Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 79: Pertarungan


__ADS_3


Mendengar signal yang dipancarkan oleh Am, Amaltheia segera menemui Am. Karena kebetulan tugasnya saat itu telah selesai.


"Ada apa Am?" tanya Amaltheia.


"Amal apakah kamu tahu yang telah dilakukan Setan Dasim?" tanya Am.


"Kenapa dia?" tanya Amal.


"Dia berani membuat tsunami di kota dengan menghantamkan dirinya sangat keras di tengah lautan" kata Am.


"Untuk apa dia melakukan itu?" tanya Amal.


"Aku tidak tahu pasti, tapi aku berfikir pasti raja setan sekarang ingin mengganggu pertapaan Tuan" kata Am.


"Kenapa lewat tsunami? Ini sangat aneh" kata Amal.


"Sepertinya mereka berencana untuk memojokkanku agar aku menggunakan kekuatan" kata Am.


"Dan kamu menjadi sasaran atas kesalahan gagalnya pertapaan Tuan. Astaga, benar-benar licik mereka" kata Amal.


"Ini sangat serius, aku tak mau generasi setelahku akan menjadi gagal sepertiku" kata Am.


"Ambisi raja setan untuk menghancurkan umat manusia sangat besar. Hingga mereka melakukan segala cara untuk menyeret mereka ke neraka" kata Amal.


"Iya, sepertinya seperti itu" kata Am.


"Am, jika melihat kerasnya mereka. Menurutmu apa yang akan mereka lakukan setelah ini? Pasti mereka mencari cara lain untuk mengganggu pertapaan Tuan" kata Amal.


Am berfikir sejenak mendengar yang dikatakan sahabatnya itu.


"Gerbang Nabastala" kata Am.


"Iya Am bisa saja mereka kesana" kata Amal.


"Kita harus cepat kesana Amal, aku takut malaikat penjaga tak kuat menahannya" kata Am panik.


"Iya Am ayo kita pergi" kata Amal.


Mereka segera berubah menjadi burung dan terbang ke arah gerbang Nabastala. Untuk memastikan tak ada bahaya yang dapat mengganggu pertapaan Tuan.


Karena kecepatan malaikat secepat kilat, tanpa hitungan menit mereka telah sampai di sana.


...****************...


Saat mereka tiba ternyata di sana masih baik-baik saja. Amaltheia dan Am berbincang dengan malaikat penjaga. Sementara ini keadaan di sana masih aman-aman saja.


Melihat keadaan ini Am dan Amaltheia pun merasa lega. Akhirnya, Am yang berwujud Dewi dan Amaltheia yang berbentuk burung itu ikut berjaga beberapa jam di sana. Melihat tak ada bahaya yang mengancam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Mereka pulang dari sana.


Tak lama mereka pulang, setan dan segerombol prajuritnya datang ke sana dengan siap seperti layaknya akan perang. Kali ini setan tak ingin meninggalkan kesempatan yang hanya ada 100 tahun sekali. Mereka ingin menghancurkan gerbang Nabastala.

__ADS_1


Melihat hal ini tentu, jumlah malaikat penjaga tak sebanding dengan jumlah banyaknya setan yang datang. Namun malaikat penjaga tak gentar, mereka harus melakukan tugasnya hingga akhir hayatnya.


Saat dalam perjalanan Am merasakan sedikit aura setan yang pekat. Sedangkan Amaltheia tak merasakannya karena perjalanan mereka telah menempuh jarak yang rumayan jauh.


Am memutuskan untuk kembali. Amaltheia bingung dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Namun Amaltheia tetap mengikutinya.


...****************...


Am dan Amaltheia terbelalak dengan apa yang dilihatnya.


Di sana ada beribu-ribu para prajurit setan terlihat berjajar seperti pasukan mau perang.


"Astaga, mereka sangat banyak!" gumam Amaltheia.


"Amal, cepat kamu panggil setengah dari malaikat yang sedang bertugas di bumi kemari" kata Am.


"Tapi Am, itu membutuhkan waktu" kata Amaltheia.


"Aku akan mengulur waktu hingga menunggu kamu kembali" kata Am.


Amaltheia langsung bergegas seperti apa yang diperintahkan Am.


Sedangkan Am langsung memposisikan dirinya di depan barisan malaikat penjaga.


"Wah, wah, wah, siapa mereka berani datang ke tempat kaumku?" kata Am.


