Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 13: AM BERUBAH MENJADI MANUSIA


__ADS_3


“maksudku, mendengarmu berbicara seperti itu, aku jadi berfikir bahwa sepertinya kamu sudah mengenalnya.” Kata Furqon.


“aku hanya memposisikan diriku saja jika seandainya aku berada diposisinya.” Kata Am.


“nona Fi, tidak ingin pulang?.” Tanya Furqon.


(bagaimana ini, jika aku mengada-ngada lagi pasti Furqon akan memaksa untuk mengantarku. Tapi aku memang tidak punya rumah. Harus pulang kemana aku?)


“Kak Furqon,!” panggil Am.


“Iya nona, bagaimana?” Tanya Furqon.


“sebenarnya.. saya tidak memiliki rumah.” Kata Am.


“Maksud Nona? Lalu rumah yang waktu itu? Apa?” Tanya Furqon.


“maafkan saya, sebenarnya… itu bukan rumah saya. Saya hanya malu kepada kakak karena saya tidak punya rumah.” Kata Am.


“lalu selama ini kamu tinggal dimana?” Tanya Furqon.


“a.. a.. aku tinggal dimanapun selagi aku merasa nyaman. Iya begitulah…” kata Am.


“astaga, itu sangat berbahaya nona. Bagaimana jika nona saya antar ditempat penginapan selatan?.” Kata Furqon.


“boleh.” Jawab Am.


Kemudian mereka berdua berangkat menuju ke penginapan. Furqon mempersilahkan untuk memilih kamar sesuai keinginan Am. Lalu Am menunjuk salah satu kamar ang ditemuinya.


“yang ini tidak masalah.” Kata Am.


“baiklah, harganya Rp 150.000,-/malam nona.” Kata Furqon.


“maksudnya apa?” Tanya Am polos.


“iya jika dipenginapan ada tarif per malam nona. Harga kamar yang nona pilih seharga itu.” Kata Furqon.


“harga apa? Permalam?.” Tanya Am.


“iya, silahkan mengurus pembayaran terlebih dahulu nona, nanti baru nona dapat beristirahat disini.” Kata Furqon.


“pembayaran dengan apa?.” Tanya Am.


Am teringat saat dia menjadi merpati ikut Furqon ke pasar. Disana telah terjadi transaksi jual beli. Dengan memakai uang.


“oh… maaf kak, yang dimaksud kakak pasti uang. Tapi sebenarnya saya tidak mempunyai uang.” Jawab Am.


“apa?.” Kata Furqon.


“bagaimana mungkin...? ah sudahlah. baiklah! seperti ini saja. Jika nona Fi berkenan, silahkan tinggal di rumahku. Tapi… bagaimanapun nona seorang perempuan dan aku seorang laki-laki. Aku hanya bisa menawarkan hanya beberapa saat nona.” Jawab Furqon.


“baiklah tidak masalah kak, aku akan menginap dirumah kakak. Dan akan mencari tempat tinggal setelahnya.” Kata Am.


Melihat gerak gerik nona Fi Furqon terkadang merasa mengganjal tapi dia tetap berfikir positif kepadanya.


*****


Mereka berjalan bersama menuju rumah Furqon. Karena perjalanan kali ini dilakukan dengan berjalan kaki. Waktu mereka untuk sampai di rumah Furqon menjadi lebih lama sedikit.


Setelah sampai di rumah, Furqon membuka pintu depan rumahnya. Lalu mempersilahkan Am duduk di kursi ruang tamunya. Kemudian dia mencari sang ibu untuk menjelaskan hal ini.


“silahkan nona Fi, duduklah!.” kata Furqon.


Am duduk dan menunggu kedatangan Furqon.


“Ibu, aku ingin berbicara sesuatu pada Ibu.” Kata Furqon.


“iya ada apa nak?” Tanya Ibu.


“ibu, sebenarnya Furqon punya teman. Dia baru pindah dari luar kota. Tetapi dia belum menemukan tempat tinggal. Bolehkah dia menginap disini dalam beberapa saat?.” Tanya Furqon.


“temanmu siapa nak?.” Tanya ibu.

__ADS_1


“namanya adalah Fi. Mari ikut aku buk. Dia sekarang duduk diruang tamu.” Kata Furqon.


Furqon menggandeng tangan ibunya dan menariknya ke ruang menuju ruang tamu. Seketika mata ibu Furqon terbelalak dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“tunggu nak!, itu siapa?.” Tanya ibu Furqon.


“dia bernama Fi ibu, dia temanku yang saya maksud. Yang akan tinggal beberapa hari disini.” Kata Furqon.


“benarkah? Kamu menemukan bidadari yang sangat cantik ini dimana nak? Ibu tidak pernah bertemu dengan gadis secantik dia.” Kata ibu.


