
Para istri itu belum mengerti bahwa suaminya telah meninggal.
Untuk berjaga-jaga melakukan upacara rutinan yang mereka lakukan yaitu pesugihan, mereka berencana memberikan Am dan kedua tuyul itu yang di mata mereka adalah manusia sebagai tumbal.
Karena tak kunjung sadar kedua tuyul itu berfikir Am telah meninggal.
"Apakah dia meninggal kak?" kata adik tuyul.
"Hei, jaga mulutmu. Bagaimana jika dia mendengar dan marah?" kata kakak tuyul itu.
Akhirnya adik tuyul itu mencoba keluar karena bosan menunggu kesadaran Am. Adik Tuyul itu mencoba membuka pintu kamar. Namun tak bisa. Akhirnya malam itu dia menembus dinding dan mendengar percakapan para istri itu.
" Dasar manusia tak tahu berterimakasih, ditolong tapi mereka malah berencana menjadikan kami tumbal?" batin adik tuyul itu.
...****************...
Dua hari dua malam telah terlewat, diatas ranjang yang empuk dengan berbaring bagaikan orang mati, kedua kelopak mata itu terbuka pelan-pelan.
"Kak, lihat!" adik tuyul itu.
Kakak tuyul itu melihat Am dengan sungguh-sungguh.
"Kamu sudah sadar?" tanya tuyul itu.
"Iya, istirahatku membuat badanku lebih segar sekarang" jawab Am tersenyum.
Am memandang kedua tuyul itu. Am mengerti aura mereka adalah tuyul namun mereka saat ini berwajah manusia.
"Kenapa dengan wujud kalian?" tanya Am.
"Kami menyamar agar istri mbh. Rogo tak mencurigai kami, hanya ini yang kami dapat lakukan untuk menolongmu" kata kakak tuyul itu.
Akhirnya kedua tuyul itu bercerita awalnya dipersilahkan sebagai tamu agar dapat beristirahat. Namun tiba-tiba dikurung di kamar ini. Membuat kedua tuyul itu takut atas kemarahan Am.
"Ampun, tolong jangan siksa kami, kami benar-benar tidak mengetahuinya" kata adik tuyul itu.
"Iya tolong maafkan kami atas kesalahan kami" kata kakak tuyul itu.
"Terimakasih,,,"
"sepertinya itu yang seharusnya saya katakan kepada kalian" kata Am tersenyum.
Kedua tuyul itu kaget dengan perkataan Am.
"Apa? Padahal kami melakukan kesalahan tapi dia,,, justru berterimakasih?" batin kakak tuyul itu.
"Apa kami tak salah dengar, ini pertama kalinya ada seseorang yang berterimakasih pada kami yang tak berdaya seperti ini" kata kakak tuyul itu.
__ADS_1
"Tidak, saya sangat berterimakasih pada kalian" ucap Am.
"Padahal kekuatanmu sangat besar, tapi kamu tak ingin menyiksa kami? " kata adik tuyul itu kagum kepada Am.
"Tak ada gunanya saling menyakiti. Aku lebih suka kita saling menyayangi satu sama lain" kata Am.
"Ini uang asli yang pernah kamu berikan pada kami, seperti perjanjian awal, kami kembalikan padamu" kata kakak tuyul itu.
"Baiklah terimakasih" kata Am dengan menerima uang itu.
"Seharusnya kami yang berterimakasih padamu, saat pertarungan kamu melindungi kami. Kami tak apa melakukan apa saja untukmu demi menebus rasa terimakasih kami" kata adik tuyul itu.
"Ada yang harus kalian lakukan" kata Am.
"Apa itu?" tanya kedua tuyul itu serentak.
"Kalian tak mencuri lagi, itu sudah cukup" kata Am.
Deg
Kedua Tuyul itu tak mengira, sosok yang di depan mereka ini begitu penyayang dan lembut. Beda dengan makhluk jin atau manusia. Jika mereka memiliki kekuatan yang besar, pasti rasa kesombongan mereka juga besar pula.
Melihat jika mereka dikurung, seketika Am memiliki ide. Am berpura-pura perutnya lapar dan ingin makan seperti halnya manusia. Begitu juga dengan kedua Tuyul itu.
