
Kemajuan Lais untuk terbang semakin meningkat. Dia juga kuat terbang berkeliling Dunia.
Saat itu, Am merasa dia telah siap untuk pergi ke Nabastala menemui pemimpin.
"Bulan Purnama yang akan datang, kita akan pergi ke Nabastala Lais" kata Am.
Dengan kacamatanya bagaikan seorang profesor, Lais melihat kalender. Dia mencari tanggal berapa bulan purnama terdekat yang akan datang. Kemudian Lais melingkari tanggal itu. Yaitu, tanggal 3 November.
"Baiklah, aku akan mengosongkan jadwal kita saat di tanggal ini" kata Lais dengan memegang kertas bergambar bertumpuk kaku itu.
Mereka saling memandang dan tersenyum.
...****************...
Sudah semenjak seminggu jadwal Am dan Lais sangat padat. Dalam seminggu ini mereka sudah 3X melakukan penerbangan pesawat. Menuju manca negara.
Tak terasa, hari ini adalah tanggal 3 November. Dimana bulan Purnama itu akan datang.
Malam itu, sekitar pukul 2 malam. Lais dan Am keluar dari rumah Am.
Mereka berjalan bersama menuju pesisir. Dengan bersamaan mereka memandang ke atas langit.
Bulan itu terlihat melingkar dengan sempurna. Diiringi dengan cahaya kuning yang tak silau namun indah. Berjajaran bersama bintang di langit dengan pola yang berantakan.
Bersama langit malam yang begitu indah, di sana terlihat ada banyak hewan yang sedang terbang ke atas.
"Burung apa mereka malam hari masih terbang?" kata Lais dengan melihat sekelompok hewan terbang itu.
"Mereka adalah malaikat" jawab Am.
"Benarkah?" tanya Lais tak percaya.
"Mari siapkan sayapmu!" perintah Am.
Am merubah dirinya menjadi merpati. Disusul oleh Lais juga yang sedikit memakan waktu dibandingkan dengan perubahan Am.
"Siap?" tanya Am.
"Asal denganmu aku usahakan siap" jawab Lais dengan sedikit gugup.
Ini adalah hal pertama bagi Lais.
Am mulai mengepakkan sayapnya. Dan Lais juga. Am sengaja mengambil posisi di bawah Lais agar dapat memantaunya.
Mereka terbang hingga mencapai 560 Km. Tentu perjalanan itu tak semudah kelihatannya. Angin dan dingin terasa sedang menusuk tubuh mereka saat itu. Ada awan yang tak terlihat terus dilewati dan diterjang. Terasa seperti bertabrakan dengan bola kristal es yang kecil. Dan ini masih belum berakhir.
Am dan Lais harus dapat melewati dinding atmosfer bumi yang terlapis 5 bagian itu.
Dinding itu terdiri dari troposfer, stratosfer, mesosfer, termosfer /ionosfer, dan eksosfer.
Yg pertama adalah bagian troposfer yang berjarak 12 kilo meter diatas permukaan bumi. Jika manusia melewati ini akan merasakan lelah dan keringat dingin.
__ADS_1
Sebelum Lais melewati Atmosfer yang pertama, bersama kepakan sayapnya Am memberikan perlindungan extra kepada tubuh Lais. Untuk melindungi Lais saat menembus dinding atmosfer yang dapat menusuk kulit manusia itu. Serta tetap dapat bernafas walau tanpa ada udara.
Lais memejamkan matanya saat melewati dinding bumi itu. Tembus 1 bagian, 2 bagian, 3 bagian, 4 bagian dan yang terakhir. Lais menguatkan tubuhnya lagi untuk menembus dinding itu.
Saat mereka melewati dinding bumi itu. Hawa dingin bagaikan embun itu memutari tubuh mereka hingga membentuk sebuah asap dan awan.
Setelah beberapa menit perjalanan mereka yang sangat istimewa, akhirnya Lais dan Am menuju di angkasa.
Lais mencoba membuka matanya pelan-pelan. Mereka di sana mengawang tanpa gravitasi. Lais melihat sekelilingnya itu, dia tak percaya dengan apa yang dia lakukan sekarang. Bagaikan mimpi. Lais dapat melihat orbit satelit, dia juga dapat melihat bintang yang bertebaran dengan sangat dekat, dia juga dapat melihat matahari di sana. Bahkan saat dia melihat ke bawah. Jelas, yang dia lihat adalah bumi tempat dimana dia hidup selama ini.
"Sangat menakjubkan" kata Lais.
"Inilah cipta'an Tuhan, apakah kamu akan meragukan Tuhan setelah melihat semua ini?" kata Am.
"Aku tak pernah meragukan Tuhan. Jangan sok tahu!" kata Lais.
"Ha, ha, ha, iya aku tahu Lais." kata Am.
Setelah Lais melihat semua pemandangan yang luar biasa itu.
Pandangan Lais melihat kesana kemari. Bagai orang yang tak mau melewati kesempatan yang emas ini.
"Lais, apakah sudah puas melihat mereka?" tanya Am.
