
Saat mereka berdua saling bercakap, datanglah istri kedua kepada mereka.
"Jadikan saja mereka tumbal untuk si Rogo" kata istri kedua itu.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu ingin menyeret orang lain pada masalah kita?" kata istri pertama itu.
"Ndoro, tumbal selanjutnya adalah anakku. Sebagai seorang ibu, tentu aku tidak rela anakku dijadikan tumbal pesugihan. Lihatlah! Lihatlah bayi yang tak punya dosa ini. Aku hanya ingin menggendongnya, menyuapinya, dan aku ingin sekali bersamanya hingga dia dewasa nanti" kata istri kedua itu dengan terisak tangisan.
"Selama ini,,, kita selalu melahirkan anak-anak kita untuk dijadikan tumbal oleh si keparat itu" kata istri kedua.
"Aku kira dulu dia kaya karena memang dia orang yang punya, tapi ternyata apa? Kekayaannya semua hasil dari pesugihan tumbal" kata istri kedua itu dengan menangis.
"Tolong lebih jaga bicaramu, aku tahu benar apa yang kamu rasakan lita, tapi,,," kata istri pertama terhenti melihat istri kedua itu menangis dengan menggendong bayinya yang berumur 1 minggu itu.
"Baiklah, kita kurung mereka di kamar tamu" kata istri pertama berubah pikiran saat melihat istri kedua itu, dia tak tega melihat istri kedua.
Memang selama ini mereka hidup dengan penuh tekanan dan tak bisa cerita pada orang lain. Hidup mereka penuh dengan ketakutan. Jika mereka ada yang tak kembali atau kabur, maka mereka yang kabur itu akan dijadikan tumbal pesugihan. Namun jika mereka tetap tinggal, mereka hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang diinginkan suaminya mbh. Rogo. Jika tidak, mereka akan dihukum habis-habisan.
Selama ini meski batin mereka terluka, mereka juga tidak dapat didengar oleh telinga Am. Karena ada pelindung yang memang dibuat oleh jin Ifrit. Membuat mereka tak dapat sembarangan.
Akhirnya mereka mempersilahkan ketiga tamu itu masuk ke kamar dengan alasan agar dapat beristirahat.
Tuyul itu mempercayainya, mereka berfikir agar Am dapat istirahat dengan nyenyak di kamar dan segera sadar.
Akhirnya mereka masuk ke kamar itu, lalu ternyata para istri itu mengunci pintunya dari luar.
Kedua tuyul itu belum menyadarinya.
Keesokkan harinya, Am tak kunjung sadar. Kekuatan Am yang membalikkan waktu seorang makhluk memang bukan kekuatan yang sederhana, kekuatan ini yang paling menguras energi dan jiwa. Itu yang membuat Am tak kunjung sadar.
Saat siang, kedua tuyul itu tertidur pulas.
...****************...
Tepat pada malam Am bertarung, Lais sangat senang. Saat malam itu tak ada 1 jin pun yang terlihat dimatanya. Membuat malam itu dia bersemangat.
"Ibu aku keluar" kata Lais dengan tersenyum lebar.
"Masih hujan lo, kamu mau kemana nak?" tanya ibu Lais.
"Ke suatu tempat" jawab Lais.
__ADS_1
"Kenapa dia senang sekali malam ini? Heran, sekarang musim kemarau tapi kok turun hujan?" gumam ibu Lais yang melihat wajah anak di ruangan menonton TV.
Lais keluar berjalan dengan membawa payung.
"Apa ini karena Am? Semua jin itu tak terlihat lagi. Jika memang dia, apa yang telah dia lakukan?" batin Lais dengan tersenyum.
Saat itu, semua jin sedang berkumpul karena Jin yang paling kuat diantara mereka telah tumbang. Sehingga mereka harus mencari raja jin yang baru. Membuat tak 1 jin pun yang terlihat dimata Lais.
Lais menuju ke rumah Am, kali ini dia tak menghela nafas dalam-dalam lagi karena takut dengan indra keenamnya. Hatinya merasa benar-benar damai bersama gemercik air hujan yang sedang turun. Dia mencari Am.
Saat tiba di sana, rumah Am tidak ada. Dan di pesisir juga tidak ada Am.
