Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Memasuki Ruang Jiwa


__ADS_3

"Kalian tunggu di luar. Jangan masuk kecuali aku memintanya."


Lin Chen berkata dengan sangat tegas dan tak ingin dibantah kali ini. Dia juga mengeluarkan auranya untuk menunjukkan dominasi sekaligus membuat anggota sekte Berhala tidak berani meragukannya.


Tepat ketika Lin Chen masuk ke dalam, anggota-anggota sekte Berhala yang berada di luar pun saling berdiskusi.


"Kongsin, apa kamu yakin dia adalah utusan pimpinan?" tanya seorang anggota lainnya.


"Tentu saja. Apa kamu pikir mataku buta sampai tidak mengenali lambang pimpinan?" kata Kongsin yang mulai merasa tidak senang.


"Bukan begitu, aku sama sekali tidak meragukanmu tapi bagaimana kalau ternyata sesuatu terjadi pada pimpinan dan ternyata orang ini berbohong?"


"Itu benar Kongsin. Kita sama-sama tahu Ruang Jiwa ini sangat penting dan telah menunggu selama sepuluh tahun." sahut yang lain.

__ADS_1


"Jangan lupa kalau hari ini adalah hari yang kita tunggu sama-sama."


"Ya dan pimpinan juga telah berulang kali berkata untuk tidal membiarkan siapapun untuk masuk ke sana."


Setiap anggota mulai mendebat Kongsin, bukan apa-apa, mereka hanya terlalu takut pada Tan Shen kalau ada sesuatu yang salah. Mereka tidak akan sanggup menghadapi kemarahan sang pimpinan.


"Lalu kalau aku salah, mengapa kalian tidak menanyakannya langsung pada tuan Chen? dan apakah ada di antara kalian yang sanggup melawannya? sialan, bahkan aura kekuatannya saja tidak lebih lemah dari pimpinan."


Dan sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali. Tidak mungkin pimpinan tidak datang di hari yang sangat penting ini.


Akhirnya, karena Kongsin termakan janji-janji manis Lin Chen, dia pun tidak meneruskan kecurigaannya. Apalagi selama berada di sekte, Lin Chen sama sekali tidak pernah keluar, dia hanya menunggu Ruang Jiwa selesai dan tidak melakukan apa-apa yang mencurigakan.


"Sudahlah, besok senior Tengyun akan datang, kitq diskusikan lagi jika senior sudah datang." Seseorang berkata lagi untuk menghentikan diskusi yang sebentar lagi akan memanas.

__ADS_1


Di dalam Ruang Jiwa. Lin Chen yang merasakan aura yang menggetarkan jiwanya masih saja berdiri dan tidak melakukan apapun. Getaran yang datang seperti gelombang ini sangat kuat, hampir-hampir memaksa Lin Chen untuk berlutut dan mengakui kekuatan aura.


"Benar-benar ruangan yang cocok." puji Lin Chen tanpa sungkan.


Tujuan Ruang Jiwa memang untuk menguatkan jiwa, perlu diketahui bahwa ruangan ini dibangun menggunakan cara-cara yang tidak baik, menggunakan Jimat Kutukan untuk mengutuk dan mengunci vitalitas orang lain. Entah sudah berapa banyak korban yang diperlukan untuk membangun ruang ini.


Karena menggunakan cara ini maka secara otomatis, Ruang Jiwa pun dipenuhi dengan amarah, tangisan, dendam dan hal lainnya yang sangat mengganggu. Keadaan inilah yang dibangun di dalam ruang ini.


Lin Chen saat ini sudah merasakan jiwanya seperti mendidih, berbagai macam emosi silih berganti masuk ke dalam pikiran dan jiwanya. Dia tidak akan terlepas dari semua ini kecuali dia sanggup menerima dengan ikhlas arti hidupnya sendiri.


Artinya Lin Chen harus berdamai dengan jiwanya jika ingin berhasil di Ruang Jiwa.


Saat sedih datang, Lin Chen akan meraung sedih. Saat marah datang, Lin Chen mulai memaki. Perasaan ini selalu saja datang, seolah tidak pernah habis.

__ADS_1


__ADS_2