Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Mengobati Banyak Pasien


__ADS_3

Lin Chen bergerak cepat, karena yang paling parah adalah si pria maka Lin Chen mengobatinya terlebih dahulu. Dia mengalami gegar otak ringan, tangannya patah dan ada tulang rusuk yang juga patah.


Penanganannya tidak menyelesaikan masalah pria itu seratus persen, cukup sampai keadaannya tidak berbahaya lagi dan yang paling berbahaya adalah bergesernya beberapa organ dalam, Lin Chen menghabiskan cukup banyak energi spiritual nya.


Lalu Lin Chen menangani gadis kecil itu, tidak separah si pria, mungkin dia duduk di belakang, pikir Lin Chen.


Energi spiritual kembali bekerja, kali ini Lin Chen menyembuhkan gadis kecil itu sampai benar-benar tidak ada bahaya lagi.


"Wanting, bawa ini kepada Tong Dji, katakan harus selesai dalam dua menit dan minta dia membawa segelas air dingin."


Song Wanting tidak berbicara, Ia hanya mengangguk pelan.


Lin Chen mulai menangani si pria, akupunktur dilakukan untuk menjaga kestabilan nafas lalu pelan-pelan memperbaiki tulang rusuk yang patah dengan cara menekannya. Selanjutnya memperbaiki tulang kaki yang patah dan membalutnya.


Ini terlalu aneh, "aku merasa kecelakaan ini tidak sesederhana yang terlihat." Gumam Lin Chen.


Pria dan putri kecil itu ditangani dengan baik, tinggal pemulihan saja dan sekarang sedang berbaring di salah satu kamar di klinik.


Mendengar kecelakaan beruntun dari pria yang mengantar korban ke klinik, Lin Chen dan Song Wanting segera pergi melihat.


Di depan Lin Chen saat ini puluhan mobil terlihat tidak beraturan, beberapa di antaranya ringsek terutama mobil yang paling depan yang dikendarai oleh pria yang Lin Chen obati.


Siang itu jalanan di sekitar tempat kecelakaan cukup padat, sehingga banyak yang terkena imbas dari kecelakaan ini, termasuk pejalan kaki. Lin Chen yang berdiri di sana memutuskan untuk membantu dan tempat yang paling cocok adalah Rumah Sakit.


Rumah Sakit kota Liang kali ini benar-benar sibuk, semua korban kecelakaan beruntun di bawa kesini. Puluhan orang berdesakan, memenuhi ruang gawat darurat sampai keluar gerbang. Dokter, perawat, anggota keluarga berteriak panik.


Untungnya Song Wanting juga ikut dan langsung memimpin tim khusus menangani situasi yang sangat kacau ini.


"Wanting, aku akan masuk."


Song Wanting mengangguk dan berseru untuk memberi jalan Lin Chen masuk.


Lin Chen tak menunda waktu lagi, begitu masuk, Ia langsung memeriksa pasien terdekat. Kemampuan medisnya sudah jauh meningkat, kali ini Ia cukup menempelkan telapak tangannya di dada pasien, menyalurkan kekuatan spiritualnya dan langsung bisa mendeteksi penyakit dan gejalanya.


"Ada gumpalan darah di kepalanya, cepat operasi." seru Lin Chen.


Sayangnya tak ada yang mendengarnya, mungkin karena dia dikira keluarga atau pengantar pasien. Suaranya tenggelam di antara teriakan kesakitan dan kepanikan.

__ADS_1


Di sisi lain, kepala dokter juga berada di sana dengan gugup. "Kepala, kita kekurangan tenaga medis." kata seorang dokter.


"Cepat panggil semua dokter magang, perawat dari ruang lain dan lakukan pertolongan pertama." ucap kepala Rumah Sakit dengan tegas. "Siapkan meja operasi cadangan."


"Semua pengantar dan keluarga pasien, harap tunggu di luar."


Suara kepala Rumah Sakit kembali terdengar, Ia tadinya tidak terlalu mengindahkan ini tapi Song Wanting mendekati nya dan berbisik. Lalu, Ia sendiri mm yang mengatur petugas untuk membawa mereka keluar dengan teratur. Ruang gawat darurat terlhat lebih baik setelah pengaturan ini dan tentu saja Song Wanting tetap berada di dalam.


