Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Bibi di Klinik Yang Meresahkan


__ADS_3

Klinik Lin Chen di pagi hari sudah cukup ramai, ini adalah pemandangan yang biasa. Justru akan aneh kalau klinik ini sepi pengunjung. Orang-orang yang akrab akan datang untuk sekedar mendapatkan kesegaran dan semangat baru sebelum memulai aktifitas masing-masing.


Lu Jiayi menepati janjinya dan tiba di klinik. Ia tidak heran melihat klinik yang sudah ramai, Lu Jiayi tahu kapasitas Lin Chen sebagai praktisi kedokteran yang ahli sejak dulu, waktu itu Lin Chen mengobati kakeknya dari penyakit yang bahkan tidak dapat disembuhkan oleh dokter di kota Shanghain.


"Nona, dokter Lin belum datang. Jangan khawatir, sebentar lagi juga datang."


"Nona pasti datang dari jauh. Datang sepagi ini, apakah nona sudah sarapan?"


Dua orang bibi menyambut Lu Jiay. Melihat dia datang membawa koper kecilnya, mereka tahu Lu Jiayi datang dari jauh.


'Apa ini, kenapa orang-orang ini tidak terlihat sedang antri ingin berobat? atau mungkin dokter Lin tidak mengambil pengobatan lagi?' Lu Jiayi mau tidak mau berpikir.


Kedua bibi ini bukan sekedar basa basi ketika menawarkan sarapan untuknya, nyatanya disana ada sebuah meja yang penuh dengan kue-kue dan teh, yang dibawa oleh mereka sendiri.


Lalu dia juga melihat orang datang dan pergi setelah duduk dan bercengkerama beberapa saat.


"Nona, kamu begitu cantik, apa hubunganmu dengan dokter Lin? apakah kamu... "


"Bibi Ma, jangan menggodanya." tegur bibi yang lain.

__ADS_1


"Huh memang kenapa, apa kamu tidak tahu dokter Lin sudah lama sendiri? apakah kamu tidak senang kalau dokter Lin bersama nona ini?" bibi Ma tidak mau mengalah.


"Hehe bukan begitu, aku tentu saja senang tapi setidaknya biarkan nona ini menghabiskan sarapannya."


Kemudian satu persatu bibi-bibi yang ada di sana berbicara. Ada yang menyanjung kecantikan Lu Jiayi dan mendukungnya, tapi ada juga yang menyalahkan yang lainnya karena ingin menjodohkan anak atau keluarganya pada dokter Lin.


Lu Jiayi sampai kehilangan kata-kata menghadapi gerombolan bibi-bibi ini, dia hanya bisa mengangguk patuh dan berharap dokter Lin segera datang.


Langit sepertinya mendengar doa Lu Jiayi, tak lama kemudian dokter Lin datang dan manyapa semua yang ada.


"Jiayi? ah aku tidak tahu kamu akan sepagi ini, kenapa tidak meneleponku sebelumnya?"


Lin Chen berinisiatif membawa koper kecil Lu Jiayi dan memberi isyarat untuk mengikutinya.


"Lihat? aku benar kan? apa kalian tidak melihat cara dokter Lin memanggil nona itu? sangat manis."


"Ya, kamu benar bibi Ma."


"Tapi nona itu terlihat tidak nyaman."

__ADS_1


"Hah itu hanya diluarnya saja, seperti kamu tidak tau sifat gadis muda yang sedang menyalahkan pasangannya."


"Haha benar, benar."


Lalu seisi ruang tunggu kembali riuh, bahkan suara mereka terdengar sampai ke dalam. Seperti gerombolan iblis yang yang sedang bahagia.


"Lin Chen, apa setiap wanita yang datang kesini diperlakukan sama? aku lihat, mereka semua berusaha sekuat tenaga menyenangkanmu."


Akhirnya Lu Jiayi terbebas, berada di tengah-tengah bibi-bibi paruh baya membuatnya seperti berada di atas tungku uap.


"Tidak, itu hanya untuk gadis cantik sepertimu saja hehe."


Bahkan semburat merah di pipi Lu Jiayi belum hilang ketika Lin Chen kembali menggodanya.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Tunggu aku memeriksa beberapa pasien dulu."


Lin Chen kemudian bersiap, akan ada pasien yang membutuhkan pemeriksaan langsung sementara Lu Jiayi langsung menyeret kopernya ke dalam kamar yang dulu dia gunakan.


Kecuali kamarnya bertambah besar dan rapih, semua tidak ada yang berubah. Tempat tidur dan lemari yang dahulu dibelinya masih ada, yang paling penting kamar itu bersih dan terawat, terlihat tidak pernah ada yang menggunakannya.

__ADS_1


Ini membuat hati Lu Jiayi entah kenapa merasa manis. Terkadang, perlakuan yang sepele bisa membawa suasana seorang gadis menjadi lebih baik.


__ADS_2