Sampah Dari Alam Langit

Sampah Dari Alam Langit
Menuju Gunung Kunlung


__ADS_3

Seiring dengan kekuatan jiwa Lin Chen yang telah dikultivasi, perkembangan mental nya pun semakin baik. Kalau sebelumnya dia sedikit terintimidasi dengan sosok seperti tetua Huang dan Tetua Lu yang ada di depannya, sekarang rasa itu tidak ada lagi, secara tidak sadar dia menempatkan dirinya setara atau bahkan lebih tinggi dari mereka.


Meski begitu, dia tetaplah Lin Chen yang rendah hati dan tidak mudah menyimpan dendam.


"Dokter Lin, tetua Li ini adalah tetua yang bertugas di garis depan. Baru-baru ini, tim yang bertugas di gunung kunlung mengalami gejala yang hampir sama dengan tim yang Anda tangani sebelumnya."


Menurut tetua Huang, gejala mereka sama tapi setelah diberikan pil yang sama, reaksinya tidaklah sama. Selang dua hari kemudian, mereka kumat lagi dan kekuatan tempur mereka berkurang lebih dari setengah nya.


Tetua Li datang sendiri menjemput Lin Chen, sekaligus membawa pasukan pengganti. Alasan tim yang sakit itu tidak kembali karena mereka harus tetap berada di sana menjaga segala kemungkinan terburuk.


Karena Lin Chen tidak bertanya apa yang sedang mereka hadapi, tetua Li juga tidak mengatakan apa-apa. Apalagi, Lin Chen hanyalah bertugas sebagai dokter, bukan bagian dari biro Naga.


"Dokter Lin, saru minggu lagi pasukan pengganti akan siap. Biro Naga sangat berharap bantuan anda." kali ini tetua Lu ikut berbicara sementara tetua Li masih tetap diam, dalam hatinya masih meragukan Lin Chen tapi tidak terlihat di wajahnya.


"Dan perjalanan kesana butuh berapa lama?" tanya Lin Chen.


"Butuh waktu tiga hari, dua hari ditempuh dengan perjalanan udara dan darat menggunakan mobil khusus lalu satu hari harus berjalan kaki."


Lin Chen diam sejenak lalu mengangguk setuju, "Baik, hubungi aku jika sudah bisa berangkat. Kalau tidak ada lagi, aku akan pulang dulu."


Tetua Huang dan tetua Lu saling pandang saat Lin Chen pergi. Dalam tatapan mereka, mereka setuju ada yang berbeda dari penampilan Lin Chen kali ini, terutama tatapan matanya yang tajam dan dalam.


"Sorot mata itu... kenapa aku aku merasa anak ini semakin tidak bisa aku selami? bagaimana menurutmu?"


Itu adalah pertanyaan dari tatapan tetua Huang, sementara tetua Lu hanya menggeleng. Dia mengisyaratkan bahwa dia juga tidak tau apa-apa dalam hal ini.


"Tetua Li, anda harus menjaga sikap anda."


Akhirnya tetua Lu menegur tetua Li. "Jangan salahkan aku, aku akui dia cukup berbakat dan sepertinya mengerti sedikit beladiri. Tapi ini medan perang, bukan tempat untuk main-main, nyawanya bisa melayang kalau makhluk itu datang lagi."

__ADS_1


"Ini perintah atasan dan sudah tugasmu untuk melindungi dan menyelamatkannya."


"Hah baiklah, tapi aku tetap setuju dan jangan salahkan aku kalau ternyata aku tidak bisa melindungi nya dengan baik."


Tetua Li berdiri setelah berbicara dan pergi dari sana. Dia masih meremehkan Lin Chen dan memang dia juga tidak bisa disalahkan, kecuali sorot mata Lin Chen yang jernih dan tenang, tidak ada hal lain lagi.


Aura beladiri saja sama sekali tidak ada, belum lagi fisiknya yang terlihat meragukan.


"Tetua Lu bagaimana menurutmu?"


"Hm, biarkan dokter Lin memegang senjata. Latih dia beberapa hari ini, biasakan juga dia memegang senjata sniper." kata tetua Lu sambil memegang dagunya.


"Ah anda benar. Baik, akan kuminta nona Sing untuk melatihnya."


