
Matahari mulai menampakkan wajahnya di timur langit. Am yang semalaman menemani istri yang derajatnya sedang naik di hadapan Tuhan itu. Akhirnya dia kembali ke rumahnya. Lagi-lagi rumahnya telah hilang. Dengan terpaksa Am menggunakan kekuatannya untuk membuat rumahnya di tempat yang sama.
"ctaaaak"
Dengan menjentikkan jarinya. Rumah itu pun jadi dalam waktu 1 menit.
Am memasukki rumahnya.
"Kletak, kletak, kletak"
Suara kaki Am melangkah dengan sepatunya seperti hal nya wanita biasa.
Dia menuju tempat duduk dekat jendela yang terlihat pepohonan dari dalam.
"hazzz.... Kapan rumah ini akan berubah permanen ya? Sudah berpuluh-puluh tahun aku harus menjentikkan jariku setiap hari."
"Andai Tuhan memberikan kekuatan padaku menjadikan sesuatu dalam jangka waktu yang lebih lama."
"hah... Astaga"
Am meletakkan kepalanya di meja. Mendadak Am teringat dengan pemuda yang bernama Lais. Yang dia temui malam tadi.
"Sebenarnya siapa dia? Bagaimana dia dapat melihatku? " pikirnya.
"Ah... Pikir apa sih aku." katanya.
Kemudian Dia kebingungan apa yang akan dilakukannya hari itu.
Beberapa saat kemudian dia berjalan ke arah pantai dan berdiri di pinggir ombak laut yang berkala menghampirinya namun tak sampai.
Bersama hembusan angin yang menerpa wajahnya. Seperti itulah hari-hari yang dia lakukan selama ini. Dengan mengingat Furqon dan kesetiaannya padanya. Bagaikan merpati kepada pasangannya.
...----------------...
"Hei, kamu yakin lewat sini? Hutan ini seram sekali dira." kata rita yang terlihat masih mengenakan seragam itu.
"Iya benar memang lewat sini, memang menyeramkan makanya aku mengajakmu kesini." kata Andira gadis yang telah diselamatkan oleh Am kemarin.
"hrrrr... Hrrrr.... Hrrr..."
"Hei, hei diam. Suara apa itu tadi dira?" kata Rita sambil mengendap-endap langkahnya dan menengok kesana kemari.
"Apa?" kata Andira dengan menolah ke kiri. Mendadak dia ternganga lalu menutup mulutnya.
"Astaga" gumamnya.
Dengan cekatan Andira menyeret temannya berlari sekencang-kencangnya.
"Hei dira, apa yang kamu lakukan? Ada apa sebenarnya? Tanya Rita kebingungan.
" syuuuut"
Andira tetap berlari dan menyeret temannya dengan cepat.
Mereka berlari dengan cepat hingga tiba di tengah hutan.
"Hoz.. Hoz.. Hoz... Hoz"
"Andira kamu gila ya? Capek tau, berlari sekencang tadi." Kata Rita.
"Hei, apa kamu tidak tahu tadi ada Harimau yang mau memakan kita?" Kata Andira.
"Apa? Harimau?" jawab Rita untuk meyakinkan ucapan Andira.
"Iya tadi dia benar-benar besar dan sekarang.... Sepertinya ada beruang hutan" Kata Andira.
"Hei jangan bercanda" kata Rita.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak bercanda, lihatlah!" kata Andira.
Rita menolehkan wajahnya.
"Astaga, sebenarnya apa salahku padamu hingga mengajakku ke hutan yang menyeramkan ini Dir" Ocehan Rita.
"Ayo lari!" kata Rita.
"Kalian akan lari kemana?"
Tiba-tiba suara lain terdengar tepat dari arah beruang itu.
Andira melihat Am yang sedang mengelus-elus beruang besar itu.
"Kakak, syukurlah kakak tahu kedatangan kami" kata Andira.
"Kalian tenang, Beruang ini tak akan mengganggu kalian" kata Am.
"Terimakasih kak" Jawab Andira.
...----------------...
Mereka berjalan bersama ke arah rumah Am.
Am di depan bersama beruang itu. Andira dan Rita ada di belakang Am.
"Hei, Dir. Siapa dia? Dia cantik sekali" tanya Rita dengan berbisik-bisik kepada Andira.
"Dia kakakku namanya kak Amfitrite" kata Andira.
"Dia bukan jin atau Hantu kan dir?" tanya Rita.
"Mana ada hantu muncul di siang bolong nona! Apa kamu masih belum bangun dari tidurmu di kelas tadi? " kata Andira.
