
Waktu semakin larut. Sudah dua jam sejak mereka berpelukan. Namun masih belum terjadi apa-apa pada diri Am.
“Am, sepertinya waktu semakin malam. Bukankah angin rasanya semakin dingin?” kata Furqon.
Am melepaskan pelukan Furqon dengan malu dan wajah yang memerah.
“ah iya maaf, kamu benar.”
“ini, aneh, kenapa aku tidak berubah menjadi abu? Jelas-jelas aku ingat apa yang telah dikatakan oleh Tuan waktu itu.” Kata Am.
“mungkin Tuan telah mendengar do’a ku. Sehingga dia tidak melenyapkanmu.” Kata Furqon dengan tersenyum.
“tapi itu tidak mungkin, Fur.” Kata Am.
“Am, ayo pulang. Aku tidak ingin melepasmu lagi kali ini.” Kata Furqon.
“Tapi…” kata Am.
Dengan menggandeng tangan Am. Furqon mengajaknya pulang kerumah. Saat di perjalanan mereka saling berbincang satu sama lain.
“Jangan pernah keluar sendirian lagi Am. Itu sangat berbahaya.” Kata Furqon.
“iya. Maafkan aku selalu membuatmu khawatir.” Kata Furqon.
“cahaya tadi itu,,, apa?” Tanya Furqon.
“aku juga tidak tahu Furqon. Ini sudah kedua kalinya terjadi padaku. Kukuku bercahaya tanpa kusadari. Tadinya aku ingin menanyakannya pada Amal. Tapi karena para lelaki itu, jadi aku masih belum bertemu dengannya.” Kata Am.
“aku antar. Itu,, ibu ingin aku mengajarimu naik sepeda. Jadi, mari kita belajar dengan mencari sahabatmu.” Kata Furqon.
“baiklah itu bukan ide yang buruk.” Kata Am dengan tersenyum.
“tapi… apakah bisa sekarang Furqon?” Tanya Am.
“ayolah Am ini sudah jam berapa?” kata Furqon.
“tapi aku tidak tahu kapan aku akan berubah menjadi abu, ketika akan lenyap seketika. setelah kamu mengetahui identitasku.” Kata Am.
“Am, jangan bicara seperti itu. Baiklah besok pagi kita berangkat. Yang terpenting sekarang.. kita pulang dulu. Dan tenangkan pikiranmu dulu.” Kata Furqon.
“baiklah.” Kata Am.
Mereka berjalan menuju rumah. Dipersimpangan jalan bersama bintang-bintang yang bersinar. Furqon mengatakan tentang apa yang dirasakan dihatinya.
“ini hal pertama bagiku Am. Jujur mungkin ini sesuatu yang mustahil antara kita untuk saling jatuh cinta. Tapi entah mengapa, aku mulai nyaman, senang, dan merasa kehilangan jika kamu tidak ada. Seperti sedang jatuh cinta padamu.” Kata Furqon.
‘bluzh…..’
Wajah mereka berdua terlihat memerah. Karena tersipu malu, sepanjang perjalanan saat itu terasa canggung. Hal ini memang pertama kalinya Furqon memulai berkenalan dengan cinta. Begitu juga sebaliknya. Am juga tidak pernah merasakan hal ini saat dia menjadi malaikat dulu. Sehingga membuat keduanya kaku Karena tersipu malu.
(kenapa jadi canggung seperti ini) batin Am.
Akhirnya Am memecahkan kecanggungan mereka berdua.
“em,,, Furqon apa kamu tahu saat aku jadi merpati dulu setiap kali bulan purnama aku selalu menghilang karena apa?” Tanya Am.
__ADS_1
“karena tugas rahasia mungkin?” kata Furqon.
“bukan, bukan itu.” Kata Am.
“katamu dulu kan seperti itu. Tugas yang harus diselesaikan oleh malaikat dan manusia tidak berhak tahu.” Kata Furqon.
“sebenarnya, setiap kali bulan purnama aku selalu berubah menjadi manusia saat itu. Dan saat perubahanku, Tuan tak mengizinkan manusia manapun melihatnya atau mengetahuinya. Jika itu terjadi, aku akan lenyap menjadi abu.” Kata Am.