“ibu, dia memang cantik. Tapi tidak baik jika berlebihan bu.” Kata Furqon.


Ibu Furqon langsung menghampiri Am yang merupakan Fi itu. Dan langsung menanyainya.


“nama kamu siapa nak?.” Tanya ibu Furqon.


“nama saya Fi ibu, panggil saja Fi.” Jawab Am.


“dari kota mana kamu nak? Kenapa kamu pindah sendirian? Dimana orang tua mu?.” Tanya ibu Furqon.


Am kebingungan dengan pertanyaan ibu Furqon.


“kota? Pindah? Orang tua?.” Tanya Am.


Furqon menyela perkataan Am. Karena dia tahu bahwa Am tidak paham dengan perkataan ibunya.


“iya ibu. Fi datang dari kota Pontianak. Dia adalah gadis sebatang kara. Makanya dia pindah kesini karena ada beberapa alasan.” Kata Furqon.


“sebatang kara? Astaga kasihan sekali kamu nak. Gadis secantik kamu jika diluar sendirian sangat berbahaya. Kamu harus menginap disini dulu nak. Hingga menemukan tempat tinggal. Walau kamu tidak menemukan tempat tinggalpun, kamu disini juga tidak masalah.” Kata ibu Furqon.


Mendengar jawaban dari ibu Furqon, Am sangat senang dan bersemangat.


“benarkah? Em… maksud saya baik bu, terimakasih atas pemaklumannya.” Kata Am.


“Ibu, kamar di rumah kita hanya ada dua. Nona Fi tidak mungkin tidur bersamaku. Jadi aku akan tidur di luar saja.” Kata Furqon.


“kenapa harus diluar? Tentu itu akan membuatku merasa bersalah padamu kak. Tidak masalah kita tidur satu kamarkan?.” Kata Am.


Karena Am adalah malaikat, dia tidak mengetahui tentang kehidupan manusia secara mendalam.


“yang dikatakan Furqon benar. Sebentar ibu buatkan minuman dulu ya? Pasti kamu kedinginan nak.” Kata ibu.


Ibu Furqon pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Melihat mereka hanya berdua. Bersama suara Jangkrik yang bernyanyi. Suasananya membuat jantung Furqon berdegup kencang. Karena ini pertama kalinya dia mempunyai tamu seorang perempuan. Menyadari bahwa dirinya seperti ini Furqon langsung berdalih agar dapat pergi darinya.


“aku permisi sebentar nona. Saya akan merapikan kamar saya terlebih dahulu.” Kata Furqon.


“iya kak, maaf merepotkan kakak.” Kata Am.


Furqon langsung masuk ke kamar. Dibalik pintu dia memegang dadanya.


“astaga kenapa ini? Benar-benar tidak beres.” Kata Furqon.


Ibu kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas teh hangat untuk Am dan Furqon. Kemudian dia letakkan di meja.


“kemana Furqon tadi? Ada tamu kok malah ditinggal.” Kata ibu Furqon.


“katanya dia merapikan tempat tidurnya bu. Maaf bu jika kedatangan saya merepotkan kalian.” Kata Am.


“tidak nak, tidak ada yang repot. Jangan sungkan. Minum nak, mumpung masih hangat.” Kata ibu Furqon.


“terimakasih banyak bu.” Kata Am.


Setelah membersihkan kamarnya Furqon menghampiri dan mempersilahkan Am masuk.


“sudah selesai, silahkan masuk nona Fi.” Kata Furqon.


“nona Fi, karena baju saya ada di lemari, mungkin beberapa saat saya akan masuk ke kamar untuk mengambilnya. Tentu saya nanti akan mengetuk pintu dan tidak masuk dengan seenaknya. Jadi… selamat beristirahat dan semoga bisa nyaman.” Kata Furqon.


“kak, sebenarnya saya juga tidak punya pakaian pengganti boleh saya meminjam pakaian kakak?. tanya Am.


"apa? oh, ya ... baiklah ambillah seperlumu nona." kata Furqon.


"terimakasih. Sekali lagi saya minta maaf ya, telah banyak merepotkan ibu dan kakak.” Kata Am.

__ADS_1


“tidak masalah. Jangan sungkan.” Jawab Furqon dengan tersenyum.


Sudah 6 hari Am tinggal di rumah Furqon. Am sangat rajin, dia rajin membereskan rumah dan membantu ibu Furqon. Terkadang Am juga ikut Furqon ke pasar untuk menjual ikan. Hari demi hari mereka menjadi semakin sangat akrab satu sama lain.


Saat Am tidur malam ini. Terlintas dibenak Am nama sahabatnya yaitu Amal. Dia ingin bertemu dengan sahabatnya. Keesokan harinya dia pamit pada ibu untuk mencari sesuatu di ibu kota.


