
Am memulai hidupnya di bumi. Sedangkan tugas sebagai penjaga laut, di ganti oleh Malaikat Dorit.
Karena Am tak memiliki rumah, sementara dia menggunakan kekuatannya untuk membuat rumah. Namun rumah yang dibuat oleh kekuatan Am hanya bertahan 1 hari.
Am bingung untuk memulai hidup nya darimana.
Dia harus bekerja untuk dapat membangun sebuah rumah.
Pertama dia harus mencari pekerjaan.
Am mencoba mencari pekerjaan di sekitar kota. Namun semua menolak karena tak ada ijazah sekolah dan persyaratan kk, ktp.
Karena Am bukan manusia, dia sangat bingung dengan aturan manusia ini.
Ini pertama kalinya Am hidup sebagai manusia seorang diri tanpa didampingi oleh manusia lainnya.
Am sangat kebingungan, untuk pertama kalinya kepalanya merasa pusing.
"haduh, bagaimana ya?"
"kenapa kepalaku terasa aneh?"
"seperti tidak biasanya." ujarnya dengan memegang kepalanya.
Satu-satunya manusia yang Am kenal adalah Pheron.
Terbesit dipikiran Am untuk pergi ke Perpustakaan.
...****************...
Matahari mulai tampak. Am pergi ke Perpustakaan ibukota. Sementara rumah yang dibuat dari kekuatan Am saat itu memudar dari pandangan. Dan lama-lama menghilang.
Setelah di ibukota, Am melakukan Absen seperti biasa.
Namun ada masalah saat itu. Karena perkembangan zaman. Absen yang dulu memakai komputer sekarang menggunakan sidik jari. Aturan ini baru saja dilakukan oleh pihak perpustakaan.
Am benar-benar kebingungan dengan hal yang dihadapi saat itu.
Am bertanya kepada Pustakawan. Namun karena banyaknya pengunjung di Perpustakaan karena sedang ada kunjungan mahasiswa, membuat Am tak mendapat respon dari Pustakawan tersebut.
Akhirnya dengan terpaksa Am menggunakan kekuatannya untuk Absen.
"sriiiiingh.."
"dar... !!!"
"Astaga?" kata Am.
"apa yang terjadi?" kata Am.
Seluruh mata di ruangan itu seketika menghadap ke arah Am semua.
Apa yang terjadi?
Ternyata mesin sidik jari itu meletus karena kekuatan Am.
Sedangkan semua manusia menganggap jika mesinnya lah yang berbahaya.
__ADS_1
"Astaga,,, apakah anda tidak apa-apa kakak?" kata salah satu pustakawan itu dengan menyeret Am menjauh dari mesin itu.
Kemudian semua orang seketika ramai membahas tentang letusan mesin itu.
"untung saja bukan saat saya check in tadi meletusnya." kata salah satu mahasiswa.
"Iya, apa jadinya tangan saya yang kena letusan itu tadi." kata mahasiwi lainnya.
"Sudah, sudah, untuk mahasiswa silahkan kalian masuk ke ruang buku terlebih dahulu. Kejadian yang terjadi ini adalah ketidak sengajaan. Jadi tolong semua jangan ramai di Perpustakaan ini." kata satpam dari Perpustakaan itu.
Satpam itu segera mengecek mesin yang telah meletus itu. Sedangkan Am dipersilahkan duduk oleh salah satu Pustakawan.
"silahkan duduk di sini kakak. Maaf untuk kejadian yang tidak disengaja ini." ungkap pustakawan itu.
"padahal aku yang menyebabkan itu terjadi karena tak faham. Aku jadi merasa bersalah sekarang." batin Am.
Terlihat satpam itu membawa air dan meredam api kecil berkat dari letusan itu.
Setelah padam, dia mengecek dan membawanya ke kantor. Lalu dia mengeluarkan ponsel hitam dan berbicara menggunakannya untuk melapor.
"cek, cek, lapor pak. Ada kecelakaan kecil di sini. Mesin penyidik jari untuk absen telah meledak tadi." kata satpam.
"apakah ada korban?" tanya atasan.
"tidak pak, tidak ada korban." jawab satpam itu.
"Hanya ada kebakaran api kecil di sini pak." kata satpam tersebut.
Petugas lain berdatangan dan membersihkan tempat kejadian.
