
Am berjalan pulang dengan memikirkan segala pertanyaan yang ada di benaknya. Tentang suasana yang saat ini di matanya berubah total dibandingkan dahulu. Dengan teknologi alat-alat manusia yang canggih saat ini. Dan manusia yang berkembang biak sangat pesat.
Am menyadari bahwa zaman telah berubah drastis. Dan hanya Am yang hidup dari masa dulu. Am berumur tua tapi tetap berwajah muda.
Melihat demikian, Am jadi penasaran tentang keadaan rumah tempat Furqon tinggal dulu. Jadi dia menyempatkan diri untuk kesana.
Am menapaki jalan menuju kesana.
Bersama sepeda gayuhnya yang di buat dari kekuatan Am. Karena Am tak memiliki uang seperser pun membuatnya menggunakan kekuatannya untuk menciptakan sesuatu. Walau itu bertahan sementara. Terlihat Dia sedang menggayuh sepedanya.
Beberapa menit kemudian, betapa terkejutnya Am melihat apa yang dilihatnya saat ini. Pepohonan yang dulu terlihat indah dan sejuk, sekarang berupa banyak bangunan pemukiman dan beberapa pabrik industri.
"manusia berkembang sangat cepat ya? sejak 100 tahun saja sudah berubah drastis seperti ini. Aku jadi yakin bahwa Pheron pasti telah meninggal atau dia menjadi seorang kakek-kakek sekarang. Melihatnya tak pernah berkunjung ke Perpustakaan." gumam Am.
Am masuk di desa itu. Memang Am dapat berubah merpati dan terbang dengan cepat. Tapi entah kenapa dia ingin kesana dalam wujud manusia saat itu. Dan Am menikmatinya. Dengan mengingat-ingat saat dia menggayuh sepeda bersama Furqon lalu Furqon juga mengajarinya.
Di tengah perjalanan, Am bertemu dengan banyak malaikat yang sedang bertugas. Saling beradu dengan setan.
Melihat hal itu Am jadi gemas sendiri dengan manusia yang sulit sekali mendengarkan malaikat. Terlihat hati manusia sangat cepat berubah saat itu. Melihat hal itu Am hanya tersenyum dan berpura-pura tak mengerti tentang keadaan sekitar.
"aduh.. gaduh sekali mereka."
"jika manusia tak diberi hijab. Pasti telinga mereka akan pecah mendengar Malaikat dan setan saling beradu satu sama lain." gumam Am dengan tersenyum tipis.
"bagaimana mungkin Furqon tahan dengan pendengarannya selama ini ya?" gumam Am.
Dengan bergumam untuk dirinya sendiri di sepanjang perjalanan, akhirnya dia sampai ke rumah yang terlihat sangat tua itu. Rumah yang kuno dan beda dari rumah lainnya.
Rumah tersebut terlihat tak lagi terurus. Am memparkirkan sepeda gayuhnya di depan teras. Kemudian dia masuk ke rumah itu dan melihat-lihat barang yang ada di sana.
Ya... tak salah lagi, itu adalah rumah Furqon dulu. Tempat yang ditinggali Am selama setengah tahun namun memiliki banyak arti dan kenangan.
Mobil Furqon juga sudah tak lagi nampak sebuah mobil.
Saat Am masuk, dia melihat foto lama yang agak remang-remang terlihat wajahnya. Am memgambilnya. Dilihat baik-baik itu adalah foto ayah, ibu dan Furqon saat kecil. Am mengambil foto itu dari figura dan menyimpannya.
"tak terasa sudah sangat berlalu." gumam Am tersenyum tipis melihat kenangan di foto tersebut.
Saat melihat-lihat, ada salah satu malaikat yang lewat di rumah tersebut.
__ADS_1
Dia merasakan kehadiran Am. Ini seperti malaikat namun bukan seorang malaikat murni. Membuat dia penasaran siapakah dia yang sedang berkunjung?
Malaikat Amara yang merupakan malaikat yang dulu sering berada di sisi ibu Furqon. Dia masuk ke rumah kuno itu karena penasaran.
Melihat siapa yang datang. Tak membuat terkejut malaikat Amara.
"Am?" panggil malaikat Amara.
"Amara? apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Am.
"aku merasakan aura mu. Itu yang membuatku penasaran lalu datang ke sini." kata malaikat Amara.
"apa yang telah terjadi?" tanya Am.
