
"Benarkah?" tanya Am.
"Iya kak" jawab Andira.
"Kalau begitu rekam aku lagi Andira" kata Am.
"Pasti kak, dengan senang hati kak Am" kata Andira senang melihat Am bersedia menjadi pengisi channelnya.
Setelah itu, Andira menyarankan Am untuk menyanyikan lagu yang saat ini sedang viral. Itu akan sedikit mendukung mendapatkan viewer yang banyak.
Andira mencarinya dan akhirnya ketemu.
Andira menyarankan Am untuk menyanyikan lagu dari Rizky febian.
"Hingga Tua Bersama"
Inikah kisah cinta
Yang aku sesali
Kini kau tinggalkan diriku
Ku tahu ini semua kesalahanku
Yang selalu membuatmu terluka
Maafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama
O ooo...
Ku mohon kembalilah dalam pelukanku
Lihatlah diriku tanpamu
Maafkanlah sayangku
Dengarkan janjiku
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama
Hati ini Tak Akan Mungkin
Tanpa cintamu yang begitu tulus
mencintaiku
Ou ooo...
__ADS_1
Selama jantung ini berdetak
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama
Ku akan selalu menjagamu
Hingga akhir waktu
Selama nafas ini berhembus
Tak akan ada cinta yang lain
O ooo...
Tak akan ada cinta yang lain
Hingga Tua Bersama
Am meresapi lirik tersebut. Karena malaikat memiliki daya ingat yang tinggi, satu kali pendengaran saja Am telah menghafalnya. Bahkan Am juga telah bisa nada naik turunnya.
Sudah suaranya merdu dan mudah menghafal lirik dan melodi. Ini membuat Andira kagum dengan kak Am.
Saat Am mencoba bernyanyi. Lais ada di sana, tentu dia juga mendengarnya. Mendengar suara nyanyian Am. Lais terbawa suasana. Dia juga merasa kagum pada Am.
"Sebenarnya kamu itu makhluk apa Am? Seperti titisan khayangan saja" batin Lais.
Tentu kekaguman Lais tak ditampakkan oleh Lais. Tanpa expresi, Lais diam-diam memperhatikan kedua gadis itu melakukan perekaman.
...****************...
Am melihat Lais kali ini cuek dan dingin. Beda sekali sikapnya saat dia datang ke sini sendiri.
"Ada apa dengan sikapnya?" batin Am dengan memandang gerak gerik Lais.
Karena rasa rindu Am sudah tak bisa terbendung lagi. Am ingin segera mengingatkan Lais tentang dirinya dahulu saat menjadi Furqon.
"Lais, aku ingin berbicara sesuatu padamu" kata Am.
"Silahkan" jawab Lais cuek.
"Bisakah kita berjalan ke pesisir?" tanya Am.
Lais melihat Am setelah dia melontarkan pertanyaan itu. Kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Sedangkan Andira tak ikut karena sedang sibuk mengedit video yang baru direkamnya tadi.
...****************...
Mereka berjalan dengan langkah yang bersamaan dan santai.
Hening tanpa suara. Namun keduanya merasa grogi satu sama lain. Karena Am telah mengetahui bahwa Lais adalah Re-inkarnasinya Furqon. Sedangkan Lais sendiri mulai merasakan suatu perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Setelah 15 menit kemudian, akhirnya Lais memecah keheningan.
"Am, bagaimana dengan indra ke-enamku? Apakah kamu telah mengetahui sesuatu?" tanya Lais.
"Em,,, iya" jawab Am.
Lais mendadak penasaran dan langsung memandang Am tajam. Tubuhnya yang tadinya melangkah, kini dia hentikan dan menatap Am.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Lais.
"Itu,,, mau tau sangat? Atau tidak?" canda Am.
"Perlu aku jawab, kamu tahu sendiri expresi wajahku seperti ini" kata Lais.
__ADS_1
"Hahahahaha, kamu sangat manis jika sedang kesal" kata Am.
