
Setelah melihat keadaan orang-orang yang tertimpa musibah membaik, akhirnya Am memutuskan untuk kembali ke kota bersama Lais. Sebenarnya Am pribadi tak memiliki alasan untuk kembali. Namun dia memikirkan Lais. Dia tahu jika selama Lais menemaninya, Lais ijin tidak masuk sekolah. Hal yang tidak pernah dia lakukan jika memang bukan hal yang mendesak bagi Lais.
Sore keesokannya, mereka pulang.
"Terimakasih telah mengantarku Lais" kata Am yang sedang duduk di bangku mobil depan itu.
"Sudah tugasku" jawab Lais.
"Tugas apa yang kamu maksud?" tanya Am kebingungan.
Mata Lais melirik Am namun dia tetap focus menyetir mobilnya.
"Tugas sebagai laki-laki yang harus melindungi wanita dong" jawab Lais.
"Baiklah" kata Am.
...****************...
Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah Am. Mobil itu terparkir di pinggir jalan. Kemudian Lais dengan menguatkan dirinya tetap mengantar Am melewati hutan yang baginya horor itu. Tentu sebenarnya Am mencegahnya, cukup dia antar di pinggir jalan. Namun bagi Lais ini bukanlah hal yang patut, mengerjakan tugas tidak hingga selesai. Jadi Lais mengantar Am masuk hutan menuju rumahnya.
Saat Am tiba di rumahnya, tiba-tiba ada kedua lelaki yang membuka pintunya dari dalam.
Melihat hal ini membuat hati Lais menjadi buruk.
"Sampai kapan sih, si bedebah itu tinggal di sini?" batin Lais dengan menatap tajam kedua lelaki itu yang merupakan wujud manusia dari tuyul bersaudara.
"Kakak tidak apa-apa kan?" tanya kakak tuyul itu melihat pandangan Lais yang sangat tajam itu.
"Iya tentu, aku sangat baik" jawab Lais.
"Bagus kalau begitu" jawab kakak tuyul itu.
"Ngomong-ngomong, sampai kapan kalian akan tinggal di sini?" tanya Lais.
"Kami akan tetap di sini dan menjaga kak Am hingga waktu lama" jawab adik tuyul itu.
"Apa?" kata Lais tak percaya.
"Ehem, iya Lais kamu tak perlu khawatir, mereka sangat menjaga ku hingga saat ini" kata Am meredakan emosi Lais yang terlihat dimata Am bahwa setan Dasim sedang mempengaruhinya.
"Tapi Am ini sangat tidak pantas jika laki-laki dan perempuan tinggal bersama" kata Lais.
"Kenapa tidak pantas? Jika kamu mau tinggallah di sini aku juga tak masalah" jawab Am.
"Tunggu,,, benarkah boleh?" tanya Lais meyakinkan.
"Iya siapapun" jawab Am.
Tiba-tiba Lais menarik tangan Am. Dia tahu persis jika Am selama ini bersamanya di desa. Tapi kenapa rumah Am tetap berdiri tegak. Lais tak tahu jika kedua tuyul itu sudah tahu atas identitas Am.
"Bagaimana bisa rumah ini tetap berdiri. Bukankah kamu bilang kekuatanmu akan hilang selama 24 jam?" kata Lais.
__ADS_1
"Saat kamu tidur, aku sempat pulang kemari" jawab Am.
"Apa? Kapan?" tanya Lais terkejut karena jarak antara desa dan kota yang kini mereka tempati sangatlah jauh.
"Saat kamu tidur Lais" jawab Am menegaskan.
"Astaga bagaimana bisa kamu,,," dengan menunjukkan jari telunjuknya kepada Am keheranan.
Lais berfikir sejenak.
"Benar, kamu kan Amfitrite. Hal apa yang tidak bisa kamu lakukan ya?" tambah Lais.
"Sebaiknya kamu cepat pulang Lais dan beristirahatlah" kata Am.
"Baik aku akan cepat pulang dan tinggal di sini besok" jawab Lais.
"Secepat itu?" tanya Am.
"Iya, aku khawatir kamu tinggal 1 atap bersama 2 laki-laki" kata Lais.
"Baiklah" kata Am.
Lais pulang, dan Am berjalan menuju masuk ke rumahnya dengan bergumam.
"Kenapa dengan sikap mereka?" kata Am.
