
Mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang.
‘brmmm…’
Suara Mobil itu terdengar dari dalam rumah. Mendengar hal itu Am melihat dan memastikannya lewat jendela.
“benar-benar Furqon yang datang, kenapa perasaanku tidak enak ya sekarang. Aku jadi salah tingkah” gumam Am.
Furqon keluar dari mobil putih itu. Dan mengucapkan salam pada sahabatnya Ando. Melihat Furqon akan kearah masuk rumah Am langsung berlari masuk ke dalam kamar Furqon. Entah kenapa hari itu dia menjadi salah tingkah. dia merasa senang, gelisah dan malu kepada Furqon saat itu.
Setelah masuk rumah Furqon hanya melirik kamarnya. Kemudian dia pergi Kearah dapur belakang. Dia mencari ibunya lalu mengabarkan jika dirinya sudah pulang.
“saya sudah pulang ibu.” Kata Furqon.
“iya nak, makanlah dulu.” Kata ibu.
“Furqon, tadi Fi itu keluar pamit ke ibu. Dia tadi pergi ke kota Permadani. Katanya dia punya sahabat disana. Ibu kasihan nak, dia jalan kaki dari sini kesana. Bagaimana jika kamu ajarkan naik sepeda padanya?.” Kata Ibu.
Mendengar perkataan ibunya Furqon langsung menelan saliva.
‘glek!’
“ibu,,,,, ibu masih belum mengenalnya jadi jangan terlalu percaya padanya.” Kata Furqon.
“maksud kamu apa nak?” Tanya ibu.
“sudahlah, iya, iya, nanti Furqon akan mengajarinya.” Kata Furqon.
“baiklah, kalau begitu kamu mengajarinya dengan cara yang lembut ya? Jangan kasar.” Kata ibu.
“iya.” Jawab Furqon.
“bagaimana kabar merpatimu Furqon?” Tanya Ibu.
“apa?”
"oh itu,,,!!"
(tidak mungkin aku mengatakan bahwa Fi adalah Am pada ibu)
“Furqon masih mencarinya.” Kata Furqon.
“sayang sekali. Padahal merpatimu itu benar-benar pintar dan dia seperti mengerti perkataan kita. Tapi kamu tidak mau mengurungnya. Ya sudah hilang kan.” Kata ibu.
“justru karena Fuurqon kurung dia pergi ibu.” Kata Furqon.
“mana ada merpati dikurung dia bisa kabur. Jika bukan kamu yang tledor nak. Kamu ini bagaimana sih.” Kata ibu.
“iya, iya Furqon yang telah tledor ibu. Tapi Furqon sudah mulai punya petunjuk keberadaannya.” Kata Furqon.
“benarkah? Dimana nak?” Tanya ibu.
“tapi masih belum pasti bu, jadi Furqon akan memastikannya dulu.” Kata Furqon.
“baiklah. Sebenarnya bukan merpati itu yang penting sekarang Furqon. Tapi.. kapan kamu akan mencari pasangan hidup?” Tanya ibu.
"uhuk uhuk,"
Furqon batuk karena kaget dengan perkataan ibunya.
Mendadak makannya terhenti saat ibu mengatakan hal itu. Lalu dia meminum segelas air yang saat ini berada di samping piringnya.
Dengan lembut Furqon menjawab.
“ibu,,,, ada beberapa tugas yang harus Furqon selesaikan terlebih dahulu. Setelah selesai Furqon pasti akan memulainya.” Kata Furqon.
__ADS_1
“tugas apa maksudmu nak?” Tanya ibu.
“ibu tidak perlu tahu, karena ini sangat rahasia.” Kata Furqon.
“rahasia.”
“sudah, sudah ibu, ibu pasti kecapek an ayo aku antar ke kamar ya.” Kata Furqon.
Furqon menyudahi pembicaraannya dengan ibunya. Karena jika terlalu jauh, Furqon takut akan berbicara yang tidak seharusnya dia katakan.
