
"Akhirnya aku berhasil Am" teriak burung merpati perwujudan dari Lais.
Di setiap sudut badan yang mungil itu. Lais melihat-lihat tubuhnya sendiri. Dia masih tak percaya dan takjub dengan wujudnya sendiri.
Sekarang, tangannya bahkan seperti kapas yang sangat ringan ditanami dengan banyak bulu yang ukurannya sejungkal lebih besar dari bulu lainnya.
Dia membolak-balikkan sayapnya. Melihatnya dengan sungguh-sungguh.
"Seperti ini kah bentuk sayap? Jika dilihat dari dekat ternyata sangat menakjubkan. Dengan ini para burung bisa melayang di udara. Tanpa takut jatuh tengkurap" gumam Lais.
"Bagus, cobalah kepakan sayapmu" kata Am.
Lais mendadak kaget dengan perintah Am kali ini. Bagi Lais, rasanya sangat gugup dan takut saat membayangkannya saja.
"Bagaimana jika aku jatuh terjungkal?" kata Lais.
Mengingat Lais telah dapat menguasai air. Am berfikir, jatuh pun tidak masalah jika Lais dapat menggunakan kekuatannya secara lihai.
"Jika kamu jatuh, kamu harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri Lais" jawab Am.
"Tapi aku takut. Aku tidak mau" kata Lais.
"Bagaimana kamu akan terbang ke langit Nabastala jika terbang pun kamu takut?" kata Am.
"Itu,,,," kata Lais terhenti.
Am langsung meraih merpati itu lalu dia melemparnya sengaja di atas laut.
"Hey, hey, hey, Am" kata Lais.
Dengan spontan sayap itu mengepak dengan sendirinya. Mungkin ini adalah naluri Lais karena takut jatuh ke bawah. Dan Lais mempertahankan posisinya dengan ketakutan dan gugup. Sekarang dia terbang di atas laut itu.
"Aku lihat kamu sudah bisa Lais" kata Am.
Dipertengahan percakapan kedua kekasih itu, tiba-tiba ada suara dari kejauhan yang mengajak untuk bercakap.
Dia adalah Andira.
"Kak Am, sedang apa kak?" kata Andira dengan nafas ngos-ngosan.
Seketika Am mengangkat salah satu tangannya. Untuk menyediakan Lais tempat bertengger. Lais segera terbang dan bertengger di tangan Am.
Awalnya Lais tergoncang karena tak terbiasa mencengkram dengan kaki. Tapi Lais berusaha untuk menstabilkan tubuhnya.
"Ah ini, kak Am sedang bermain dengan burung merpati" kata Am.
"Wah,,, indah sekali dia. Boleh aku pinjam?" tanya Andira.
Am melihat kearah Lais. Lais menggelengkan kepalanya. Pertanda dia tak mau berurusan dengan adiknya dalam wujud ini.
Andira yang tak tahu apapun. Dia menganggap burung merpati itu adalah burung merpati biasa.
__ADS_1
"An, sebenarnya dia sepertinya masih kelelahan. Jadi aku harus memberinya makan terlebih dahulu" kata Am.
"Kalau begitu aku ikut" kata Andira dengan penuh semangat.
"Bukankah hari ini jadwal kita libur? Kenapa datang kemari?" tanya Am.
"Pertanyaan kakak seperti tidak suka jika aku datang kemari" kata Andira.
"Bukan seperti itu maksudku. Kadang ada sekelompok manusia yang memanfaatkan hari liburnya untuk istirahat" kata Am.
"Andira bosan di rumah. Tidur saja rasanya badanku semakin pegal kak" kata Andira.
"Oh begitu" kata Am.
Am berjalan dengan membawa Lais ke rumah tetap sebagai wujud Merpati. Di tengah perjalanan langkah keempat kaki itu. Andira meminta penyerahan merpati itu kepada tangan Andira dengan paksa. Karena terlalu gemasnya Andira dengan merpati yang gagah itu.
Bagaimanapun Am harus menyerahkan Lais kepada tangan Andira.
Namun ada sesuatu yang aneh bagi Andira.
"Kenapa merpati ini sedikit agak berat?" Gumamnya.
Am hanya diam saja mendengar perkataan Andira. Berpura-pura tidak mendengarnya dan menganggap hanya angin lewat.
