Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 26: AM PERGI KE PERPUSTAKAAN LAGI


__ADS_3


Setelah diusir dari kamar oleh Am. Furqon berangkat ke pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan temannya tadi malam. Dengan emosi yang sedikit marah karena terbakar kecemburuan, dia pergi tanpa pamitan.


Sedangkan Am pergi ke ibukota untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Melihat waktunya tinggal dua hari lagi. Sebelum ke Perpustakaan, Am mencari Amaltheia untuk mendengarkan pendapat sahabatnya terlebih dahulu.


Am, berjalan kaki dengan membawa tumpukan buku di depannya. Butuh satu jam untuk menempuh perjalanan antara rumah Furqon dan kota. Kaki Am yang masih belum kuat untuk melangkah kaki sejauh itu. Seperti biasa, dia beristirahat saat mencapai ditengah perjalanan.


Am duduk disebuah kayu yang berada di pinggir jalan. Am mendongakkan wajahnya ke atas langit. Terlihat langit sedang mendung. Dan banyak burung yang berterbangan di atas dengan angin yang mendesus sepoi-sepoi menyerang badan Am. Am melihat burung-burung itu.


“dua hari lagi aku akan menjadi seperti mereka” gumam Am.


“mereka terlihat sangat bebas dan senang jika dipandang dari luar. Namun saat aku berkumpul menjadi merpati. Banyak mereka yang kebingungan mencari makanan untuk hari itu. Terutama para merpati yang telah memiliki anak. Mereka akan terbang kesana-kemari demi mendapatkan makanan untuk anaknya.”


“terkadang kehidupan memang sawang sinawang.” Gumam Am.


*****


Setelah menyimpulkan beberapa hal, dan rasa Lelah sudah mulai hilang. Am melanjutkan perjalanannya kembali.


Setelah beberapa puluhan menit perjalanan, akhirnya Am telah sampai ke ibu kota. Am mencari tempat yang jauh dari keramaian. Seperti biasa, dia menunggu Amal di bawah pohon yang ada di pinggir ibukota. Am mengirimkan signal batin ke Amaltheia.


Amaltheia yang sedang bertugas menerima signal dari Am. Dia segera menyelesaikan tugasnya kemudian dia pergi menemui Am.


“Am, bagaimana? Sudah menemukan jawabannya?” tanya Amal.


“aku menemukan tapi.. belum menemukan jawaban yang pasti.” Kata Am.


“apa yang telah kamu temukan Am?” tanya Amaltheia.


“ini ada cerita kisah manusia dan malaikat yang jatuh cinta. Namun pada akhirnya dia menghilang. hanya saja... karena kasih sayang tuhan. Akhirnya dia kembali menjadi manusia. Dan mereka hidup bahagia Bersama.” Kata Am.


“jadi intinya.. semua tergantung pada keputusan Tuhan.” Kata Am.


“aku ingin menanyakannya pada Tuan. Tapi bulan purnama masih kurang sepuluh hari lagi. Jadi… aku juga tidak dapat membantu memberikan jawabanmu Am. Hanya saja jika memang ada cerita seperti itu. Coba saja Am, coba kamu meminta pada Tuhan. Itulah hal yang terakhir dapat dilakukan.” Kata Amal.


“apa tidak ada lain lagi selain jawaban itu?” tanya Amal.


“ini ada cerita di my girlfriend is gumiho. Seekor rubah, dia masih memiliki satu ekor jadi dia dapat tetap hidup di dunia. Tapi aku kan tidak memiliki Sembilan ekor Amal.” Kata Am.


“Baiklah sepertinya memang belum menemukan jawaban. Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Amal.


“aku akan mengembalikan buku ini terlebih dahulu. Lalu nanti aku akan mencari buku lainnya di sana dan membacanya.” Kata Am.


“baiklah. Semoga kamu menemukan jawaban ya Am. Am maaf aku harus pergi.” Kata Amal.


“iya Amal pergilah. Dan lanjutkan tugasmu.” Kata Am.


“iya Am. Aku pergi dulu. Assallamu’alaikum.” Kata Amal.


“wa’alaikumussalam. Hati-hati Amal.” Kata Am.


Amal pergi untuk melanjutkan tugasnya. Setelah itu Am pergi ke perpustakaan ibukota.


Saat Am berjalan melewati jalan kota. Di sepanjang jalan semua orang memandang kearah Am. Karena kecantikannya yang sangat mempesona. Kulit yang putih, dengan suasana yang mendung dengan beberapa cahaya membuat kecantkan Am menonjol saat itu.


Terlihatlah sebuah Gedung besar di tengah kota. Tepatnya itu Gedung perpustakaan. Am memasuki Gedung itu. Pheron yang sedang duduk di salah satu tempat duduk dan memegang buku cerita. Melihat Am dari kejauhan.


