Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 87: Memeriksa Keadaan Lais


__ADS_3


Am tak tenang dengan keadaan Lais. Di sepanjang malam hingga fajar menyingsing Am selalu memikirkannya.


Dia tak sabar ingin menjenguk Lais sebagai wujud manusia.


1 jam telah berlalu, akhirnya fajar telah menampakkan wajahnya. Am segera berlari menuji rumah Lais.


...****************...


Ibu Lais terbangun dari tidurnya. Melihat posisi tidurnya di depan pintu kamar Lais membuat dia kebingungan.


"Loh, aku kok bisa tidur di sini?" gumam ibu Lais dengan menoleh kesana kemari.


Ibu Lais mengingat-ingat tentang kejadian tadi malam.


"Tadi malam aku mendengar suara jeritannya Lais. Tapi kok tiba-tiba tertidur aneh? Tunggu,,, apa ada sesuatu yang terjadi pada Lais?" gumam ibu Lais.


"Tok, tok, tok,"


Ibu Lais mengetuk pintu kamar Lais.


"Lais?"


"Lais?" panggil ibu Lais.


Karena tak ada jawaban, akhirnya sang ibu membuka pintunya. Kebetulan pintu kamarnya tak dikunci.


Kemudian ibu Lais masuk kedalam. Melihat anaknya jam segitu belum bangun tak seperti biasanya, ini jadi tanda tanya bagi ibunya.


Lais terlihat masih berbaring di ranjangnya seperti sangat nyenyak.


Ibu membangunkan Lais. Takut nanti dia kesiangan untuk berangkat ke sekolah.


"Lais? Bangun nak! Sudah hampir siang" kata Ibu Lais.


Namun Lais tak merespon sama sekali.


Ibu Lais berfikir mungkin dia sedang kecapean. Akhirnya ibu Lais langsung menuju dapur dan membuatkan sarapan.


Waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Andira telah siap memakai seragam dan sarapan.


"Ibu? Dimana kakak? Apa sudah berangkat?" tanya Andira.


"Kayaknya belum, ibu masih belum melihatmya keluar dari kamar." jawab ibu Lais.


"Sebentar, coba ibu periksa dulu!" kata ibu Lais dengan berjalan menuju ke kamar Lais.


"Lais,,,"


Panggilan itu tetap tidak membangunkan Lais. Melihat anaknya yang tak ada respon membuat ibu Lais khawatir.


Ibu Lais memberitahukan kepada ayah Lais tentang kondisinya.


"Ayah, Lais kenapa yah?" kata ibu Lais.


"Ada apa denganya ibu?" tanya ayah Lais.


"Itu, dia daritadi ibu bangunkan tidak bangun-bangun yah. Tidak seperti biasanya dia seperti itu" kata ibu Lais.


Mendengar kabar itu akhirnya ayah Lais memeriksa keadaannya.


Ayah Lais mencoba membangunkan Lais tapi juga tidak ada jawaban.


"Badannya tidak panas, dia juga bernafas. Apa yang telah terjadi?" kata ayah Lais.


"Ibu juga tidak tahu yah, tadi malam ibu mendengar jeritan suara Lais. Tapi ibu juga tidak tahu yang terjadi, saat ibu hendak masuk kamar, tiba-tiba ibu tertidur di depan pintu kamarnya" kata Ibu Lais.

__ADS_1


"Coba kita panggil dokter untuk memeriksanya" kata ayah Lais.


Ibu Lais segera mengambil ponselnya di kamar. Dan dia langsung menghubungi dokter kepercayaannya.


Andira yang melihat situasi sangat khawatir kepada kakaknya. Memang kadang mereka saling bertengkar tapi, jika ada salah satu dari mereka terkena musibah pasti mereka sangat peduli.


"Halo dok! Bisakah dokter datang dan memeriksa putraku?" kata ibu Lais sembari memegang ponselnya di dekat telinga.


"Bisa, hanya saja mungkin jam 10 nanti saya tidak ada jadwal dan kesana!" kata Dokter.


"Tidak bisakah sekarang? Putraku tak bergerak dari tadi" kata Ibu Lais.


"Biarkan perawatku yang kesana dahulu melihat kondisinya. Jika putra ibu sedang darurat. Saya akan segera kesana" kata dokter itu.


"Baik dokter. Terimakasih" ucap Ibu Lais.


"Tiiiit!" Telvon itu ditutupnya.


Semua orang duduk di ruang keluarga. Selain ibu, ibu Lais sedang duduk di samping Lais.


Mereka semua masih menunggu kedatangan pihak kesehatan yang telah dihubungi.


