Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 84: Mengungkapkan Identitas


__ADS_3


"Hoz, hoz, hoz," nafas mereka terengah-engah.


Saat itu posisi Lais membungkuk dengan menopangkan kedua tangan di siku kakinya.


Lalu mata itu tertuju kepada kaki Am yang polos tanpa memakai sandal apapun.


"Am kamu tak pakai sandal dari tadi?" tanya Lais.


"Ah, iya! aku masih belum terbiasa memakai hal seperti itu" jawab Am.


"Tanpa sandal, kakimu bisa terluka jika berlari seperti tadi lagi Am" kata Lais dengan lembut.


"Tak masalah" kata Am.


"Bagaimana bisa kita menuju kesini?" kata Lais tak percaya dengan apa yang barusan dia lakukan. Tentu saja keluar dari sekolah ini berarti Lais akan bolos pelajaran berikutnya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya sehari-hari yang tak pernah bolos dan rajin.


"Bukankah kamu yang tadi menyeretku? Sebenarnya ada apa? Kenapa mereka berbondong-bondong akan menghampirimu?" tanya Am penasaran.


"Bukan aku Am tapi kamu" kata Lais.


"Maksudmu?" tanya Am.


"Kamu tak tahu sebegitu terkenalnya kamu saat ini?" kata Lais.


"Terkenal? Apa?" tanya Am tak mengerti.


"Am videomu yang diunggah Andira telah mereka tonton dan sangat viral. Kamu mendadak menjadi artis saat ini" kata Lais.


"Ah, itu benarkah? Lalu apakah aku bisa mendapatkan semacam uang?" tanya Am.


"Sepertinya belum, tapi sebentar lagi" jawab Lais.


"Wah asiiiik! Akhirnya tanpa sekolah aku bisa bekerja seperti manusia" kata Am.


Mendengar hal ini Lais menjadi bangga dengan prestasi Am.


Mereka berdiri di bawah pohon yang rindang, di atas sungai tepat di pagar jembatan. Lais meletakkan tangannya. Dengan melihat pemandangan yang asri di sana. Seketika Lais terpikir tentang masa lalu yang pernah dikatakan Am padanya.


"Am, bukankah kamu akan membantuku untuk mengingat tentang ingatan yang kamu maksud?" tanya Lais.


"Ah, iya. Duduklah terlebih dahulu Lais. Aku akan membantumu" kata Am.


Lais mengikuti perintah Am. Dia memilih duduk di dekat pohon yang berada di sebelah pagar jembatan itu.


Am menempelkan 3 jarinya ke dahi kepala Lais. Dia mulai memberikan kekuatan pengingat memori di kepala Lais.


Dalam pejaman matanya, Lais melihat berbagai kenangannya di masa lalu. Termasuk saat dia baru lahir. Saat dia masih kecil dan saat dia masih dalam rahim ibunya. Ingatan ini sesuai dengan apa yang pernah mata yang dia miliki lihat.


Beberapa menit kemudian, proses itu telah selesai.


Am menarik jari tangannya kembali. Saat itu juga, Lais membuka matanya.

__ADS_1


Saat Lais membuka matanya, jarak Am dengannya begitu dekat. Membuat Lais menelan salivanya.


"Gleeeek!"


"Bahkan dari dekat wajahnya juga sangat cantik!" batin Lais.


Dia menahan dirinya untuk tidak melakukan sesuatu kepada Am. Karena di sana hanya mereka berdua saat itu.


"Lais? Bagaimana?" tanya Am.


Panggilan itu menggugah lamunan Lais tadi.


"Ah, iya" kata Lais.


"Iya apa? Kamu menemukannya?" tanya Am.


Lais hanya menggelengkan kepalanya. Menandakan jika dia tak menemukan ingatan itu.


"Tadi aku hanya melihat, bagaimana nakalnya aku saat kecil pada ibuku. Aku menangis dan keras kepala, tapi ibuku tetap menyayangiku. Walau aku nakal, dia tetap memberiku susu. Itulah yang kulihat!" kata Lais.


"Benar, mungkin karena tubuh ini bukan milik Furqon sebelumnya. Jadi memori itu tak dapat ditemukan. Seperti halnya ponsel dan aku membuka ponsel yang lainnya, tentu saja beda isi foldernya" batin Am.


"Kamu tak bohong padaku kan Am?" tanya Lais.