"Kaummu? Apa aku tak salah dengar? Kata itu dari malaikat yang gagal sepertimu?" kata Dasim.


"Tapi,,, sekarang aku tahu kenapa Tuan dapat gagal dari tapanya. Ternyata banyak lalat-lalat yang suka mengganggunya ya?" tambah Am.


"Lalat? Asal kamu tahu, Kau juga lalat bagi kami" jawab Dasim.


"Kenapa kalian suka melakukan hal ini? Apa kalian benar-benar takut atas kemenangan kaum ku?" tanya Am.


"Takut? Kenapa kami harus takut, lihat saja para manusia itu lebih banyak memilih jalan keburukan dari pada jalan kebaikan. Jelas sekarang siapa yang akan menang bukan?" kata setan Dasim.


"Tringgggh, tringggg, triiinggggh!!!!" bunyi ponsel.


Tiba-tiba ponsel Am berdering ditengah perbincangan yang tegang itu.


Saat ponsel Am berbunyi, semua prajurit setan merasa tegang. Mereka berfikir itu adalah kekuatan Am yang tiba-tiba dikeluarkan diam-diam dan dapat membuat mereka dalam bahaya. Namun ternyata mereka salah. Bunyi itu berasal dari sebuah ponsel ciptaan dari teknologi manusia.


Untungnya bunyi ponsel ini tak terdengar hingga balik gerbang Nabastala sehingga tak mengganggu pertapaan Tuan.


Am melihat ponsel itu tertulis nama Lais. Akhirnya Am mengangkat televon itu ditengah keadaan yang tegang itu.


"Halo, Am. Kamu sekarang dimana? Bisakah kamu ikut denganku keluar jalan-jalan?" tanya Lais.


"Halo Lais, aku sekarang sedang ada urusan, jadi tidak bisa diganggu" jawab Am.


"Tiiiit!!!"


Am langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Halo, Am halo" kata Lais tak percaya Am langsung menutup televonnya.


"Hah,,, apakah dia masih marah? Kenapa aku harus bicara kasar padanya sih kemarin! Jadi merasa bersalah" gumam Lais.


Lais mencoba menelevon Am kembali namun tak dapat terhubung lagi. Karena Am telah mematikan ponselnya.


...****************...


"Apa itu tadi?" tanya para prajurit setan saling berbisik melihat yang dilakukan Am.


"Bukankah itu ponsel yang digunakan manusia?" bisik para prajurit setan.


"Padahal dia dianugrahi sepertiga dari kekuatan Tuhan untuk apa dia menggunakan barang dari makhluk bodoh itu?" bisik setan.


"Ha, ha, ha, apa barusan yang aku lihat? Sepertinya kekuatanmu melemah hingga menggunakan teknologi dari makhluk kecil itu ya?" kata setan Dasim.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Am.


"Lucu sekali, sekarang aku jadi yakin akan menang dari peperangan ini. Ha, ha, ha," kata setan Dasim.


"Jangan terlalu banyak omong kosong, buktikan saja dengan tindakan" kata Am santai.


...****************...


Akhirnya pertempuran mereka pun dimulai.


"Seeeeeraaaang!!!!" perintah Dasim.


Am bersiap menerima perlawanan mereka. Kali ini Am memiliki taktik, dia lebih menghindar dari perlawanan lawan, menunggu lawan lelah dulu dan menolong malaikat lainnya yang sedang terpojok.


Di tengah peperangan itu akhirnya Amaltheia dan para malaikat lainnya datang dan langsung bergabung di peperangan itu. Saat bertarung Am memberi signal kepada Amal.


"*Kenapa lama sekali?" tanya Am.


"Mengumpulkan anggota yang banyak tentu butuh waktu, Am" jawab Amal.


"Baiklah, good job!" kata Am*.


Am dan Amal tersenyum dalam pertarungan itu.


"Zraaaaah"


"Bruuuuuuzllllhh"


"Preeeeeez"


"Praaaaaakkkkkk"


"zzzrrraatttt"


"Srrrrruut"


Pertarungan pun berlanjut. Am fokus menolong malaikat lainnya yang sedang terpojok dengan kekuatannya. Yang terpenting bagi Am adalah keselamatan kaumnya. Untuk menang atau kalah dia tak terlalu memikirkannya.

__ADS_1


__ADS_2