"Ah,,, mungkin karena dia terlalu gagah" gumam Andira lagi melihat Meprati itu sembari tersenyum. Seperti orang yang merasakan cinta untuk pertama kalinya.
Sekali lagi Andira berbicara dengan merpati itu seakan merpati itu mengerti apa yang dia katakan.
...****************...
Namun Andira bersikeras tak ingin mengembalikannya.
"An, Dia lapar. Aku harus memberinya makan di belakang" kata Am.
"Bukankah makan bisa diberikan di sini kak?" kata Andira.
"Dia Merpati yang pemalu. Jika ada orang yang baru dia temui, Dia tidak akan mau makan" kata Am berdalih.
"Apa seperti itu?" tanya Andira menegaskan.
Am menganggukkan kepalanya.
Andira menyodorkan Merpati itu kearah Am. Dengan terpaksa Andira mengembalikan kembali kepada Am.
Am menangkapnya, segera dia berjalan ke belakang rumah. Dan memerintahkan Lais segera berubah kembali sebagai wujud manusia.
Dengan perubahan yang sedikit cepat dibandingkan sebelumnya, Lais berhasil kembali lagi menjadi manusia.
"Zrrruuuuth"
Berubahlah wujud Lais yang terlihat duduk berjongkok itu.
"Astaga, rasa badanku sangat pegal karena melakukan perubahan ini" kata Lais.
__ADS_1
"Untung saja Andira tidak langsung membawamu pulang" kata Am.
"Benar, hah dasar, dia memang selalu saja menyebalkan" kata Lais.
...****************...
Langkah kaki Andira terdengar mendekat di tempat Lais dan Am berada.
"Kak Am, loh sejak kapan kakak di sini?" kata Andira.
"Kakak ke sini dari pagi tadi" kata Lais.
Dengan mendongak kesana kemari. Mata itu liar berkelana di sekeliling Am.
"Dimana Merpati tadi kak?" tanya Andira.
Mendengar pertanyaan dari Andira membuat Am dan Lais saling memandang. Tak mungkin mereka bilang bahwa Merpati itu adalah Lais kakaknya.
"Dia tadi sudah terbang An, sepertinya dia takut denganmu he, he, he, " kata Am bercanda.
"Ih, seharusnya jangan dibiarkan. Biar Andira saja yang melihara" kata Andira.
"Ehem, Jadwal ke depan kita akan sibuk An, tak mungkin kamu memiliki waktu untuk merawatnya" kata Lais.
Saat ada kehadiran Andira diantara Am dan Lais, mereka lebih menyibukkan percakapan yang condong lebih manusia.
Saat Andira telah pulang, Lais dan Am mendadak berubah memperbincangkan tentang kehidupan dan kerajaan Nabastala.
Hari itu mulai sore, Andira pamit pulang diiringi dengan Lais sebagai kakaknya.
Tak lupa Lais mengunci layar ponselnya untuk berjaga-jaga Andira membuka ponselnya sembarangan. Akan bahaya jika Andira mengetahui isi pesan percakapan Lais dengan Am. Yang tak wajar sebagai manusia normal.
...***************...
Dengan penampilannya yang cantik dan menawan, Am melakukan rutinitasnya sebagai seorang artis.
Dia cukup terkenal saat itu. Am sudah memiliki fans berjuta-juta hingga manca negara.
Namun di sini ada yang aneh, tak satu pun reporter yang mengetahui letak rumah Am dimana.
Hanya Lais, Andira dan Je, dan Jo yang mengetahuinya.
Rumah Am sangat dirahasiakan kepada siapapun. Karena ini juga berkaitan tentang identitasnya.
...****************...
Sudah sejak seminggu Lais terus berlatih tanpa henti. Setelah Dia mendapat kekuatan, Lais hampir tak butuh dengan tidur. Dia hanya akan tidur jika kekuatannya terasa lemah dan sudah banyak terkuras.
Kali ini Am mengajak Lais untuk berkeliling Dunia. Hal ini juga melatih kekuatan Lais untuk bertahan hingga terbang lama.
Mereka berkeliling di negara-negara ASEAN, bahkan juga Inggris, Hongkong, Arab saudi, Taiwan, Singapore dan kembali ke Indonesia.
Betapa serunya hal ini bagi mereka. Melayang-layang di udara tanpa memikirkan beban tentang kehidupan.
__ADS_1
...----------------...