Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Pemurnian Energi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Lin Chen keluar dari bak kayu tempatnya berendam. Sorot matanya tampak lebih tenang, pikirannya lebih jernih dan kulitnya tampak lebih halus dan cerah dari sebelumnya.


Yang paling mengesankan adalah adanya kabut kecil di bawah pusarnya. "Pemurnian Energi." gumam Lin Chen. Namun, Ia duduk lagi karena merasa kekuatan nya masih akan terus menerobos.


"Ini hebat, aku merasa sangat kuat."


Setelah bangun kembali, sebuah pusat energi sebesar kacang hijau tercipta di Dantiannya. Lin Chen mencoba sedikit kekuatan pukulannya dan hasilnya benar-benar di luar dugaan, dinding kayu yang Ia pukul berderak.


"Ck ck ck sedikit lebih kuat lagi, rumah ini mungkin akan hancur." ucapnya sambil memperhatikan kepalan tangannya. Kini pria yang menggunakan belati di pabrik itu bukan apa-apa lagi di hadapan Lin Chen.


Lin Chen bermalam satu malam lagi di rumahnya sebelum pergi ke klinik, selain menstabilkan kekuatan barunya, Ia juga tidak sabar ingin melakukan akupunktur dengan energi spiritual.


Mulai dari sini, Lin Chen sudah melangkah sepenuhnya di dunia kultivator. Hanya satu yang membuatnya sempat pusing, yaitu bau yang keluar dari tubuhnya, Ia seperti baru keluar dari tempat pembuangan limbah.


Keesokan harinya, terlihat sebuah mobil pickup tua yang masuk ke dalam klinik.


...


"Ketua, bukankah ini adalah pria itu?"


"Pria itu?"


"Pria yang menjadi target biro, pria ini sudah lama masuk dalam daftar hitam biro."


Di pabrik yang terbengkalai, beberapa jam setalah Lin Chen pergi. Terlihat tiga orang sedang memeriksa enam orang yang terbujur kaku, enam di antaranya tewas dengan leher tertancap belati sementara yang satu tewas mengenaskan, tulang kalinya patah serta tulang dada remuk, melesak ke dalam.


Orang inilah yang di identifikasi oleh tiga orang ini sebagai pria yang masuk daftar hitam biro. Mereka ini adalah orang-orang dari biro Naga Merah.


"Tinggalkan mereka, biarkan polisi yang mengurusnya." kata pria yang menjadi ketua itu.


Sesaat kemudian, mereka sudah tak terlihat di sana lagi, hilang begitu saja bersama dengan jejak auranya. Hanya berselang beberapa menit kemudian, tim polisi yang langsung di pimpin oleh Song Wanting juga datang.

__ADS_1


"Kapten, menurut data, orang-orang ini bukan berasal dari wilayah ini."


"kumpulkan semua data mereka dan bawa ke mejaku."


"Siap kapten."


Song Wanting adalah lulusan terbaik kepolisian negara, karirnya seperti tak terbendung. Di usianya yang masih dua puluh tiga tahun sudah menjadi kapten dan mengepalai wilayah kota Liang. Semua Ia capai bukan mengandalkan reputasi keluarga tapi murni karena kecakapannya.


Kejadian di depannya ini bukanlah apa-apa baginya, meskipun belum pernah membunuh tapi melihat orang mati bukan hal yang baru baginya.


Firasat pertama Song Wanting adalah dia telah didahului oleh seseorang dan sebagai ahli beladiri, Ia dapat merasakan jejak aura Lin Chen yang masih tertinggal, meskipun Ia tidak tau itu jejak aura siapa.


...


"Tong Dji, apa ada yang terjadi selama aku pergi?"


"Tuan Li...?"


Tong Dji yang ditanya tidak menjawab, sebagai gantinya, Ia malah heran melihat Lin Chen.


"Jangan macam-macam, aku ini memang tampan dari sananya." Lin Chen berkata narsis. "Sudahlah, apa ada hal penting selama aku tidak ada?"


"Anda memang terlihat lebih tampan tuan." kata Tong Dji jujur tapi Lin Chen memelototinya. "Baik, baik, padahal aku cuma ingin bertanya saja, mana tau aku juga bisa tambah tampan." gumam Ring Dji.


