Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 68: Bulan Purnama


__ADS_3


Malam ini adalah malam bulan purnama. Terlihat Lais sedang tidur di sofa rumah milik Am. Sebenarnya Am hendak membuatkan Lais ranjang, namun Lais menolak karena dia tak mau Am mengeluarkan kekuatannya lagi yang membuat menguras energinya. Sedangkan kedua tuyul itu sedang bermain di dalam kamar tanpa suara yang berisik.


Seperti biasa, Am adalah utusan Tuhan. Membuat dirinya tak butuh untuk tidur seperti hal lainnya yang di butuhkan makhluk bumi. Malam itu, dia keluar rumah pergi ke pesisir.


"Kreeeet" bunyi suara pintu terbuka.


Karena pendengaran Lais sangat peka, bunyi pintu yang kecil ini membuat dia bangun dari tidurnya.


Mata itu terbuka sipit setengah dari bola matanya. Menandakan bahwa kantuk itu masih menggodanya namun dia terpaksa bangun karena mendengar suara yang sedikit mencurigakan.


Lais melihat pintu yang baru terbuka itu sekarang sengaja ditutup oleh seseorang. Dia pensaran siapa gerangan yang hendak keluar di seperempat malam demikian?


Karena penasaran, Lais bangun dan keluar melihat siapa yang telah keluar.


Dari kejauhan Lais mendadak menjadi patung melihat pemandangan yang kini dia lihat.


"Gleeek" Lais menelan salivanya.


Di bebatuan pesisir, telah duduk seorang wanita cantik, berkulit mulus, dengan rambut yang lurus. Berpantulan dengan cahaya purnama yang indah. Membuat Lais tak bisa berkutik. Jantungnya rasanya semakin lama semakin tak karuhan. Dia sendiri juga heran, kenapa dengan dirinya saat ini.


Tangan Lais memegang dadanya yang sedang ingin meledak itu. Dia merasa seperti pernah mengalami sebelumnya. Tapi dimana? Dan kapan? Lais tak tahu jawabannya. Padahal jelas-jelas ini adalah yang pertama kali terjadi padanya.


"Kamu sudah bangun?" tanya Am.


Seketika tubuh yang mematung itu gelabakan karena tak mau diketahui oleh Am.


"Iya, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Lais.


"Aku sedang melihat teman-temanku terbang" jawab Am dengan mendongak ke atas melihat para malaikat terbang kembali ke Nabastala.


Lais melihat kearah pandangan yang dituju Am. Namun dia tak melihat apapun di langit. Hanya sebuah bulan yang terlingkar sempurna di sana.


"Temanmu yang mana?" tanya Lais.


"Deg"


Mendengar ucapan Lais membuat Am tersadar. Lais bukanlah Furqon, dia berbeda, kenapa Am menganggapnya Furqon?


"Ha, ha, ha," Am tertawa untuk menyegarkan pikirannya.


"Kamu tahu Lais, semua adalah temanku" jawab Am.


"Maksudmu?" tanya Lais tak mengerti.

__ADS_1


"Pohon, pasir, air, tanah, bahkan bulan juga adalah temanku. Jadi,,, semua adalah temanku Lais" jawab Am.


"Ah, baiklah. Apa aku juga temanmu?" tanya Lais.


"Iya tentu" jawab Am.


Mendengar jawaban dari Am membuat Lais sedikit kecewa. Namun Lais juga sadar jika memang mereka selama ini tak memiliki hubungan yang istimewa.


Am yang terlihat sangat cantik malam itu. Membuat Lais sangat perhatian padanya.


Lais memandang Am, terlihat rambut itu terhempas dengan angin malam. Bersama dengan gaun yang dikenakannya.


"Di sini sangat dingin, kenapa kamu malah memilih menjadi dinding penerima tusukkan angin malam?" kata Lais.


"Apa?" tanya Am tak mengerti maksud Lais.


Melihat ketidakngertiannya Am tidak dijawab oleh Lais. Membuat Am sebal padanya.


"Sepertinya sifatnya yang menyebalkan mulai kambuh" batin Am.


Lais langsung pergi masuk ke rumah. Dia mengambil jaketnya yang ada di kursi. Lalu dia membawanya kembali ke tempat Am. Ternyata Lais hendak memberikan jaketnya kepada Am agar tak merasa kedinginan.


