Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 70: Luapan Rindu


__ADS_3


Langit sedang berwarna kemerah-merahan. Terlihat Lais sedang memilih ponsel di toko ponsel terdekat dari rumahnya.


Setelah dia mengambil tabungannya yang disisihkan dari uang jajan sekolah selama 5 bulan. Dia pergi ke toko itu.


Dia juga heran kepada dirinya sendiri. Apa alasan dia jadi seperti ini? Apakah Lais mulai jatuh cinta? Apakah karena Lais memang membutuhkan bantuan dari Am? Entahlah. Dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan secara naluri. Hatinya yang menggerakkan semua anggota tubuhnya untuk melakukannya. Lais sendiri juga merasa aneh. Namun dia berfikir, jika ini baik kenapa tidak dilakukan?


...****************...


Setelah Am dan Amal memgelilingi kota, Amal pamit untuk melakukan tugasnya. Am yang masih sedang berwujud Merpati itu langsung terbang ke arah rumah Lais. Tak dipungkiri Am sangat merindu yang tak terbendung lagi sekarang. Tak disangka yang dia cintai kini ditakdirkan untuk terlahir kembali.


Am yang selama ini menahan rasa rindunya. Dan berusaha menikmati rasa cintanya yang tak terbalaskan. Kini sepercik kebahagiaan itu hadir seperti melambai-lambaikan tangan padanya. Menyuruhnya untuk segera menjemputnya.


Dengan sayapnya yang kuat, dan air mata kebahagiaan itu tak terasa mengalir pada kelopak matanya. Am hinggap di ranting pohon sebelah rumah Lais tepat di jendela kamarnya.


"Furqon kamu telah kembali" gumam Am.


Karena Am tak kuat lagi menahan rasa rindunya, dia merubah dirinya sebagai wanita seperti dia dihukum dahulu. Lalu dia mengetuk pintu depan rumah Lais untuk bertamu. Berharap ingin segera menemui kekasihnya yang telah lama tak jumpa itu.


"Tok, tok, tok" ketukan pintu itu terdengar.


Tepat saat Lais hendak pergi ke rumah Am untuk memberikan ponsel yang telah dia beli tadi sore. Lais membuka pintunya.


"Am" ucap Lais saat dia telah melihat Am berdiri tegak di depan pintu rumahnya.


Lais kaget dengan wajah Am yang banyak mengalir air mata. Di depan pintu tanpa berfikir apapun Am langsung memeluk Lais. Berisak tangisan dengan gumamnya.


"Kenapa lama sekali? Kenapa baru sekarang? Aku telah menahannya selama ini, rasanya sangat sakit" gumam Am dipelukan Lais.


Lais yang tak mengerti apa-apa itu mendadak kebingungan. Apa yang telah terjadi pada Am? Siapa yang telah membuatnya menangis? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang muncul di kepala Lais namun Lais tak dapat mengungkapkannya. Dia sangat gugup. Rasanya jantungnya melompat-lompat di dadanya. Karena dipeluk Am wanita yang sangat cantik itu.


Lais membeku, namun Lais sadar jika mereka ini sedang ada di depan pintu rumah.


"Am, ada apa?" tanya Lais.


Mendengar hal itu Am tersadar, walau yang dihadapannya adalah re-inkernasi Furqon. Tapi dia tak mengingat apapun tentang masa lalunya.


Mendadak Am melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku... Aku hanya" kata Am.


"Tak apa, apa kamu sedang dalam masalah?" tanya Lais.


"Apa? Bukan, maksudku tidak ada" jawab Am dengan berjalan menjauh dari Lais.


Namun Lais mengikuti langkah Am karena khawatir.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu sampai menangis seperti itu?" tanya Lais tak mengerti.


"Ini? Ini air mata kebahagiaan" jawab Am.


"Air mata kebahagiaan, kenapa? Tadi katanya rasanya sangat sakit?" tanya Lais.


"Itu,,," kata Am menggantung.


Lais mendengarkan dengan sangat ucapan Am. Namun Am tak melanjutkannya.


"Berarti Lais benar-benar tak mengingat apapun tentang dirinya yang dulu. Sepertinya aku punya tugas lagi sekarang. Yaitu,,, mengingatkan Lais tentang Furqon" batin Am.


"Am" panggil Lais.


Mendengar panggilan itu membuat Am tersadar dengan lamunannya.