"Tok, tok, tok" mereka mengetuk pintu.
"Kami lapar, apakah tak ada nasi yang bisa kita makan? Sesendok pun. Tolong perut kami" kata kedua tuyul itu memelas.
"Tok, tok, tok"
"Halo? Apakah ada orang? Kami sudah 2 hari di sini dan perut kami rasanya sangat lapar" kata Am.
Salah satu istri itu mendengar ucapan mereka. Yaitu istri ketiga. Akhirnya dia bertanya kepada istri pertama dan kedua.
"Bagaimana ndoro?" tanya istri ketiga.
"Kasih mereka makan saja, kasihan juga" kata istri pertama.
Istri kedua mendengar itu terdiam dan tak bereaksi apa-apa.
Akhirnya istri ketiga itu membawa makanan ke kamar tamu.
"Ceklek"
Dia membuka pintu bersama istri pertama.
Melihat itu Am dan kedua tuyul itu melakukan kesempatannya.
Mereka sembunyi di samping pintu. Saat istri ketiga itu masuk memberikan makanan, mereka langsung menarik tangannya dan keluar.
__ADS_1
Saat keluar, sempat istri pertamanya menghadang mereka. Namun kakak tuyul itu langsung memegang kedua tangannya dan menguncinya. Sehingga istri itu tak dapat bergerak. Am keluar lalu dia menghadap ke istri pertama itu yang sedang dipegangi oleh kakak tuyul itu.
"Apa maksud kalian mengurung kami?" tanya Am berlagak tidak tahu apa-apa.
"A, aku hanya terpaksa melakukannya" jawab istri pertama itu.
"Terpaksa kenapa?" tanya Am lagi.
"Kami terpaksa ingin menjadikan kalian tumbal" jawab istri ketiga.
"Kenapa? Kalian melakukan hal yang keji? Berapa nyawa yang telah kalian layangkan untuk tumbal kalian?" tanya Am.
"Banyak, jika kalian ingin membunuh kami, silahkan, atau melaporkan kami silahkan" kata istri pertama.
"Saya juga terpaksa melakukan semua ini, saya juga lelah melakukan ini terus menerus" tambah istri pertama itu.
"Bertaubatlah, karena suami kalian telah meninggal" kata Am.
Mendengar hal itu kedua istri itu tercengang dan tak percaya.
"Apa maksudmu?" tanya istri pertama.
"Aku melihatnya dimakan oleh jin Ifrit. Karena itulah aku pingsan" kata Am sengaja berbohong untuk menyembunyikan identitasnya.
"Aku juga melihatnya" kata kakak tuyul itu.
"Aku juga" kata adik tuyul itu untuk meyakinkan.
Dengan banyak saksi ini, kedua istri itu akhirnya percaya. Mereka bukan merasa sedih. Justru mereka merasa sangat senang. Karena pada akhirnya mereka bisa terbebas dari belenggu kejahatan ini.
Tapi,,, mendadak istri pertama itu termenung.
"Jika Rogo saja dimakan jin Ifrit, lalu bagaimana dengan nyawa kami?" kata istri pertama.
Am terdiam mendengar pertanyaan istri pertama itu. Tak mungkin dia bilang jika jin ifrit itu telah dibunuhnya.
Kedua Tuyul itu saling menatap satu sama lain.
"Am berfikirlah,,, apa yang harus aku jawab" batin Am.
Mendadak jawaban itu menghampiri otak kepala Am.
"Ah, jin ifrit itu meledak karena memakan mbh. Rogo" jawab Am.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya istri pertama.
"Karena Rogo memiliki banyak kekuatan, dan jin itu melanggar akad mereka. Itu yang menyebabkan dia lenyap dengan sendiri" jawab Am.
"Iya, awalnya mereka bertengkar, kemudian menyalahkan satu sama lain. Ini membuat akal sehat jin ifrit melupakan semuanya. Sehingga dia memakan Tuannya sendiri" tambah kakak Tuyul itu.
__ADS_1
"Cepat, kabarkan kabar ini kepada istri kedua" kata istri pertama itu.
"Baik" kata istri kedua dengan berlari ke arah kamar istri kedua.