Lalu dia Am berangkat dan Dia bertemu Amal di pinggir kota Permadani.


“bagaimana kabarmu Amal?” sapa Am.


“Baik Am. Kamu sendiri bagaimana? Apakah enak menjadi manusia?.” Tanya Amal.


“enak nggak enak sih. Kadang aku harus menjadi lelah untuk mencapai sesuatu. Seperti bersih-bersih rumah agar aku mendapat rumah yang bersih. Mencari uang agar aku dapat membeli sesuatu. Ya.. seperti itulah Amal.” Kata Am.


“sepertinya itu seru sekali. Lalu bagaimana Furqon sudah jatuh cinta padamu? Aku dengar kalian satu atap sekarang.” Kata Amal.


“sepertinya belum, entahlah Amal menggapai hati seseorang adalah hal yang paling sulit dan rumit. Aku hanya bisa berusaha sedekat mungkin dengannya.” Kata Am.


“Am, aku tidak menyarankan ini. Tapi aku melihat bahwa orang yang saling jatuh cinta kebanyakan mereka saling menyentuh satu sama lain. Seperti bergandengan tangan, mencium, dan memeluk. Bahkan mereka bisa ke tahap berkembang biak pula. Tapi yang aku lihat mereka memang memiliki cinta hanya saja… aku juga melihat nafsu juga menyelimuti mereka. Jadi aku tidak dapat memastikan cara ini benar atau tidak untukmu.” Kata Amal.


“maksudmu… aku harus bergandengan dan berciuman dengan Furqon?” Tanya Am.


“ya.. itu hanya saran. Tapi kalau tidak dilakukan juga tidak apa-apa Am. Aku hanya berbicara berdasarkan apa yang aku lihat.” Kata Amal.


“dipikir-pikir selama ini kita memang hanya bergurau dan menyapa satu sama lain. Yang kamu katakan ada benarnya Amal. Aku akan mencobanya.” Kata Am.


“tapi Am kamu yakin?” Tanya Amal.


“kenapa tidak? Perubahanku menjadi manusia hanya bertahan selama tiga bulan. Dan ini sudah satu minggu aku tidak mendapatkan apa-apa Amal. Aku harus mencobanya.” Kata Am.


“baiklah jika ini keputusanmu. Tapi kamu harus ingat. Berhati-hatilah. Dan semoga berhasil Am.” Kata Amal.


“terimakasih Amal.” Kata Am.


Setelah kedua sahabat itu bertemu dan berbincang. Am pulang ke rumah Furqon karena waktu menjelang sore.


“Hei perlu aku berubah menjadi naga dan kamu menunggangiku lagi?” Tanya Amal.


“ah… tidak usah Amal. Kali ini aku ingin menjadi manusia sejati.” Kata Am.


“baiklah. Hati-hati dijalan.” Kata Amal.


“siap.” Kata Am.


Am berjalan menyusuri jalan menuju Furqon sendirian. Dia teringat saat pertama kali bertemu dengan Furqon. Dan Am merasa senang karena telah mempunyai teman dan sahabat di dunia ini.


Terlihat Furqon sedang menunggu seseorang di depan rumahnya. Melihat itu Am langsung menyapa Furqon dari kejahuan.


“apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Am.


“aku menunggumu nona, aku hanya khawatir. Katanya nona keluar menuju pinggir kota Permadani. Bukankah kota itu jauh dari sini. Apakah sudah ketemu?” Tanya Furqon.


“bagi saya tidak jauh kok. Apanya yang ketemu?” Tanya Am.


“katanya nona mencari sesuatu ke pinggir kota Permadani. Apakah sudah ketemu?” Tanya Furqon.


“iya sudah.” Jawab Am.


(nona Fi katanya tidak punya uang. Tapi kenapa dia mencari sesuatu di pinggir kota. Sebenarnya apa yang dia cari. Ah,,, sudahlah bukan urusanku kan.) batin Furqon.


“iya sudah, cepat bersihkan dirimu kemudian ke meja makan.” Kata Furqon.


“iya kak. Terimakasih.” Jawab Am.


(aduh, dengan seperti ini bagaimana aku bisa menciumnya ya?. Ah.. sepertinya lama-lama aku akan gila.) batin Am.


Setelah Am membersihkan diri kemudian mereka makan bersama di meja makan.


“bagaimana nak, kamu telah menemukan yang kamu cari di pinggir kota tadi?” Tanya ibu.


“iya ibu,” jawab Am.


“apa yang kamu cari nak?” Tanya ibu.

__ADS_1


"tidak mungkin aku pergi untuk bertemu malaikat Amaltheia. Aku menjawab apa ya?" batin Am.


__ADS_2