“jadi selama ini, ,,, itu alasanmu? Astaga dulu aku jengkel sekali padamu karena kamu selalu menghilang sesukamu. Aku tidak tahu jika seperti itu ceritanya. Maafkan aku Am.” Kata Furqon.
“tapi jika di ingat-ingat, kamu mau mengenalkanku pada Am yang merpati dulu ya.” Kata Am.
“ah iya, aku juga pernah marah padamu saat kamu ku kurung di kamar lalu tiba-tiba nona Fi juga berada di kamarku dan kamu saat itu menghilang. Ternyata.. tak kusangka kalian sama. Dan alasan apa yang kamu bilang waktu itu?” kata Furqon.
“merpatimu yang menyeretku kesini.” Kata Am.
“hahaha, astaga aku benar-benar marah waktu itu.” Kata Furqon.
Begitulah, mereka saling berbincang dan bercanda gurau satu sama lain saat perjalanan pulang. Ketakutan Am yang akan lenyap saat itu hilang sekejap.
🚲🚲🚲🚲🚲
Pukul 04.00 WIB Furqon dan Am berangkat menuju kota Permadani. Dengan membawa sepeda Furqon, Am duduk di depan Furqon. Sedangkan Furqon menggayuh sepeda dengan menyetirnya. Wajah mereka berdekatan. Mata mereka saling melirik satu sama lain. Dengan tersenyum malu Am menundukkan wajahnya. Ya.. sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh diantara mereka.
Tepat dipinggir kota, Am memberhentikan perjalanannya.
“Berhenti disini saja Furqon.” Kata Am.
“kenapa? Ada apa?” kata Furqon.
“Furqon, aku tahu kamu sudah terlanjur tahu identitasku. Tapi, untuk kali ini. Bolehkah aku bertemu dengan sahabatku saja? Bagaimanapun kamu juga manusia. Dan tidak seharusnya manusia mengetahui segala hal yang terjadi di dunia. Untuk alasan tertentu Tuhan menutup sebagian mata batin manusia agar manusia tidak menjadi gila. Akan bahaya jika tabir terbuka lalu manusia bisa melihat semuanya. Mereka tidak akan dapat menikmati dunia. Kecuali orang-orang tertentu yang telah mencapai murni. Tabir itu dapat terbuka dengan sendirinya. Karena mereka memang telah mampu.” Kata Am.
“iya tentu.” Kata Am.
“Am.” Panggil Furqon.
Am menoleh kepada Furqon karena merasa terpanggil.
‘cup’
Tiba-tiba Furqon mengecup kening Am. Wajah Am seketika memerah waktu itu. Kemudian dia berlari dengan tersipu malu.
Am sampai disemak-semak tepat dibawah pohon besar. Disitu Am menunggu kedatangan sahabatnya. Karena malaikat akan merasakan kehadiran lainnya dengan jarak kurang lebih 10 meter dari jarak keberadaannya.
Tiba-tiba Am dapat pengilihatan lagi tentang seseorang yang tengah dia cari saat itu. Yaitu Amaltheia.
Terlihat Amaltheia masih mengerjakan tugasnya. Dia sedang merayu manusia yang sedang dipuncak khilaf. Manusia yang sedang bekerja, dia berkuasa atas keuangan instansinya. Melihat uang yang dia pegang. Terbesit ada keinginan dihatinya untuk memasukkannya ke dalam saku. Namun Amaltheia merayunya agar tidak melakukan itu. Akan tetapi hawa nafsu syeitan sedang menyelimuti hatinya. Yang membuat tugas Amal semakin sedikit lama.
“ayolah itu bukan hakmu. Jangan kamu ambil sesuatu yang bukan hakmu!” Bisik Amaltheia.
Merasakan aura sahabatnya datang, Amaltheia tahu jika Am melihatnya saat itu. Amal memberi isyarat batin pada Am.
‘sebentar, aku harus mmenyelesaikan tugasku terlebih dahulu Am.’ Kata Amal.