"Dokter Lin, ini pengaman senjata. Pegang seperti ini lalu bidik target mu. Pertahankan posisimu dan jaga hentakan nya, jangan sampai kamu malah membahayakan dirimu sendiri."


"Kamu lihat target yang ada di sana? nah cobalah menembak."


Awalnya memang sulit, tapi tak lama kemudian Lin Chen mulai terbiasa. Tembakannya pun mulai mengenai sasaran, biarpun tidak tepat di tengah tapi untuk pemula sepertinya itu sudah sangat luar biasa.


"Dokter Lin kamu sangat berbakat." puji Song Wanting. "Nah sekarang cobalah senapan runduk ini." Senapan runduk adalah senjata sniper untuk jarak jauh. Lin Chen menggunakan senapan runduk dengan jarak efektif sembilan ratus meter.


Dorr!


Lin Chen membuat tembakan pertama nya. "Dokter Lin, kami terlalu ke kiri. Coba periksa arah dan kecepatan angin." seru Sing Wanting dari samping. Dia sendiri adalah salah satu penembak jitu dalam kesatuan.


"Ternyata tidak segampang itu." gumam Lin Chen. Matanya lelah karena harus terus fokus dan mencari titik target, tubuh nya pun sama karena harus menopang posisi tetap dalam waktu lama. Sedikit saja bergerak, maka segala sesuatu pasti akan berubah.


"Tentu saja sulit, apa kamu pikir semua orang bisa menjadi penembak jitu?"

__ADS_1


"Apa kamu bisa?"


"Dokter Lin, haha kamu meremehkan gurumu ini ya? sini, biar aku tunjukkan apa itu bakat terhebat."


Song Wanting merebut senapan runduk dari tangan Lin Chen, memposisikan nya lalu mengukur arah dan kecepatan angin...


Dorr!


Peluru melesat cepat, menghantam target dengan tepat. Lin Chen yang menggunakan teropong tercengang. "Hebat! kamu memang terbaik." ucap Lin Chen bersungguh-sungguh.


"Hah tentu saja." sahut Song Wanting bangga. "Hari ini cukup sampai disini. besok jangan lupa, kamu masih payah di senapan runduk."


Hari keberangkatan pun tiba, Lin Chen sudah cukup mahir menggunakan pistol dan walaupun masih masih jauh dari mahir menggunakan senapan runduk, tapi dia tetap dibekali satu. Hanya saja tidak diberikan sekarang.


Satu-satunya yang menjadi masalahnya sekarang adalah soal klinik, paling tidak perjalan ini akan memakan waktu dua minggu. Ini adalah waktu terlama dia akan meninggalkan klinik.


Jun Xing kemudian ditugaskan di klinik, lagipula dia cukup akrab dengan obat-obatan.


"Dokter Lin, apa kamu sudah siap?" Song Wanting datang menjemput Lin Chen. "Ayo berangkatkan." ucapnya lagi.


"Eh ini? punya siapa, untuk apa kamu membawa perlengkapan?"


Lin Chen bertanya heran ketika melihat Song Wanting yang juga membawa tas ransel di pundaknya.


"Aku juga termasuk dalam tim pengganti, ini tugas pertama ku, apa tetua Huang tak mengatakan apa-apa?"


"Tidak." Lin Chen menggeleng. Lalu dia bertanya, "Wanting, sebenarnya apa yang dilakukan biro Naga selain mencari sumber daya di sana?"


Pertanyaan ini memang sedikit mengganjal pikiran Lin Chen, pil yang dia tinggalkan dulu sudah sangat cukup untuk membersihkan racun. Lalu, dia, sebagai tim dokter, juga dibekali dengan peralatan tempur. Kalau bukan sedang menghadapi sebuah ancaman lain, rasanya tidak mungkin semua persiapan ini.

__ADS_1


Tim pengganti yang dikatakan itu setidaknya berjumlah lima puluh orang, angka yang cukup fantastis, jika mengingat hanya untuk mencari rumput-rumputan.


"Dokter Lin, anda tidak tau... ah sudahlah, nanti juga kamu tau sendiri. Aku hanya bisa bilang hati-hati dan tetap waspada saat kita tiba nanti."


__ADS_2