"Bukan begitu. Lihat beruang itu sangat tunduk padanya seperti dia adalah tuannya. Wajahnya saja sangat cantik tidak seperti umumnya wanita. Bukankah ini tak masuk akal?" ucap Rita.
"Aku akan merekamnya" gumam Rita.
Rumah Am tampak dekat. Am menoleh ke belakang kepada teman barunya.
"Kita hampir sampai Dir"
Am melihat ponsel Rita yang Rita bawa saat itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Am.
Dengan gemetar Rita menjawab pertanyaan Am karena takut kepada Am.
"A, A, A, aku hanya ingin merekam pemandangannya kak. Wah! Disana ada laut. Indah sekali" kata Rita.
"Bukan begitu, apa yang kamu lakukan dengan benda kecil itu? Katamu Video? Apa itu?" tanya Am.
"Apa? Kakak tidak tahu?" kata Rita.
"Itu kak, merekam itu mengabadikan momen kita sekarang. Lalu nanti disimpan ke ponsel. Nah jika telah tersimpan, momen itu bisa kita lihat lagi nantinya" kata Andira.
"Benarkah? Boleh kita coba Dira?" tanya Am.
"Iya tentu, ayo kita coba pakai ponselku saja ya?" kata Andira.
"Beruang kamu boleh pergi" perintah Am kepada beruang besar itu.
Melihat patuhnya beruang itu kepada Am. Rita hanya bisa melihat dan heran. Rita ingin bertanya pada Am tapi Rita masih canggung pada Am karena belum mengenalnya.
Karena Am penasaran tentang video rekaman, akhirnya mereka melakukan video rekaman di pinggir pantai itu.
Terlihat mereka sangat asik satu sama lain melakukannya.
Setelah selesai, mereka masuk ke rumah Am. Dan duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Wah, wah ini bagus sekali" kata Rita.
"Kak Am juga sangat cantik. Wah... Kapan wajahku dapat seperti kakak Am ya?" kata Am.
"Oplas dulu dong" sahut Rita.
"ih kok oplas sih,, enggak ah! Oplas itu ya, sudah sakit, banyak biaya, diharamkan lagi. Enggak deh enggak" kata Andira.
"Eh kita upload di reels yuk!" kata Rita.
"Iya, iya bener." kata Andira.
Am yang disamping mereka melirik yang dilakukan mereka penasaran dengan apa yang mereka lakukan di benda kotak itu.
"Kak Am, video rekamannya yang ada kak Am saya upload ya di reel?" tanya Andira.
"Iya silahkan" jawab Am dengan tersenyum.
"sepertinya seru sekali memiliki benda itu. Apa aku menjektikkan jariku saja ya?" batin Am.
"Ini kak videonya. Lihat hasilnya kak Am cantik sekali" kata Andira.
"Wah, ajaib. Aku baru tahu hal seperti ini bisa disimpan. Aku kira hanya dapat di otak saja. Luar biasa." kata Am.
Melihat pernyataan Am yang berlebihan membuat Rita heran.
"Dir, apa nama benda ajaib ini ya?" tanya Am.
"Benda ajaib? " tanya Dira.
"Ah maksud kakak ponsel?" kata Dira.
"Iya itu maksudnya ponsel? Baiklah aku harus memilikinya" kata Am.
"Harus dong, justru akan lebih aneh jika kakak tidak memilikinya di zaman yang sekarang" kata Rita.
"Benarkah itu aneh? Jika aku tak memilikinya?" tanya Am.
"Iya tentu, orang yang tak punya ponsel bisa dibilang dia kudet sekali" jawab Rita.
"Rita," tegas Andira.
"Ah iya, iya kamu benar. Siapa namamu tadi Rita ya?" tanya Am.
"Ah iya kak, nama kakak siapa?" tanya Rita.
"Amfitrite, panggil saja kak Am ya?" kata Am.
"Baik kak" kata Rita.
"Kak, sebenarnya saya kesini ingin mengajak kakak mengurus ktp dan kk" kata Andira.
"Ah iya kamu benar. Dimana kita akan mengurusnya?" tanya Am.
"Tentu di ibukota kak kak" jawab Rita.
"Baiklah mari kita kesana!" kata Am.
"Melewati hutan yang seram tadi?" tanya Rita.
"Tenang Rit, selama ada kak Am kita akan baik-baik saja" kata Andira.
"Baiklah ayo kita berangkat! " kata Rita.
...****************...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
__ADS_1
Terimakasih... 🤗🤗🤗