
Setelah Amaltheia bertemu Amfitrite dan kembali ke Nabastala. Amaltheia langsung menemui pemimpin di ruangannya bersama dengan Ajudan. Dan menyampaikan apa yang telah dikatakan oleh Am, sahabatnya.
“Permisi Tuan, saya kembali ingin menanyakan sesuatu kepada Tuan.” Kata Amaltheia.
“Katakan malaikat Amaltheia.” Jawab pemimpin.
“Saya telah bertemu dengan sahabat saya, Amfitrite. Dia ingin menanyakan beberapa hal tentang hukumannya. Berhubung dia tidak mempunyai sayap saat bulan purnama, saya menunjuk diri sebagai perwakilan dari sahabat saya. Untuk menyampaikan pertanyaannya.” Kata Amaltheia.
Amaltheia terlihat gugup karena ini hal pertama kali. Dia menghadap langsung dengan pemimpin. Meski gugup, dia melakukannya demi sahabatnya. Agar secepat mungkin sahabatnya, terlepas dari hukumannya.
“Iya silahkan Malaikat Amaltheia.” Kata pemimpin.
“Amfitrite telah melakukan ketulusan Tuan. Dia selalu melindungi kelompok merpati di bumi. Tapi mengapa hukuman yang dia jalani masih belum berakhir? Itulah pertanyaan yang diajukan oleh Amfitrite Tuan.” Kata Amaltheia.
“Malaikat Amaltheia, sampaikan pesan ini kepada Amfitrite. Jika dia ingin benar-benar kembali, dia harus mengambil yang seharusnya miliknya. Yaitu kekuatannya. Hanya ada satu cara agar dia dapat mendapatkan kekuatannya kembali. Yaitu ketulusan. Itu bukan berarti dia yang melakukan ketulusan. Tapi, dia harus membuat ketulusan pada seorang yang mendapat kekuatannya. Dia harus menumbuhkan ketulusan pada manusia itu. Karena saat jiwa manusia menacapai ketulusan, saat itu jiwanya akan melepaskan semua yang dia miliki untuk orang yang dia cintai.” Kata pemimpin.
“Artinya Am, harus membuat manusia itu cinta kepada Amfitrite. Setelah itu baru kekuatannya dapat kembali Tuan?” Tanya Amaltheia.
“Benar.” Jawab pemimpin.
Setelah Amaltheia mendapatkan jawaban dari pemimpin. Dia segera turun dan langsung mengabarkan semua kepada Amfitrite.
__ADS_1
Mendengar kabar itu, Am telah mengerti kenapa dia selama ini tidak kunjung dapat kekuatannya kembali. Ternyata ketulusan yang dimaksud oleh Tuan adalah cinta yang suci. Cinta suci dari orang yang telah dia berikan. Orang itu adalah Furqon.
Fajar telah mulai terlihat, hilangnya sinar bulan purnama membuat Am berubah menjadi seekor merpati kembali. Seperti biasa, dia harus mencari tempat persembunyian sebelum dia berubah wujud. Setelah dia berubah wujud tanpa diketahui seseorang, dia langsung terbang dan bergegas mencari Furqon.
“Akhirnya ketemu!”
Am, menghinggapi ranting pohon yang ada di sebelah rumah Furqon. Am, melihat keadaan di sekelilingnya dan merasa was-was. Takut jika ada seorang pemburu karena dia sedang berada di pemukiman saat ini. Pandangannya saat ini melihat kesana kemari mencari sosok yang dulu dia tolong. Dia menunggu di ranting pohon bersama harapan dapat bertemu dengannya.
5 jam kemudian…
“Kenapa masih tidak terlihat?” kata Am.
Melihat tidak ada kemajuan. Am nekad masuk ke rumah Furqon. Ternyata di dalam rumah itu hanya ada seorang wanita paruh baya. Yang merupakan ibu Furqon.
“Dorrr... !”
Suara pistol itu terdengar. Tepat pada kaki sebelah kanan Am terkena peluru. Rasa sakit itu menusuk tulang dan berlari di sekujur tubuh. Membuat badan merpati itu tak kuat terbang lagi.
“Ah…Tuhan, ini sakit sekali. Aduh!” kata Am.
Am, terjungkal dan jatuh ke tanah. Tak lama kemudian ada seseorang yang berjalan mendekati Am terjatuh.
“Merpati? Wah.. rumayan buat hidangan nanti sore.”
__ADS_1
Suara itu menyeru dan mengangkat Am, yang sedang kesakitan. Seseorang itu membawa Am ke rumah yang didatangi Am tadi.
Tak lama kemudian ada seorang lelaki tampan yang datang dari pintu depan.
“Assallamu’alaikum, ibuk, bapak, saya pulang.”
Suara itu terdengar sangat lembut dan merdu.
“Furqon, jangan mandi dulu. Tolong sembelihlah merpati ini untuk kita makan nanti sore!” perintah ayah Furqon.
“Baik. Ayah.” Jawab Furqon.
Furqon menyiapkan segala hal yang digunakan untuk menyembelih. Setelah semua sudah siap. Dia mengangkat merpati itu. Saat pisau itu berada di dekat leher merpati. Am sangat ketakutan dan akhirnya dia bersuara.
“Tolong jangan bunuh aku!.” Kata Am.
Mendengar merpati yang bisa bicara membuat Furqon terkejut. Dan secara tak sadar dia melempar merpati itu.
“Kamu dapat bicara merpati?.”
Furqon teringat jika dia dapat berbicara dengan malaikat setelah kejadian 10 tahun lalu.
“Apakah kamu juga malaikat?” tanya Furqon.
__ADS_1