"Iya, aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi" kata Am.


"Apa? Maksudnya dari lagi?" tanya Lais.


"Bukankah kemarin kita bertemu, dan sekarang kita bertemu lagi?" dalih Am.


"Deg, deg, deg" jantung Lais terasa berdetak kencang mendengar kata senang dari Am.


"Ada apa sebenarnya dengan dadaku? Sial" batin Lais.


Lais meraih kotak kecil dari tas selempangnya.


"Ini untukmu!" kata Lais dengan menyodorkan ponsel yang dibelinya tadi sore kepada Am.


"Wah, benda ajaib! Tapi kenapa?" tanya Am.


"Sudah kubilang karena kita adalah teman baik. Jadi sudah seharusnya seperti ini" kata Lais.


"Padahal mencari uang susah, tapi kamu malah memberikan ini. Terimakasih" lirih Am.


"Itu sudah kuisi dengan nomer ponselku. Jadi jika kamu dalam bahaya. Panggil aku" kata Lais.


"Baik" jawab Am.


"Sekarang coba panggil aku!" kata Lais.


Am melihat lihat ponsel itu. Dia hanya membolak balikkan benda itu. Jujur Am tidak pernah memegang benda yang baginya adalah benda ajaib ini.


"Sedang apa kamu?" tanya Lais.


"Sebenarnya aku tidak tahu cara memakainya" jawab Am.

__ADS_1


"Apa? Ha, ha, ha, ha, ha, ha," Lais terkekeh mendengar pengakuan Am.


"Kenapa tertawa? Apa seperti itu caranya?" tanya Am polos.


"Astaga, kamu orang yang dapat mengalahkan jin Ifrit, tapi tidak bisa menggunakan ponsel? Ini benar-benar lucu" kata Lais.


"Memang aku tidak bisa melakukannya" kata Am.


"Benarkah? Kamu memang tidak bisa?" tegas Lais.


"Iya" jawab Am.


"Aku kira, makhluk sepertimu tidak memiliki kelemahan sama sekali. Tapi ternyata aku salah ya" kata Lais.


"Memang semua tercipta tanpa kesempurnaannya. Jangan terus meledekku. Dari pada itu lebih bagus kamu mengajariku kan?" kata Am.


"Iya baiklah, sini aku ajari" kata Lais.


Lais mengajarkan ponsel cara memanggil, menyimpan kontak dan mengirim pesan kepada Am.


"Sepertinya untuk pemula sepertimu ini saja cukup, sudah larut malam juga. Kita pulang saja" kata Lais.


"Terimakasih Lais" ucap Am dengan tersenyum senang.


"Ayo aku antar" kata Lais.


Lais mengantar Am hingga ke rumahnya. Padahal Lais sendiri takut dengan kegelapan hutan yang melewati rumah Am. Namun dia tak menghiraukan rasa takutnya demi melihat Am selamat sampai tujuan.


Setelah Lais meninggalkan Am di rumahnya, Am langsung berubah menjadi merpati. Memastikan Lais selamat juga menuju rumahnya. Karena Am tahu, jika dia menolak Lais untuk mengantarnya. Pasti Lais tetap bersi keras mengantarnya hingga sampai.


"Rasanya,,, aku mulai hidup kembali" batin Am dengan melihat dari jauh.


...****************...


Para jin berkumpul dan saling bertarung sama lain. Hingga menemukan siapa yang bertahan, dialah yang paling kuat. Dan akan mendapatkan gelar jin Ifrit berikutnya.


Di sisi lain, banyak jin lain yang penasaran dengan siapa yang telah dapat menakhlukan raja mereka. Mereka berfikir pasti dia sangat hebat. Tapi kenapa dia tak menampakkan identitasnya. Jika dia sehebat itu.


Itulah pikiran-pikiran yang terbesit di kepala mereka.


Setelah beradu selama 6 hari 6 malam. Akhirnya mereka menemukan seorang raja yang bertahan dalam pertarungan itu.


Setelah raja telah ditetapkan, para jin pulang ke masing-masing rumah mereka.


Dan kepulangan mereka sangat mengganggu penglihatan mata Lais.


"Astaga, mereka berada dimana-mana bagaikan kereta api. Sial! " gumam Lais saat dia berjalan di jalan komplek sebelah rumahnya.

__ADS_1


Hal ini membuat Lais tak nyaman sama sekali.


__ADS_2