
“aku akan selalu ada untukmu.” Kata Furqon.
Furqon menggandeng tangan Am dengan berjalan bersama.
Setelah mereka sampai di rumah tiba-tiba hujan deras menyerang bumi. Badai dan petir berdatangan bersamaan malam itu. Sedangkan Am memikirkan sahabatnya Amaltheia yang sedang terbang menuju kota Permadani.
“ah, untunglah kita telah sampai di rumah. ayo masuk!” kata Furqon.
“Am” panggil Furqon.
“Furqon, aku khawatir dengan Amaltheia. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?” kata Am.
“dia pasti baik-baik saja. Dia kan malaikat pasti dia dapat melakukan semuanya.” Kata Furqon.
“tapi Furqon.” Kata Am.
(aku tidak boleh cerita terlalu terbuka pada Furqon. Bagaimanapun dia tetap manusia.) batin Am.
“ayo masuk.” Kata Furqon.
“baiklah.” Kata Am.
Mereka masuk ke rumah dan beristirahat. Saat Furqon akan tertidur. Dia merasa jika kakinya sedikit lemas.
“sepertinya kakiku kelelahan.” Gumam Furqon.
*****
🦅🦅🦅🦅🦅
Amaltheia terbang masih sampai di tengah perjalanan menuju kota. Hujan lebat itu tiba-tiba turun dan menembaki Amaltheia. Karena Amaltheia masih dalam masa hukuman, tentu hujan itu terasa menyakiti badannya. Akhirnya dia berteduh di salah satu pohon di hutan. Namun tak menyangka petir itu menyambar pohon itu. Kemudian Amaltheia terjebak oleh pohon dimana tempat dia berteduh. Disana tak ada malaikatpun yang lain. Sedangkan manusia tak dapat melihatnya.
“tolong.. ini sakit. Siapapun tolong aku!” Teriak Amaltheia.
Akhirnya Amaltheia sempat memanggil Am dengan kekuatan batin. Namun, Am telah tertidur saat itu, karena semalaman dia terjaga. Sedangkan jarak mereka terlalu jauh. Akhirnya kekuatan signal Amaltheia yang datang juga menipis.
“tolong aku.. ini sakit sekali.” Rintih Amalheia.
Karena Amaltheia menahan sakit terlalu lama, akhirnya dia tak sadarkan diri dengan tindihan pohon tersebut.
‘gluduk…gluduk.... gluduk!!!!’
Langit itu bergemuruh sangat keras. Sehingga membangunkan Am yang sedang tertidur. Setelah Am bangun dari tidurnya. Dia merasakan sedikit sisa signal Amal yang diberikan padanya. Namun signal itu tidak jelas bagi Am.
“Amal, dia mengirimkan pesan? Ada apa? Ini pasti ada sesuatu. Aku harus menemukannya sekarang.” Gumam Am.
Sebelum Am berangkat mencarinya. Dia menggunakan kekuatan penglihatannya dari jauh. Namun Am tidak menemukan keberadaan Amal. Dia mencoba lagi beberapa lagi. Dia tetap tidak dapat melihatnya. Kemungkinan ini dikarenakan terlalu jauh jarak antara mereka.
Akhirnya Am langsung terbangun dan keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Saat dia menutup pintu depan rumah. Furqon terbangun karena mendengar pintu itu menutup keras. Dan Furqon melihat Am terburu-buru keluar rumah.
‘ceklek’
(Am, akan kemana dia hujan deras seperti ini?) batin Furqon.
__ADS_1
Melihat hal itu Furqon langsung mengikuti Am yang sedang berlari. Dia memanggil Am beberapa kali. Namun tak ada jawaban sama sekali dari Am.
Am sangat khawatir terjadi apa-apa pada sahabatnya Amal. Walau hujan waktu itu sangat deras, dia tetap mencari Amal dengan berlari menuju kota Permadani. Sudah sampai ditengah perjalanan, Am mencoba kembali melihat keberadaan Amal dengan kekuatannya. Dalam penglihatan Am kali ini dia dapat melihat keberadaan Amal yang sedang tertimbun pohon tanpa kesadaran. Melihat keadaan sahabatnya seperti itu, Am langsung menuju keberadaannya.
Am melewati pepohonan hutan itu. Beberapa menit Am melihatnya.
“astaga Amal, bertahanlah. Bagaimana ini? Baiklah akan aku coba menggunakan kekuatanku.” Kata Am.
Dia mengerahkan segala kekuatannya namun karena pohon terlalu besar Am tidak dapat mengangkatnya. Akhirnya Furqon muncul dan membantu Am mengangkat pohon tersebut..
“mari bersama-sama. Kita hanya perlu mengangkat sedikit dan menggeser pohonnya agar dia tidak tertimbun.” Kata Furqon.
“baiklah.” Kata Am.
Furqon mengangkat pohon dengan seluruh kekuatannya. Begitu pula Am. Akhirnya mereka bekerja sama dan berhasil.
“Amaltheia, sadarlah. Amal.” Kata Am.
Karena keadaan Amaltheia sangat parah waktu itu. Akhirnya Am menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkannya.
“walau kekuatanku belum kembali sepenuhnya. Aku akan menyembuhkanmu dengan segenap kekuatanku yang aku punya saat ini Amaltheia.” Kata Am.