"Ah, iya" kata Lais.
"Sekarang, mari kita menuju ke Nabastala" kata Am.
Am terbang ke arah atas dan menuju langit pertama yaitu tempat dimana Nabastala berada.
...****************...
Di tengah perjalanan, Lais tak kuat. Am menyadari saat Am menoleh ke bawah. Tubuh Lais mengawang tak tentu arah. Bagaimana pun Lais juga keturunan dari manusia. Jadi wajar, jika dia masih tak dapat menyamai kecepatan malaikat.
Am langsung berubah menjadi wujud Dewi namun dia tetap bersayap. Am langsung mengumpulkan angin hingga angin itu berbentuk gulungan. Lalu angin itu membalut tubuh Lais. Dan Am membawa Lais ke Nabastala dengan kekuatannya.
...****************...
Di Nabastala, terlihat malaikat masih mengantri pengumpulan laporan.
Am langsung menuju Ajudan meminta izin untuk bertemu Tuan.
"Ajudan, saya dan bagian saya ingin bertemu dengan Tuan" kata Am.
Ajudan menghentikan yang dia kerjakan saat itu. Kemudian dia masuk ke ruangan Tuan dan mengabarkan hal ini.
Dan Tuan mempersilahkannya.
"Silahkan masuk Am" kata Ajudan.
Am masuk ke ruangan Tuan. Lalu menciptakan tempat tidur manusia di sana. Untuk tempat pembaringan Lais.
"Tuan, ada yang masih kebingungan tentang tugasnya" kata Am.
__ADS_1
Melihat keadaan Lais membuat Dia tertawa.
"Ha, ha, ha, Dasar keras kepala. Sama denganmu" kata Tuan.
"Akan aku bangunkan dia sekarang" kata Tuan.
Tuan mengarahkan tangannya ke arah Lais dengan jarak jauh.
Seketika Lais terbangun saat itu.
Mata Lais sangat silau melihat ke arah Tuan.
"Am, benda apa itu dia sangat menyilaukan mataku" kata Lais.
"Tuan, apakah Tuan tidak mengizinkannya?" tanya Am.
"Karena dia telah berani datang kemari. Tentu aku tidak ingin mengecewakannya" kata Tuan.
Tuan langsung mengarahkan tangannya kembali ke Lais. Memberi kekuatan pada matanya untuk dapat menerima silaunya cahaya seorang malaikat.
Seketika Lais dapat melihat Tuan. Berbaju putih yang bersinar cahaya dengan lingkaran putih berada di atas kepalanya.
"Terimakasih Tuan, atas izinmu" kata Lais dengan menunduk setengah dari tubuhnya. Sama seperti yang dilakukan oleh Am kepadanya saat menyambutnya menjadi seorang Dewa.
Tuan membalas penghormatan Lais dengan menundukkan wajahnya dan tangan yang diangkat dengan telapak menghadap kearahnya.
Ucapan Tuan dengan bahasa asing yang tak dimengerti oleh Lais.
Lalu Am memberikan kekuatannya agar Lais dapat mengerti bahasa yang digunakan oleh Tuan.
"Ini adalah pertama kalinya yang terlahir dari rahim manusia berhasil kemari. Apa tujuanmu hingga datang ketempat yang jauh ini?" tanya Tuan.
"Maaf Tuan, Am telah memberitahuku jika aku ditunjuk sebagai Dewa. Saya masih belum mengerti kenapa saya mendapatkan hal ini" kata Lais.
"Lais, jiwamu sebelumnya telah bercampur dengan kekuatan Am. Sehingga membuat jiawamu yang sekarang dengan mudah menyerap kekuatan Am saat Am menolongmu. Sebenarnya bukan karena aku telah memilihmu. Tapi Am lah yang memilihmu" kata Tuan.
"Tapi ingat! Sesuatu kekuatan yang besar, itu akan diikuti dengan tanggung jawab yang besar pula" kata Tuan.
"Aku percaya kalian dapat melakukan perkembang biakan yang banyak. Itu dapat menyelamatkan populasi dari kaum malaikat yang memihak dalam lingkup kebenaran" kata Tuan.
Mendengar perkataan dari Pemimpin membuat Am dan Lais melongo dan tak bisa mengatakan apapun. Mereka masih menela-ah dengan menstranslite terjemahan memastikan yang mereka dengar adalah benar itu maksudnya.
Akhirnya Am yang melontarkan pertanyaan kepada pemimpin.
"Maaf Tuan, maksud Tuan tentang kami untuk memiliki keturunan?" tanya Am.
"Benar. Karena kalian berdua telah berhasil sampai kemari. Aku akan menikahkan kalian di depan para Malaikat. Kalian bersedia? " kata Tuan.
Lais dan Am saling menoleh. Mereka terasa ini terlalu mendadak.
Beberapa menit kemudian mereka menunduk malu, dengan wajah yang memerah. Dan akhirnya Laislah yang menjawab.
__ADS_1
"Kami bersedia Tuan" jawab Lais.
...----------------...