
Hari demi hari Furqon dan Am semakin saling mencintai. Setelah beberapa hari kuku Am bercahaya lagi satu. Menandakan bahwa cinta Furqon semakin bertambah kepada Am. Namun hal ini membuat tubuh Furqon juga melemah. Furqon merahasiakan keadaannya pada Am. Karena tidak ingin Am khawatir.
Setelah beberapa hari dari kecelakaan Amal. Malam ini adalah bulan purnama. Am sangat penasaran dengan apa yang terganjal difikirannya selama ini. Seperti biasa dia menunggu di pesisir pantai bersama api unggun dengan Furqon.
Mereka duduk dikayu dengan menggandeng tangan satu sama lain.
“bukankah telah terjawab Am?” kata Furqon.
“ada satu hal lagi yang harus aku tahu jawabannya.” Kata Am.
“apa itu?” Tanya Furqon.
“kamu?” kata Am.
Mendengar ucapan Am. Furqon langsung menoleh padanya.
“bagaimana denganmu? jika kekuatan ini kembali padaku seutuhnya.” Kata Am.
“ah, kenapa kamu terlalu khawatir? Aku tidak apa-apa. Jika jawaban ini yang kamu tunggu, sebaiknya kita pulang saja sekarang. Ayo!” kata Furqon.
“tidak. Aku harus menunggunya. Jika kamu pulang silahkan. Aku tidak akan memaksamu.” Kata Am.
Mendengar Am yang telah bertekad. Membuat Furqon kembali duduk disampingnya. Dengan menepuk-nepuk pundak kirinya Furqon mempersilahkan Am untuk tidur di bahunya.
“sini! Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika para malaikat telah kembali.” Kata Furqon.
Am tersemyum, kemudian Am melakukan sesuai apa yang diperintahkan oleh Furqon.
“sepertinya aku sudah menjadi manusia yang gila.” Pikir Am.
Pukul 02.00 WIB para malaikat terbang menuju Nabastala. Seperti biasa mereka mengumpulkan laporan mereka masing-masing. Setelah semua selesai, Amal berbicara kepada Ajudan bahwa ada beberapa pertanyaan yang perlu dia tanyakan. Mendengar hal tersebut. Ajudan mempersilahkan Amal agar menemui Tuan ditempatnya.
“maaf Tuan, ada sesuatu yang harus saya tanyakan kepada Tuan.” Kata Amal.
“katakan ada apa malaikat Amaltheia?” kata Tuan.
“sebenarnya ada sesuatu yang masih mengganjal Tuan. Memang Malaikat Amfitrite sekarang mulai mendapatkan kekuatannya satu persatu. Namun, jika demikian apa yang akan terjadi kepada manusia tersebut?” Tanya Amal.
“jika kekuatan malaikat padanya telah dapat diambil. Maka tak ada yang tersisa dalam tubuhnya untuk dapat bertahan hidup.” Kata Tuan.
“maksud Tuan?” kata Amal.
“iya, karena Selama ini yang membuat dia hidup adalah kekuatan Amfitrite. Kekuatan Am dapat menggerakkan Jantungnya, organnya dan segala yang berada dalam tubuhnya. Namun jika itu hilang, semua akan terhenti.” Kata Tuan.
“satu hal lagi Tuan, bukankah jika ada manusia yang mengetahui identitas Am. Am dapat lenyap seperti abu. Lalu saat Furqon mengetahui semuanya kenapa Am tidak lenyap Tuan?” Tanya Amal.
“karena Furqon sudah bukan manusia. Melainkan malaikat berbadan manusia. Jadi jika dia mengetahui semuanya itu tak masalah kepada Am.” Kata Tuan.
“seharusnya Amfitrite cukup membuatnya jatuh cinta padanya saja. Jangan mencintainya. Itu akan menjadi derita untuknya dikemudian hari.” Kata Tuan.
“Tuan, sekarang aku mengerti. Terimakasih atas waktunya Tuan. Saya mohon undur diri.” Kata Amal.
“malaikat Amaltheia, apapun pilihan Amfitrite, dia harus berfikir kehidupan yang seharusnya terjadi. Agar semua dapat kembali seimbang.” Kata Tuan.
“baik Tuan.” Kata Amal.
