
Malam telah tiba, bak perapian itu mulai menyalakan warna kuning dan kemerahan. Mereka bertiga berkumpul di dekat perapian tersebut.
"Setelah lulus, apa rencanamu?" tanya Am.
"Aku masih belum ada pandangan" jawab Lais.
"Gimana kalo kakak jadi manager kak Am saja. Kak Am itu mulai jadi artis lho" kata Andira.
"Jangan berbicara sembarangan kamu Dir!" kata Lais.
"Kenapa? Bukankah itu sangat menyenangkan?" kata Am.
Lais langsung menoleh ke arah Am. Lalu Lais mengeluarkan ponselnya kemudian mengetik suatu pesan pada Am. Padahal jarak mereka sangat dekat saat itu. Mereka bisa saja langsung bercakap. Tapi, ini tentang identitas Am. Yang masuk kedalam pusaka rahasia.
"Jika kamu jadi artis, ini akan membahayakan identitasmu Am" isi pesan itu.
Setelah pesan itu terkirim. Lais langsung menghapusnya. Karena Lais telah mengetahui kelakuan adiknya yang kadang tidak sopan. Untuk berjaga-jaga saja.
"Triiiing!"
Pesan itu masuk. Am membukanya dan membacanya.
Tentu Am tak menjawab apapun karena itu adalah pesan peringatan.
Lalu Lais mengirim pesan lagi.
"Identitas adalah hal yang paling utama untuk dijaga" pesan itu lagi.
"Triiiinggg!"
Am membaca pesan dari Lais lalu melihatnya.
Andira yang tidak mengetahui antara mereka berdua mengatakan suara. Baginya saat itu hening dan tak ada keseruan.
"Wah,,,, sepertinya di saat seperti ini ada ketela dan jagung enak kali ya?" kata Andira.
"Hei, bisakah kamu tidak banyak maunya?" kata Lais.
"Aku kan hanya mengatakan sesuatu. Kalau tidak ada ya udah" kata Andira.
"Ada, sebentar aku akan mengambilnya" kata Am.
Am berjalan menuju ke belakang. Lalu dia menciptakan ketela dan jagung dari kekuatannya. Di atas mapan bundar itu, ketela dan jagung itu tercipta.
Mapan itu dibawa oleh Am menuju perapian itu. Andira melihat hal ini matanya langsung terlihat membulat dan tersenyum lebar.
Makanan favoritnya telah datang. Mereka segera menusuki dengan kayu. Dan membakarnya bersama-sama. Malam itu mereka sangat akrab. Sudah lama kebersamaan seperti ini hilang di muka bumi karena sibuk dengan ambisi sendiri-sendiri.
Waktu telah menunjukkan pukul 24.00 WIB. Andira telah tertidur, tersisa Lais dan Am yang masih membuka matanya.
Mereka duduk di teras, Lais saat itu mengenakan baju yang sangat tebal. Sedangkan Am memakai gaun seperti biasanya. Melihat Am yang memakai gaun tipis. Langsung Lais mengambilkan jaket di dalam lalu melingkarkan ke badan Am. Kemudian mereka saling bercakap satu sama lain.
"Bukankah resikonya akan besar jika kamu menjadi seorang artis Am" kata Lais.
__ADS_1
"Aku tahu, pasti akan banyak wartawan atau lainnya yang akan sibuk menggali informasi tentangku. Tapi, jika aku melewati kesempatan ini. Aku tidak akan menjadi manusia 100% Lais" kata Am.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanya Lais.
"Dengar, tanpa uang, aku tak bisa membangun rumah. Tanpa uang aku tak bisa naik angkutan kendaraan umum. Aku ingin seperti manusia Lais, tanpa menggunakan kekuatan dan hidup dengan normal" kata Am.
"Pasti kita akan membangun rumah Am. Tapi tunggulah kelulusanku" kata Lais.
"Maksudmu kamu yang akan bekerja untuk membangun rumah?" tanya Am.
"Iya, dan kita akan bersama" kata Lais.
"Tidak"
"Tapi kita berjuang bersama"
"Membebani seseorang terlalu besar bukanlah gayaku" kata Am.
