Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 81: Gerbang Nabastala Terbuka


__ADS_3


"Jika dia bersenjata petir, tentu aku juga harus menggunakan petir juga kan biar adil? " gumam Am dengan tersenyum.


Am mengangkat tangannya ke atas dan mengumpulkan kekuatan petirnya.


"Crrrrrraaaaazhhhhh"


"Zrrrrrrraaaaaassssshhhhh"


"Ctaaar, zraaaaaath"


Petir itu berkumpul dengan banyaknya. Sepuluh lipat dari apa yang di genggam oleh setan Dasim. Semua prajurit setan yang masih tersisa terbelalak. Tentu mereka tak mengira jika Am memiliki kekuatan begitu besarnya.


Malaikat lainnya pun menyaksikan kekuatan Am.


Semua yang ada di sana hanya berdiri memandang petir yang dikumpulkan Am. Melihat hal ini Setan Dasim gagap. Dia gemetar, tahu jawaban akan hasil akhir bagaimana.


Namun dia tetap harus melaksanakan tugas seperti perintah Raja.


"Zzzzzrrrrrutthhhh" bunyi petir.


"Bagaimana? Mau lanjut Dasim?" tanya Am dengan percaya diri atas kekuatan yang dipegangnya.


"Ciih! Sombong sekali kamu? Meski aku mati di sini, itu tak akan merubah niatku mulai awal" jawab Dasim.


"Wah, aku kagum dengan keteguhanmu" kata Am.


"Jangan banyak omong kosong dan enyahlah!" kata Dasim dengan gerakan menyerang.


"Hiiiiiiiyaaaaaakkkk!!!!" teriak Dasim.


"Craaaaazzzzhhhh"


"Cttttttaaaarrrrrt"


"Crrrrrreeeeezzzzttt"


Petir mereka saling bergesek dan bertabrakan, membuat suasana di sana menjadi tegang. Yang tadinya akan tertidur, mereka jadi terbangun karena gesekan ini. Kekuatan itu terlihat luar biasa.


"Zrrrrraaaaaazzzzhhhh"


Serangan yang pertama masih belum ada yang berhasil menjatuhkan lawan. Serangan kedua, Am melemparkan petirnya pada Dasim, lalu dia berubah menjadi pusaran angin dan menembakkan dirinya kepada Dasim secepat kilat. Hal ini membuat tubuh Dasim terhuyung. Menyebabkan petirnya meleset. Akhirnya dia terpental jauh dari tempat mereka bertarung.


"Sial!" gumam Dasim.


Petir milik Am berhasil mengenai salah satu anggota tubuh Dasim.


Setelah terdorong jauh, Dasim tetap ingin melangkah maju untuk kembali menyerang. Namun di tengah perjalanan itu, tiba-tiba Bulan Purnama mulai muncul di langit.

__ADS_1


Melihat hal ini Dasim mengerti jika waktu mereka telah habis. Meski mereka tetap bertarung pun akan mendapatkan hasil yang sia-sia. Akhirnya Dasim dan para prajurit setan lainnya memutuskan pergi dari peperangan dan kembali.


"Haaaaaafffff" Nafas Am lega melihat bulan Purnama itu muncul.


Gerbang Nabastala pun terbuka. Saat gerbang Nabastala terbuka, Ajudan berada tepat di tengah-tengah gerbang itu dan melihat kepada para malaikat dengan tatapan yang sangat tajam.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Ajudan dengan tegas.


Melihat pertanyaan yang terlontar dari Ajudan membuat malaikat bumi berkidik. Karena mereka tahu, di sini bukanlah tugas mereka.


"Ajudan, tolong jangan salah faham terlebih dahulu. Sebelum kami menjawab. Bolehkah kami masuk dan membantu malaikat yang sedang mengalami kesulitan?" kata Dorit.


"Cttttaaaak!"


Tak lama Am menjentikkan jarinya untuk membuka tameng pertahanan Nabastala. Setelah itu dia jatuh dan lemas.


Melihat keadaan Am malaikat Dorit segera menangkap Am.


"Lihatlah keadaannya, Ajudan!" kata Dorit dengan memegang Am.


"Baiklah! masuklah kalian ke ruangan peristirahatan. Setelah itu, pasti akan ada hukuman bagi kalian semua. Terutama kalian!" kata Ajudan dengan menunjuk malaikat yang memiliki tugas di bumi.


...****************...


Akhirnya mereka masuk dan saling menyembuhkan satu sama lain. Tentu hal ini termasuk pelanggaran UU Nabastala.


Ajudan Rei melaporkan keadaan yang dilihatnya kepada Tuan yang telah selesai menciptakan malaikat generasi baru itu.


"Ha, ha, ha, ha, benarkah Rei?" tanya Tuan sumringah.


"Melihat hal ini seharusnya Tuan marah tapi kenapa dia justru terlihat senang?" batin Rei.


"Iya Tuan" jawab Rei lirih.


