Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 6: MENJUAL IKAN


__ADS_3


Terlihat Am hanya memandang makanannya dan menelan ludah.


Melihat gerak geriknya Am, Furqon peka jika Am malu dilihatnya.


Memang, Am tidak memiliki nafsu lapar dan dahaga, tetapi Am juga dapat memakan makanan yang terasa enak dilidahnya. Tanpa makanpun Am tidak lapar, tapi jika ada yang memberikan sesuatu padanya, Am tidak pernah menolak.


Melihat Am demikian, Furqon meninggalkan Am sendiri di Meja makan. Agar dia merasa bebas memakan makanan yang ada.


Beberapa saat kemudian,,,,


Terlihat Furqon sudah tidak lagi dijangkauan mata Am, melihat tak ada orang di sekitarnya. Dia langsung memakan makanan di depannya dengan nikmat. Setelah beberapa menit kemudian, Am telah menghabiskan 1 piring kecil berisi nasi jagung.


Tiba-tiba Ibu Furqon datang. Dia melihat seekor merpati yang sedang di meja. Ibu Furqon melihati merpati yang berada dimeja itu. Dengan berpikir


“Merpati ini tidak mengoyak makanannya, dan dia tidak membuang kotoran di sembarang tempat, pintar sekali dia, ah! mungkin karena kakinya yang masih sakit tertembak pistol” gumam ibuk.


“kenapa buk?” dengan terburu-buru Furqon menghampiri ibunya yang sedang mengamati Am.


“tidak apa-apa, Ibu cuma berfikir dia itu merpati yang pintar. Lihat dia tidak membuang kotoran sembarangan dan tidak mengoyak makanannya. Kamu benar nak, dia memang istimewa. Cepat carikan dia pasangan nak,” kata Ibu


Ibu Furqon terlihat tidak sabar untuk mendukung anaknya membreading seekor Merpati.


“Iya buk, setelah kaki merpati ini sembuh nanti akan aku carikan pasangan untuknya!” Jawab Furqon lembut.


Dengan hati-hati Furqon mengangkat Am, kemudian mengembalikannya ke tempat semula. Yaitu kamar Furqon.


“Hei manusia, Terimakasih!” Kata Am dengan agak malu mengutarakan rasa terimakasihnya kepada Furqon.


“Tidak perlu berterimakasih, apa yang aku lakukan ini tidak sebanding dengan pengorbananmu padaku, jangan sungkan ya?” Jawab Furqon.


“Aku akan pergi dulu, kamu di sini sendiri tidak masalah kan?” Tanya Furqon.


“Tidak masalah, lagi pula aku tidak akan mati jika di sini sendirian.” Jawab Am.


“Baiklah aku pergi dulu, Assallamu’alaikum!” kata Furqon dengan mengambil sebuah tas kecil, dan memakai blangkon di kepala yang merupakan ciri khasnya.


Seperti biasanya, Karena Furqon adalah seorang nelayan. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di laut. Furqon selalu pergi berlayar setelah makan malam. Dan keesokan harinya dia menjual ikan yang telah dia tangkap saat malam.


Malam ini Furqon mulai berlayar pukul jam 20.00 WIB. Dengan perjalanannya menuju tengah laut membutuhkan waktu 1 jam. Setelah sampai di tengah laut, Furqon mulai beraksi untuk menjaring ikan di laut. Dan dia akan pulang setelah mendapatkan ikan yang cukup.


Sementara Am, sekarang dia memaksimalkan istirahatnya agar kakinya lekas pulih.


Matahari mulai menyingsing bumi. Furqon pulang dengan membawa ikan sebanyak 1 box sterofoam berukuran 75 cmX42 cmX32 cm. Dengan menggunakan 1 sepeda dan box yg sedang dililiti tali dibelakangnya, dia mengayuh sepeda menuju rumah. Sebelum itu, tentu dia telah melaksanakan sholat subuh di tepi pantai.


