
Setelah beberapa perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Andira.
Terlihat rumah yang tertutup gerbang di pojok jalan.
Andira membuka gerbangnya kemudian mengetuk pintu rumah depan.
"Ini rumahmu An?" tanya Am.
"Iya, jangan sungkan ya kak Am" kata Andira.
"Tunggu... Bukankah ini rumah laki-laki kembarannya Furqon itu?" batin Am.
"Assallamu'alaikum ibu, saya pulang" kata Andira.
"Wa'alaikumussalam" jawab ibu Andira.
Beberapa menit kemudian, ada ketukan langkah kaki terdengar menghampiri pintu depan. Lalu seseorang membukakan pintunya.
"Cekleeek"
"Kenapa jam segini baru pulang dari mana sa.... ja kamu?" tanya ibu seketika berhenti melihat keberadaan Am di sebelah kanan Andira.
"Astaga, kenapa kamu tidak bilang jika membawa teman?" kata ibu Andira.
"Silahkan masuk nak" perintah ibu Andira.
"Iya terimakasih" kata Am.
Setelah Am duduk, Andira masuk untuk meletakkan tas terlebih dahulu. Sedangkan ibu Andira mengikuti langkah Andira dan menyusul Andira.
"Dir, siapa namanya?" tanya ibu Andira.
"Namanya kak Amfitrite bu, kenapa? " jawab Andira.
"Wajahnya cantik sekali, kulitnya juga sangat bersih dan bersinar ibu tidak pernah melihat gadis secantik dia nak" kata ibu.
"Tentu saja, kak Am itu istimewa bu" kata Andira.
"Ibu mau jika temanmu jadi menantu ibu" kata ibu.
"Maksud ibu dengan kakak?" tanya Andira.
Ibu Andira mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Ha, ha, ha, ya kalau kak Am mau sama kakak, kakak itu cueknya sama perempuan minta ampun bagaimana kak Am betah? Selain cuek jahat lagi nggak mau peduli" kata Andira.
"Hei, walau kakakmu seperti itu, dia sangat sayang sama ibu" kata ibu Andira.
"Baiklah memang kakak adalah anak kesayangan ibu" kata Andira cetus dengan masuk ke kamar dan menutup pintu sedikit keras.
"Ah dasar anak satu ini sukanya ngiri terus sama kakaknya" gumam ibu Andira.
Ibu Andira pergi ke dapur lalu menyiapkan beberapa cemilan dan minuman.
Andira langsung kembali setelah meletakkan tasnya di kamar ke arah Am dengan wajah sebal.
Saat Andira berjalan akan menghampiri Am, Am melihat ada setan Dassim di sebelahnya yang sedang membisikki Andira.
__ADS_1
"Kenapa dengan wajah itu?" tanya Am pura-pura tak mengerti.
"Uh sebal aku kak, ibuku selalu saja lebih sayang sama kakakku dari pada aku, aku juga mau selalu diperhatikan gitu sama seperti kakak" kata Andira.
"Ibumu seperti itu di depanmu dan di belakang kakakmu bukan?" tanya Am.
"Iya" jawab Andira.
"Bisa jadi ibumu juga seperti itu di depan kakakmu dan di belakangmu Andira" kata Am bertujuan untuk meredakkan emosi Andira.
"Apa seperti itu?" tanya Andira.
"Bisa jadi kan? kamu tidak pernah tahu" kata Am.
"Benar juga sih, nanti aku coba tanya kakak" kata Andira.
Andira dan Am saling tersenyum.
Am melihat setan Dasim berulah lagi untuk mengelabuhi pikiran Andira.
"Tapi mana mungkin ibu seperti itu, pada kenyataannya ibu selalu mengutamakan kakak daripada aku" kata Andira lagi.
"Dasar, para setan memang tidak pernah berhenti ya sebelum mereka berhasil." batin Am.
"Andira, kenapa kamu memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan? Yang terpenting itu kita harus positif thinking ke semuanya termasuk kepada ibumu. Lagi pula dia ibumu pasti seorang ibu melakukan sesuatu yang terbaik untuk anaknya" kata Am.
"Benarkah?" tanya Andira.
"Iya dong tentu" jawab Am.
Melihat setan Dasim tidak akan menyerah, Am memancarkan kekuatannya sedikit padanya sebagai peringatan.
"Apa ini? Dia bukan manusia" kata setan Dasim.
Setan Dasim langsung menjauh karena takut dan mencari manusia lain.