‘czzzzh’
Luka Amal sedikit demi sedikit sembuh dari dalam dengan kekuatan Am.
‘hozh hozh hozh hozh’
Nafas Am sangat ngos-ngosan seperti orang yang selesai berlari sangat cepat. Melihat keadaan Am Furqon tau jika Am sedang memaksa dirinya sendiri.
“cukup Am". Jangan paksa dirimu lagi. Lihat lukanya telah membaik. Kamu telah berusaha dengan keras.” Kata Furqon.
Akhirnya Am dan Furqon membawa Amaltheia yang saat itu berbentuk elang.
Mereka pulang dengan terburu-buru. Walau keadaan Am saat itu telah lemah tapi itu tak menghentikan niatnya.
Sesampai di rumah, Am meletakkan Amal di ranjangnya. Sedangkan para malaikat di kota Permadani heboh. Karena tugas Amal yang seharusnya dikerjakan tapi tak ada penyelesaian.
“dimana malaikat Amaltheia? Ini sudah waktu manusia bangun tapi dia tidak terlihat sama sekali.” Kata salah satu malaikat disana.
(pasti mereka semua, mencarinya. Aku harus memberi signal pada salah satu mereka.)
Kebetulan Althaia sedang terbang di pemukiman dekat desa tempat dimana Furqon tinggal.
‘Althaia, kemarilah. Ada sesuatu yang harus aku jelaskan.’ Signal batin Am kepada Althaia.
Mendengar signal Am. Althaia cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan pergi ke tempat Am berada.
“ada apa kamu memanggilku?” Tanya Althaia.
“astaga malaikat Amal, apa yang telah terjadi?” kata Althaia.
“dia tertimbun pohon besar di hutan. karena dia masih dalam masa hukuman, jadi dia tidak memiliki kekuatan penyembuh.” Kata Am.
“walau memang luka ini belum sembuh sempurna. tapi luka ini hampir sembuh. Siapa yang menyembuhkannya?” Tanya Althaia.
__ADS_1
“saya hanya menolongnya semampuku.” Kata Am.
“kamu? Jadi kekuatanmu mulai kembali Am?” Tanya Althaia.
Beberapa menit kemudian Amal tersadar.
“dimana ini?” Tanya Amal kebingungan.
“kamu berada di rumah Furqon Amal.” Kata Am.
“Am, bukankah aku tertimbun phon hingga sakit tapi kenapa lukaku hampir sembuh?” kata Amal.
“Am lah yang menyembuhkanmu.” Kata Althaia.
“aku hanya menyembuhkannya semampuku Amal.” Kata Am.
“Am, kenapa kamu melakukannya? Bagaimana jika Tuan semakin marah kepadamu? Kamu cukup menolongku saja Am. Jangan menyembuhkanku.” Kata Amal.
“tidak, ini adalah tugasku. Yang terpenting kamu lekas sembuh Amal.” Kata Am.
“Am, terimakasih tapi..” kata Amal.
“sudah jangan dipikirkan. Pikirkan dirimu sekarang dan tugasmu.” Kata Am.
Melihat kedua sahabat ini yang tulus Althaia merasa ada sebuah rasa nyaman yang tak ternilai, saling menolong satu sama lain tanpa mempedulikan resikonya.
“Amal, kamu tak apa istirahat terlenih dahulu disini. Aku akan menggantikan tugasmu disana beberapa waktu kedepan.” Kata Althaia.
“maaf merepotkan, tapi terimakasih.” Kata Amal.
“jangan berterimakasih. Cepatlah sembuh, itu akan aku anggap terimakasihmu. Aku harus segera pergi. Am.” Kata Althaia.
“baiklah.” Kata Amal dan Am.
Althaia pergi ke kota dengan dua tugasnya saat itu. Sebelum itu dia menjelaskan kepada malaikat lain tentang apa yang telah terjadi. Kabar itu pun menyebar ke seluruh malaikat yang bertugas disekiatrnya.
“hei, Dorit. Kamu tidak menjenguk Amaltheia?” kata malaikat Anastasia.
“apa yang terjadi?” Tanya Dorit.
“kamu belum mendengar kabarnya?. Dia telah tertimbun pohon besar dan itu membuatnya luka hingga tak sadarkan diri.” Kata Anastasia.
“apa? Lalu dimana dia sekarang?” Tanya Dorit.
“sekarang dia sedang berada di rumah manusia yang dapat melihat kita itu dan bersama Amfitrite. Dan kamu tahu, saat Amaltheia terluka yang menyembuhkannya adalah Amfitrite. Aku akan menjenguknya. Kamu ikut?” kata Anastasia.
“ah, tidak sekarang kamu duluan saja. Ada tugas yang harus aku selesaikan.” Kata Dorit.
“baiklah aku duluan.” Kata Anastasia.
"apa? Yang menyembuhkan Amal adalah Am? Tunggu.. berarti itu pertanda jika Am telah memiliki kekuatan. Dan kekuatan Am kembali? Bukannya seharusnya Am itu lenyap tapi kenapa malah memiliki kekuatan? Aku harus memastikannya terlebih dahulu." batin Dorit.
...----------------...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
__ADS_1
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
Terimakasih... 🤗🤗🤗