‘baik.’ Jawab Am.
Dari kejahuan Am dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi kepada Amal dan manusia itu. Namun kali ini durasinya lebih panjang dari sebelumnya.
__ADS_1
Dan hal itu dapat dilakukan oleh Am tanpa sadar.
Setelah Amal membujuk manusia itu agar tidak melakukan dosa. Manusia itu akhirnya tidak melakukannya. Amal pun senang, karena tugasnya berhasil. Sedangkan Syaitan menjadi geram melihat keberhasilan malaikat Amaltheia. Namun memang dari dulu hubungan malaikat dan syaitan selalu tidak akur. Selalu saja seperti itu. Seperti halnya berkompetisi antara kalah dan menang.
Setelah menyelesaikan tugasnya. Amal menghampiri Am sahabatnya yang sedang menunggu dibawah pohon besar itu.
“maaf telah membuatmu menunggu.” Kata Amal.
“ah, tidak apa-apa. Lagi pula aku akan marah jika kamu meninggalkan tugasmu demi menemuiku. Tugas adalah hal yang paling penting di dunia malaikat.” Kata Am.
“ya, kamu benar. Dan kamu tahu? Tadi aku menang.” Kata Amal.
“wah, wah, siapa ini. Dia malaikat yang memenangkan gelombang radiasi negative haha.” Kata Am.
“tentunya malaikat Amaltheia dong hehehe. Am, tadi aku melihatmu dapat menggunakan kekuatan dengan melihatku dari sini. Apa kekuatanmu telah kembali?” Tanya Amal.
“nah, itu alasanku ingin bertemu denganmu Amal. Aku ingin menanyakan hal ini.” Kata Am.
“beberapa hari ini ada sesuatu yang aneh terjadi padaku. Kamu tahu? Jari kuku ku bercahaya dengan sendirinya. Dan itu terjadi mulai kemarin. Mulai kemarin juga aku dapat melihat seseorang yang sedang aku cari dari jarak jauh. Dan kamu tahu? Furqon telah tahu siapa aku sebenarnya. Apakah aku akan menjadi abu sebentar lagi Amal?” kata Am.
“banyak sekali yang telah terjadi Am. Tapi kira-kira bagaimana Furqon tahu identitasmu?” Tanya Amal.
“dia,, mengintrogasiku saat aku jadi merpati dulu jadi aku tak sengaja terpancing.” Kata Am.
“tapi Am, jika dia mengintrogasimu pasti dia sudah mengetahui sejak awal jika kamu adalah merpati itu.” Kata Amal.
“entahlah. Sekarang yang aku fikirkan bagaimana setelah ini Amal?” Tanya Am.
“aku akan menanyakannya pada Tuan jika gerbang terbuka.” Kata Amal.
“iya tapi itu sepuluh hari lagi kan?” kata Am.
“kamu tenanglah dulu, kekuatan yang datang tanpa kau sadari itu. Pasti bukan tanda kamu akan menghilang. Jadi tenanglah.” Kata Amal.
“baiklah. Aku minta maaf jika seandainya aku lenyap besok. Aku sungguh minta maaf karena telah merepotkanmu Amal.” Kata Am.
“hei, apa sih yang kamu katakan. Sudahlah anggap aku tidak mendengar apapun.” Kata Amal.
“kenapa begitu? Kenapa tak mendengar apapun. Bagaimana jika besok aku menghilang.” Kata Am.
“diam. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu.” Kata Amal.
Am teringat bahwa Furqon sedang menunggunya.
“baiklah. Ada yang sedang menungguku sekarang. Jadi aku akan pamit.” kata Am.
“Am.” Panggil Amal.
Dengan memeluk Am Amal merasa tidak rela kehilangan sahabatnya secepat itu.
Dipelukan, Amal bicara pada Am
“hati-hati Am. Akan aku tanyakan semua yang perlu ditanyakan kepada Tuan. Sabar ya?.” Kata Amal.
...----------------...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
__ADS_1
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
Terimakasih... 🤗🤗🤗