Beberapa hari kedepan Furqon melihat gerak-gerik Am disetiap langkahnya. Dia mencoba memancing Am, tentang apa yang pernah dia tanyakan kepada merpatinya dahulu. Tak sadar Am terkecoh dan dia bercerita persis yang dulu pernah dia katakan.
Setelah kejadian itu, Furqon benar-benar yakin jika Fi memang adalah Am.
Pagi itu dia mengetuk pintu kamar.
“tok! Tok! Tok!”
(pasti itu Furqon, kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini) batin Am.
Kemudian Am membukakan pintunya.
“kamu istirahat? Am?” kata Furqon.
“iya kak, kenapa kakak memanggilku Am?” kata Am.
“lalu kenapa selama ini kamu tidak bilang padaku jika kamu adalah Am?” kata Furqon.
“apa?” Tanya Am.
“aku kira malaikat itu tidak bisa berbohong, mereka itu makhluk mulia, tak punya dosa tapi malaikat apa yang sekarang didepanku?” kata Furqon.
“apa yang kakak bicarakan.” Kata Am.
(bagaimana ini, darimana dia mengetahuinya. Tuan, apakah hidupku sampai sini saja?. Apa aku akan berubah menjadi abu setelah ini?.) batin Am.
“kamu masih berdalih?” kata Furqon.
Furqon masuk dan menutup pintu kamar. Agar lainnya tidak mendengar pembicaraan mereka berdua.
“baiklah. Awal aku bertemu denganmu aku merasa ini adalah hal yang aneh. Mana mungkin ada seorang gadis cantik, suka berkeliaran malam lalu tiba-tiba tinggal di rumahku dan bilang tak punya keluarga. Ternyata.. kamu adalah malaikat Am?” kata Furqon.
“kamu tahu aku mencarimu kemana-kemana. Sekhawatirnya aku padamu seperti itu. Tapi kenapa kamu tega tidak bilang apapun padaku. Kamu malah berdalih dan berbohong padaku” Kata Furqon.
“aku jadi ragu apakah kamu benar-benar malaikat?” kata Furqon.
“bagaimana seekor merpati bisa berubah menjadi manusia sepertiku. Apakah kamu sudah gila kak?” kata Am.
“kamu pernah bercerita padaku tentang malaikat penguasa laut. Lalu malaikat itu menyelam menyatu bersama air agar tidak ada manusia yang mengetahui wujudnya. Saat malam itu kamu bilang malaikat itu penasaran dengan seperti apa rasanya menjadi manusia, merasa lapar atau dahaga. Seorang manusia tidak akan ada yang mengetahuinya sedetail itu. Jika dia bukanlah malaikat itu sendiri.” Kata Furqon.
“baiklah jika kamu telah mengetahuinya lalu kenapa? Apa sepenting itu statusku pada pandanganmu?” kata Am.
“bukan itu maksudku.. kamu tahu sendiri selama ini aku selalu mencarimu. Merasa bersalah padamu. Kamu dihukum karena telah menyelamatkan nyawaku. Kamu tahu betapa rasa bersalahku ini menyiksa diriku?” kata Furqon.
“apakah kamu tahu dengan terbukanya identitasku aku akan lenyap?” kata Am.
“apa maksudmu?” Tanya Furqon.
“dengan manusia mengenalku sebagai malaikat. Maka aku akan lenyap seperti abu.” Kata Am.
“apa?” kata Furqon.
“sekarang aku hanya menunggu berapa hari lagi atas hidupku. Tidak, mungkin hanya beberapa jam lagi atau bahkan beberapa detik lagi. Sepertinya kita tidak dapat bertemu lagi setelah ini Furqon.” Kata Am.
“apa ini alasanmu selama ini menyembunyikannya?” kata Furqon.
“aku harus pergi, sebelum ada manusia lain yang melihatnya.” Kata Am.
