Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 67: Tinggal Bersama


__ADS_3


Setelah kabar jika suami mereka telah meninggal dan jin ifrit telah meledak. Para istri tersebut membebaskan Am dan kedua tuyul itu. Mereka justru mengucapkan maaf dan terimakasih kepada mereka.


...****************...


Saat perjalanan pulang, kedua tuyul itu terus mengikuti Am. Langkah hentakan kaki mereka juga sama. Membuat Am ingin melontarkan pertanyaan kepada mereka.


"Kenapa kalian mengikutiku?" tanya Am.


"Setelah kami kehilangan Tuan kami, kami sudah tak punya tujuan untuk pulang" jawab tuyul itu.


"Lalu?" tanya Am.


"Jadikan kami pengikutmu, kami dapat melakukan apapun yang kamu inginkan, kami juga dapat membantumu" kata kakak tuyul itu.


"Em,,, biar aku pikirkan" jawab Am dengan meletakkan 2 jari nya di bawah dagu.


"Sepertinya,,,, personilku tambah dua lagi mulai saat ini" jawab Am dengan tersenyum tipis dengan melanjutkan langkah kakinya.


"Terimakasih" ucap kakak tuyul itu senang menandakan bahwa Am menerima keberadaan mereka.


...****************...


Beberapa menit perjalanan, akhirnya Am tiba di tempat dimana rumahnya seharusnya berdiri tegak.


Am membuat rumah seperti biasa dengan kekuatannya.


"Zrrrrrusshh"


Jadilah rumah megah dengan ukuran sedang itu.


Tiba-tiba terdengar suara dari balik pohon dekat rumah.


"Sudah kuduga kamu melakukannya setiap hari" kata Lais setelah melihat Am membuat rumah itu.


"Aku sudah menyadari auramu, kenapa tak cepat muncul?" tanya Am santai.


"Aku inginnya seperti itu. Lalu kenapa?" kata Lais tak mau kalah.


"Ah baiklah terserah kamu saja" kata Am dengan melangkah masuk rumah dan mempersilahkan kedua tuyul itu masuk.


Dimata Lais, kedua tuyul itu adalah 2 lelaki tampan yang seumuran dengannya.


Keberadaan kedua lelaki ini membuat hati Lais sedikit panas.


Lais mengikuti Am hingga ke ruang tengah rumah. Sementara kedua tuyul itu mereka duduk di ruang tamu.


"Darimana saja kamu selama ini?" tanya Lais.


"Siapa mereka? Kamu selama ini pergi dengan mereka bersama?" tanya Lais.


"Iya, kami dikurung 1 kamar selama 2 hari 2 malam" jawab Am.


"Apa? Dengan mereka? Lalu mereka melakukan apa padamu?" introgasi Lais.


"Mereka menolongku, kenapa kamu banyak pertanyaan akhir-akhir ini?" kata Am keheranan.


Karena Lais yang Am tahu selama ini, dia pria yang acuh dan tak banyak bicara kepada perempuan mana pun.

__ADS_1


"Aku kemarin kesini dan rumahmu tak ada. Aku hanya ingin tahu kenapa para jin sekarang tak berkeliaran lagi di mataku. Aku berfikir pasti semua ini berhubungan denganmu" kata Lais.


Lais menganggap bahwa Am telah menutup indra keenamnya.


"Aku sangat berterimakasih" ucap Lais.


"Untuk apa?" tanya Am kebingungan.


"Bukankah kamu sudah menutup indra keenamku?" tanya Lais.


"Aku belum melakukan apa-apa terhadapmu Lais" jawab Am.


"Apa? Lalu kenapa 2 hari ini aku tak melihat mereka?" kata Lais.


Entah kenapa jika kepada Lais Am tak pernah menutup-nutupi identitasnya. Mungkin karena ada aura Furqon yang terpancar pada diri Lais. Ini membuat Am kadang merasa jika cinta pertamanya hidup lagi.


"Itu karena,,, aku membunuh raja mereka" jawab Am.


"Benarkah? Lalu?" tanya Lais penasaran.


"Saat ini para jin sedang berkumpul, mungkin mereka beradu kekuatan untuk mencari raja baru" jawab Am.


"Astaga, aku kira. Tapi bagaimana ceritanya kamu sampai membunuh raja mereka? Bukankah itu sama saja kamu memercikkan api? " tanya Lais.


"Raja mereka senang sekali memakan tumbal manusia, jika tidak dibunuh, ini akan menghancurkan keseimbangan. Jadi aku harus membunuhnya" kata Am.


"Apa mereka tak akan mencarimu setelah ini?" tanya Lais.


"Aku tak tahu, mungkin bisa jadi seperti itu" jawab Am.


"Seharusnya panggil aku, biarkan aku saja yang membantumu" kata Lais dengan memandang sinis kedua lelaki yang sedang duduk di sofa itu.


"Daripada kedua lelaki itu, setidaknya aku lebih baik kan?" kata Lais.


Am hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti bantuan apa yang Lais maksud.


Saat Am akan melangkah menuju ruang tamu, Lais meraih salah satu tangan Am dan menahan langkah kakinya.


