Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 61 Mengantar e-KTP


__ADS_3


Hari ini adalah hari minggu, tepatnya pukul 09.00 WIB. Andira pergi ke rumah Am bersama Lais untuk mengantar e-ktp milik Am.


Adik kakak itu berjalan bersama. Suasana di sana hanya bunyi hentakan kaki mereka berdua bersama angin sepoi-sepoi yang menerpa pepohonan di pinggir jalan.


"Dir, bagaimana kamu mengenal Am?" tanya Lais kepada adiknya untuk memecah keheningan.


"Kak Am pernah menolongku saat aku dirampok dulu, saat itulah kami saling mengenal" jawab Andira.


"Oh" jawab Lais singkat.


Saat akan memasuki hutan, Lais menghela nafas dan mempersiapkan dirinya matang-matang. Seperti yang dia lakukan saat di sekolah waktu memasuki toilet.


"Huffft" nafas dalam Lais.


"Kakak takut?" tanya Andira.


"Tidak, siapa yang takut?" jawab Lais menyangkal.


"Kalau melihat hutannya sih di sini sepertinya memang banyak" gumam Andira.


Andira mengerti bahwa kakaknya memiliki indra keenam mulai kecil. Ini salah satu alasan kenapa kakaknya sangat acuh dan cuek dengan sekitar.


"Sok tahu kamu" jawab Lais sengaja mengelak agar adiknya tidak merasa takut.


Mereka berjalan di dalam hutan.


Setelah beberapa menit perjalanan, mereka melihat Am seperti sedang berbincang dengan seekor singa. Dan singa itu menjilat-jilat tangan Am.


Melihat hal itu, membuat Lais kaget. Dia mengira singa itu akan memakan Am.


Lais langsung berlari, menarik Am dan melindunginya dari singa.


Melihat kehadiran Lais yang asing bagi singa itu, dengan spontan singa itu marah dan mengeluarkan taringnya.


Am langsung maju dan memperingati singa itu.


"Dia tamuku, jangan!" tegas Am.


Melihat demikian Lais sangat bingung saat ini.


"Bagaimana singa itu mau mendengar perkataan Am, sebenarnya siapa dia?" batin Lais.


"Em, dia sahabatku jadi dia sangat jinak" kata Am, Am mengerti jika tak wajar seorang manusia dapat berteman dengan seekor singa.


"Bagaimana caramu menjinakkan hewan buas seperti itu?" tanya Lais.


"Cinta, aku menjinakkannya dengan cinta" jawab Am dengan tersenyum.


Tak terasa mereka telah berada di depan rumah buatan Am.


"Masuklah!" kata Am dengan membuka pintu rumahnya.


Andira masuk ke dalam ruang tamu, sedangkan Lais masih ingin melihat singa yang jinak tadi dari jauh karena penasaran.


Saat Lais di samping rumah Am, Lais melihat Am sedang membuat mangkuk dan cemilan roti dengan kekuatannya.


"Astaga,,, bahkan dia juga bisa membuat makanan dengan sihirnya, sebenarnya siapa dia? " batin Lais.


Am membawa makanan itu ke ruang tamu dan menaruhnya di meja.


Kemudian Lais masuk ikut duduk di sebelah adiknya Andira.


"Makanlah" perintah Am.


Saat tangan Andira mau mengambil makanan yang dihidangkan oleh Am, Lais langsung merespon.

__ADS_1


"Tunggu! Kita pastikan dulu makanan itu tidak beracun" kata Lais.


"Apa? Beracun? Mana mungkin?" kata Am.


"Kak!" kata Andira heran.


"Kalau memang tidak beracun kamu makan dulu" kata Lais.


"Astaga, baiklah" kata Am pasrah.


Am memakan makanan yang diciptakannya sendiri.


Ternyata tidak terjadi apa-apa. Kemudian Lais mencoba memakannya pula.


"Benar-benar seperti makanan, padahal aku melihat jelas-jelas dia menciptakannya dengan sihir" batin Lais.


"Enggakkan kak, kak Am itu baik mana mungkin dia memberi racun" kata Andira.


"Makanlah! tak baik makan banyak bicara" kata Lais.


Lais selalu bertanya-tanya, sebenarnya siapa orang yang sedang di hadapannya ini?


Andira menyodorkan e-ktp yang telah dia ambil dari dispenduk.


"Wah.... Benar-benar kartu identitas, terimakasih Andira" kata Am sangat senang.


"Selamat kak Am, kak Am sudah menjadi bagian penduduk di sini" kata Andira.


"Iya, ini berkat bantuanmu An" kata Am.


"Kak Am katanya ingin sekolah, dengan adanya ktp kak Am bisa sekolah masuk SMA" kata Andira.


"Saya akan daftar jika danaku sudah mencukupi nanti An" kata Am.


"Baiklah kak" kata Andira.


"Dana? Dia pembohong ya? Bukankah hal yang mudah baginya menciptakan uang dan masuk ke sekolah?" batin Lais.


Andira bermain ke laut bersama Am. Mereka berlari kesana kemari dengan riangnya. Sedangkan Lais, duduk di depan rumah Am.


