Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 44: Kematian


__ADS_3


Melihat yang terjadi. Am langsung berhenti dari perjalanannya ke tengah dasar laut. Lalu dia langsung kembali menuju ke tepi pantai.


"Furqon" kata Am.


"tidak, Furqon..." kata Am.


zzrrrrrgh


Berubahlah Am yang berwujud air menjadi manusia.


Terlihat Furqon telah tergeletak dengan posisi tertelungkup itu di pasir pantai.


Am tak percaya dengan apa yang dilihatnya waktu itu.


"Furqon tidak, Furqon." kata Am.


Am langsung berlari menghampiri Furqon. Lalu Am membalikkan badannya. Dia mengecek jantungnya dengan meletakkan telinganya ke dadanya. Namun tak terdengar detak jantung sama sekali. Lalu Am memeriksa nadinya.


Tak ada tanda kehidupan sama sekali padanya.


Melihat hal demikian, Am tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.


"Furqon"


"tidak,"


"bangun Furqon. Kenapa kamu mencintaiku Furqon." kata Am dengan menangis tersedu-sedu.


"Furqon. Tolong hiduplah Furqon." kata Am.


"iya, akan aku coba menggunakan kekuatanku." kata Am.


Am mengumpulkan kekuatannya. Hingga angin itu membentuk seperti angin melingkar.


wsssh... wsh... wsh...wshhhh


Lalu dia mengarahkan kekuatannya kepada Furqon seperti yang dia lakukan dulu.


Namun kekuatan itu masuk tapi keluar lagi seperti hal nya angin lewat.


"tidak, tidak mungkin kenapa?" kata Am.


Am mencoba beberapa kali untuk kekuatannya. Namun tak berhasil juga.


"tidak, ini tidak mungkin. Kenapa tidak bisa?" kata Am.


Amaltheia melihat demikian. Akhirnya dia menampakkan wujudnya karena tidak tega melihat sahabatnya.


"Am, sudah cukup Am. Furqon telah meninggal, berapa kali pun kamu memberikan kekuatanmu. Dia tidak dapat tertolong." kata Amaltheia.


"Amal tapi kenapa Amal, bukan ini yang aku inginkan. Cukup aku saja yang lenyap jangan Furqon. Bagaimana dengan ibu Furqon?. Apa yang harus aku katakan padanya?" kata Am dengan menangis tersedu-sedu.


"Am, ini adalah takdirnya. Aku tidak tahu seperti apa rasa kekeluargaan manusia. Tapi... bagaimana pun kita adalah malaikat. Yang diciptakan untuk menjadi tangan Tuhan. Bukan untuk melanggar perintah-Nya." kata Amaltheia.


Am langsung terdiam dan membeku. Karena yang dikatakan Amal memang benar. Tapi Am juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri.


"Am, mari kita bawa jasad Furqon kembali ke rumah." kata Amaltheia.


"tolong bawakan Amal, aku tidak sanggup melakukannya." kata Am.


"karena tak ada manusia di kegelapan ini. Dan tak merubah takdir seseorang. Aku akan membawanya Am." kata Amal.


Malaikat Amaltheia mengangkat jasad Furqon dengan kekuatannya.

__ADS_1


"wrrruuuuuzh...."


Jasad Furqon terangkat lalu Amaltheia memindahkannya ke teras depan rumah.


Kemudian dia kembali kepada Am yang sedang membeku di pinggir laut itu.


"Am, tidakkah kamu pulang?" tanya Amaltheia.


Am tetap membeku dan tak bersuara satu kata pun.


"Am, kamu mendengarku?" kata Amaltheia.


"Amfitrite." panggil Amaltheia.


Am tetap diam dan membeku.


"ini sudah takdirnya Am. Kamu harus menerimanya dengan lapang. Memang, terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan keinginan hati kita. Jadi..." kata Amaltheia.


"tapi kenapa Amal, kenapa saat kami saling mencintai ditingkat yang tinggi. Kenapa harus seperti ini?" kata Am.


"mungkin karena kamu kuat Am. Tuhan memberimu rasa ini. Percayalah semua yang terjadi pasti yang terbaik." kata Amaltheia.


Beberapa menit Amaltheia menemani sahabatnya yang sedang sedih itu. Hingga matahari menampakkan wajahnya dari ufuk barat.


"Am, kapan kamu akan tetap disini?" kata Amaltheia.


"entahlah." jawab Am.


"cepatlah pulang. Berpura-pura lah tidak tahu jika ibu bertanya. Dan pulanglah masuk ke kamar." kata Amaltheia.


"cepat Am, sebelum terlambat." kata Amlatheia.


Am memikirkan apa yang dikatakan Amaltheia memang benar. Akhirnya dengan rasa yang berat, Am kembali dalam wujud angin. Lalu dia masuk ke kamar. Seperti apa yang dikatakan sahabatnya Amaltheia.


