
Waktu telah menunjukkan pukul 11 pagi.
Kelas Lais telah memasuki waktu untuk istirahat. Namun kali ini waktu istirahat itu menjadi waktu pulang bagi semua siswa dikarenakan akhir-akhir ini banyak bencana alam yang terjadi.
"Hari ini kalian bisa pulang pagi" ungkap guru mata pelajaran matematika itu.
"Horeeeee,"
"Yee,,"
"yes"
Begitulah sorakan murid kelas itu, yang tadinya sepi mendadak ramai seperti pasar.
Dalam keramaian itu Helena melirik Lais yang sedang duduk. Dia penasaran dengan izinnya yang tak masuk selama 2 hari kemarin, tak ada yang tahu alasan Lais dibalik itu apa. Lais hanya izin karena ada kepentingan keluarga.
Siswa terlihat berkemas-kemas dan berhamburan untuk pulang. Di keramaian itu Helena menghampiri Lais.
"Ehem, aku penasaran kepentingan keluarga apa yang dapat membuat Lais tak masuk sekolah selama 2 hari?" kata Helena dengan mengimbangi langkah Lais berjalan.
"Apakah harus kujawab?" tanya Lais.
"Menurutku jika ada pertanyaan pasti pasangannya adalah jawaban" jawab Helena.
"Oh" jawab Lais.
"Emang kamu dari kemana?" tanya Helena lagi.
Lais melihat wajah Helena dan menjawab dengan tegas.
"Aku keluar dengan pacarku kemarin" jawab Lais.
"Apa? Keluar dengan pacar? Kamu punya pacar Lais? Siapa? Siapa gadis itu?" kata Helena.
"Memang ada pertanyaan pasti pasangannya adalah jawaban Helena, tapi ada juga beberapa pertanyaan yang tidak wajib dijawab" kata Lais.
Semua murid lainnya telah pergi di kelas itu, hanya tersisa mereka.
Tiba-tiba Helena meneteskan air mata dan menangis.
"Kenapa Lais? Kenapa kamu tak pernah melihatku? Sebenarnya apa kekuranganku?" kata Helena dengan meneteskan air mata.
Air mata yang selama ini dia tahan, akhirnya meluap karena bendungan yang tak tahan.
Melihat perempuan yang menangis itu membuat Lais tak berdaya dan merasa bersalah.
"Helena, sebenarnya,,, " kata Lais terpotong.
"Selama ini aku sangat mencintaimu Lais. Sebenarnya apa kekuranganku hingga kau tak dapat melihatku? Apa kekuranganku Lais?" tanya Helena melampiaskan emosinya.
"Maaf Helena, kamu itu cantik, pintar, dan baik tentu banyak yang menyukaimu. Aku,,, telah menyukai seseorang Helena maaf!" kata Lais.
__ADS_1
"Aku bertanya dimana kekuranganku Lais? Kenapa kamu tak mau melihatku?" tegas Helena.
"Ini bukan tentang kelebihan atau kekurangan Helena, cinta yang murni itu tak memandang itu. Tapi hatilah yang berbicara" jawab Lais.
"Apa? Hati? Yakin kamu punya hati? Bahkan kamu acuh kepada orang yang lama menyukaimu?" kata Helena.
Helena menangis tersedu-sedu, lalu dia mendekatkan dirinya kepada dada Lais. Helena menangis dengan keras. Melihat hal ini Lais hanya terdiam dan tak melakukan apapun. Pikirnya mungkin meluapkan emosinya sejenak dapat membuat dia lebih merasa baik.
"Heeweeehwee, hweee"
...****************...
Am yang berada di kamar itu sedang memikirkan Lais. Am telah lama menunggu kedatangannya. Jadi setelah Am tahu Lais adalah re-inkernasinya Furqon, tak jarang Am menghampiri Lais dalam wujud merpati dan bertengger di pohon.
"Rasanya aku rindu lagi, tak apa kan jika aku melihatnya?" gumam Am.
Am berubah menjadi merpati lalu terbang menuju sekolah Lais.
Saat Am bertengger di salah satu pohon sekolah, betapa terkejutnya Am melihat pemandangan itu.
"Deg!"
Terlihat Helena menempel pada badan Lais dan Lais tak menyangkalnya.
Am mematung melihatnya. Badannya beku, seolah tak dapat melakukan maju atau mundur.
"Kenapa,,, rasanya seperti tertusuk jarum dari dalam?" gumam Am.
Akhirnya Am mengepakkan sayapnya dan pergi ke puncak gunung.
Beberapa menit perjalanan akhirnya Am telah sampai di puncak. Tanpa ada jejak manusia di sana, Am berubah menjadi manusia lagi.