Semenjak Am memgetahui kebenaran tentang Lais. Cara berbicara Am sangat santai dengan Lais, rasanya sudah tidak ada tembok yang dipasang oleh Am diantara mereka.
"Deg, deg, deg"
Mendengar candanya Am, jantung Lais berdetak kencang lagi. Apalagi wajah Am sangat cantik saat tersenyum. Membuat pipi Lais memerah dengan sendirinya.
Lais menunduk berusaha agar tak dilihat oleh Am.
Akhirnya Am memberitahu kepada Lais bahwa indra ke-enamnya adalah anugrah dari Tuhan. Jadi, itu patut disyukuri tidak perlu ditutup.
"Apa? Anugrah?" tanya Lais tak percaya.
Kenapa jika sebuah anugrah tapi baginya indra ini sangat menyiksa.
Am menegaskan, Tuhan menciptakan sesuatu pasti memiliki tujuan. Seperti halnya DIA menciptakan manusia agar manusia beribadah dan menyembah pada-Nya. Dia juga menciptakan hewan dan tumbuhan sebagai penyeimbang kehidupan bumi. Dan begitulah seterusnya. Tuhan menciptakan Malaikat, tapi Dia juga menciptakan Setan.
"Anugrah yang diberikan padamu itu, pasti memiliki tujuan Lais"kata Am.
"Maksudmu tujuan apa?" tanya Lais.
"Jawaban itulah yang perlu kita cari. Apa tujuan indra itu diberikan padamu. Bukan justru menutupnya" jawab Am.
Mendengar tanggapan Am, Lais merasa kagum kepada Am.
Dengan memandang Am Lais berkata pada batinnya.
"Pemikirannya,,, bijak" batin Lais.
Tak lama Am menunjukkan batu yang pernah ditulis Furqon dahulu. Ini adalah tujuan Am dari awal berharap Lais mengingatnya.
"Lais, lihatlah!" kata Am dengan menunjuk batu yang tertulis puisi tersebut.
Lais membaca tulisan itu. Tulisan itu memakai huruf kuno. Karena Lais murid yang pintar, dia tahu tentang huruf kuno dan membacanya.
"Rindu yang menggerogoti jiwaku. Rasanya bagaikan di Neraka.
Kepadamu sang indurasmi.
Bagaimana caraku untuk berhenti?
Sedangkan hatiku menginginkan pertemuan. Namun otakku mengatakan tidak?."
"Astaga, indah sekali. Sepertinya ini puisi kuno tapi,,, sangat menyentuh hati" kata Lais.
"Apa katamu tadi? Puisi? Apa itu?" tanya Am polos.
"Puisi itu merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Sehingga sangat indah dibaca" jawab Lais.
"Ini puisi seperti lama sekali karena huruf kuno, jika bertemu orang lain pasti akan dimuseumkan" tambah Lais.
"Lais, lalu bagaimana perasaanmu setelah membacanya?" tanya Am berharap dia mengingatnya.
"Rasanya sangat menyentuh, ini berisi orang yang cintanya terhalang sesuatu. Mungkin karena orang tuanya yang tak merestui mereka" kata Lais.
"Apa yang kamu bicarakan Lais" kata Am.
"Bukankah terlihat seperti itu?" kata Lais.
"Bukan itu maksudnya..." kata Am.
"Astaga,,, jelas-jelas itu tanganmu sendiri yang menulisnya. Kenapa dia malah berfikir cintanya tidak direstui orang tua?" batin Am.
"Lalu, apa maksudmu Am?" tanya Lais tak mengerti.
"Berarti kamu tak mengingatnya, sudahlah!" kata Am dengan berjalan kembali ke rumah.
"Am" panggil Lais kebingungan dengan maksud Am. Ingatan apa yang dia bicarakan tadi.
Lalu Lais menyusul langkah Am. Karena Am telah sangat jauh. Lais tak dapat menyusulnya hingga Am masuk ke rumah.
Hari semakin sore,,, akhirnya Lais dan Andira pamit pulang.
__ADS_1