
"Apa yang kamu katakan Lais? Apakah kamu sudah punya persiapan?" tanya Am.
"Benar, tak terfikirkan olehku" kata Lais.
"Am, aku tak dapat memberimu mahar yang mahal. Tapi apakah kamu mau menerima jika sebuah 1 surah, yaitu QS. Al-fatihah?" kata Lais.
Am berfikir sejenak.
"Tak apa Lais. Surah itu bagiku sangat istimewa" kata Am.
"Terimakasih kamu telah memudahkanku" kata Lais dengan tersenyum.
Akhirnya mereka dipanggil oleh Ajudan untuk segera datang ke padang Mahsyar.
Dengan jentikkannya, Ajudan sengaja merubah gaun yang dipakai Am dan Lais. Gaun itu berubah menjadi warna serba putih dan serasi antar satu sama lain.
"Bukankah seperti ini pasangan yang seharusnya?" kata Ajudan dengan tersenyum pula.
Langsung Ajudan mempersilahkan mereka untuk datang ke padang Mahsyar.
Di padang itu, terlihat menjadi banyak tumbuhan bunga. Yang berbunga dengan indahnya. Tuan yang sengaja menghiasnya. Dihadiri dengan para Malaikat sebagai saksi cinta mereka.
Lais dan Am berdiri di belakang Tuan. Tempat dimana pandangan semua itu memandang menjadi satu titik.
"Kepada Malaikat-malaikatku" kata Tuan.
"Mereka akan menikah, Ini adalah hal yang pertama terjadi di negeri Nabastala. Pasti suatu keasingan bagi kalian untuk menerimanya"
"Tapi, manusia yang berada di belakangku ini. Dia adalah anak yang sangat perhatian, patuh dan sayang kepada ibunya. Menjadikan Dia berhak atas semua ini" kata Tuan.
"Di hadapan para Malaikatku yang mulia. Bersediakah kamu menikah dengan Amfitrite selaku Dewiku wahai Lais yang terlahir dari Manusia? " kata Tuan.
Jantung Lais saat itu tak karuan dan dia sangat gemetar. Tapi Lais berusaha untuk menutupi kegugupannya.
"Saya bersedia Tuan" jawab Lais.
"Selamat kalian telah sah, dan cinta kalian telah menyatu" kata Pemimpin.
Lais menggenggam tangan Am. Am merasakan gemetarnya tangan Lais saat itu.
"Sudah selesai" bisik Am.
Seketika pandangan Lais buram, lama kelamaan pandangannya gelap gulita. Lais terjatuh dan tak sadarkan diri.
Tuan sengaja untuk menidurkannya. Lalu Tuan membantunya untuk berpindah tempat ke Bumi.
"Craaaazhhhhh"
Mereka langsung berteleportasi dan kembali di tempat tidur kamar Am.
...****************...
Waktu subuh itu membangunkan Lais yang sedang terbaring di ranjang Am.
Dibuka matanya, Mata Lais berputar ke segala arah ruangan. Dan dia mendapati Am sedang duduk di sebelahnya dan menatapnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Am.
"Kenapa tiba-tiba kita ada di sini? Bukankah kita tadi berada di Nabastala dan menikah?" kata Lais kebingungan.
__ADS_1
"Itu bukan mimpi kan Am?" tanya Lais lagi.
"Ha, ha, ha," Am terkekeh melihat expresi Lais yang kebingungan itu. Seperti layaknya orang berharap jika itu sebuah kenyataan.
Tangan Am meraih tangan Lais dan menggenggamnya.
"Iya Lais, itu kenyataan. Dan kita sudah menikah" kata Am dengan tersenyum.
Dengan wajah Am yang bagaikan bidadari itu, dan mendengar jawaban Am mendadak pikiran Lais dipenuhi dengan hawa nafsu sebagai pria. Selama ini nafsu itu dia tahan, dan akhirnya sekarang nafsu itu dapat membebaskan dirinya. Dengan ucapan pernikahan, tentu Am milik Lais sepenuhnya sekarang.
Nafsu yang membara itu mendetakkan jantungnya hingga ingin meledak. Lais gemetar, namun dia tetap berusaha terlihat tenang dan mengeskpos sewajarnya di depan Am.
Lais mulai membelai rambut Am. Tangan Am yang menggenggamnya dia balas dengan belaian berlahan dengan romantisnya.
"Am, kamu ingat dengan yang Tuan katakan?" tanya Lais dengan lembut.
"Apa?" tanya Am.
"Dia ingin kita menambah populasi yang banyak" bisik Lais.
"Ini adalah tugas baru kita" bisik Lais lagi.
Kata-kata itu diucapkan diiringi dengan wajah Lais yang semakin mendekat kepada wajah Am.