"Hei, kamu jangan main-main, cepat keluar dari sini. Serahkan semua pada petugas medis."


Lin Chen mengernyit dan menjauh dari pasien yang tadi Ia periksa. "Aku dokter Lin." ucapnya.


"Dokter Lin?"


Dokter yang menegur Lin Chen terdiam, Ia seperti pernah mengenal namanya..


Tapp..


Seseorang menepuk bahunya, "Aku mengenalnya."


"Dokter Lin, kita ketemu lagi."


"Anda...?"


Lin Chen mengenal dokter ini, dia adalah orang yang pernah datang ke klinik untuk mengajak Lin Chen duel medis namun ditolak.


"Kenalkan, aku dokter Josh Emmet, aku rasa kepala departemen kesehatan sudah mengatakan siapa aku."


Lin Chen mengangguk, membenarkan ucapan dokter Josh.


"Aku secara pribadi akan menemani anda dokter Lin." dokter Josh kembali tersenyum. Dia hanya ingin melihat Lin Chen bekerja, dia penasaran ketika mengetahui ada dokter hebat yang tidak datang saat Ia terpilih menjadi wakil kota Liang yang akan ke ibukota.


"Perawat, ada gumpalan darah beku di otaknya. Cepat operasi."


Lin Chen mengulangi ucapannya yang tadi, dan kali ini seorang perawat datang dan langsung membawanya pergi.


Dia tak sempat berpikir lagi, keadaan sangat mendesak. Tidak ada waktu untuk ragu. Namun, perawat itu tetap membawa pasien untuk memeriksa kepalannya terlebih dahulu sebelum ke ruang operasi.

__ADS_1


"Apakah hanya kebetulan?"


"Apa maksudmu?" perawat yang memeriksa kepala pasien itu heran dengan penyataan rekannya. Dan tidak percaya ketika mendengar bahwa Lin Chen mengatakan ada pembekuan darah di otak pasien.


Kemudian dengan cepat, pasien itu dibawa ke ruang operasi.


Sementara itu Lin Chen sudah berdiri di samping pasien lainnya, kali ini ia memeriksa nadi pasien. Sedetik kemudian Ia berkata, "Ada potongan potongan besi kecil di rongga perutnya, hati-hati harus pelan-pelan. Cepat rontgen dan operasi."


Dokter lain yang memeriksa segera berhenti, tak percaya Lin Chen bisa mengetahui letak cedera dengan cepat. Tak terkecuali dokter Josh uang terus berada di dekatnya.


"Tunggu apa lagi? cepat bawa pasien, apa kalian mau menunggunya mati!?"


Lin Chen berteriak tak sabar, tak memperhatikan tatapan tenaga medis lain.


"Biar aku saja."


Perawat yang membawa pasien pertama susah kembali, Ia kagum dengan keterampilan medis Lin Chen. Dan setelah menceritakan garis besar pada temannya, Ia segera pergi.


"Biar aku saja."


Lin Chen menghampiri seorang pasien yang tulang pahanya patah. Dokter yang menanganinya pun bergeser ke samping.


"Apa yang kau lakukan! berhenti."


Dokter itu kaget, Lin Chen tiba-tiba mengambil alat bedah dan menyayat paha pasien. Darah kehitaman langsung menyembur.


"Pembengkakan di dekat pembuluh darah utama, darahnya harus dibuang supaya tidak menganggu aliran darah. Bawa pasien, perhatikan luka di dekat pembuluh darah."


Lin Chen terus berpindah dari satu pasien ke pasien lain. Meskipun hanya memberikan pertolongan pertama tapi dengan diagnosa nya, kecepatan penanganan bisa lebih cepat. Lin Chen menjadi pusat perhatian, semua petugas medis menunggu kata-katanya lalu membawa pasien.


Hanya dengan memeriksa denyut nadi bisa langsung mengetahui cedera pasien yang tersembunyi.


"Jarum! aku butuh jarum."


"Dokter Lin, gunakan jarumku."


Pandangan dokter Josh berubah, kagum dengan keahlian medis Lin Chen. Secara tidak sadar dia mulai meragukan keahlian medisnya sendiri. Secara sukarela Ia memberikan jarumnya.

__ADS_1


__ADS_2