Rasa kesal telah menyelimuti Am saat ini. Mengingat yang telah dilihatnya barusan.
"Benarkah dia re-inkernasi dari Furqon? Lalu kenapa dia bisa bersama wanita lain? Padahal dulu Furqon tidak pernah akrab dengan wanita lain selain dekat denganku? Apa aku salah jika tetap mencintainya?" gerutu Am.
"Haaah,,, rasanya aneh sekali sekarang" gumam Am lagi.
Saat Am berada di puncak itu, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas seperti halnya meteor ke dalam laut.
"Byyyyyyyuuuuuuuoooor"
"zrrrrraaaaazzzzhhh"
Am terbelalak dengan apa yang terjadi. Ada benda yang jatuh dan benda itu sangatlah besar dan padat. Jelas, hal ini dapat memicu tsunami di sekitar sana.
Am langsung terpikir dengan keadaan Lais, bagaimana jika dia tenggelam? Saat Am menjadi merpati kembali akan menuju Lais, kepakan sayapnya terhenti mengingat dia masih berdua dengan Helena. Akhirnya Am memutuskan untuk memeriksa benda yang membuat laut meluapkan dirinya itu ke daratan.
Berubahlah Am menjadi air dan menyatu bersama lautan.
Am tenggelam dan tenggelam mencari benda misterius itu, namun Am tak menyangka ternyata yang dia temukan adalah setan Dasim.
"Dasim, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Am.
__ADS_1
"Oh, apakah kamu tidak tahu aku sedang menyelam?" jawab Dasim.
"Maksudku kenapa kamu menyelam dengan begitu kerasnya? Apakah kamu tahu dampak dari perbuatanmu ini?" kata Am.
"Itu,, astaga aku tak sengaja. Sepertinya akan ada banyak nyawa yang akan melayang bukan?" kata Dasim.
"grrtttt,,,, apa sebenarnya maumu Dasim?" tanya Am kesal karena memang jelas itu yang akan terjadi.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku hanya menolong mereka agar hidupnya cepat mati dan tidak melakukan dosa lagi. Bukankah aku baik? Lihatlah air ke atas. Kau tak akan bertindak?" kata Dasim.
"Pasti dia sengaja melakukan ini agar aku menggunakan kekuatanku. Dasar setan licik" batin Am.
Akhirnya Am cepat-cepat menemui malaikat penjaga laut di sana. Dan menanyakan apa yang harus diperbuat. Karena jika terjadi tsunami tak mungkin manusia dapat bertindak menghadangnya.
"Bagaimana menurutmu kakak?" tanya Am kepada malaikat generasi sebelum Am.
"Jika air meluap, aku akan mengikutinya Am. Aku adalah malaikat air, mengalir jika ada daratan rendah dan meluap jika ada hantaman" jawab malaikat penjaga laut itu.
"Astaga, benar dia malaikat yang patuh. Tapi aku? Tentu aku tak kan tega nyawa manusia melayang banyak karena kelakuan Dasim" kata Am.
"Apa yang harus aku lakukan? Ini membuat ku pusing. Jika aku menggunakan kekuatanku pasti Tuan akan terganggu pertapaannya. Dan aku tidak mau generasi malaikat selanjutnya akan gagal sepertiku" gumam Am.
Akhirnya Am mencari cara agar dia dapat menghentikannya tanpa mengganggu pertapaan Tuan.
Dia terus berfikir, semakin lama air laut itu semakin terjun ke daratan.
"Bagaimana ini?" batin Am.
"Byuuuuuaaaarrrrr!!!!"
Am melihat air itu akan mengarah sekolah Lais. Tanpa berfikir panjang, Am menjentikkan jarinya.
"Ctaaaakkk!!!"
Seketika makhluk hidup semua merasa kantuk berat. Dan tidurlah semua makhluk hidup di bumi itu. Akhirnya Am menghadang tsunami itu dengan kekuatannya berupa tameng ketahanan. Menahan air agar tak memakan pemukiman sekitar.
Tiba-tiba Malaikat Dorit datang dan membantu Am untuk mengurangi tekanan air yang dihadang oleh Am.
Am mengetahui tindakan malaikat Dorit.
"zzzzrrrrrrraaaaaaashhhh"
"Byyyyaaarrrrr"
Air itu terpental dengan kekuatan Am dan kembali ke tempatnya secara perlahan.
"Hoz, hoz, hoz" nafas Am terengah-engah karena telah mengeluarkan kekuatan yang besar.
"Ctakkkk"
Am menjentikkan jarinya kembali untuk menghilangkan kantuk itu seluruh makhluk.
Setelah semua selesai, kekuatan Am terasa habis. Am tergelatak ditempat dia menghadang airnya tadi.
__ADS_1