
Hari ini adalah ujian kelulusan Lais. Di ruangan sana, telah berjajar sebuah ruangan yang telah diberikan nomer.
Lais mencari ruangan sesuai dengan kartu kecil yang dia bawa. Yaitu kartu ujian. Kebetulan nomer yang tertera di sana adalah angka 8. Lais masuk kedalam ruangan tersebut. Tak di sangka Helena juga ada di sana. Tanpa expresi, mereka sempat memandang dalam hitungan detik. Kemudian Lais duduk di tempat yang telah ditentukan.
Beberapa menit kemudian ujian itu dimulai. Dengan sebuah pensil 2B Lais mengisi di lembar isi jawaban tersebut.
Ujian itu berlanjut hingga seminggu. Dan setiap selesai pulang dari ujian, tak lupa Lais selalu menemui Am di rumahnya.
"Ha,,,, hh akhirnya ujian sekolahku telah selesai" kata Lais dengan membaringkan tubuhnya di pasir dekat rumah Am.
Di situ pastinya juga ada Am di sampingnya sedang duduk menghadap laut.
"Sepertinya bebanmu telah berkurang" kata Am.
"Ah iya, setelah kejadian semuanya. Aku sampai lupa jika hendak menginap ke rumahmu" kata Lais.
"Benarkah?" tanya Am.
"Apakah masih ada izin?" tanya Lais dengan mendekatkan wajahnya kepada Am.
"Silahkan, aku sudah bilang berkali-kali jika rumah ini bebas untuk siapapun" kata Am.
"Baiklah, kalau begitu besok aku akan pindah ke sini" kata Lais bersemangat.
Am hanya tersenyum mendengarnya.
"Betapa aku merindukanmu Am" kata Lais.
"Bukankah selama ini kamu lupa aku siapa?" tanya Am.
"Iya maklum saja aku kan terlahir kembali sebagai orang lain. Walau jiwaku sama tapi tubuh ini dilahirkan dari ibu yang berbeda" jawab Lais.
"Kamu tak tahu betapa kerasnya aku untuk mengingat tentang yang kamu ucapkan" tambah Lais.
"Ha, ha, ha, iya Lais aku mengerti" kata Am.
Mereka bercanda hingga matahari itu turun.
Dengan warna langit yang kemerahan, sunset itu terlihat mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam itu sangatlah indah. Ini adalah panorama yang gratis dan datang setiap sore hari.
"Coba lihat kesana!" kata Lais dengan menunjuk ke arah barat dimana matahari itu tenggelam.
Am menoleh kearah yang Lais tunjukkan.
"Indah!" kata Am dengan tersenyum melihatnya.
"Seindah dirimu" kata Lais menggombal.
"Haiz,, kau mulai lagi!" kata Am.
__ADS_1
"He, he, he, he," Lais terkekeh.
Mereka menikmati pemandangan itu. Setelah larut, Lais pamit pulang. Sebenarnya berat baginya saat itu meninggalkan Am. Namun dia harus segera pulang sebelum para jin semakin banyak muncul di hutan.
...****************...
"Hah, seharusnya aku tadi menciumnya. Kenapa aku kaku sekali? Padahal dulu juga pernah melakukannya. Apa karena tubuh ini sangat cuek sekali sehingga kaku kepada wanita ya?" gumam Lais dengan berjalan menuju rumahnya.
"Am, aku sangat tak sabar kita akan bersama. Aku pastikan di kehidupanku kali ini, kita akan bersama Am" gumam Lais lagi.
...****************...
Pagi itu Lais mengemasi baju yang berada di almarinya sebagian. Dia sedang memasukkannya ke dalam koper. Tak lupa handuk, dompet dan ponsel sekalian.
Dengan tersenyum sumringah. Dia menyeret kopernya menuju keluar. Lais telah meminta izin pada ibunya tadi malam, dan ibu Lais mengizinkannya. Karena sekolahnya saat itu sedang libur setelah ujian kelulusan.
Saat Lais hendak keluar, tiba-tiba Ibu Lais menghentikkan langkahnya.
"Lais, tunggu!" kata ibu Lais.
"Ada apa ibu?" tanya Lais.
"Tunggu adikmu sekalian. Dia ikut" kata Ibu Lais.
"Apa? Andira ikut?" tanya Lais tak percaya.
