Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 78: Emosi


__ADS_3


Lais menunggu Am hingga sadar. Dia duduk di sebelah Am yang sedang terbaring itu dengan menggenggam tangannya. Saat menggenggam tangan Am, Lais terpicu dengan 1 benda yang sedang Am kenakan saat itu.


"Kenapa jam tangan ini seperti aku pernah melihatnya? Tapi dimana?" batin Lais.


Iya, itu adalah jam tangan yang pernah diberikan oleh Furqon dahulu kepada Am di tengah-tengah rumput. Jam itu terlihat sangat kuno namun masih bersih dan bagus. Am sengaja melindunginya dengan kekuatannya agar jam itu tetap bagus seperti baru memakainya.


"Melihat bentuknya sangat unik dan aku menyukainya" batin Lais.


Tiba-tiba Am berteriak layaknya seorang manusia yang sedang bermimpi buruk. Iya, kejadian meninggalnya Furqon dahulu masih membuat Am trauma dan merasa bersalah. Karena rasa trauma dan bersalahnya sangat besar, membuat kejadian yang lampau itu masih tergambar di pikiran Am.


"Tidak, tidak, tolong jangan, tidak!!!!" teriak Am.


Tepat jam 12 siang, Am membuka matanya.


"Am kamu tak apa?" tanya Lais yang sedang duduk menunggunya.


"Dimana ini?" tanya Am.


"Kamu sedang dirawat di rumah sakit" jawab Lais.


Saat Am bangun, Lais membantu mengangkat badannya Am. Sehingga jarak wajah mereka kini sedang berdekatan. Mata mereka saling bertatap. Tatapan Am menggambarkan rindu yang amat dalam. Sedangkan tatapan Lais menggambarkan jika dia mulai jatuh cinta kepada Am.


Setelah beberapa detik, Lais melontarkan pertanyaan dan memecahkan tatapan mereka berdua.


"Kamu tak apa-apa? Apa ada yang sakit? Tadi kamu bermimpi apa?" tanya Lais.


"Aku tak apa jangan khawatir. Kamu tak sekolah?" jawab Am.


"Sekolah telah meliburkan hari aktifnya karena banyak bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini. Dan kemarin,,,, ada sesuatu yang terjadi sangat aneh di kota ini" kata Lais.


"Apa maksudmu?" tanya Am.


"Tiba-tiba semua manusia tertidur, bahkan para pengendara lalu lintas juga tertidur tanpa mematikan mesin kendaraan mereka" kata Lais.


"Astaga, benar aku tidak memikirkannya" spontan Am terkejut.


"Aku sudah menduga jika ini adalah perbuatanmu. Apa yang sebenarnya terjadi Am?" kata Lais mengintrogasi Am.


"Aku,,, hanya ingin menolong mereka" jawab Am.


"Menolong? Menolong apa maksudmu? Kamu membuat mereka tertidur saat berkendara dan mereka banyak yang mengalami luka. Apakah ini yang dinamakan menolong Am?" kata Lais protes dengan apa yang dilakukan Am.


"Lais, yang kamu lihat masih belum semuanya" jawab Am.


"Aku telah melihat semuanya Am. Banyak orang yang berlarian kesana kemari. Mereka semua bingung dengan apa yang terjadi. Banyak dari mereka juga mengalami luka" kata Lais.


"Am kamu memang memiliki kekuatan tapi tolong berfikirlah sebelum bertindak" tambah Lais.

__ADS_1


Am terdiam dengan semua perkataan Lais. Lalu langsung beranjak pergi karena Lais tak mau mengerti bagaimana situasinya sebenarnya.


"Am mau kemana kamu?" kata Lais dengan beranjak mengikuti Am yang pergi.


Am melihat memang banyak pasien yang sedang luka-luka di sana. Akhirnya, Am menjentikkan jarinya secara sembunyi untuk menghilangkan rasa sakit seluruh manusia di badan mereka. Seketika mereka merasa bugar saat itu juga walau luka itu masih terlihat sama.


Lais mengejar Am yang terus berjalan dengan sangat cepat itu menuju pintu keluar.


"Am, kamu mau kemana, setelah kamu dirawat kita harus membayarnya" kata Lais sengaja agar Am berhenti keluar dengan emosi yang ditahannya itu.


Mendengar perkataan Lais terpaksa Am berhenti, mau tak mau dia harus mendengarkan Lais. Karena Am selalu bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Berapa yang harus kubayar?" tanya Am.


"Kita tanyakan dulu pada bagian administrasi" jawab Lais.


Am menuruti yang dikatakan oleh Lais.