Lagi-lagi Lais dibuat kagum dengan Am karena kebijakannya. Lais melontarkan senyum yang manis kepada Am.
Lais menatap Am di bawah bulan dan bintang bersama desiran ombak laut malam itu.
Mereka duduk di teras dengan saling bercakap.
Tiba-tiba tangan Lais meraih pinggang Am yang ramping itu. Lalu dia mendekatkan tubuh Am ke tubuhnya. Am yang saat itu mengikuti arahan sesuai gerakan tangan Lais. Lalu Am meletakkan kepalanya di pundak Lais. Betapa bahagianya mereka berdua. Dengan sekian lama penantian Am. Dan cinta Lais yang murni membuat dia dihidupkan kembali. Untuk menyelesaikan yang tidak dapat dia selesaikan dari inkernasi sebelumnya.
Lais mengecup kening Am. Dengan gemasnya dia mengoyak rambut Am.
...****************...
Am sangat senang dengan kunjungan mereka.
"Datanglah saat wisudaku!" kata Lais.
"Untuk apa aku datang?" tanya Am merasa tak perlu untuk kesana.
"Tentu saja kita akan berfoto kak Am" kata Andira.
"Baiklah" kata Am.
"Tapi alangkah lebih baik jika kamu datang dengan topeng" kata Lais memeringati atas popularitas Am yang naik pesat.
"Oke" kata Am.
"Dadah,,,, kami pulang dulu ya kak!" kata Andira dengan melambaikan tangannya.
Am membalas lambaian tangan Andira. Sebenarnya Am ingin mengantar mereka hingga jalan raya. Namun Lais menolak. Akhirnya Am tak mengantar mereka.
...****************...
"Tinggg!"
Beberapa menit kemudian, layar ponsel Am menyala, menandakan bahwa ada pesan yang masuk di ponsel Am saat itu.
"Aku sudah sampai di rumah, Angel!" pesan dari Lais.
__ADS_1
Am tersenyum melihat layar ponsel itu.
"*Jangan lupa Istirahatlah" balas Am.
"Oke, Angel" balas Lais*.
Mereka senyum-senyum sendiri seperti seseorang yang telah meminum racun bucin.
...****************...
Esoknya, ujian kelulusan itu diumumkan. Tak disangka, kali ini Andira naik peringkat. Dia menjadi peringkat 10. Rumayan lah, yang tadinya selalu nomer kedua dari belakang. Kini Andira akhirnya menjadi salah satu peringkat 10.
Sedangkan Lais karena daya ingatnya yang tinggi dan rajin. Akan aneh jika Lais tak mendapat peringkat di kelasnya. Dia peringkat 1 kali ini.
Dan mereka berdua lulus.
Tentu kabar ini membuat ibu mereka bangga kepada mereka.
...****************...
"Kita akan melakukan wisuda bulan depan tanggal 5"
"Semua murid bebas berrias apapun asalkan itu sopan"
Seorang Bapak yqng berjenggot itu mengumumkan pengumuman kepada anak didiknya semua. Dia adalah kepala sekolah Lais dan Andira.
...****************...
Tentu tak lupa Lais langsung mengabarkan hal ini kepada Am.
"Datanglah tanggal 5 wisudaku diadakan" pesan Lais.
Melihat layar ponselnya menyala lagi, Am langsung memeriksa isi pesan tersebut.
"Baiklah" balas Am.
"Aku akan menjemputmu nanti. Tapi aku meminta bantuanmu sedikit ya?" pesan Lais lagi.
"Minta tolong apa?" balas Am lagi.
"Nanti kamu akan tahu" balas Lais.
"Jangan membuatku mati penasaran" balas Am.
"Aku tak yakin kamu akan mati karena hal sepele he, he, he" balas Lais.
"Haaahhh, dasar!" balas Am.
"Belum 1 hari aku tak bertemu dengan Am. Rasanya rindu lagi" gumam Lais setelah melihat pesan di ponselnya.
"Astaga" gumam Lais lagi.
...****************...
Setelah pengumuman itu telah selesai, semua murid dipersilahkan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1