‘glek’


Dia menelan saliva. Melihat kecantikan Am yang saat ini dia lihat.


(bahkan belum ada satu hari aku telah merindukannya. Ah.. sepertinya aku mulai gila.) batinnya dengan menggeleng-geleng kepalanya. Yang teringat bahwa Am telah menikah.


“Permisi kak, saya mau mengembalikan buku yang telah saya pinjam.” Kata Am.


“atas nama siapa?” tanya pustakawan.


“atas nama Amfitrite.” jawab Am.


“atas nama Amfitrite meminjam lima buku.” Kata pustakawan.

__ADS_1


“Iya bukunya sesuai. Terimakasih kak.” Dengan mengecek nama buku yang dibawa Am.


“saya mau membaca buku kak.” Kata Am.


“ah silahkan absen di sini dulu. Dan silahkan masuk sebelah sini.” Kata Pustakawan Dengan menunjuk computer di depan dan menunjuk pintu masuk menuju penyimpanan buku.


Am, mengisi komputer absen. Terlihat tangan Am masih belum lihai mengisi komputernya. Melihat Am sedikit kebingungan dari jauh, Pheron menghampiri Am. Lalu dia membantunya.


Pheron berdiri di belakang Am lalu memegang tangannya untuk mengarahkan Am mengisi absen tersebut.


“sudah selesai.” Kata Pheron.


“Pheron. Aku kira siapa. Mulai kapan kamu datang?” tanya Am.


“dari.. tadi.. sudah dikembalikan?” tanya Pheron.


“sudah. Pheron, boleh minta bantuanmu lagi?” tanya Am.


“apa?” tanya Pheron.


“aku ingin membaca buku yang genrenya sama dengan buku yang aku pinjam. Karena sepertinya kamu lebih mengenal tempat ini daripada aku. Jadi boleh minta tolong carikan?” tanya Am.


“iya tentu.” Jawab Pheron.


Mereka berjalan menuju rak buku Bersama.


“berapa buku yang ingin kamu baca?” tanya Pheron.


“sebanyak-banyaknya yang kira-kira dapat aku baca hingga perpustakaan ini tutup.” Kata Am.


Mendengar jawaban Am Pheron yang jalan di depan Am langsung berhenti dan membalikkan badannya. Sehingga Am menabraknya.


“sebenarnya kamu ini gila buku atau memang kutu buku? Kamu bercanda kan?” tanya Pheron.


“aku tidak gila buku atau bahkan kutu buku. Tapi memang ada sesuatu yang harus aku cari.” Jawab Am.


“apa yang kamu cari?” tanya Pheron.


“jawaban. Sudahlah carikan aku bukunya saja nanti akan aku baca sebanyak-banyaknya.” Kata Am.


“hal yang tidak pernah akan kamu kira. Cukup kamu carikan buku itu kamu sudah sangat membantuku Pheron.” Kata Am.


“baiklah jika memang kamu tidak mau terbuka.” Kata Pheron.


Pheron mencarikan buku yang diminta Am. Karena beberapa buku dia tidak menemukannya dia menanyakan ke pustakawan dan temannya yang ada di perpustakaan.


Salah satu temannya melihat Pheron berjalan dengan Am. Dari kejauhan mereka merasa aneh karena selama ini Pheron tidak pernah dekat dengan seorang wanita.


“eh siapa wanita yang ada disamping Pheron itu? Cantik sekali. Apa dia pacarnya?.” Kata salah satu temannya.


“sepertinya iya. Saya baru melihat ini Pheron tertarik dengan perempuan.” Kata temannya.


“dia memang cantik tentu saja Pheron tertarik.” Kata temannya.


“mataku saja sampai membeku melihatnya.” Kata temannya.


Pheron datang ke arah segerombolan temannya itu.


“hei kalian tahu buku yang bergenre kisah cinta dari dua dunia yang berbeda itu dimana saja.” Tanya Pheron ke temannya.


“bukankah banyak di buku cerita dongeng dan novel?” tanya temannya.


“iya, tapi aku sudah mengambilnya sebanyak sembilan buku dari itu. Adakah kalian yang tahu lagi? Ini temanku Am sedang membutuhkan buku seperti itu.” Kata Pheron.


“benarkah teman? Kalian hanya teman? Halo saya Reno teman sekolahnya Pheron saat dia masih smp.” Kata teman Pheron dengan menghampiri Am dan menyodorkan tangan untuk bersalaman.


“ah iya aku.. panggil saja Am.” Kata Am.


“hei Ren, cepat carikan saja buku jangan banyak omong kamu disini.” Kata Pheron.


“ah iya, iya untuk temanmu ya. Baiklah akan aku carikan.” Kata Reno dengan menyindir Pheron.

__ADS_1


Reno pergi mencarikan Pheron buku. Sedangkan teman lainnya ramah kepada Am. Mereka terlihat akrab secara cepat dengan Am. Pheron yang merupakan teman mereka malah tidak dihiraukan.