"Daripada memikirkan mereka, aku lebih senang melihat generasi malaikat yang baru aku ciptakan. Lihatlah! Mereka generasi malaikat yang sangat sempurna Rei" jawab Tuan.


"Untuk itu, saya mengucapkan selamat kepada Tuan" kata Rei.


"Sapalah adikmu dulu Rei!" kata Tuan.


"Baik Tuan!" kata Rei.


Seperti tradisi malaikat, mereka selalu menyapa adik mereka yang baru diciptakan Tuan. Rei Ajudan melakukan sesuai dengan perintah Tuan. Dia menyapa malaikat yang baru diciptakan Tuannya.


"Mereka terlihat sangat sempurna!" gumam Rei setelah menyapa malaikat baru.


...****************...


Setelah malaikat itu saling menyembuhkan di ruang peristirahatan, Malaikat bumi merasa sangat takut. Karena ini pertama kalinya mereka melanggar peraturan dan akan mendapatkan hukuman.

__ADS_1


"Malaikat Amaltheia, apa yang telah kamu perintahkan pada kami? Apakah kamu telah membohongi kami?" kata salah satu malaikat bumi itu.


"Jika aku tak mengucapkan ini adalah perintah Tuan, pasti kalian tak akan mendengar" jawab Amaltheia.


"Astaga, berarti kamu telah menipu kami semua? Kenapa kamu tega akan memasukkan kami dalam jurang?" kata salah satu malaikat bumi.


"Ini bukan karena aku tega atau bohong. Tapi lihatlah bagaimana setan akan merusak generasi malaikat, adik kalian" jawab Amaltheia.


"Tapi itu bukan tugas kami" jawab salah satu malaikat bumi.


"Cukup! Akulah yang menyuruh Amaltheia. Dia tak bersalah apa-apa. Dia hanya melakukan perintahku" kata Am menengahi perdebatan mereka.


"Apa posisimu? sehingga merasa berhak memerintah kami Am?" kata malaikat salah satu bumi.


"Benar, bukankah dia malaikat yang telah diasingkan oleh Tuan. Aku lupa jika Amaltheia adalah sahabatnya. Kita telah dijebak" gerutu salah satu malaikat bumi.


Seketika suasana di sana sangat ramai dan menyalahkan Am. Di sisi lain Malaikat bumi sangat takut dengan hukuman yang akan diberikan kepada mereka.


"Aku tahu,,, biarkan aku yang akan menanggung hukuman kalian semua" jawab Am.


"Apa menurutnya Tuan akan melakukan itu? Tidak Am, siapa yang melakukannya pasti dia yang menanggung. Itulah prinsipnya" jawab salah satu malaikat bumi.


Mendengar perdebatan ini membuat pendengaran Dorit lama kelamaan terasa panas. Membuat dia mengucapkan perkataan.


"Hei kalian, tugas kita memang di bumi. Tapi meski kita meninggalkannya. Bukankah kita sempat membagi tugas kita ke malaikat setengahnya yang tersisa di bumi? Bagi Tuan yang terpenting laporan kita itu komplit. Jadi jangan terlalu dipermasalahkan" kata Dorit.


Mendengar perkataan Dorit, Am sangat lega. Benar, waktu Am meminta tolong kepada Amal dia tak memikirkannya hingga disitu. Ternyata membagi tugas sehingga satu malaikat bumi memegang 2 laporan dalam 3 hari itu adalah ide dari Dorit dan Amaltheia.


Am sangat berterimakasih kepada mereka berdua.


Tiba-tiba ada suara Ajudan yang bersuara.


"Tuan memanggil kalian semua! Cepat berkumpul di aula laporan" kata Ajudan.


"Baik!" jawab semua malaikat langsung dengan posisi sigap.


Dengan hati yang takut, namun tetap malaikat bumi itu melaksanakan yang telah diperintah Ajudan.


Semua malaikat di tempat peristirahatan beranjak ke aula pengumpulan laporan. Sebelum itu mereka langsung menemui malaikat bumi lainnya yang telah bertugas ganda selama 3 hari ini. Untuk melengkapi laporan mereka yang mereka tinggal untuk berperang.


Seperti biasa, malaikat berurutan mengumpulkan tugas laporan mereka kepada Ajudan.


"Dengar! Setelah kalian mengumpulkan laporan, jangan kembali dulu. Tapi temuilah adik kalian dan sapalah mereka" kata Ajudan.


Mendengar demikian, semua malaikat ikut senang, akhirnya ada tambahan populasi malaikat lagi yang akan bertugas.


Kecuali Am, di tengah-tengah malaikat itu. Am meminta izin kepada Rei untuk bertemu Tuan.


Melihat keadaan yang memang banyak yang perlu mereka perbincangkan, Rei mengizinkannya.

__ADS_1


"Silahkan masuk, Tuan di ruangannya" kata Rei yang sedang sibuk memanggil satu per satu malaikat bumi.


__ADS_2