Sedangkan Am, dia berjalan mengelilingi perpustakaan berharap untuk bertenu Pheron. Namun tak terlihat sama sekali. Apalagi karena perkumpulan mahasiswa itu, di sana berjalan dengan berdesak-desakkan.
"apa aku gunakan kekuatan saja ya? selama ini kalau mencari seseorang tidak pernah ada masalah." batin Am.
Kemudian Am mulai mencari Pheron dengan kekuatannya. Namun tak ketemu dengannya. Menandakan posisi Pheron jauh dari Am.
"haz ... memang dia tak ada. Bagaimana ini? andai kekuatanku dapat digunakan di segala bidang." gumam Am.
Kemudian Am pulang dengan tangan hampa.
Saat beranjak keluar, Am melirik petugas yang sedang mengotak atik mesin itu.
"maaf ya manusia." batin Am.
Am berjalan kembali ke tempat di tengah hutan.
"hufffft jadi malaikat banyak peraturan, jadi manusia juga banyak keruwetan. Dasar hidup seperti ini?."
"Furqo....n, apakah kamu tidak akan kembali dan menemaniku?" gumam Am dengan memandang langit.
"haaaah..." hela nafas Amfitrite.
"Rasanya benar-benar kosong. Tapi ingat tujuan awalmu Am, kamu di bumi ingin menolong makhluk bumi yang sedang meminta pertolongan. Itulah tujuan hidupmu sekarang." gumam Am untuk dirinya sendiri.
Malam ini bersama rembulan dan bintang-bintang. Am berjalan dan bermain bersama hewan-hewan liar di hutan.
Tak lama kemudian ada seekor kijang yang terjerat oleh rambatan rumput.
"huk, huk, huk."
__ADS_1
Mendengar demikian, Am menghampiri asal mula dari suara tersebut.
Melihat kijang tersebut, Am langsung menggunakan kekuatannya untuk melepaskan jeratan tersebut.
Setelah itu kijang itu berlari karena telah terlepas dari jeratan.
Dengan mengumpulkan segala informasi tentang dunia manusia. Di sisi lain Am selalu menolong hewan atau manusia yang meminta pertolongan.
Termasuk manusia yang berdo'a dengan segenap hatinya yang tulus, Am datang dan menolongnya.
Am datang kepada mereka setiap malam dengan wujud sosok lain. Jika saat ini dikenal dengan seorang dewi. Hal ini bertujuan agar orang tak mengenal Am sebagai manusia.
Selama itu tak menyalahi takdir Qadha'. Am selalu memberi sesuatu yang diminta manusia oleh hati yang tulus dengan tangisan murninya.
Bertahun-tahun Am melakukan tujuan hidupnya.
Hingga suatu saat, malam bulan purnama. Ada seekor naga yang menghampiri Am.
Am yang sedang duduk membaca buku tentang kehidupan manusia itu. Bersama rumah yang terbuat dari kekuatannya. Merasakan kedatangan naga itu.
"ada apa? apa yang telah membawamu jauh-jauh kemari Ajudan?" tanya Am.
"Tuan mengirimkan ini kepadamu." kata Rei dengan menyodorkan sebuah surat ghaib dan hanya penerimanya lah yang bisa membukanya.
"Apa ini?" tanya Am.
"bukalah. Itu surat dibuat khusus untukmu." kata Rei.
Kemudian Am membukanya.
"craaaaaaazh."
Surat itu berisi, panggilan Am ke Nabastala atas izin Tuhan.
"aku tak punya alasan untuk memenuhi panggilan ini." kata Am.
"itu adalah keputusanmu. Tugasku hanya menyampaikan. Berilah signal batin padaku jika kamu akan datang. Aku akan membukakan gerbang Nabasatala untukmu." kata Rei.
"akan aku pikirkan lagi." kata Am.
"saya pamit."kata Rei.
Rei kembali ke Nabastala setelah menyampaikan surat tersebut.
"kenapa aku dipanggil secara khusus? aturan apalagi yang akan mereka berikan?" gumam Am.
Am melakukan keseharian nya seperti biasa.
Saat 2 bulan kedepan, Am merasa semakin penasaran dengan pemanggilan surat dari Ajudan 2 bulan lalu.
"Apakah aku harus kesana? tapi apakah aku tak harus kesana? bagaimana? sebenarnya ada apa?" gumam Am bertengkar dengan pikirannya sendiri.
...----------------...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
Terimakasih... 🤗🤗🤗
__ADS_1