
Dengan berbaring di ranjang, Am memikirkan tentang hal yang terjadi tadi sore. Lais tak mengingat apapun yang dilakukan Furqon dahulu. Ya,,, itu karena tubuh yang mereka gunakan telah berbeda. Walau tubuh mereka berbeda, bagaimanapun jiwa mereka adalah sama. Am tak ingin menyerah, mungkin Lais memang belum dapat mengingatnya. Tapi Am percaya dari keyakinannya. Lais pasti mengingatnya suatu saat.
...****************...
Seperti biasa saat Lais melewati hutan itu. Lais cepat-cepat berlari agar segera sampai di jalan raya. Karena sore itu beberapa jin sudah mulai keluar.
Diperjalanan jalan raya, terbesit pikiran Lais tentang sikap Am yang tak seperti biasanya.
"Apa maksud dari ingatan yang dikatakan Am tadi ya? Tapi puisi itu,,,, aku sangat menyukainya" batin Lais.
...****************...
Kedua Tuyul telah bangun dari tidurnya. Mereka tengak-tengok kesana kemari mencari sosok Am pemilik rumah magic yang mereka tempati.
Am keluar dari kamarnya.
"Ceklek"
Kedua tuyul itu telah duduk di sofa ruang tamu.
"Kak Am, apa tidak ada urusan hari ini?" tanya salah satu tuyul.
"Kenapa?" tanya Am balik.
"Aku sangat bosan di rumah, kami ingin bermain beberapa permainan" kata adik tuyul.
"Tunggu sebentar" jawab Am.
Am melangkah keluar, dia menciptakan berbagai jenis mainan pasar malam dengan kekuatannya di tengah hutan. Seperti Komedi putar, Biang lala, Rumah hantu, dan Kora-Kora.
Lalu dia masuk ke rumah dan memberitahukan kepada kedua tuyul itu.
"Bermainlah sepuas kalian" kata Am.
Melihat hal ini mereka berdua langsung tersenyum lebar dan senang. Dan mengajak Am untuk bergabung pula. Namun Am menolaknya sedang lagi tak ingin saja.
...****************...
"Duuuuuuuar!!!!!!"
Abu Vulkanik itu memakan ke segala tempat. Di pemukiman bahkan hutan. Menghujani dan memakan wilayah dalam jumlah luas.
Entah bagaimana bisa abu vulkanik itu keluar tanpa peringatan. Membuat para pemukim dekat sana kebingungan dan tak ada persiapan sama sekali.
Beberapa menit kemudian, Am mendengar suara rintihan batin manusia.
"Akh,,,,, Saaa,,, kit, siapa pun to,,long!" salah satu batin anak kecil yang sedang kesakitan tertimbun kayu dari atas.
Am langsung bangun dan berubah menjadi merpati. Dia langsung mengepakkan sayapnya menuju ke arah batin yang sedang tersiksa itu.
Dilihatnya dari atas, Am melihat betapa banyaknya wilayah yang tertimbun abu. Ini sangat parah, lebih parah dari hasil kebakaran yang terjadi karena pertarungan Am dan jin Ifrit dulu.
"Astaga" kata Am.
Dia langsung turun berubah menjadi manusia di tempat yang sepi.
Banyak orang yang berlarian kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Am fokus dengan jeritan hati manusia yang meminta pertolongan itu.
__ADS_1
Saat Am hendak berjalan ke arah gunung, ada seseorang yang tiba-tiba menghentikan langkah Am.
"Nona, jangan kesana nona. Abunya sangat panas. Semua orang berlari menuju tempat pengungsian" kata salah satu orang di sana.
"Iya terimakasih pak" jawab Am sopan.
Am menjentikkan jarinya untuk menghentikkan waktu.
"Ctakkkk"
Berhentilah semuanya. Am berlari dan menolong orang yang kesakitan itu.
Namun yang jadi permasalahan sekarang, bukankah aneh jika yang ditolong Am tiba-tiba pindah tempat?
Akhirnya Am mencari cara bagaimana semua terjadi supaya senatural mungkin. Saat Am telah dekat dengan orang yang kesakitan itu, Am menjentikkan jarinya kembali.
"Ctakkk"
Waktu berjalan lagi, lalu Am segera menolongnya. Am adalah makhluk yang diciptakan dari cahaya dan diberi anugrah dapat berubah wujud apapun. Jadi, abu vulkanik juga termasuk dari wujudnya membuat dia kebal tak merasa sakit walau telah tertimbun banyak abu.