Melihat rumahnya yang tak ada sekarang, membuat Lais mengerti jika selama ini Am membuat rumah itu setiap hari dengan kekuatannya.
"Apa kamu tak merasa lelah Am?" gumam Lais.
Lais mencarinya kemana-mana, bahkan dia bertanya kepada binatang buas, namun Lais tak mengerti bahasa mereka.
Karena tak ketemu akhirnya Lais memutuskan untuk pulang.
"Aku senang karena tak melihat mereka, tapi kenapa rasanya aneh? Tidak salah lagi, pasti ini ada hubungannya dengan Am. Melihat rumahnya yang tak ada. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" batin Lais dengan berjalan kaki pulang ke rumah.
...****************...
" Kak, lihat! Channelku langsung melonjak naik drastis karena suara kak Am merdu sekali" kata Andira dengan menyodorkan ponselnya ke kakaknya.
"Apa?" tanya Lais tak percaya.
Lais meraih ponsel yang disodorkan adiknya itu.
"Ini ulahmu?" tanya Lais.
"Kenapa? Apa? Aku salah lagi? Kan yang penting tidak pencemaran nama baikkan?" kata Andira.
"Siapa yang mau nyalahin, kakak justru mau bilang ulahmu patut diapresiasi" kata Lais.
"Apa apresiasi?" kata Andira.
"Kamu tak paham. Makanya sekolah itu yang bener" kata Lais dengan mengembalikan ponselnya ke adiknya.
"Huh, kakak menyebalkan" kata Andira.
Dengan lagaknya orang sok tidak peduli, di sisi batinnya Lais bangga dengan adiknya yang terlihat malas sekolah. Tapi dia justru suka dengan hal-hal yang berbau seni. Lais di kamarnya berubah menjadi orang yang super kepo.
__ADS_1
Dia langsung menggenggam ponselnya dan melihat channel punya adiknya. Dia memutar video Am yang sedang bernyanyi.
"Tok, tok, tok" ketukan pintu kamar Lais.
Lais langsung menjeda videonya dan membuka pintunya.
Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah adiknya Andira.
"Ada apa?" tanya Lais.
"Besok aku mau ke rumah kak Am, kakak antar aku ya?" kata Andira.
"Rumah Am tadi tidak ada, gawat jika Andira kesana bisa jadi dia heran nanti" batin Lais.
"Andira, seminggu lagi kamu akan ujian semester ganjil. Jadi jangan main dulu, tapi belajar yang benar" tegas Lais.
Lais sengaja menekan adiknya agar tak pergi ke rumah Am.
"Kan masih seminggu lagi kak, bisa belajar besok" jawab Andira.
"Tidak bisa, kamu sering bolos, telat dan kesiangan, kamu harus belajar sekarang" kata Lais.
"Sebentar kok kak, Andira mau ngabarin ini ke kak Am, yaudah Andira pergi sendiri saja" kata Andira.
Lais berfikir sebentar.
"Eh, eh, tunggu, oke kakak akan antar kamu kesana. Tapi jawab pertanyaan dari kakak dulu. Jika Andira bisa jawab dengan benar, berarti kakak akan mengantarmu lusa. Tapi kalau Andira menjawab salah, berarti kakak mengantar Andira setelah ujian selesai" tantang Lais.
"Oke" jawab Andira.
"Pertanyaannya adalah,,, kecamatan Batui Selatan, kabupaten Banggai merupakan daerah provinsi mana?" tanya Lais.
"Emz,,,, NTB?" jawab Andira menduga-duga.
"Sulawesi Tengah Andira, astaga kabupaten di Indonesia saja kamu tidak tahu. Berarti belajarmu kurang giat dir" ejek Lais.
"Namanya kabupaten kan di negara Indonesia banyak sekali kak. Mana tahu Andira ada yang namanya itu. Kakak tu memang menyebalkan sekali huh!" kata Andira dengan kesal.
"Ini adalah jawaban bahwa kamu harus belajar dengan giat Dir" kata Lais.
"Dengerin kata kakakmu Dir, yang dikatakan kakakmu itu benar. Belajar yang giat" sahut ibu yang sedang menonton tv.
"Haz,,,," Andira kesal tapi harus melakukan nasihat ibu dan kakaknya.
__ADS_1
Andira masuk ke kamar dengan muka yang cemberut.