Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 27: MENGEMBALIKAN BUKU


__ADS_3


“kenapa kamu menanyakan hal yang aneh?” tanya Pheron.


“aneh? Ah aku hanya penasaran bagaimana pendapatmu. Mungkin saja suatu saat aku bisa menjadi seorang penulis buku.” Jawab Am mengelak.


“Pfffttt....” Mendengar jawaban Am membuat Pheron menahan tawa.


“kenapa?” tanya Am polos.


“tak kusangka dari sekian banyak buku yang kamu baca. Ternyata alasannya seperti itu.” Kata Pheron.


“hei, lalu apa jawabanmu?” tanya Am.


“sepenting itukah?” tanya Pheron dengan mengernyitkan satu alisnya.


“iya penting sekali bahkan lebih penting dari segenap jiwa ragaku.” Jawab Am dengan menggebu-gebu.


“sebentar akan aku pikirkan dulu jawabannya.” Kata Pheron dengan mata yang melihat keatas dan berfikir.


Am penasaran dengan jawaban Pheron. Am mendekat dengan wajah yang berbinar-binar berharap mendapat jawaban dari Pheron.


Melihat demikian Pheron mengalihkan pandangannya agar tidak menginginkan yang tidak seharusnya dia inginkan.


“jika memang... satu-satunya cara malaikat itu untuk kembali harus dengan manusia itu meninggal, ya bagaimana lagi? Memang seharusnya manusia itu memiliki takdir untuk meninggalkan. Hanya saja malaikat itu yang memberi kehidupannya. Sehingga dia mendapat kesempatan untuk hidup lebih lama.” Jawab Pheron.


“bagaimana lagi bagaimana maksudmu?” tanya Am dengan marah.


“hei aku hanya menjawab pertanyaanmu. Kenapa kamu terlihat seakan akan marah?” Kata Pheron.


“ah iya maaf, aku hanya terbawa emosi sesaat.” Kata Am.


“tak apa, penulis memang harus memiliki perasaan berkobar agar cerita itu semakin menarik. Jadilah penulis, aku tak keberatan menjadi orang yang pertama untuk membacanya.” Kata Pheron.


“benarkah? Terimakasih.” Jawab Am datar. Karena bukan ini alasan dia yang sebenarnya.


“kenapa? Apa jawabanku salah? Kalau pendapatmu bagaimana?” tanya Pheron.


“apa?” tanya Am balik.


“ya.. kalau pendapatmu bagaimana jika kamu adalah penulisnya? Kamu melontarkan pertanyaan harus juga punya pandangan jawabannya.” Kata Pheron.


“mungkin aku akan memilih untuk tidak kembali agar manusia itu tetap hidup.” Jawab Am.


“iya, baiklah. Semua orang memiliki pandangan masing-masing. Yang kamu jawab itu juga baik. Lebih mementingkan kebaikan orang lain.” Kata Pheron tersenyum.


“jadi tidak sabar melihat hasil tulisanmu.” Kata Pheron dengan mengelus-elus rambut Am yang ada diatas dahi.


(yang benar saja jadi penulis, waktuku menjadi manusia saja tinggal dua hari lagi.) batin Am.


Pheron mengembalikan buku yang telah dibacanya.


‘tring…! Tring…!’


Hanphone Pheron berbunyi. Menandakan ada televon masuk di ponselnya.


“halo, iya ma. Ada apa?” tanya Pheron.


“tolong jemput ibu di halte bus sandawira ya nak. Ibu sampai sekitar jam 11.00 WIB.” Kata ibu.


“baik bu.” Jawab Pheron.


Pheron melirik jam di ponselnya. Kurang 10 menit lagi ibu sampai. Lalu dia memandang Am yang sedang membaca buku dari kejahuan.


“yah… bagaimana lagi.” Gumam Pheron.


“Am, kamu kesini tadi naik apa?” tanya Pheron dengan menghampiri Am.


“aku tadi jalan kaki.” Jawab Am.


“apa? Kamu dari sana kesini jalan kaki? Kenapa tidak diantar suamimu? Jarak rumahmu kesini itu jauh Am.” Kata Pheron.


“apa kamu bilang?... “ tanya Am mendengar kata suami tidak mengerti.


“tunggu aku jika akan pulang nanti. Aku buru-buru harus menjemput ibuku sekarang. Inget, tunggu aku kembali ya?” kata Pheron memotong jawaban Am kemudian pergi untuk menjemput ibunya dengan terburu-buru.