“hah....”


melihat keadaan, Pheron mengeluarkan nafas banyak. Akhirnya Pheron meninggalkan perkumpulan teman-temannya lalu dia mencarikan buku yang diinginkan Am.


Reno yang sudah mendapatkan dua buku itu. Menghampiri Pheron yang juga sedang mencari buku.


“heh, kamu bertemu dimana gadis secantik itu?” tanya Reno penasaran.


“kemarin di perpustakaan ini, tepat saat kamu sedang liburan ke laut merah.” Kata Pheron.


“kamu menyukainya kan?” tanya Reno.


“tidak. Lagi pula dia sudah memiliki suami.” Jawab Pheron.


“apa? Ah ternyata aku tahu sekarang kenapa kamu terlihat kecewa.” Kata Reno.


“kecewa apa sih. Sok tahu kamu.” Kata Pheron.


“aku sudah mengenalmu sejak dulu. Baru kali ini kamu peduli dengan wanita Pheron. Tapi sayang… yah sepertinya jodohmu berat baddy sabar ya?. Hahahaha.” Ledek Reno.


“ah! diam dan pergi saja kamu.” Kata Pheron jengkel.


“iya iya, tanpa kamu suruhpun aku juga akan pergi kok.” Kata Reno dengan membawa buku yang telah dia ambil.


“Am, ini bukunya.” Kata Reno dengan menyodorkan dua buah buku kepada Am.


“wah terimakasih kak Ren. Aku akan membaca bukunya.” Kata Am dengan menerima buku yang diberikan oleh Reno.


*****


Am segera mencari tempat duduk untuk membaca buku tersebut.


Setelah Am selesai membaca satu buah buku, Pheron datang dari arah samping kiri Am dengan membawa lima buah buku novel. Kemudian Pheron duduk di depannya Am.


“apakah ini cukup?” tanya Pheron.


“sepertinya ini cukup untuk waktu hingga tutup perpustakaannya.” Jawab Am.


Saat itu Am sedang membaca novel yang berjudul bidadari yang terusir dari khayangan. Kebetulan Pheron telah membacanya minggu lalu. Akhirnya Pheron menceritakan kisahnya kepada Am tentang kesimpulan ceritanya. Untuk meringankan Am membaca buku yang terlalu banyak.


“aku tahu kisah itu, kebetulan sudah kubaca minggu lalu. Mau aku ceritakan?” tanya Pheron.


“benarkah? Iya iya, ceritakan saja. Aku akan mendengarkan.” Jawab Am semangat.


“jadi seperti ini. Ada sebanyak tujuh bidadari turun ke bumi untuk mandi di sungai yang suci. Bidadari itu terbang menggunakan selendangnya. Selendangnya berwarna-warni. Saat mereka mandi, selendang mereka di letakkan di atas batu. Kemudian ada manusia yang melihat mereka. Karena kecantikan mereka yang tiada tara. Manusia itu memiliki inisiatif untuk mencuri selendangnya. Agar bidadari itu mencarinya. Akhirnya… “


Dengan mendengar cerita Pheron mata Am terbelalak dan menatap Pheron seperti anjing yang bertemu tulang kesukaannya. Melihat eksperi Am yang menggemaskan membuat Pheron menelan saliva.


‘glek’


Kemudian Pheron melanjutkan ceritanya.


“akhirnya salah satu bidadari tidak dapat kembali ke khayangan. Kemudian manusia itu berpura-pura menjadi penolong untuknya. Lalu mereka saling suka. Dan menikah. Mereka diberi seorang anak perempuan. Namun, saat bidadari itu menanak nasi. Terlihat sedikit selendang warna putih di tempat penyimpanan padi. Dia mengambilnya dan memastikan bahwa itu miliknya. Ternyata benar, selendang itu miliknya. Akhirnya dia marah pada manusia itu dan kembali ke khayangan dengan selendangnya. Namun, karena dia telah ternoda oleh manusia. Dia tidak diterima lagi di sana. Kemudian dia mengasingkan diri dan hidup di laut.” Cerita Pheron.


“seperti itulah ceritanya.” Kata Pheron.


“lalu apakah manusia itu meninggal karena kesalahannya?” tanya Am.


“tentu saja tidak.” Kata Pheron.


Am terus melontarkan pertanyaan kepada Pheron.


“jika seandainya manusia itu sekarat. Lalu ditolong oleh seorang bidadari. Namun bidadari itu diusir. Dia akan diterima lagi jika hal yang dia berikan ke manusia itu kembali padanya. Dengan konsekuensi manusia itu meninggal. Menurutmu bagaimana penyelesaiannya?” tanya Am.


“apa?” tanya Pheron melongo.


...----------------...


Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.

__ADS_1


Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.


Terimakasih... 🤗🤗🤗


__ADS_2