"Kemarin ada perwakilan dari departemen kesehatan, mereka mengundang anda untuk hadir sebagai pembicara di depan dokter-dokter pengobatan tradisional dari ibukota. Lalu ada nona Song yang hampir tiap hari datang ke sini."


"Nona Song?" jadi dia belum pergi?"


"Tidak tuan, memang nona Song tidak pernah bermalam lagi, ke sini pun hanya sebentar, duduk-duduk selama hampir satu jam lalu pergi."


"Oh, jadi kapan acara dari departemen kesehatan diadakan?"

__ADS_1


"Hais tuan, itulah, harusnya ponsel Anda diaktifkan kalau sedang di luar. Acaranya sudah selesai kemarin."


Lin Chen jadi tidak enak, memang Ia sengaja menonaktifkan ponselnya selama si desa. Ia tidak mau ada gangguan selama melakukan penerobosan.


Sudahlah, nanti aku akan menelepon secara pribadi, pikir Lin Chen. "Tong Dji, buka klinik. Aku akan siap-siap dulu."


Klinik Lin Chen memang menjadi salah satu klinik yang paling ditunggu pasien, bahkan jika itu tutup, tetap saja ada yang datang, meskipun hanya duduk-duduk untuk sementara waktu. Tong Dji juga bukan orang yang terlalu perhitungan, dia akan membiarkan siapa pun untuk masuk ke dalam klinik.


"Dokter Lin, akhirnya anda buka juga. Aku sudah lama menunggu anda membuka resep untukku."


Seorang pria masuk sesaat setelah pintu klinik dibuka. Lin Chen memperhatikan pira ini, lalu tersenyum dan berkata, "Aku tidak melihat anda sedang sakit, katakan saja, untuk apa anda mencariku." kata Lin lugas.


"Hahaha sesuai yang diharapkan dari seorang dokter Lin. Aku memang tidak sakit, aku sengaja datang untuk menantangmu dalam pengobatan medis."


"Pergilah, aku tak ada waktu untuk bermain-main."


"Kau akan menyesal."


"Tidak akan. Kalau tidak ada keperluan lagi, silahkan keluar."


Pria itu pun pergi, tatapannya memancarkan rasa kecewa. Melihat pria itu berjalan keluar dengan ekspresi yang rumit, Lin Chen mengernyitkan keningnya, dia berbuat memanggil pria itu kembali tapi tidak jadi. Dia berpikir tidak akan mau repot-repot melihat pria yang bahkan tidak mengenalkan diri itu.


Pemeriksaan yang Lin Chen lakukan hari itu berlangsung lebih cepat lagi. Kekuatan energi spiritual memang sangat berguna, terkadang Lin Chen hanya perlu melihat ciri-ciri penyakit di dalam tubuh pasien lalu merabanya dengan perspektif aura. Lalu, penyakit itu Lin dapat langsung terdeteksi.


Kalau itu tidak cukup, barulah Lin Chen memeriksa nadi dan mengirim kekuatan spiritual ke seluruh tubuh pasien.


Butuh tiga hari bagi Lin Chen untuk membiasakan diri dengan kekuatan barunya ini. Tidak ada yang membimbingnya langsung, semua yang pelajari berdasarkan apa yang ada di dalam kepalanya saja.


Hari ini adalah hari dimana Lin Chen akan bertemu kembali dengan ketua dari departemen kesehatan, sebelumnya Lin Chen telah menelepon dan meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam acara yang di susun oleh departemen kesehatan.


"Dokter Lin, sebenarnya inti acara itu adalah memilih wakil dari kota Liang untuk mengikuti perlombaan untuk memilih dokter terhebat di negara kita."

__ADS_1


"Tunggu sebentar," potong Lin Chen. "Maksud anda memilih dokter terhebat? tapi untuk apa? jujur saja aku sama sekali tidak tertarik dan aku sangat bersyukur tidak jadi datang, meskipun aku mungkin tidak terpilih."


Bagi Lin Chen, acara seperti ini tidak jelas arah tujuannya. Untuk apa menjadi yang terhebat? ini pengobatan dan nyawa pasien bukan untuk dilombakan, yang betul itu seharusnya diskusi tentang cara pengobatan atau mengkaji sebuah resep.


__ADS_2