Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 6: MELAKUKAN KETULUSAN


__ADS_3


Setelah diusir dari Nabastala, Amfitrite berkelana mengelilingi bumi. Dia terbang kesana kemari tanpa tujuan. Yang dia lakukan adalah mengelilingi dunia selama 10 tahun.


Saat berkelana, Amfitrite bergabung dengan sebuah kelompok merpati. Sudah sejak 3 tahun terakhir Amfitrite bersama dengan mereka. Setiap ada yang memburu mereka, Am selalu melindungi mereka dengan ketulusannya. Karena ketulusan Am yang mau melindungi mereka tanpa mengharapkan imbalan, para merpati menganggap dia sebagai ratu merpati.


“Ratu, semenjak engkau disini saya tidak pernah melihat engkau hendak memakan sesuatu. Saya mendapat beberapa biji jagung. Makan lah Ratu!”


Seekor merpati itu membawa biji jagung di kedua kakinya. Kemudian dia menyerahkannya kepada Amfitrite.


Meski Amfitrite tidak memiliki rasa lapar dan dahaga. Dia memakannya untuk menghargai merpati lainnya. Dan mereka terlihat sangat akrab.


Tak sengaja malaikat Dorit melihat pemandangan tersebut. Dia sangat iri melihat Amfitrite dianggap sebagai ratu. Dan terlihat bahagia.


“Apa? Ratu? Bagaimana mungkin seseorang yang dihukum dianggap sebagai ratu. Sedangkan aku, sibuk dengan tugas dan laporan masing-masing. Ini yang dihukum malah menjadi ratu. Ini namanya bukan hukuman. Ini tidak adil. Aku akan melapor ke pemimpin.” Gumam Dorit.


Sore hari, Am sedang kebingungan mencari tempat persembunyian. Dia terbang ke tengah-tengah hutan belantara. Dia bersembunyi agar tidak ada seseorang yang melihat perubahan wujudnya. Karena nanti malam adalah bulan purnama.


Hari pun mulai gelap. Cahaya yang indah itu terlihat bulat di atas langit. Dan memantulkan cahayanya ke bumi sehingga nampak elok rupawan. Am, yang sedang di tengah hutan belantara. Dia berubah menjadi sosok wanita yang sangat cantik, berkulit putih dan berseri. Setelah berubah, dia berjalan ke tepi pantai dan melihat bulan purnama dan memandangnya. Wajah wanita itu menengadah ke langit. Dan dia berkata untuk dirinya sendiri.


“Tuan, aku telah tulus menolong para merpati dari manusia yang keji. Tapi kenapa kekuatanku belum dapat kembali? Tuan, disini rasanya aku sangat kosong. Aku berkelana tanpa tujuan. Kapan aku dapat kembali ke Nabastala?” kata Am.


Amfitrite sedang meratapi nasibnya.


Pada Nabstala, Dorit melaporkan pemandangan yang dilihatnya tadi.


“Ajudan, boleh saya bertemu dengan Tuan?” tanya Dorit.


“Untuk apa Dorit?” tanya Ajudan.

__ADS_1


“Saya ingin memberitahukan sesuatu secara pribadi.” Jawab Dorit.


“Mari saya antar.” Kata Ajudan.


Ajudan dan Dorit menghadap kepada pemimpin.


“Permisi Tuan, saya membawa malaikat Dorit karena dia ingin menyampaikan sesuatu kepada Tuan.” Kata Ajudan.


“Baiklah. Kamu bisa pergi Rei.” Jawab pemimpin.


“Saya permisi Tuan.” Kata Rei.


“Apa yang ingin kamu katakan malaikat Dorit?” tanya pemimpin.


“Tuan, saya ingin memberitahukan tentang kabar Amfitrite. Dia di bumi telah dianggap ratu oleh para merpati. Apakah ini yang dinamakan sebuah hukuman Tuan?” kata Dorit.


“Malaikat Dorit, kamu tidak pernah tahu bagaimana usaha seseorang untuk mencapai sesuatu tentang pencapaiannya. Ketahuilah, bahwa malaikat Amfitrite tetap menjalani hukumannya.” Jawab pemimpin.


Walau Dorit diam. Dia merasa tidak terima dengan jawaban dari pemimpin. Dia tidak terima dengan keadaan Amfitrite yang dianggap ratu di bumi. Setelah Dorit menemui pemimpin, dia langsung kembali ke bumi.


Amfitrite yang sedang di tepi pantai. dia tak sengaja bertemu dengan Amaltheia yang kebetulan terbang dari Nabastala setelah mengumpulkan laporan.


“Amaltheia.” Ucap Amfitrite.


Karena merasa dirinya ada yang memanggil. Amaltheia mencari sumber asal suara yang lembut itu. Dia melihat sosok wanita dan mendekatinya.


“Apakah dia yang memanggilku? Bukankah dia manusia?” isi benak Amaltheia penuh dengan pertanyaan.


Kemudian Amaltheia mendekatinya.

__ADS_1


“Amaltheia, bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tidak bertemu?” kata Am.


“Siapa kamu? Darimana kamu mengetahui namaku manusia?” tanya Amal.


“Apa kamu sudah lupa? Aku Amfitrite.” Jawab Am.


“Astaga, aku pikir kamu manusia Am. Bukankah kamu dihukum menjadi merpati? Kenapa sekarang kamu menjadi manusia?” tanya Amal.


“Iya Mal, saat bulan purnama tiba. Aku akan berubah wujud menjadi manusia. Untuk itu aku tidak punya sayap. Karena inilah aku tidak bisa kembali ke Nabastala. Tapi saat bulan purnama telah pergi aku akan kembali menjadi merpati.”Jawab Amfit.


“o... begitu. Bagaimana? Apa yang kamu lakukan selama ini saat dihukum?” tanya Amal.


“Aku berkelana kesana kemari tanpa tujuan Mal.” Jawab Am.


“Bukankah itu menyenangkan?” tanya Amal.


“Sesuatu yang kosong. Bagaimana kamu menyebutnya itu menyenangkan.” Jawab Am.


“Pffft... benarkah?” tanya Amal.


“Mal, boleh aku meminta pertolongan padamu?” tanya Am.


“Boleh, asal tidak menyalahi aturan.” Jawab Amal.


“Begini, dulu saat aku dihukum. Aku bertanya pada Tuan. Katanya aku dapat kembali dengan ketulusan. Dan tiga tahun terakhir ini aku sudah melindungi para merpati dengan tulus tanpa berharap imbalan sama sekali. Tapi kenapa kekuatanku belum kembali Mal.tolong tanyakan pada Tuan ya Mal. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya.” Kata Am.


“Baik Am. Akan saya tanyakan sekarang. Kamu tunggulah disini. Aku akan kembali ke Nabastala dan membawa kabar padamu.” Jawab Amal.


“Terimakasih Mal. Berhati-hatilah. Kamu memang teman terbaik.” Kata Am.

__ADS_1


Amaltheia kembali ke Nabastala dengan kedua sayapnya.


__ADS_2