Setelah sampai di rumah, Furqon masuk ke kamar dan melihat Am sedang tertidur.


“katanya malaikat tapi kenapa dia tertidur?’ gumam Furqon.


“Dia kelelahan Furqon, biarkan dia beristirahat” kata malaikat lainnya yang saat itu sedang berbentuk embun.


“Bagaimana dengan engkau wahai malaikat? Apakah engkau juga memiliki rasa lelah seperti demikian?” Tanya Furqon pada Malaikat embun itu.


“Tidak, aku tidak punya lelah, nafsu dan lapar” jawab malaikat itu.


“lalu kenapa temanmu ini engkau bilang kelelahan?” Tanya furqon.

__ADS_1


Mendengar perbincangan mereka, Am bangun dari tidurnya dan langsung menjawab pertanyaan Furqon.


“Aku kelelahan karena kekuatanku telah habis, jadi Tuan kami mencabut atas ku untuk hal-hal yang seharusnya dimiliki malaikat” jawab Am.


"ah iya-iya baiklah. Kalau begitu aku tidur dulu. Capek sekali dari laut." kata Furqon.


Furqon membaringkan badannya ke ranjang.


“Am, Kamu yang sabar ya. Kamu tahu? Amaltheia sangat khawatir padamu dan selalu menyanyakanmu saat aku bertemu dengannya. Aku sangat bahagia kita dapat bertemu disini Am.” Kata Althaia.


“Iya, Insya Allah semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya, dimana Amaltheia sekarang?” Tanya Am.


“Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya di pinggir kota permadani” jawab Althaia.


“Aku sangat rindu padanya, tetapi kakiku sekarang masih dalam keadaan sakit, jadi aku masih belum bisa terbang jauh untuk menemuinya.” Kata Am.


“Kamu tenang saja, apa gunanya aku disini?, aku akan menyampaikan salam mu padanya.” Kata Althaia.


“Termakasih Al, semoga Allah selalu melindungimu!” kata Am.


Melihat kedua malaikat itu saling berbincang. Tak sengaja Furqon mendengar semuanya. Tetapi Furqon berpura-pura terbaring tidur.


“Para malaikat memang memiliki hati yang penyayang, tenang, suka menolong, dan tidak saling membenci, mereka bersih dari pikiran-pikiran kotor. Benar-benar tauladan.” pikir Furqon.


Karena 10 tahun ini Furqon dapat mendengar dan melihat malaikat, tak jarang dia berteman dengan mereka. Dan mencontoh apa yang baik dari mereka. Tak heran orang yang ada disekitar Furqon selalu menilai dirinya orang yang tauladan, baik dan tidak pernah berbohong.


“Am, saya pamit undur diri ya…, sekalian akan mencari amal agar kerinduanmu segera terobati.” Kata Althaia.


“Terimakasih Altheia” jawab Am.


“Baiklah, Wa’alaikumussalam” jawab Furqon pasrah karena pura-puranya tidak dapat ditutupi.


...****************...


Hari ini pukul 14.00 WIB, Furqon akan pergi ke pasar ikan. Sebelum itu, dia membagi hasil ikannya untuk keperluan makan di rumah. Dan sisanya dibawa ke pasar ikan. Seperti biasa dia menjual ikan-ikan hasil tangkapannya kemarin malam.


...****************...


Terlihat tempat itu banyak orang berbaris, bersama meja di depan yang ditutupi tumpukan ikan yang telah mati.


Kebetulan Barisan Furqon ada di nomer dua dari depan jalan masuk. Dia menata ikannya di meja serapi mungkin. Jika pasar ramai, Furqon akan pulang agak cepat. Tapi jika sepi dia akan pulang agak larut.


Beberapa jam kemudian....


“Alhamdulillah... dagangan hari ini rumayan laris” dengan tersenyum Furqon membereskan sisa ikan yang belum laku.


