Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 37: Pertemuan


__ADS_3


"sebenarnya,,, kekuatanku telah kembali satu lagi Amal" kata Am.


"apa? bagaimana mungkin?" tanya Amal tak menyangka.


"entahlah, padahal kami sudah tidak bertemu selama 5 tahun lebih. Tapi kenapa masih tidak berhenti?" kata Am.


"emh.... kenapa ya?"


"mungkin karena Furqon masih mencintaimu Am." kata Amal.


"tapi kenapa dia tidak berhenti Amal. Kamu tahu? karena kembalinya kekuatan ini. Aku melihat tubuhnya sangat lemah dan tak berdaya saat ini. Sebenarnya aku tidak tega. Tapi aku harus bagaimana Amal?" kata Am.


"apa yang harus aku lakukan?" tanya Am lagi.


"sisa berapa lagi Am?" tanya Amal.


"satu." jawab Am.


"artinya... jika satu itu kembali padamu Furqon akan..." kata Amal.


"iya, itu pasti." kata Am.


"kalau begitu, bagaimana jika aku mencoba membujuknya untuk berhenti?" kata Amal.


"iya Amal kamu benar. Aku minta tolong atas bantuanmu ya?" kata Am.


"baiklah. Dimana Furqon sekarang?" tanya Amal.


"Di Pantai dekat pegunungan toga." kata Am.


"apa? jauh sekali." kata Amal.


Saat menuju ke tempat Furqon mereka bercakap-cakap di perjalanan.


"iya, kata Amara dia sedang mencariku." jawab Am.


"astaga,, kenapa dia keras kepala sekali?" kata Amal.


Mereka pun mempercepat perjalanan mereka. Hal ini bertujuan untuk meminit waktu sesingkat mungkin. Antara keadaan Furqon yang tak berdaya dan tugas Amaltheia sebagai malaikat.


.


Setelah mereka sampai, Am berhenti di belakang dan bersembunyi. Sedangkan Amaltheia menghampiri Furqon.


.


"apa yang terjadi padamu manusia?" tanya Amal berlagak tidak mengerti tentang keadaan Furqon.


.


"malaikat Amaltheia, tolong aku... badanku sangat lemas sekali. Sepertinya aku tidak punya energi untuk kemanapun lagi." kata Furqon.


"itu pasti dampak dari karena kamu masih mencintai Am." kata Amaltheia.


"kamu benar, semakin aku tak bertemu dengannya... semakin rindu ku membesar, begitu juga rasaku yang tak terkendali." kata Furqon.


"astaga Furqon. kenapa kamu tidak berhenti?" kata Amal.


"aku tidak bisa berhenti malaikat. Bagaimana caranya menghentikan perasaan yang datang tanpa diundang. Pergi pun tanpa harus pengusiran?" kata Furqon.


"Furqon, jika kamu tahu. Inilah yang diinginkan Am agar kamu tetap hidup. Tapi jika kamu tak mau berhenti.... Sama saja kamu tak menghargai keputusannya." kata Amal.


Furqon yang sedang berbaring dan melemah di pasir itu hanya dapat tersenyum tipis.


"kamu masih belum tahu rasanya cinta yang murni seperti apa malaikat. Tanpa kehadirannya pun rasa ini sangat nikmat." kata Furqon dengan tersenyum.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak ingin berhenti?" tanya Amal.


"biarkan lah nyawaku yang akan menghentikannya." jawab Furqon.


Malaikat Amaltheia ingin membujuk Furqon lagi. Namun malaikat Amaltheia melihat tulisan puisi yang tertulis di batu hitam itu. Puisi Furqon itu sangat menyentuh Amaltheia, hingga dia tak dapat melontarkan satu kata pun untuk membujuknya.


"seperti inikah yang namanya cinta? rasanya... sangat rumit. Tak terlihat, tapi dapat mengubah orang yang memilikinya." batin Amaltheia.


"baiklah jika kamu tetap dengan pendirianmu. Aku permisi." kata Amaltheia.


"jika kamu bertemu dengan Am, tolong salam kan salamku padanya." kata Furqon.


Malaikat Amaltheia meninggalkan Furqon. Kemudian dia menghampiri Am yang sedang sembunyi.


Mereka bercakap dari batin ke batin menggunakan kekuatan mereka. Agar tak ada yang mendengar apapun.


"maaf Am. Aku tidak bisa membujuknya. Cintanya begitu besar padamu. Bagaimana caranya aku menghentikan seseorang yang memiliki cinta semurni dia? aku... tidak bisa." kata Amal.


"tidak perlu meminta maaf Amal. Bisa tidaknya itu adalah soal hasil. Aku malah berterimakasih karena kamu mau membantu ku." kata Am dengan tersenyum kepada Amal.


"apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Am?" tanya Amal.


"aku tidak tahu Amal. Itu yang aku fikirkan sekarang." kata Am.


"alangkah lebih baik kamu menemuinya. Dia menitipkan salam untukmu." kata Amal.


"maksudmu?" tanya Am.


"kekuatannya masih tersisa satu, menurutku sebaiknya kamu berada di sisinya. Sebelum kekuatan itu habis Am." kata Amal.


"jangan sampai kamu menyesal Am." kata Amal.


Mendengar kata sahabatnya Am hanya terdiam dan terpaku. Pikirannya sedang berperang saat itu.


"Am, aku harus pergi. Aku pamit. Sebelum itu,,, aku sarankan lihatlah tulisan yang ada di batu hitam sebelahnya Am." kata Amal.


"menemuinya? apakah harus seperti itu? apakah memang tidak ada jalan untuk berhenti?" batin Am.


"tapi... kenapa dia terlihat selemah itu?" batin Am dengan melihat keadaan Furqon.


Akhirnya Am memutuskan untuk menghampiri Furqon.


Melihat siapa yang datang, Furqon langsung terbelalak. Pandangannya hanya pada satu tujuan. Tanpa berkedip dan menatap sayu. Seakan orang yang memiliki kerinduan yang berat kepadanya.


Furqon terpaku tanpa berkata apapun di pertemuan mereka kali ini.


Am menghampiri Furqon, dia langsung mendekat di sampingnya.


"Am?" panggil Furqon.


"iya, ini aku Furqon." jawab Am.


Melihat siapa yang ada di sebelahnya membuat Furqon tanpa berfikir panjang memeluk sang perempuan itu.


"aku... sangat merindukanmu," kata Furqon dengan memeluk Am erat-erat.


Am yang menerima pelukan dari Furqon itu membalas pelukannya juga.


"kenapa? kenapa kamu belum berhenti?" tanya Am, tak terasa meneteskan air mata.


"lihat? tubuhmu semakin melemah. Kenapa kamu masih belum berhenti?" tambah Am.


Mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari Am. Furqon mengelus rambut Am dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


"Tak ada yang bisa menghentikan cinta. Termasuk diriku sendiri Am." kata Furqon dengan tersenyum.


"lihatlah keadaanmu sekarang." kata Am.

__ADS_1


Seketika Furqon langsung menutup mulut Am dengan satu jarinya.


"sssssstttt"


"jangan menangis lagi. Kamu terlihat jelek saat menangis. Membuat perutku terasa mual saja." kata Furqon dengan meringis.


"kamu ini, di situasi seperti ini masih saja sempat bercanda seperti itu." kata Am.


Mendengar omelan yang terus keluar dari mulut Am, dan besarnya kerinduan Furqon. Membuat Furqon ingin menciumnya.


Dengan tiba-tiba Furqon mencium bibir Am.


Sehingga Am tak dapat berkata apapun lagi.


"deg, deg, deg,"


"deg, deg, deg,"


Jantung mereka berdetak dengan sangat kencang.


Karena senangnya perasaan Am saat itu. Tak sengaja Am mengeluarkan kekuatan pengatur air lautnya.


Air laut itu gemetar seperti adanya gempa bumi. Namun tak terjadi gempa saat itu.


"kropyak, kropyak, kropyak."


Bunyi air laut yang gemetar karena kekuatan Am.


Air itu semakin meninggi dan meninggi.


Mereka yang sedang menikmati kerinduan mereka tak mendengar apapun di sekitarnya.


Sehingga tak sengaja air laut itu datang dan mengguyur mereka.


"byuuuuur..."


Basahlah pakaian mereka berdua.


"maaf" kata Am.


"Tak apa, kita hanya perlu beberapa jam agar baju ini kering." kata Furqon dengan tersenyum tipis.


Setelah itu, suasana rasanya hening. Terlihat semburat merah di pipi mereka. Mereka duduk di pasir tepat bawah pohon panda.


Am melirik batu hitam yang ada tulisan putih di atasnya.


"apakah kamu yang menulis puisinya?" pertanyaan Am terlontar memecahkan keheningan.


"iya, itu adalah wujud dari rasa rindu ku padamu." kata Furqon.


"kenapa kamu mencariku sampai sejauh ini?" tanya Am.


"ibu menginginkan ku segera menikah. Tentu aku tidak ingin menikah sebelum aku menemukanmu." kata Furqon.


"aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi... apakah kamu mau menikah dengan ku Am?" tanya Furqon.


"deeggg"


Mendengar apa yang dilontarkan oleh Furqon, Am hanya terpaku dan terdiam.


...----------------...


Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.


Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.


Terimakasih... 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2