satu sabetan, pedang yang kini diselimuti Qi spiritual itu membabat putus pohon-pohon di sekitar nya. Meskipun hanya bisa menahan sedikit Qi spiritual, namun pedang di tangan Lin Chen merupakan pedang terbaik yang pernah dimilikinya.
Tentu saja belati putihnya berbeda. Belati putihnya jauh di atas pedang itu.
"Pedang yang bagus tuan."
Suara Jun Xing datang dari samping, dia tadi mengikuti Lin Chen saat melompat tadi. Khawatir ada musuh yang kuat dan membahayakan tuannya.
"Yeah, lumayan. Jun Xing, aku pulang dulu. Dimana Mao Dong?"
"Dia mengatur anak buah membersihkan tempat ini tuan."
Sambil berjalan kembali ketempat awal, Jun Xing meminta untuk mengantar Lin Chen. Tidak mungkin membiarkan tuannya menyetir mobil sendiri.
Sedangkan Mao Dong memimpin pembersihan.
"Bagaimana kamu membereskan masalah ini?" Lin Chen yang penasaran bertanya pada Mao Dong. Latar belakang Lin Chen bukanlah preman, dia tidak pernah bersinggungan dengan dunia ini jadi dia cukup penasaran dengan apa yang akan Mao Dong lakukan.
"Yang tewas akan dibuang di sungai sedangkan yang terluka akan dibuang di jalan." jawab Mao Dong tenang.
"Tapi tidak ada sungai di sekitar sini."
"Kalau begitu kita buang di jurang depan sana saja."
Glek!
__ADS_1
"Orang-orang ini benar-benar kejam." gumam Lin Chen, tapi suaranya ini tidak terlalu pelan sehingga dapat di dengar jelas oleh orang yang berada dekat dengannya.