“apa katanya? Suami? Aku tidak paham dengan maksudnya.” Gumam Am.

__ADS_1


🐬🐬🐬🐬🐬


Furqon telah kembali dari menjual ikan di pasar. Saat sampai di rumah, pandangannya melihat kesemua arah namun dia tidak melihat Am sekali.


“ibu, Am dimana?” tanya Furqon.


“dia tadi pergi ke ibukota. Katanya akan mengembalikan buku di perpustakaan.” Jawab Ibu.


“naik apa bu?” tanya Furqon.


“entahlah! ibu, tidak melihatnya saat dia pergi.” Jawab ibu.


Furqon menengok tempat parkir sepedanya. Ternyata sepedanya masih berada ditempat.


“masih ada, jadi dia jalan kaki lagi.” Gumam Furqon.


“pasti dia bertemu dengan laki-laki itu lagi.”


Terbesit pikiran kotor di kepala Furqon tentang Am dan Pheron.


“tidak, tidak, aku harus menjemputnya.” Kata Furqon.


Yang dipikirkan Furqon saat ini adalah bagaimana dia cepat sampai di ibukota. Jalan satu-satunya adalah meminjam mobil Ando.


Furqon pergi menuju rumah Ando naik sepeda gayuhnya. Lima belas menit Furqon tiba di rumah Ando.


‘ting tong… ting.. tong..’


Bel rumah itu berbunyi.


‘ceklek’


Pintu rumah itu terbuka.


“siapa?” tanya bibi paruh baya itu.


“saya Furqon bu, temannya Ando. Andonya ada buk?” tanya Furqon.


“mas Ando sedang pergi mas. Mungkin 20 menit lagi pulang. Jika berkenan bisa menunggu disini mas.” Kata bibi dengan menunjukkan tempat duduk sofa ruang tamu.


“iya saya tunggu saja bi.” Kata Furqon.


Ternyata Ando sedang keluar saat itu bersama istrinya. Dengan terpaksa Furqon menunggu Ando pulang. Furqon menunggu Ando pulang dengan duduk di sofa ruang tamu rumah Ando.


Pheron sedang menjemput ibunya. Sedangkan teman-temannya Pheron telah pulang semua. Perpustakaan itu serasa sepi. Hanya ada beberapa orang pustakawan yang ada di sebelah pintu masuk. Buku Am yang tengah dibacanya telah habis.


Am melirik kesana-kemari, terlihat tak ada seorang pun yang berada diantara rak buku. Karena keadaan sedang sepi, Am berinisiatif mencari buku menggunakan kekuatannya.


“selama tidak mengubah takdir seorang makhluk. Ini tidak menjadi masalah kan?” gumam Am.


Akhirnya Am mencari buku menggunakan kekuatannya. Buku yang Am inginkan semua berterbangan menghampiri Am. Tertumpuklah buku-buku tersebut.


Dorit yang kebetulan bertugas 300 meter dari jarak perpustakaan merasakan keberadaan kekuatan malaikat yang sedang digunakan. Karena penasaran Dorit menghampiri arah kekuatan itu berasal.


“Am, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Dorit menghampiri Am.


“Dorit aku hanya sedang mencari jawaban. Dengar Dorit jika aku kembali menjadi malaikat, Furqon akan meninggal, karena jika aku tidak menghentikan cinta Furqon padaku kekuatanku akan kembali seluruhnya. Aku hanya mencari jawaban untuk menemukan jalan tengah agar Furqon tetap hidup.” Kata Am.


“jadi… kamu ingin Furqon tetap hidup Am?” tanya Dorit.


“tentu saja, aku tidak mungkin tega melihat posisiku kembali namun melihat temanku mati.” Jawab Am tegas.


(bagus, jika Furqon tetap hidup. Sudah pasti Am tidak mungkin kembali) batin Dorit.


“Am, kenapa kamu tidak memakai kekuatan pelupa ingatan perasaan manusia?” rayuan Dorit dengan mendekat kepada Am.


“ah! Kamu benar Dorit. Tapi kekuatanku masih 60% yang kembali. Jadi meski aku gunakan pasti tidak bisa sempurna.” Jawab Am.


“coba saja!” kata Dorit.


“apa salahnya mencoba kan?” tegas Dorit.


“tapi aku akan meminta izin pada Tuan terlebih dahulu.” Jawab Am.