"Hah, mengganggu saja" batin Lais.
Cepat-cepat Lais menghampiri adiknya yang juga masih berkemas di kamarnya
"Iya,,, masak cuma kakak yang akan liburan, Andira juga dong!" kata Andira.
"Emang Am sudah mengizinkannya?" tanya Lais.
"Sudah, kak Am sudah memberiku izin. Tadi aku menelvonnya" kata Andira.
"Sejak kapan kamu punya nomernya?" tanya Lais.
"Sejak Andira meminjam ponsel kakak saat kakak tidur. He, he, he," kata Andira.
"Berarti kamu pernah melihat ponsel kakak tanpa izin kakak? Benar-benar tidak sopan" kata Lais.
"Biarin, yang terpenting aku tidak menyimpan nomer kak Am dengan nama" My Angel Am". Ha, ha, ha, ha, "ledek Andira.
"Kamu benar-benar adik kurang ajar ya!" kata Lais.
"Sini, sini!" Lais mengejar adiknya ingin mencubitnya karena malunya dengan kejujuran adiknya di depan ibu Lais.
Ibu Lais tersenyum melihatnya.
"Lais, jika kamu menyukainya. Silahkan, asal jangan melakukan hal yang tak senonoh dulu sebelum menikah ya?" pesan ibu Lais.
__ADS_1
Lais terpaksa menjawab pesan dari ibunya. Sembari menundukkan kepalanya merasa sangat malu. Karena ini pertama kalinya dia menyukai seseorang.
"Baik bu," kata Lais.
Ibu Lais pergi dari sana. Tatapan Lais langsung menuju ke Andira dengan tatapan mautnya.
"Awas saja kamu! " kata Lais.
Setelah berkemas, karena rumah Am di kedalaman. Lais dan Andira memilih untuk naik taksi. Dan menyeret koper mereka saat melewati hutan.
...****************...
Beberapa menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di rumah Am.
Dari kejauhan, Am terlihat sedang berdiri di pinggir pesisir bersama angin yang menerpa rambut lurusnya.
"Kak Am," panggil Andira dari kejauhan.
Am menoleh ke arah panggilan itu berasal. Am tersenyum, kemudian menghampiri mereka yang sedang menyeret koper tersebut.
Setelah itu, Am mempersilahkan mereka masuk.
Kamarnya ada tiga di sana. Melihat Andira dan Lais akan menginap di sana. Am sengaja meminta agar Je, dan Jo pindah dari sana. Am telah membuatkan mereka rumah sendiri di tengah hutan.
"Wah,,, di sini rasanya sejuk sekali ya kak" kata Andira.
"Iya, tapi jangan terkejut jika saat malam di sini terasa dingin" kata Am.
Melihat rumah itu berada di pinggir laut, Andira berfikir pasti angin malam akan banyak yang memasuki rumah.
"Benar juga, Lalu? Bagaimana jika sangat dingin?" tanya Andira.
"Nanti kita bisa membuat api unggun di bak perapian" kata Am.
Di sisi lain, Lais hanya memandang dan melihat gerak-gerik Am kesana kemari.
"Sejauh ini dia benar-benar terlihat manusia" batin Lais.
Am mengarah ke kamar utama menunjukkan jika kamar itu dapat di tempati Andira. Kemudian Am pergi ke kamar tengah menunjukkan jika itu dapat ditempati Lais.
"Lalu kamarmu?" seketika pertanyaan Lais itu terlontar setelah dia masuk ke kamar yang telah di tunjuk oleh Am.
"Kamarku ada di belakang Lais" kata Am.
"Ah baiklah!" kata Lais.
"Andai saja tak ada Andira pasti aku akan memelukmu erat-erat Am" batin Lais dengan melihat Am berjalan menuju keluar.
Saat itu Lais mulai membuka kopernya dan menata bajunya ke dalam almari.
Sedangkan Andira tidak merapikan bajunya. Melainkan dia duduk bersama Am. Memperlihatkan bagaimana kemajuan channel Andira saat di isi konten tentang Am.
__ADS_1
Kabar baiknya Andira telah dapat google verifikasi 2 hari lalu.
Mendengar itu Andira lebih semangat melakukan kegiatan ini. Akhirnya mereka melakukan perekaman lagi.