"setelah Furqon meninggal, ibu dan ayah Furqon mengalami sakit keras. Awalnya ibunya yang sakit. Kemudian ayah nya yang menyusul. Untungnya ada manusia lain yang tergugah untuk mau merawat mereka. Karena sakit keras, mereka akhirnya berujung meninggal." kata malaikat Amara.
"saat mereka sakit keras, kenapa aku tak melihat atau merasakannya Amara?" tanya Am.
"karena mereka tidak menginginkan apapun lagi Am. Melihat anak satu-satunya telah meninggal, itu membuat mereka tak memiliki tujuan hidup lagi." kata malaikat Amara.
"rasa pasrah yang tertinggi." kata Am.
"memang tugasku adalah menolong mereka yang sangat tertindas. Tapi... betapa menyesalnya aku lebih sibuk menolong yang lain dibandingkan keluargaku sendiri." kata Am.
"Am, jangan menyesal. Justru seharusnya kamu senang karena ibu dan ayah Furqon memiliki kepasrahan yang tinggi." kata malaikat Amara.
"ini juga berkat kamu yang selalu mendampingi mereka. Terimakasih Amara." kata Am.
"tak perlu berterimakasih. Ini sudah jadi tugasku." kata malaikat Amara.
"sekarang aku tahu, kenapa kamu bisa menjadi malaikat yang memiliki level yang tinggi." kata Am dengan tersenyum.
"baiklah. Aku harus melanjutkan tugasku. Aku pamit." kata malaikat Amara.
"baiklah." kata Am.
Malaikat Amara pergi meninggalkan Am dan melanjutkan tugasnya.
"apa aku huni saja rumah ibu dan ayah ini ya? daripada aku membuat rumah setiap hari dengan kekuatan? ah... tapi bukankah tidak sopan memakai benda yang tak pamit ke pemiliknya. Sudahlah. Aku harus berjuang sendiri untuk dapat membuat rumah. Dan memulai hidupku sebagai manusia." batin Am.
Setelah Am puas dengan segala kenangannya di rumah kuno itu. Am pulang saat hari semakin sore. Lagi-lagi bersama sepeda gayuhnya. Tak terelak, Am benar-benar ingin hidup selayaknya manusia. Hal ini dia lakukan karena dia sangat mencintai Furqon. Sehingga membuat Am senang menjalani hidup sebagai manusia.
__ADS_1
Walau tahun terus bertambah. Di hati Am tetap ada sebuah nama yang tak bisa dihapuskan.
Akhirnya Am menaiki sepeda menyusuri desa yang kini menjadi kota itu.
"semua telah meninggal. Lalu kepada siapa sekarang aku harus meminta pertolongan? aku memang memiliki kekuatan. Bahkan kekuatanku melebihi malaikat lainnya. Namun satu hal kelemahanku. Tentang teknologi manusia. Aku benar-benar tak paham." batin Am.
Saat di tengah perjalanan pulang. Tiba-tiba ada seorang gadis yang sedang di rampok di tengah jalan.
"tolong... tolong..."
"ada perampok..."
"tolong saya, saya di rampok." kata gadis itu.
Mendengar hal itu, Am langsung menghentikan sepedanya. Lalu dia melihat dari jauh tentang apa yang terjadi. Dengan sembunyi, Am menggunakan kekuatannya untuk mengkempiskan ban motor yang dinaiki oleh dua orang perampok itu. Sehingga perampok itu oleng.
"eh, eh, apa yang terjadi kenapa sepedanya?" kata supir rampok itu.
"hei yang bener kalo nyetir dol." kata perampok lainnya.
"iya, ini kayaknya bannya yang sedang bocor." kata perampok itu.
Tertabraklah motor itu ke semak-semak.
"hahahahaaha" Am ketawa melihat apa yang terjadi.
"dasar manusia bodoh. Mereka tidak mau bekerja tapi malah mengambil hak orang lain. Sama-sama itu nggak akan berkah rejekinya tahu." gurutu Am.
Kemudian Am menghampiri kedua perampok itu lalu mengambil tas yang mereka curi itu. Dengan sedikit perang badan. Karena Am memiliki kekuatan tentu dia yang menang. Tapi Am menggunakan kekuatannya ini dilakukan dengan cara sealami mungkin. Seperti tiba-tiba ada angin kencang, dan memanfaatkan benda sekitar untuk menyerang.
Setelah itu dia mengembalikan tas yang dipegangnya itu kepada pemiliknya.
"bukankah tas ini adalah milikmu nona?" kata Am.
...----------------...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
Terimakasih... 🤗🤗🤗
__ADS_1