Dari kejauhan, Am melihat Lais sedang menunggu. Membuat Am merasa kasihan kepadanya.


"An, lihatlah kakakmu daritadi menunggu sendirian. Kita sudahi dan kesana yuk!" ajak Am.


"Biarin, toh dia sendiri yang mau nganterin tadi. Aku masih ingin main, karena di kota tidak ada laut yang masih asri seperti ini" kata Andira.


"Kalau begitu saya tunggu di rumah ya An, mainlah sepuasmu" kata Am.


"Baiklah kak" kata Andira.


Am menghampiri Lais yang sedang duduk.


"Kamu tidak ingin kesana?" tanya Am.


"Kamu pikir aku masih ingin bermain seperti anak kecil?" tanya Lais balik.


"Bukan seperti itu maksudnya" kata Am.


"Dia benar-benar ketus" batin Am.


Suasana hening, kemudian Lais mulai mengatakan hal yang serius pada Am.


"Sebenarnya aku sudah melihatmu saat membuat makanan tadi dengan sihirmu" kata Lais.


"Apa? Kamu melihatnya? Lagi-lagi kamu melihat rahasiaku, tolong jangan kamu bilang kepada siapa-siapa" kata Am.


"Aku tidak akan bilang dan menjaganya, asal kamu mau monolongku" kata Lais.

__ADS_1


"Menolong kamu? apa maksudmu?" tanya Am.


"Dengan kekuatanmu yang seperti itu, mungkin kamu bisa membantu menutup indra keenamku" kata Lais.


"Indra keenam maksudmu penglihatanmu yang dapat melihat bangsa jin?" tanya Am.


"Iya" jawab Lais.


"Jujur, ini pertama kalinya aku meminta bantuan kepada seseorang. Tapi penglihatan yang tak wajar ini, benar-benar sangat mengganggu kehidupanku" kata Lais.


"Yang telah ditakdirkan aku tidak bisa mengubahnya Lais, sebelum aku bertindak, aku harus mengetahui asal mula bagaimana matamu dapat melihat sesuatu yang ghaib" kata Am.


"Dan hal ini tidak sesederhana itu" tambah Am.


Am mengerti benar bahwa keadaan sekarang banyak manusia yang memiliki kekuatan, mereka dapat bekerja sama dengan jin satu sama lain. Hijab antara dua kehidupan telah teriris sedikit demi sedikit.


Ditengah perbincangan serius mereka berdua, Andira dari kejauhan memanggil Am.


"Kak Am,,,, Hei" kata Andira dengan berlari menuju tempat duduk Lais.


"Kak Am tadi aku melihat ada sebuah puisi yang ditulis di batu, puisinya sangat indah, aku ingin membawanya tapi batu itu sangat berat" kata Andira.


"Benarkah?" tanya Am.


"Iya, tunggu,,, berarti ada seseorang yang pernah kesini atau kak Am yang membuatnya?" kata Andira.


"Memang ada yang pernah kesini dulu" jawab Am dengan berjalan masuk ke rumah.


"Benarkah? Siapa kak?" tanya Andira penasaran.


"Bajumu basah Andira pakailah baju ini!" kata Am dengan menyerahkan baju yang diciptakannya dari kekuatannya.


"Nanti tidak perlu kamu cuci setelah memakainya, langsung gantilah saat tiba di rumah dan berikan kepada kakakmu" kata Am.


"Kenapa ke kakak? Dan kenapa seperti dikejar waktu?" tanya Andira.


"Itu pelajaran agar kamu lebih disiplin" kata Am.


"Baiklah" kata Andira.


"Ingat! Langsung ganti dan langsung berikan pada kakakmu" kata Am tegas.


Baru kali ini Andira melihat Am sosok yang tegas pada dirinya. Membuat Andira sedikit kaget.


"Kenapa diberikan pada,,," kata Lais terhenti saat Am menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.


"Katanya tadi kamu ingin melihat singa kan?" kata Am dengan mengedipkan mata. Pertanda jika Lais harus mengikuti perkataannya.


Tanpa jawaban, Am menyeret Lais jauh dari Andira.


"Ada apa?" tanya Lais kebingungan.


"Apa yang aku ciptakan hanya bertahan selama 24 jam, jadi tolong,, pastikan baju yang aku berikan pada Andira sudah ditanganmu sebelum waktu itu" kata Am.


"Sudah jelas-jelas seperti itu, kenapa kamu mau mengambil resiko?" tanya Lais.


"Aku tidak tega melihat adikmu kedinginan" jawab Am.


Mendengar jawaban Am, Lais merasa kagum kepadanya.


"Jadi ini alasannya, kenapa kamu tidak bisa mendaftar ke sekolah, karena kekuatanmu memiliki waktu" kata Lais.


"Iya, aku tak ingin merugikan manusia dengan kekuatanku" kata Am.


"Baiklah, sekarang aku tahu" kata Lais.


"Iya tentu, sudah dipastikan karena kamu suka sekali mengikutiku jadinya kamu tahu semuanya tentang kekuatanku" kata Am.

__ADS_1


"Ah, iya sudah" kata Lais pasrah.


"Padahal aku sekarang tahu bahwa kamu adalah orang baik Am" batin Lais.


__ADS_2