__ADS_1
“tidak, tidak, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu. Maafkan aku.” Kata Furqon.
“tidak apa-apa. Aku harus pergi. Jagalah dirimu baik-baik manusia” Kata Am.
Am berlari sejauh mungkin dari pemukiman. Dia mencari tempat yang tidak ada manusianya sama sekali. Am telah siap jika hidupnya harus selesai saat itu. Karena Furqon telah mengetahui identitasnya. Sedangkan Furqon mengikuti Am dari belakang.
“kenapa kamu mengikutiku?” kata Am.
“aku pernah kehilanganmu satu kali. Tapi sekarang aku tidak ingin kehilanganmu lagi.” kata Furqon.
“tapi hidupku sudah tidak lama lagi Furqon.” Kata Am.
Furqon menggenggam tangan Am sekuat-kuatnya.
“jika memang hidupmu tak lama lagi dan akan berubah jadi abu. Aku tetap harus berada disampingmu.” Kata Furqon.
Berjam-jam tangan mereka berpegangan erat. Tiba-tiba muncullah cahaya kecil dikuku Am. Seperti hal yang terjadi tadi pagi.
‘ting!’
“cahaya apa itu tadi?” Tanya Furqon.
“entahlah aku juga tidak tahu. Tapi ini sudah kedua kalinya ini terjadi.” Kata Am.
“kamu tidak menanyakan pada yang dilangit?” Tanya Furqon.
“sebenarnya waktu itu aku ingin menanyakan hal ini pada sahabatku Amal. Dia berada di kota Permadani. Tapi saat aku perjalanan menuju kota Permadani,,, banyak laki-laki yang mau menculikku. Mereka mengejarku. Hingga kakiku sangat letih.” Kata Am.
“maksudmu tadi pagi?” Tanya Furqon.
“iya, bagaimana kamu tahu.” Kata Am.
“ibu berkata jika kamu pergi untuk menemui sahabatmu. Tapi dia tidak bercerita apa-apa selebihnya itu.” Kata Furqon.
“iya aku memang merahasiakannya. Agar ibu tidak khawatir.” Kata Am.
“sekarang bagaimana keadaanmu?” Tanya Furqon.
“ya.. sudah tidak apa-apa. Mereka gagal menculikku.” Kata Am.
“lain kali, pergilah bersamaku. Jangan sendirian.” Kata Furqon.
Furqon teringat saat Am datang kerumah pertama kalinya, saat Am masih menjadi merpati kaki Am yang tertembak dulu.
“Am, lalu bagaimana kakimu yang pernah tertembak waktu saat kamu menjadi merpati dulu?” Tanya Furqon.
“sudah sembuh, kamu mau lihat?” kata Am.
Dengan membuka roknya dan memperlihatkan bekas peluru itu.
“kabar baik kalau begitu.” Kata Furqon dengan menahan pandangannya.
“ngomong-ngmong, sampai kapan kita harus disini?” Tanya Furqon.
“entahlah, kenapa aku tidak segera menjadi abu ya..? padahal aku kesini agar tidak ada manusia yang melihatnya.” kata Am.
Setelah mendengar perkataan yang dilontarkan Am. Furqon langsung memeluk Am.
“tolong jangan rubah dia menjadi abu. Karena aku sangat menyayanginya Tuhan.” Gumam Furqon.
Lalu dia mengecup kening Am.
Tanpa disadari Am, Cahaya itu muncul lagi dari 2 jari Am. Yaitu jari tengah dan manis.
Mendengar perkataan Furqon yang baru saja terlontar dari mulutnya. Jantung Am berdegup kencang, Nyaman, senang dan bahagia. Lalu Am memeluk Furqon dengan erat. Yang dia fikirkan saat itu. Dia tidak ingin melewatkan kebahagiaannya saat itu. Dan menghilang begitu saja.
Batin Am berkata (rasanya sangat nyaman, apakah ini yang dinamakan cinta?).
__ADS_1