Tak lama, ada seseorang yang mengetuk pintu ruang tamu.


"Tok, tok, tok!"


Melihat jeda waktu dengan menelevon tadi tentu ini terlalu cepat.


Andira segera membukakan pintu.


Ternyata di balik pintu itu adalah Am.


"Kak Am?" kata Andira.


"Dir, boleh saya bertemu kakakmu?" kata Am.


"Kakakku sedang tak sadarkan diri di kamarnya kak Am" kata Andira.


"Dir, apakah sudah datang?" tanya ibu Lais.


Ibu Andira melihat yang datang ternyata bukan perawat melainkan Am.


"Owh, Kamu nak, ada apa?" tanya ibu Andira.


"Saya ke sini ingin bertemu dengan Lais" kata Am.


"Sepertinya tidak bisa hari ini Am. Dia,,, sedang sakit" kata ibu Andira.


"Sakit? Kalau begitu aku ingin menjenguknya ibu" kata Am berlagak tidak mengetahuinya.


"Baiklah, masuklah!" kata ibu Lais mempersilahkan Am masuk ke kamar Lais.


Saat mereka akan berjalan ke dalam perawat itu datang.


"Permisi!" kata perawat.


Ibu Lais kembali ke depan dan mempersilahkan dia masuk.


Sebelum Am mendekat ke Lais, Perawat itu memeriksa keadaan Lais terlebih dahulu.


Perawat itu mengecek nadi, jantung, dan suhu badan.


Dan hasilnya semua normal. Tak ada masalah apapun pada Lais.


Tapi pertanyaannya, kenapa dia tak bangun dari tadi?


Ibu Lais khawatir dan bertanya-tanya dari tadi.

__ADS_1


"Sepertinya dia sedang kelelahan, dan masih pingsan" kata Perawat itu.


Mendengar kondisi anaknya baik-baik saja ibu Lais merasa lega.


Perawat itu hanya memasangkan infus pada pergelangan tangan Lais. Agar Lais tak merasa lapar walau tanpa kemasukan makanan.


Setelah perawat itu menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya perawat itu pulang.


Am masih di sana.


Ayah Lais lanjut untuk berangkat kerja. Andira terlanjur izin pada gurunya jadi dia di rumah menemani ibu dan kakaknya.


Suasana di sana Hening. Ibu Lais duduk di sofa ruang keluarga bersama adiknya.


Sekarang Am yang duduk di sebelah Lais. Dan melihat kondisinya.


"Syukurlah! Setidaknya kamu telah membaik" gumam Am.


"Karena tugasku telah selesai, sekarang aku bisa pulang" gumam Am dengan tersenyum.


Mendengar suara Am membuat Lais cepat sadar.


Saat Am akan beranjak pergi, tiba-tiba Lais meraih tangan Am.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Lais.


Am kaget, dengan suara yang tak asing dia dengar itu.


"Lais, kamu telah sadar" kata Am.


Am akan memanggil ibu dan Andira. Tapi Lais mencegahnya.


"Ib,,,," kata Am terhenti saat salah satu jari Lais berada di mulutnya.


"Syyyuuuuuuuttt"


Lais menarik tangan Am lalu memeluknya.


Dengan tangan satunya yang membelai rambut Am.


"Sudah lama sekali ya? Pasti selama ini kamu sangat menderita" gumam Lais.


"Apa maksudmu?" tanya Am.


"Maaf, selama ini aku tak mengenalimu" kata Lais.


"Lais, ada apa?" tanya Am kebingungan.


"Aku sudah mengingat semuanya Am. Berkat kekuatanmu yang tadi malam kamu alirkan pada tubuhku. Aku dapat mengingat semuanya" kata Lais.


"Apa? Benarkah Lais? Maksudmu ingatanmu saat menjadi Furqon? Benarkah?" tanya Am tak percaya.


Lais menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua tersenyum bahagia dalam pelukan itu.


Lalu Am merasakan aura dari ibu Lais berjalan ke arah sana.


"Lais," kata Am terhenti saat Lais mengucapkan sesuatu yang akan ingin dia ucapkan.


"Ibuku?" tanya Lais dengan langsung melepas pelukan itu.


Entah bagaimana caranya Lais dapat merassakan aura ibunya yang mendekat itu juga.


Lalu mereka segera kembali dan berpura-pura dengan posisi yang normal.


Lais duduk di ranjang. Dan Am duduk di kursi.

__ADS_1


Betapa bahagianya Ibu Lais melihat anaknya sudah sadar.


"Alhamdulillah" kata ibu Lais.


__ADS_2