“jika Tuan pasti jelas tidak mungkin mengizinkan Am.” Kata Dorit.


Mendengar perkataan Dorit, Am langsung menatap tajam Dorit.

__ADS_1


“benar juga.” Kata Am.


“selamat mencoba dan semoga berhasil ya Am.” Kata Dorit dengan tersenyum lalu meninggalkan Am.


Am termenung sejenak memikirkan apa yang telah dikatakan Dorit. Namun, karena Dorit terkenal sebagai malaikat yang kadang ada udang dibalik batu. Am meragukan sarannya. Akhirnya Am ingin bertemu Amaltheia. Karena perpustakaan adalah tempat umum. Am keluar dari perpustakaan sementara. Sebelum itu dia menghubungi Amaltheia lewat kebatinan.


“Amal, adakah waktu untuk bertemu denganku?” tanya Am.


Am menerima pesan batin Am dan menjawabnya.


“iya ada.” Jawab Amal.


“aku tunggu ditempat biasanya ya?” kata Am.


“baik” jawab Amal.


Malaikat memang dapat berkomunikasi secara batin dijarak tertentu. Namun hal ini juga menguras banyak energi jika dilakukan terus menerus sehingga kadang mereka masih membutuhkan untuk saling bertemu selayaknya manusia.


Amaltheia menghampiri Am yang sedang menunggunya di bawah pohon besar itu.


“hai, ada apa?” tanya Amal.


“Amal aku hanya membutuhkan beberapa saran darimu. Kamu tahukan bimbangnya aku saat ini? Tadi aku bertemu Dorit. Lalu dia menyarankan aku untuk menggunakan kekuatanku agar menghapus perasaan Furqon padaku agar dia tetap hidup. Menurutmu bagaimana?” tanya Am.


“jika menghapus perasaan, pasti yang akan terjadi dia tidak mencintaimu lagi. Dan itu akan berhubungan dengan kekuatanmu. Entah kekuatanmu akan kembali pada Furqon dan hilang padamu. Atau tetap pada dirimu. Kemungkinan yang ketiga kekuatan itu akan terlepas dan lenyap. Begitu juga kamu Am.” Kata Amal.


“tidak, jangan gegabah Am.” Kata Amal.


“jangan lakukan apapun sebelum bulan purnama.” Kata Amal.


“setelah bulan purnama. Aku pasti akan membawa jawabannya padamu.” Kata Amal.


“baiklah. Aku akan menunggu waktu itu. Dan untuk sisa waktuku menjadi manusia. Aku juga tetap mencarinya di buku-buku novel itu.” Kata Am.


“iya, sepertinya itu yang terbaik.” Kata Amal.


“baiklah maaf aku tidak bisa lama.” Kata Amal.


“iya lanjutkan tugasmu Amal. Kamu mau kesini aku sudah berterimakasih” kata Am.


📘📘📘📘📘


Pheron kembali ke perpustakaan setelah menjemput dan mengantar ibunya. Terlihat bangku yang tadinya di duduki oleh Am itu kosong. Hanya ada tumpukan buku di mejanya.


“kemana dia?” gumam Pheron.


“astaga, bagaimana dia menemukan novel-novel sebanyak ini. Ini juga ada novel klasik juga.” Gumam Pheron.


“pasti dia kembali, mungkin sedang lagi di toilet.” Gumam Pheron.


Pheron menunggu Am dengan membuka salah satu buku ditumpukan tersebut.


Am kembali ke Perpustakaan. Dia melihat Pheron sedang duduk dan membaca buku. Am langsung duduk di depannya.


“sudah selesai?” tanya Am.


“iya sudah. Bagaimana kamu dapat menemukan buku ini semua?” tanya Pheron.


“tentu saja mencarinya.” Jawab Am.


“wah… katanya masih awam tapi dapat menemukan buku-buku klasik seperti ini. Ini sangat mengejutkan.” Kata Pheron.


“aku saja tidak pernah membacanya.” Tambah Pheron.


“ah,,, itu karena aku bekerja keras untuk mencarinya.” Jawab Am.


“baiklah. Aku anggap kamu memang telah bekerja keras.” Kata Pheron dengan tersenyum.


Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang datang dan bertanya kepada Pustakawan tersebut.


“apakah ada yang bernama Amfitrite yang berkunjung disini?” tanya lelaki itu.


...----------------...


Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.


Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.

__ADS_1


Terimakasih... 🤗🤗🤗


__ADS_2