"Tidak, tentu tidak Lais. Kamu adalah re-inkernasi dari Furqon. Kamu pernah hidup di zaman 100 tahun lalu. Sekarang kamu dilahirkan kembali untuk menjalani hidup yang adil" kata Am.


"Ohok, ohok, ohok!" Lais merasa kaget sehingga tersedak dan batuk.


"Furqon adalah dirimu, dan saat itu kita saling mencintai satu sama lain" kata Am.


"Bagaimana kamu tahu Am? Kita saling mencintai. 100 tahun yang lalu? Apakah ini kebenaran? Kamu tahu Am, yang kamu katakan tadi sangat diluar nalar Am" kata Lais tambah bingung.


"Tentu saja benar" kata Am.


Lais menatap mata Am dalam-dalam.


"Lalu? Bagaimana kamu bisa ingat tentang inkernasiku sebelumnya?" tanya Lais.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan orang yang aku cintai?" tanya Am balik.


"Sepertinya kamu sedang lelah Am" kata Lais tak percaya.


"Mari kita kembali!" kata Lais lagi.


Saat Lais berjalan menuju rumah Am. Tiba-tiba Am mengucapkan tentang siapa dirinya.


"Aku bukan manusia Lais" kata Am.


Seketika Lais berhenti dari langkahnya.


"Ha, ha, ha, bicara apa kamu Am. Sudah lebih baik kita segera pulang. Ayo!" kata Lais dengan menghampiri Am dan menarik tangannya.


Lais tak ingin percaya bahwa Am bukan manusia. Jika Am bukan manusia, tentu cinta mereka pasti akan terlarang. Lebih baik Lais menganggap perkataan Am yang tadi adalah sebuah lelucon.

__ADS_1


"Lais, kenapa kamu selalu berdalih? Aku memang bukan manusia Lais" kata Am.


Lais menghentikan langkahnya dan memandang Am dengan tajam.


"Lalu? Kamu makhluk apa? Apakah kamu jin? Hantu? Atau vampir?" tanya Lais.


"Aku adalah malaikat" kata Am.


"Apa? Tidak mungkin. Malaikat adalah makhluk yang tak kasat mata dari pandangan manusia. Mana mungkin kamu,,,,," kata Lais terhenti mengingat tentang kekuatan Am dan kehebatan Am yang diluar batas manusia.


"Benarkah kamu malaikat?" tanya Lais dengan menatap Am lebih dalam.


Am menganggukkan kepala.


"Tapi sekarang aku adalah malaikat yang gagal. Karena,,, aku pernah melakukan kesalahan yang fatal" kata Am.


Lais terdiam, dia sadar bahwa selama ini dia terlena dengan waktu bersama mereka. Tak dipungkiri, Lais terlanjur mencintai Am. Tapi mendengar ini membuat Lais tahu, jika mereka dari alam yang berbeda.


"Baiklah, sekarang aku percaya" kata Lais pasrah tak ingin berharap lebih tentang hubungan ini.


"Maaf aku tak dapat mengantarmu! Aku lupa jika tasku masih ada di sekolah" kata Lais.


Lais berjalan menjauhi Am.


"Ini yang aku takutkan Lais, jika aku mengungkapkan siapa diriku sebelum kamu mengingatnya. Pasti kamu akan menjahuiku" batin Am."


"Astaga, apa yang barusan aku katakan? Sekarang pasti dia sangat canggung" gumam Am.


...****************...


Sepanjang jalan, Lais memikirkan tentang perkataan yang dikatakan oleh Am.


"Aku kira ini akan berakhir, tapi ternyata,,,"


"Kenapa aku selalu bertemu dengan makhluk aneh? Kenapa?" kata Lais dengan frustasi atas indra keenamnya.


Dia melihat sesuatu yang harusnya tidak dapat dia lihat. Ini membuat dia selalu menyendiri.


Saat berjalan Lais melihat kaleng di pinggir jalan. Kemudian dia menendangnya untuk melampiaskan emosinya.


"Bukkk!"


"Klontengggg!"


"Sial!" gumam Lais.


...****************...


Di sisi lain, Am berubah merpati dan mengikuti Lais berjalan.


"Kenapa dia semarah itu? Apakah aku salah jika aku seorang malaikat?" gumam Am.


"Haaaah, dari dulu memang emosi manusia lah yang tidak bisa ditebak. Selalu saja berubah-ubah. Tadi senang, esoknya cuek, nantinya kadang marah. Benar-benar tak ada titik konsistensinya" kata Am.

__ADS_1


__ADS_2