Sisa ikan yang belum laku akan ditaruh ke dalam freezer oleh Furqon. Dan akan dijual kembali besok. Asal ikan masih layak jual dan sisa masih banyak, Furqon tidak berlayar di waktu malam.


Furqon pulang dengan membawa uang hasil jualannya hari ini. Seperti biasa, dia akan memberikan sepertiga untuk ibunya. Dan sisanya dia gunakan untuk keperluan dan tabungannya.


Selesai makan, Furqon merawat kaki Am. Kemudian mengambilkan makanan untuknya.


“Kamu ingin makan apa?” Tanya Furqon.


“Aku hanya ingin kakiku cepat sembuh. Karena ini sangatlah menyiksa.” Jawab Am.


“Maafkan bapakku, aku hanya dapat melakukan ini untukmu!.” Kata Furqon saat membalut kaki Am dengan perban.

__ADS_1


“Kenapa kamu meminta maaf? Tak ada yang salah, memang burung sepertiku diciptakan oleh Allah Swt. Untuk mengisi perut para manusia.


Seharusnya mereka bersyukur atas nikmat yang telah disediakan Allah Swt. untuk mereka. Tapi dari kebanyakan mereka ingkar. Dan lupa untuk bersyukur.” Kata Am.


“Hei, aku mendengar saat kamu berbincang dengan temanmu kemarin. Bukankah kamu punya nama? Siapa namamu?” Tanya Furqon.


“Namaku Amfitrite, panggil saja Am.” Jawab Am.


“Aku baru tahu jika malaikat memiliki nama. Sepanjang aku berbincang dengan mereka aku tidak pernah tahu nama-nama mereka. Kamu tidak menanyakan namaku?” Tanya Furqon.


Dengan sedikit gengsi. Am menjawab pertanyaan dari Furqon.


“Aku sudah tau namamu.” Kata Am.


“pffffttt… “ melihat gerak gerik Am yang melihat kesegala arah membuat Furqon ingin tertawa.


“Kenapa kamu tertawa manusia?” kata Am.


“tidak-tidak.Apa kamu tahu? kamu itu benar-benar menggemaskan Am.” Kata Furqon dengan meledek.


Tiba-tiba ad suara ketukan pintu dari luar.


“Tok! Tok! Tok!”


“Furqon, ada seseorang yang mencarimu di depan…. “ seru ibu kepada Furqon. Yang sedang di belakang Pintu kamar Furqon.


“Baik Bu, aku akan segera keluar.” jawab Furqon.


“Sebentar ya Am?” kata Furqon.


Dengan segera dia membuka pintu kamarnya dan menemui tamunya.


Furqon terkenal dengan sikapnya yang bijak dan arif. Tak heran jika banyak orang di sekelilingnya yang menyukai sikapnya.


“Ada gerangan apa yang dapat membawamu kemari buddy?” kata Furqon dengan menjabat tangan sahabat lamanya itu.


“Ah, tidak aku hanya akan menyampaikan ini padamu!” kata Ando dengan menyodorkan sebuah kertas persegi panjang.


“Apa ini? Benarkah? Sahabatku ini?” Kata Furqon tidak percaya melihat apa yang sahabatnya kasihkan.


“Iya, kamu datang ya?” kata Ando dengan penuh harap.


“Tentu saja aku akan datang Buddy.” jawab Furqon.


Dengan merangkul sahabat lamanya yang membawa kabar bahwa dia akan menikah.


Ando adalah teman kecilnya Furqon. Mereka selalu bermain bersama waktu kecil. Karena rumah Furqon dekat dengan hutan dan laut, mereka sering bermain bersama Terutama di pesisir pantai.


Mereka saling berbincang dan mengingat masa kecil mereka. Dan tak terasa salah satu mereka akan menikah dengan seorang wanita.


...----------------...


Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.


Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.


Terimakasih...🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2