Dengusan nafas yang terdengar memburu itu sangat jelas. Membuat jantung Am berdetak pula dan membuatnya beku tanpa gerakan.
Terlihat Lais hendak mencium wajah Am. Namun saat mulut itu akan mendekat. Ponsel Lais berbunyi.
Awalnya Lais tetap ingin melanjutkan yang hendak dia lakukan. Namun bunyi ponsel itu lama kelamaan terus berisik dan mengganggu mereka.
"Triiiiiingggg!!!"
"Triiiiiinggg!!"
"Hei, siapa sih!" kata Lais kesal dan memarahi ponselnya sendiri. Dia merasa terganggu.
Saat Lais melihat layar ponselnya. Di sana telah tertulis.
"Ibu"
"Sepertinya ibu benar-benar bernaluri" gumam Lais.
Lalu Lais segera mengangkatnya.
"Halo Lais, kamu dimana semalaman tidak pulang?" tanya ibu.
"Aku, masih di rumah Am. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan bu. Jadi aku memutuskan untuk menginap" kata Lais.
"Astaga, seharusnya kamu bilang dulu sama ibu. Ibu sangat khawatir" kata Ibu.
"Iya ibu maaf Lais lupa" kata Lais.
"Ya sudah cepat pulang. Ibu ingin bilang sesuatu padamu" kata ibu.
"Iya ibu" kata Lais.
Televon itu tertutup. Kemudian Lais mempersiapkan dirinya untuk pulang.
Sebelum Lais keluar kamar, dia menatap Am.
"Maaf Am, aku harus pulang" kata Lais.
__ADS_1
"Tentu Lais, karena kamu masih milik ibumu" kata Am dengan tersenyum.
Lais mengecup kening Am dan membelai rambutnya.
"Aku akan segera kembali" kata Lais.
Am menganggukkan kepala.
3 langkah Lais akan pergi dari kamar itu. Lalu dia kembali lagi kepada Am. Lais memeluk Am lalu menciuminya. Di leher, pipi, telinga, dahi dan terakhir mulut.
"Hah,,, ini pertama kalinya aku berat untuk kembali kepada ibuku" kata Lais dengan tersenyum.
"Sudah, pergilah! Walau kita telah menikah di Nabastala. Tapi tetap Lais, kamu dilahirkan dari rahim manusia" kata Am.
"Maksudmu?" tanya Lais.
"Kita tetap meminta restu dari orang tuamu dan menikah sebagai manusia" kata Am.
"Iya kamu benar" kata Lais.
Dengan mengoyak rambut Am dan mencubit pipinya sebelah kiri. Lais melangkah mundur menuju pintu. Lais sangat berat meninggalkan kamar itu tapi di sisi lain dia harus memenuhi perintah ibunya.
"Dahhh"
"Muaacchhh" cium jauh.
Mendadak sikap Lais berubah seperti anak kecil saat itu.
Setelah melewati hutan, Lais naik mobil dan segera pulang.
...****************...
Beberapa menit kemudian, Lais sampai di rumahnya.
Lais membuka pintu rumah depannya. Terlihat semua keluarganya sedang berkumpul dengan wajah yang serius. Seperti orang yang sedang melakukan rapat Instansi.
Lais mendekat di perkumpulan tersebut. Semua mata keluarganya tertuju kepada Lais termasuk Andira.
"Ada apa?" tanya Lais.
"Duduklah!" perintah ibu Lais.
Lais mendudukkan dirinya seperti yang diperintahkan oleh ibunya.
"Lais, Ibu lihat akhir-akhir ini kamu sangat sering datang ke rumah Am" kata ibu Lais.
"Bahkan hari siangmu tak pernah berada di rumah sekali pun. Apakah ada yang kamu sembunyikan dari Ibumu Lais?" Introgasi Ibu Lais.
"Maksud ibu apa? Bukankah selama ini kalian semua tahu bahwa Am adalah partner kerjaku. Dan Aku selaku managernya" jawab Lais.
"Benar hanya itu? Tidak ada yang lain?" tanya Ibu Lais lagi.
"Kata Andira saat libur jadwal pun kamu selalu kesana" kata Ibu Lais.
Lais memandang adiknya. Akhirnya Lais memutuskan untuk berbicara pernikahan dengan Am. Dan meminta restu kepada Ibu dan Ayahnya.
Dengan mengumpulkan keberaniannya, Lais akhirnya mengutarakan perasaannya.
"Iya, itu karena saya mencintai Am ibu. Dan saya ingin menikah dengannya. Saya ingin restu dari Ibu dan Ayah" kata Lais tegas.
...----------------...
__ADS_1