“dan satu hal lagi, karena Am telah menyembuhkan lukamu tanpa persetujuanku. Wujudnya sebagai manusia dipotong selama tiga minggu.” Kata Tuan.
Furqon terjaga sepanjang malam. Setelah menunggu beberapa jam, terlihat para malaikat itu terbang ke langit. Kemudian mereka kembali dari langit waktu menjelang subuh.
“Am, bangunlah. Dengarkan apa yang kamu tunggu.” Kata Furqon.
“ah, iya terimakasih Furqon.” Kata Am.
__ADS_1
Am berjalan menghampiri sahabatnya Amaltheia.
“bagaimana? Kenapa wajahmu seperti itu? Kamu jangan menipuku lagi seperti saat itu. Apa jawabannya?” Tanya Am.
“Am, sebenarnya… yang dikatakan Dorit itu benar.” Kata Amal.
“apa? Tidak, itu tidak mungkin.” Kata Am.
“Tuan bilang padaku yang menggerakkan Jantungnya, organnya dan segala yang berada dalam tubuh Furqon adalah kekuatanmu. Jadi jika kekuatan itu kembali seutuhnya. Maka semua akan terhenti. Dan Furqon akan…” kata Amal.
“tidak mungkin, jangan kamu lanjutkan Amal. Aku tidak ingin mendengarnya.” Kata Am.
“Am, takdir Furqon memang sudah dituliskan untuk itu. Seperti sepuluh tahun yang lalu. Dan kamu yang mengubahnya. Tuan hanya berpesan bahwa , apapun pilihanmu, kamu harus berfikir kehidupan yang seharusnya terjadi. Agar semua dapat kembali seimbang.” Kata Amal.
“Amal, kamu tahu yang kamu katakan sekarang apa?” Tanya Am.
“aku tahu Am, kamu pasti keberatan.” Kata Amal.
“bukan keberatan Amal, Tapi lebih dari itu. Bukankah aku menjadi sosok egois jika mengambil hakku kembali walau aku tahu itu akan berdampak buruk padanya? Walau itu memang hakku, tapi.. ini seperti halnya php, dan yang aku berikan hanya mengulurnya itu saja.” Kata Am.
“Am, tapi jika memang takdirnya begitu bagaimana lagi Am? Kamu harus mendengar peraturan dunia.” kata Amal.
“baiklah, terimakasih Amal selama ini kamu yang selalu membantuku. Tapi aku tidak bisa lagi melanjutkan niatku.” Kata Am.
“maksudmu Am? Kamu yakin?” kata Amal.
“aku yakin, aku tidak akan maju lagi.” Kata Am.
“Am, tunggu! Satu hal lagi. Ini adalah kesalahanku. Tuan bilang karena kamu telah menyembuhkanku tanpa persetujuannya, wujudmu sebagai manusia dipotong selama tiga minggu. Maafkan aku Am.” Kata Amal.
“tidak apa-apa Amal. Itu adalah hal yang bagus. Jika aku menjadi merpati lagi, aku bisa terbang sesukaku dan aku akan menjahui Furqon.” Kata Am.
“Am” panggil Amal.
“kembalilah. Dan berhati-hatilah.” Kata Am.
“iya, Terimakasih banyak. Kamu perlu aku antar?” Tanya Am.
“tidak perlu. Lagi pula besok hukumanku akan berakhir. Jadi jangan khawatir.” Kata Amal.
“baiklah.” Kata Am.
Am kembali kepada Furqon. Dengan menatap matanya tanpa kata.
“ada apa? Kenapa?” Tanya Furqon.
“aku sedang tidak ingin bicara, bisakah kita pulang sekarang?” kata Am.
“baiklah.” Kata Furqon.
Mereka berjalan bersama dengan keheningan. Entah kenapa Furqon melihat Am seperti memikirkan sesuatu. Dan dia terlihat cemas. Walau Furqon mengetahui Am demikian, dia tidak ingin memaksa Am untuk mengatakannya. Karena dia tahu jika dia tidak berhak mencampuri urusan para malaikat lebih dalam. Namun dia mencoba untuk menghiburnya.
“Am, lihat keatas! Bintangnya indah sekali.” Kata Furqon.
Am hanya melirik keatas dengan mata.
“bukan saatnya untuk ini.” Kata Am.