Tiba-tiba ada suara pasien yang sedang bicara kepada dokter rumah sakit itu.


"Dokter, saya telah sembuh luka ini tidak terasa sakit sekali. Kami mau pulang saja" kata salah satu pasien.


"Iya dok, kami sudah sehat" kata pasien lainnya.


Mendengar pasien yang berkata telah sehat namun masih terlihat luka itu tentu dokter tak percaya dengan apa yang mereka bicarakan.


"Kalian masuklah ke ruangan dan istirahatlah" kata dokter.


"Perawat tolong ya? Saya ada jadwal operasi hari ini" kata dokter itu.


"Mohon dengarkan kata dokter ya pak, ini untuk kebaikan bapak juga" kata perawat itu dengan mengantar pasien-pasien itu kembali.


"Aneh, luka separah itu kata mereka sudah membaik. Lucu sekali!" gumam Lais.


Lalu Lais mengingat akan kekuatan Am.


"Tunggu! Apa mungkin,,," kata Lais dengan melihat Am.


"Jadi berapa yang harus aku bayar mbak?" tanya Am ke bagian Administrasi.


"Atas nama siapa?" tanya penjaga administrasi.


"Amfitrite" jawab Am.


"Pasien atas nama Amfitrite berjumlah Rp 500.000, 00 mbak" kata Administrasi itu.


"500 ribu?" kata Am sadar jika dia tak memiliki uang sebesar itu.


Lais mengetahui tentang keadaanya Am. Akhirnya Lais yang membayarnya.

__ADS_1


"Ini mbak" kata Lais dengan menyodorkan uangnya.


Setelah itu Am langsung berjalan tanpa ucapan apapun.


"Am" panggil Lais.


"Am" panggil Lais lagi.


Namun Am tak ingin menoleh sama sekali. Akhirnya Lais meraih tangannya dan menghentikkan langkahnya.


"Maaf aku tadi membentakmu!" kata Lais menyesal.


"Aku akan mengembalikkan uang yang telah kamu bayar tadi" ucap Am.


"Am, aku tak akan marah seperti itu jika kamu cerita padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku tahu kamu tak akan melakukannya tanpa alasan" kata Lais.


"Benarkah? Bukankah kamu telah melihat semuanya?" kata Am.


"Tidak, aku tadi hanya terbawa emosi jadi,, sebenarnya aku memang belum melihat semuanya. Lebih tepatnya Aku tidak tahu apa-apa" kata Lais.


"Sudahlah tak perlu dibahas" kata Am.


"Am, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lais lagi.


"Aku tak akan menjawab sebelum kamu mengingat masa lalumu Lais" kata Am.


"Masa lalu lagi, masa lalu lagi. Sebenarnya apa yang kamu bicarakan Am. Aku benar-benar tak mengerti" kata Lais.


"Kamu tak mengerti karena kamu tak ingin mengingatnya Lais" jawab Am.


"Apa katamu? Apa kamu tahu Am bahkan aku sudah mencurigai ibuku sendiri aku adalah anak angkatnya atau aku pernah memiliki amnesia. Tapi semua itu tidak terjadi padaku Am. Mengingat hal apa yang kamu maksud?" kata Lais.


Am dapat merasakan emosi Lais saat ini sangat kesal karena dia telah berusaha keras namun tak menemukan hasil. Akhirnya Am ingin membantu sedikit kepada Lais.


"Aku akan membantumu tapi tidak sekarang Lais" kata Am.


"Kapan?" tanya Lais.


"Diwaktu yang tepat. Aku harus pulang" kata Am langsung berlari menuju pohon pinggir jalan. Am bersembunyi dibaliknya dan berubah merpati di sana.


"Am tunggu.... Aku akan mengantarmu!" kata Lais.


Lais menghampiri pohon itu dan mencarinya namun tak melihat Am. Justru yang dia lihat saat ini adalah genderuwo di sana. Membuat bulu Lais berkidik dan segera menuju mobil untuk pulang.


"Astaga, kemana Am tiba-tiba dia menghilang di sana. Sepertinya aku menyukai pesulap, penyihir atau seorang alien?" gumam Lais.


...****************...


Am mengepakkan sayapnya dan mencari sahabatnya yaitu Amatheia.

__ADS_1


Dia memberikan signal kepada sahabatnya untuk bertemu di tempat pertemuan mereka itu. Tepat di bawah pohon besar dekat dengan Amaltheia bertugas.


"Amaltheia,,, dapatkah menemuiku? Ada sesuatu yang harus aku sampaikan" isi signal yang di pancarkan oleh Am.


__ADS_2