Lais menyadari bahwa selama 2 hari ini, dia merasa merindukan Am. Entah mulai sejak kapan rasa ini ada. Tapi Lais memang benar-benar mulai memiliki perasaan kepada Am.


"Am, tinggallah di rumahku" kata Lais dengan menggenggam tangan Am.


"Apa?" kata Am tak percaya.


"Iya, aku hanya tak tega kamu melakukannya setiap hari. Pasti kamu lelah kan selama ini?" kata Lais.


Am terdiam sejenak, yang dikatakan Lais memang benar adanya. Sebenarnya Am lelah karena harus membuat rumah setiap hari selama 100 tahun. Am ingin bekerja dan mengumpulkan uang untuk membangun rumah yang sesungguhnya. Namun apa daya, menangkap ikan saja tak tega untuk menjualnya. Jadi Am tak bisa mencari uang yang sesungguhnya sebelum dia dapat bekerja. Untuk bekerja pun harus memiliki ijazah, ktp, dan kk. Sebenarnya dia dapat membuatnya dengan sekejab tapi Am tak ingin ada yang curiga atas keberadaannya. Karena identitas Am yang paling utama untuk terjaga kerahasiaannya. Inilah alasan Am kenapa dia harus menjadi manusia terlebih dahulu.


"Ak, aku masih bisa melakukannya. Jadi tak perlu khawatir" jawab Am dengan halus menolak tawaran Lais.


Am harus memastikan dulu siapa sebenarnya Lais. Am tak bisa langsung percaya ke semua orang.


Mereka duduk berempat di ruang tamu. Suasana di sana hening. Am membuat cemilan karena ada manusia di sana yaitu Lais. Lais memakannya, sedangkan kedua tuyul itu duduk tegak dan sigap seperti halnya prajurit yang sedang menjaga Tuannya.


Akhirnya Lais memecahkan kebisuan yang ada di sana.


"Dimana rumah kalian berdua?" tanya Lais.


"Mulai hari ini kami akan tinggal bersama,,," kakak tuyul itu melihat arah Am baru sadar selama ini mereka tak tahu nama Am.

__ADS_1


Am menyadari tingkah mereka. Dengan percaya dirinya dia mengeluarkan kartu KTPnya.


"Coba lihat, ini namaku" kata Am dengan tersenyum bangga memperlihatkan kartu KTP barunya.


Adik tuyul itu langsung melihat kartu yang diperlihatkan oleh Am.


"Amfitrite?" kata adik tuyul itu membaca tulisannya.


"Wah,, ini keren sekali kak Am, bagaimana kakak bisa memilikinya?" tanya kakak tuyul itu melihat kartu kecil yang tampak asing dalam kehidupan mereka.


"Maksud kalian, kalian akan tinggal serumah?" tanya Lais berharap telinganya salah tangkap.


Namun saat Lais mempermasalahkan tentang tinggal serumah, ketiga makhluk itu justru merasa sibuk kagum dengan kartu kecil yang disebut KTP itu.


"Ini aku mendaftarkan diri ke Dispenduk. Jadi ini fungsinya menjadi kartu identitas dan lambang bahwa aku termasuk penduduk disini" jawab Am.


"Wah,, keren sekali" ungkap adik tuyul itu.


Mereka bertiga masih merasa takjub dan heran dengan benda kecil itu bergambar foto diri. Lais terasa makan kacang di sana.


"Hei, ada yang mendengarku? Aku tanya, apakah benar kalian akan tinggal serumah?" tanya Lais lagi dengan tegas.


"Iya" jawab Am spontan.


"Tidak boleh" kata Lais tegas.


Am terkejut dengan jawaban Lais, ada apa gerangan hingga tak mengizinkan mereka tinggal serumah dengan Am.


"Kenapa?" tanya Am.


"Iya,,, sekarang coba pikir. Apa pantas 2 lelaki tinggal serumah dengan wanita?" tanya Lais.


"Ha, ha, ha, ha, kamu tak tahu mereka siapa Lais" kata Am.


"Tinggal di rumahku saja, biarkan mereka di sini" kata Lais.


"Aku tak punya alasan untuk menurutimu Lais" jawab Am.


"Am" panggil Lais dengan tatapan tajam kepada Am.


Namun Am membalas tatapan yang tidak peduli.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ikut tinggal di sini" kata Lais.


"Apa?" kata Am.


Am berfikir sejenak setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Lais barusan. Tak terpungkiri, bahwa selama ini Lais sangat cuek kepada perempuan tetapi mendadak berubah drastis setelah tidak bertemu 2 hari.


"Kenapa dia mendadak aneh? Apa yang sudah terjadi padanya, apa kepalanya terbentur? " batin Am.


Am mengecek dahi Lais dengan tangan kanannya untuk memastikan dia tidak sakit.


"Kau tidak sedang sakitkan?" tanya Am memastikan.


Lais langsung merespon memindahkan tangan Am yang diletakkan di dahinya bagaikan dokter yang sedang mengecek pasiennya itu.


"Aku tidak apa-apa. Apa tidak boleh?" tanya Lais memastikan.


"Itu,,, terserah kamu saja. Rumahku ini menerima semua makhluk yang ingin tinggal di sini" jawab Am.

__ADS_1


__ADS_2