Am keheranan dengan sikap manusia yang selalu merasa khawatir jika ada yang tinggal 1 atap antara laki-laki dan perempuan.
"Bukankah Dasim memiliki tugas untuk menjerumuskan pasangan suami istri? Lalu kenapa dia mendekati Lais? Aneh" gumam Am keheranan melihat Dasim melakukan tugas yang tak seharusnya dia kerjakan.
...****************...
"Tok, tok, tok"
Setelah Lais memarkirkan mobilnya Lais mengetuk pintu.
"Cekreek"
Andira membukakan pintu depan.
"Ibu kakak sudah pulang" teriak Andira.
Melihat reaksi Andira Lais tahu pasti ibu akan menanyakan sesuatu padanya.
Lais masuk ke dalam. Saat dia melangkah, ibu Lais langsung melambaikan tangannya simbol bahwa dia memanggil Lais agar duduk di sebelahnya.
Lais duduk di sofa ruang keluarga.
"Darimana kamu Lais? Kenapa menginap tak memberi kabar ibu?" tanya ibu Lais.
"Maaf ibu, kemarin Lais tergesa-gesa, jadi baterai ponsel Lais tidak Lais isi. Dan waktu sampai di sana ponselnya mati. Jadi tidak bisa mengabarkan apapun kepada ibu." jawab Lais dengan menunduk.
"Oke, sekarang ibu tanya kamu darimana?" tanya ibu.
__ADS_1
"Lais dari desa Humilir, di sana sedang terjadi kebakaran jadi Lais menginap untuk membantu para pengungsi" jawab Lais.
"Apa? Desa Humilir? Bukankah itu jauh dari sini? Lalu bagaimana kamu tahu di sana ada kebakaran?" tanya ibu.
"Teman Lais ada di sana. Jadi Lais cepat-cepat menjemputnya" jawab Lais.
"Temen? Emang kakak mulai kapan punya teman?" kata Andira.
"Kakak sudah bilang kan Dir! kamu tidak mengenal kakak jadi jangan bilang apapun tentang kakak sembarangan" kata Lais.
"Yelah, terserah!" kata Andira.
"Sekarang bagaimana keadaanmu nak? Apakah kamu ada yang luka?" tanya ibu dengan melihat ke semua anggota tubuh anak laki-lakinya.
"Aku sehat ibu, jangan khawatir" jawab Lais dengan tersenyum.
"Lain kali jangan lupa kabarin ibu ya nak, kamu tak tahu betapa khawatirnya ibu padamu" kata ibu Lais.
"Iya ibu" kata Lais.
Seketika Lais teringat tentang apa yang dibicarakan Am yaitu rumah masa lalunya itu.
"Ibu, boleh Lais bertanya sesuatu?" tanya Lais.
"Apa?" tanya ibu.
"Apakah selama ini Lais punya Amnesia? Atau ada masa lalu yang Lais lupakan?" kata Lais.
"Masa lalu apa itu?" tanya ibu bingung dengan yang Lais maksud.
"Itu, apakah saat kecil Lais pernah tinggal di suatu tempat? Intinya bukan di rumah ini?" tanya Lais lagi.
"Iya pernah" jawab ibu.
"Benarkah? Dimana itu bu?" tanya Lais.
"Di rumah kakek dan nenekmu" jawab ibu.
"Kalo itu Lais ingat bu, kalau tinggal di desa Humilir Lais pernah?" tanya Lais.
"Tidak, kita tak punya sanak saudara di sana jadi kita tidak pernah kesana termasuk kamu Lais" jawab ibu.
"Jika tidak, apakah Lais anak angkat ibu?" tanya Lais.
"Ha, ha, ha, kau ini. Bagaimana mungkin kamu anak angkat? Ibu yang mengandungmu, melahirkanmu dan merawatmu hingga besar seperti ini. Kenapa kamu berfikir jika kamu anak angkat ibu?" jawab ibu.
"Baiklah bu, maaf. Maaf ibu Lais mau ke kamar dulu" kata Lais.
"Tidak pernah kesana dan juga bukan anak angkat, lalu apa yang Am maksudkan?" gumam Lais di dalam kamarnya dengan merebahkan punggungnya.
"Haah, punggung ini merasa lelah. Kasihan sekali dia harus menopang badanku setiap hari. Tapi aku senang karena bisa bersama Am lebih lama" gumam Lais dengan senyum-senyum sendiri.
...****************...
__ADS_1