Lais berjongkok di depan Am memasangkan jaket kepada Am yang sedang duduk itu.


Wajah mereka saat itu terlihat sangat dekat. Am memandang Lais, pandangan Am justru membuat Lais salah tingkah, kemudian Lais cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya lalu segera berdiri lagi di samping Am.


"Astaga,, kenapa denganku. Rasanya jantungku benar-benar bermasalah" batin Lais.


"Terimakasih" ucap Am.


"Tak perlu, jika yang duduk orang lain aku juga akan melakukan hal yang sama" jawab Lais.


"Itu bagus" kata Am.


"Cepat masuk, nanti masuk angin jika berlama-lama" kata Lais.


Lais berjalan ke rumah, namun Lais tak masuk. Dia sengaja di depan teras rumah agar dapat melihat Am dari kejauhan. Memastikan Am baik-baik saja. Hal ini lebih baik dibandingkan dia berada di dekat Am namun jantungnya tidak bisa terkondisikan.


"Hm, apa ini Lais? Kamu berubah 180 derajat dari sebelumnya" gumam Am dengan tersenyum.


Am mengerti jika Lais merasa kedinginan, namun dia tetap di luar untuk melihatnya dari teras.


Akhirnya Am masuk ke rumah.


"Katanya dingin, kenapa masih di teras?" tanya Am.

__ADS_1


"Dingin itu tidak masalah, yang terpenting temanku tak dalam bahaya" jawab Lais.


Padahal jelas-jelas Lais telah mengerti tentang kekuatan Am. Tapi Lais masih tetap menganggap Am adalah gadis manusia biasa. Am merasa senang, untuk ratusan tahun baru kali ini ada yang sangat memperhatikannya. Entah Am senang karena ada sosok Furqon di diri Lais. Atau karena Lais yang tidak menyebalkan lagi.


Mereka masuk ke dalam rumah. Lais tidur di sofa seperti awalnya. Dan Am masuk ke kamarnya.


Lais melihat Am masuk ke kamar hingga Am tak terlihat batangnya.


"Sepertinya aku mulai gila" batin Lais.


...****************...


Mentari telah menyambut aktifitas makhluk bumi.


Lais pamit pulang untuk bersekolah. Sebelum dia pergi, tak lupa tatapan tajam itu melihat ke arah 2 lelaki itu yang tinggal serumah dengan Am.


"Am, jika terjadi apa-apa panggil aku" ucap Lais.


Lais tersadar jika Am tak memiliki ponsel, akhirnya Lais berencana membelikannya Am ponsel.


"Ah, aku akan membelikan ponsel untukmu. Agar kamu bisa memanggilku" kata Lais.


"Tidak perlu, kamu jangan khawatir" kata Am.


"Bukankah kita teman? Teman harus saling tolong menolong. Menurutku seperti itu" kata Lais.


Tanpa menunggu jawaban dari Am. Lais terburu-buru pulang agar tidak kesiangan berangkat sekolah.


"Kak Am, sebenarnya apa salah kami? Kami selalu saja dipandang bagaikan penjahat yang tertangkap basah" kata adik tuyul itu.


"Dalam kehidupan manusia, laki-laki dan perempuan yang tinggal serumah tanpa ada ikatan pernikahan. Itu sangat berbahaya. Mungkin karena wujud kalian sebagai 2 lelaki di matanya, membuat dia seperti itu" jawab Am.


"Owh,, begitu" kata adik tuyul itu.


"Hei, bukankah itu juga berlaku dalam kehidupan kita? Memang itu tidak diperbolehkan" kata kakak tuyul itu.


"Benarkah?" kata adik tuyul.


"Iya, hanya saja kamu saja yang belum tahu. Masih dibawah umur" ledek kakak tuyul itu.


"Apa? Kakak saja yang tidak pernah mengajariku" kata adik tuyul itu tak mengerti.


"Sudah, sudah, bukankah waktunya kalian tidur sekarang?" kata Am melerai kedua saudara itu.


"Iya kak Am benar, rasanya aku mengantuk sekali" kata kakak tuyul itu.

__ADS_1


"Berada di tengah-tengah kehidupan manusia seperti ini rasanya sangat seru." kata adik tuyul itu.


Akhirnya mereka tidur saat waktu siang.


__ADS_2