Setelah beberapa menit, ibu Andira membawa beberapa camilan dan minuman. Kemudian dia meletakkannya di meja.
Setelah itu ibu Andira duduk di sofa. Dia penasaran dengan sosok Amfitrite yang berwajah cantik jelita itu.
Mereka bercakap-cakap hingga pukul 20.00 WIB. Setelah bercakap-cakap, Am berpamitan untuk pulang.
"Saya pulang dulu ya ibu" kata Am.
"Iya nak hati-hati, eh tunggu biarkan Lais mengantarmu nak" kata ibu Andira.
Iya, Lais adalah kakak laki-laki Andira.
"Tidak perlu repot-repot bu, saya nggak apa-apa sendiri" kata Am.
"Lais, Lais sini nak!" panggil ibu.
Mendengar ibunya memanggil, Lais langsung bergegas menghampiri panggilan ibunya.
Saat Lais berjalan hampir mendekat ke ibunya, mata Lais langsung melihat kearah Am. Tapi pandangan itu langsung belok kearah ibunya.
" Ada apa ibu? " tanya Lais.
"Antarkan Am ya nak, kasihan perempuan malam-malam pulang sendiri" kata ibu Andira.
__ADS_1
"Baik" jawab Lais.
Lais langsung bergegas keluar untuk mengantarkan Am seperti perintah dari ibunya.
"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu ibu" pamit Am.
......................
"Tek, tek, tek" suara langkah kaki berjalan.
Am berjalan di depan, lalu Lais mengikutinya di belakang. Suasananya hening. Hanya terdengar suara hentakan kaki mereka berjalan.
Terlintas Am mengingat masa ini saat bersama Furqon dahulu. Perasaannya saat itu persis seperti ini, saat dulu Furqon mengantar Am ke rumah palsunya demi merahasiakan identitasnya.
"Sebenarnya kenapa auranya bisa sama seperti Furqon? Siapa dia? Apa yang pernah dia perbuat hingga memiliki aura yang suci ini?" benak Am.
Dengan segala pertanyaan yang berputar di benaknya, Am memutuskan untuk membuka pembicaraan.
"Namamu Lais kan?" tanya Am.
"Ya" jawab Lais.
"Sebenarnya dulu aku pernah bertemu dengan seseorang, dan dia memiliki aura yang sama denganmu" kata Am.
"Aku tahu, kamu bukan manusia biasa" kata Lais.
Mendengar perkataan yang terlontar dari Lais, membuat Am kaget dan tak percaya.
"Bagaimana mungkin dia tahu jika aku adalah Dewi, ini tidak mungkin. Tapi demi keseimbangan aku harus membuatnya mau menutup mulut" batin Am.
"Baiklah jika kamu tahu aku siapa, Aku meminta tolong padamu jangan bilang kepada siapapun. Jika tidak aku akan membunuhmu" ancam Am.
"Pfffft" seketika Lais tertawa mendengar perkataan Am.
"Aku tidak salah dengar? Sepertinya aku takut sekali" jawab Lais.
"Aku tidak bercanda" kata Am.
"Ya tentu, seseorang yang dapat membuat rumah seketika dan menghilangkannya seketika, tidak mustahil baginya untuk dapat membunuhku" kata Lais.
"Kenapa kamu mengingat-ingat hal yang tidak perlu?" kata Am.
"Dan aku bertanya padanya tapi dia malah berlari dan menghilang" tambah Lais.
Karena ini pertama kalinya Lais penasaran tentang seorang perempuan. Jadi menurut Lais peristiwa itu sangatlah berharga dan melekat dalam memorinya.
"Tolong rahasiakan semuanya" kata Am.
"Iya, asal ada syaratnya" jawab Lais.
"Apa maksudmu? Kamu benar-benar ingin aku bun.... ?" kata Am terhenti saat Lais tiba-tiba menarik tangannnya sehingga jarak mereka sekarang sangat dekat.
Saat jarak mereka sangat dekat, tak disengaja Am melihat hati Lais di sana terlihat ada sedikit titik hitam sebesar biji zaroh.
"nuh?" kata Am meneruskan kata-kata yang sempat terhenti tadi. Namun kali ini dia mengucapkan lebih lirih.
"Jika ada titik hitam, berarti dia juga manusia, tapi kenapa dia bisa memiliki aura Furqon?" batin Am.
"Kamu tidak lihat tadi?" kata Lais.
__ADS_1
"Ya aku melihatnya, tunggu,,, bagaimana kamu dapat melihatnya juga?" tanya Am.