Setelah Am membawa anak kecil itu ke pengungsian, Am langsung meninggalkan tempat itu.
"Te, terimakasih kakak" ucap lirih anak kecil itu.
Am tersenyum dan berkata.
"Sudah tugasku. Tumbuhlah dengan baik" kata Am.
...****************...
Tak lama kemudian, saat Am hendak perjalanan kembali. Telah terjadi kebakaran tepat di desa rumah Furqon dahulu. Rumah tua itu ikut serta kemakan api juga.
Melihat tempat sejarahnya termakan oleh api. Melihat demikian Am merasa emosional.
Dia langsung akan menurunkan hujan, tapi Am ingat dengan pesan dari Tuan untuk tidak melakukan apapun.
"Kenapa ini bisa terjadi?" gumam Am.
Banyak orang-orang sedang mencari bantuan.
"Tolong, ada kebakaran" ungkap salah satu warga desa itu.
Am berfikir bagaimana dia harus bertindak. Tentu hal ini akan terlihat aneh jika Am tuntaskan dengan kekuatannya.
"Baiklah, mari berfikir Am. Apa yang dapat kamu lakukan?" gumam Am.
Beberapa detik terbesit jawaban dari pikiran Am.
"Jika ini terjadi dalam manusia, dan aku sekarang sebagai manusia, aku harus menyelesaikannya dengan cara manusia juga" gumam Am.
Am mengambil ponselnya dan menelvon Lais tepat waktu dini hari.
"Triiiinggg..!!!"
"Triiiiiinnggg..!!"
"Triiiiinggg...!!"
Lais yang sedang tidur itu terbangun lalu mengangkat ponselnya.
__ADS_1
"Halo" kata Lais.
"Lais, jika ada api yang besar, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Am.
"Am, apa maksudmu?" tanya Lais.
"Lais, jika api yang besar memakan rumahmu apa yang kamu lakukan?" tanya Am sekali lagi.
"Aku akan menyiramnya dengan air" jawab Lais.
"Aku tahu Lais, tapi ini sangat besar. Bagaimana solusinya?" tanya Am lagi.
"Maksudmu kebakaran? Panggil pemadam kebakaran Am. Dimana? Apa rumahmu yang terbakar?" kata Lais panik.
Am melihat rumah Furqon yang tua itu dan merasa rumah itu adalah miliknya.
"Iya rumahku kebakaran, kemana aku bisa menghubungi mereka?" kata Am.
"Astaga, aku akan kirimkan padamu. Aku akan segera kesana" kata Lais.
"Tiiit"
Lais mengirimkan nomer panggilan pemadam kebakaran lewat pesan.
Am langsung menelvonnya dan untungnya mereka bersedia segera datang.
Sedangkan Lais berlari menuju rumah Am. Saat Lais sampai di rumah Am tak terlihat ada api sedikitpun yang menyala. Justru ada sebuah permainan pasar malam yang ada di hutan serta 2 tuyul yang sedang bermain.
Melihat hal ini Lais mengetuk pintu rumah Am berkali-kali namun tak ada jawaban. Melihat Lais kedua tuyul itu mengenalnya dan menghampirinya dengan wujud manusianya.
"Apa yang kamu lakukan di sini malam-malam?" tanya tuyul itu.
"Hei, kemana Am? Katanya rumahnya kebakaran" kata Lais.
"Kak Am pergi sejak sore, dan belum kembali" jawab tuyul.
"Lalu yang kebakaran dimana?" kata Lais.
"Kami tidak tahu, karena kami tadi bermain di sana" kata adik tuyul itu.
Melihat demikian bulu kuduk Lais berdiri dan merinding, jelas-jelas tadi ada 2 tuyul di sana.
Akhirnya Lais menelvon Am kembali. Tepat saat petugas pemadam kebakaran datang kesana.
"Tring...!!"
Am mengangkatnya.
"Kamu dimana?" tanya Lais.
"Aku ada di desa humilir salah satu desa kota permadani" jawab Am.
"Apa? Jauh sekali. Katanya rumahmu yang kebakaran" kata Lais.
"Iya, di sini adalah rumahku" jawab Am.
"Tidak bilang, aku sangat khawatir. Tunggu di sana, aku akan menjemputmu" kata Lais.
"Lais langsung berlari kembali ke rumah. Dan memakai mobil untuk menjemput Am ke desa Humilir.
__ADS_1