"Ajudan, tugasku telah selesai. Sekarang aku dapat meneruskan tugasku." kata Amaltheia.


"benarkah? bagaimana akhirnya Am? apa yang terjadi?" tanya Ajudan.


"manusia itu telah meninggal." kata Amaltheia.


"bagus. Jadi Tuan tidak khawatir lagi tentang keseimbangan bumi ini." kata Ajudan.


"ini laporan untuk semalam yang telah aku catat." kata Ajudan menyerahkan laporan ke Amaltheia.


"terimakasih Ajudan." kata Amaltheia.


"saya permisi." kata Ajudan pamit.


"memang ini demi keseimbangan, tapi kenapa hatiku merasa tak nyaman?" batin Amaltheia.


Setelah menyerahkan laporan tugas Amaltheia, Ajudan kembali ke Nabastala.


Tak seperti malaikat, malaikat dapat ke Nabastala jika gerbang dibuka saat bulan purnama. Namun bagi rei, dia diberikan kunci khusus untuk dapat membuka atau menutup gerbang Nabastala di waktu kapanpun.


Setelah Am masuk dengan segala hati sedihnya. Terdengar teriakan dari luar. Lebih tepatnya suara ibu Furqon.


"astagfirulloh,, Furqon... kenapa kamu nak....?" kata ibu Furqon yang tercengang melihat Furqon tergeletak di teras rumah.


🔊🔊🔊🔊🔊


"bapak... bapak." panggil ibu Furqon.


Mendengar ada panggilan bapak Furqon keluar menghampiri suara itu berasal.


"ada apa? kenapa Furqon?" tanya bapak Furqon.

__ADS_1


"tidak tahu pak, tadi saat ibu hendak keluar rumah, Furqon sudah disini." kata ibu Furqon.


Kemudian bapak Furqon memeriksa keadaan Furqon.


"ibuk,, kenapa Furqon tidak bernafas?" kata bapak Furqon tak percaya.


"tidak mungkin pak, apa maksud bapak?" kata ibu Furqon.


Ibu Furqon ikut mengecek keadaan Furqon untuk memastikan. Tapi memang sudah tidak ada tanda kehidupan padanya.


"tidak, apa yang terjadi? Am, dimana dia?" kata ibu Furqon.


🔊🔊🔊🔊🔊


"Am, Am." panggil ibu Furqon.


"glllek"


Am menelan Saliva nya. Dia tak tahu apa yang harus dia katakan saat itu.


Tak ada kemunculan Am di teras. Ibu Furqon menyusul Am ke kamarnya.


"Am, apakah kamu tahu apa yang terjadi dengan Furqon?" tanya ibu Furqon.


"a..aku Furqon, apa yang terjadi ibu?" tanya Am.


"sini nak, lihatlah!" kata ibu Furqon dengan memegang tangan Am dan menariknya ke depan teras.


"apa Furqon tak berbicara apapun padamu?" tanya ibu Furqon.


"tttadi malam, Furqon tidur di sofa. Itu saja yang aku tahu ibu." jawab Am.


"astaga,,, ini tidak mungkin. Kenapa tiba-tiba Furqon...." kata ibu Furqon dengan menangis tersedu-sedu melihat anaknya telah meninggal.


Melihat ibu Furqon yang sangat sedih itu membuat Am memalingkan wajahnya dan menangis. Dia tak tahan dengan apa yang dirasakan oleh ibu Furqon.


"ibu maafkan aku. Maafkan aku ibu." batin Am.


"tidak, tidak, pasti ini salah. Tak mungkin Furqon meninggalkan pak. Coba bapak panggilkan dokter pak." kata ibu Furqon.


"ibu, sudah. Kita harus menerimanya." kata Bapak Furqon.


"ibu bilang panggilkan dokter pak. Panggilkan dokter untuk memeriksa Furqon." kata ibu Furqon Frustasi.


"ibu, sudah ibu." kata Am dengan memeluk ibu Furqon yang sedang menangis tersedu-sedu.


"bahkan dia belum menikah denganmu nak. Kenapa tiba-tiba sekali dan semua ini seperti mimpi." kata ibu Furqon.


"iya ibu, kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Mungkin ini adalah takdirnya ibu. Ibu harus kuat." kata Am dengan mengelus-elus punggung ibu Furqon yang berada di pelukannya.


"kita panggil polisi saja ya ibu. Mungkin saja ini adalah pembunuhan." kata bapak Furqon.


Kemudian bapak memanggil polisi agar lebih diselidiki tentang kematian anaknya.


"hwwhw, hhww, hhwhwh"


Tangis seorang ibu yang ditinggal pergi oleh anaknya.


...----------------...


Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.


Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.


Terimakasih... 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2