“Am, kalua begitu… bagaimana jika aku menjadi kucing seperti ini. Meong… meong..!” kata Furqon.
Melihat ketulusan Furqon padanya membuat Am semakin marah dengan keadaan.
“sudah aku bilangkan, bukan saatnya seperti ini!” kata Am.
(sebenarnya apa yang telah terjadi?) batin Furqon.
__ADS_1
Am mempercepat langkah kakinya dan sampai di rumah lebih dulu dari Furqon.
Besok paginya, sikap Am tidak seperti biasanya. Hari ini dia berada didalam kamar sepanjang waktu. Melihat sikap Am yang demikian membuat ibu khawatir dan menanyakan kepada Furqon.
“Furqon, apa yang telah terjadi kepada Am? Hari ini dia tidak keluar dari kamarnya sama sekali.” Kata ibu.
“tidak ada yang terjadi ibu. Mungkin dia sedang badmute hari ini.” Kata Furqon.
“apa? Kau ini? Beneran tidak apa-apa. Apa kamu telah melakukan kesalahan padanya?” Tanya ibu.
“tidak ibu. Ibu tidak percaya padaku?” kata Furqon.
“baiklah. Sana ajak dia makan. Dari tadi belum sarapan dia.” Kata ibu.
Furqon mengetuk pintu kamarnya.
‘tok! Tok! Tok!’
“Am, ibu menyuruhmu untuk makan. Jadi keluarlah.” Kata Furqon.
Am sedang berbaring diranjang. Yang sedang berfikir tentang apa yang harus dia lakukan. Mendengar suara Furqon dari luar.
(mungkin ini adalah hari terakhir aku dapat mendengar suaranya) batin Am.
Tanpa sadar Am sedikit meneteskan airmata. Kemudian dia membuka pintu kamar. Dengan wajah ceria. Am sengaja menyembunyikannya, karena belum siap untuk menceritakan semuanya.
“ah, kakak. Aku terlalu lelah hingga lupa makan. Makasih sudah mengingatkan. Wah… sepertinya ibu memasak sesuatu yang enak. Coba hirup baunya sangat sedap.” Ucap Am tanpa menoleh kepada Furqon.
“Am, ada apa sebenarnya denganmu. Kamu tidak seperti biasanya.” Kata Furqon.
“hem,,, enak sekali.” kata Am.
Dengan menyodorkan nasi ke mulutnya. Am, menyembunyikan masalahnya tanpa menganggap Furqon ada.
Sudah sejak dua hari Am melakukan hal tersebut.
Melihat gerak gerik Am yang dua hari ini sangat aneh. Membuat Furqon melontarkan pertanyaan. Furqon mendekap Am dengan emosinya yang harus tahu jawabannya.
“sebenarnya ada apa? Katakan. Kamu bersikap seolah-olah akan pergi jauh dariku. Ada apa? Katakan Am?” kata Furqon.
“waktuku sudah hampir habis Furqon. Kamu benar, aku akan pergi jauh darimu. Makanya aku ingin lebih menikmati hari-hari terakhirku denganmu sekarang.” Kata Am.
“maksudmu apa? Kamu akan pergi kemana?” Tanya Furqon.
“Furqon, tolong jangan mencintaiku.” Kata Am.
“apa maksudmu?” Tanya Furqon.
“karena jika kamu mencintaiku seutuhnya kamu akan… tiada. Jadi tolong berhenti sampai sini. Sudah enam jariku yang bercahaya. Jadi tolong kamu berhenti disini. Dan kita juga akan selesai.” Kata Am.
“kenapa kamu memutuskan secara sepihak? Aku mau berhenti atau tidak, itu adalah keputusanku. Yang terpenting sekarang, kamu jangan pergi Am.” Kata Furqon.
“jika aku tetap disini… bisakah kamu tidak mencintaiku?” Tanya Am.
“aku tidak menjamin Am. Yang aku tahu aku sudah merasa terikat denganmu dan aku tidak ingin kamu menghindar, menjauhi atau pergi dariku.” Kata Furqon.
“jadi… aku sudah memutuskan.” Kata Am.
“memutuskan apa?” Tanya Furqon.
...----------------...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
__ADS_1
Terimakasih... 🤗🤗🤗