
Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang datang dan bertanya kepada Pustakawan tersebut.
“apakah ada yang bernama Amfitrite yang berkunjung disini?” tanya lelaki itu.
“sebentar saya cek dulu ya kak.” Kata Pustakawan.
“ah iya, dia berkunjung kesini kak. Jika kakak mau masuk tolong absen di depan dahulu ya?.” Kata Pustakawan dengan menunjuk computer didepannya.
“baik.” Jawab Furqon.
Karena Furqon pernah sekolah dia juga sedikit bisa komputer. Pheron yang sedang berhadapan dengan Am yang wajahnya mengarah ke pintu masuk. Dia mengenal siapa lelaki yang datang itu.
“Am, sepertinya ada yang menjemputmu!” kata Pheron.
“siapa?” tanya Am dengan menolehkan wajahnya kearah Pheron melihat, pelan-pelan.
Saat Am menoleh Furqon melihat keberadaan Am dengan tatapan tajam.
Pheron membalas tatapan yang dilontarkan Furqon. Akhirnya Am bangkit dari duduknya dan menyapa kedatangan Furqon.
“Furqon, kenapa kamu kesini?” tanya Am polos.
“justru aku yang harusnya bertanya. Kenapa kamu sampai sore ini tidak kunjung pulang?” tanya Furqon.
“aku hanya ingin membaca buku lebih lama.” Jawab Am.
“membaca buku atau ingin lebih lama dengannya?” tanya Furqon.
“apa maksudmu?” tanya Am.
Saat mereka bercakap Pheron hanya duduk dan membaca buku yang dipegangnya. Mendengar Pheron disangkutpautkan, membuat Pheron berdiri dan menjelaskan kepada Furqon.
“maaf menyela, dia memang ingin membaca buku disini. Dan aku disini hanya sebagai temannya. Jika tidak percaya buktinya ada dimeja. Am sendirilah yang mencari buku tersebut untuk dibaca.” Kata Pheron dengan menunjukkan buku yang sedang tertumpuk itu.
“dan satu hal lagi. Jika istrimu hendak berjalan kaki sejauh itu. Seharusnya jangan kamu biarkan dia berjalan. Tapi antar dia ketempatnya.” Kata Pheron
“aku permisi dulu.” Pheron berjalan ke arah rak buku untuk mengembalikan buku yang dipegangnya.
“istri?” kata Am yang hendak mengikuti langkah Pheron.
Namun Furqon menghentikan Am.
“biarkan saja Am. Lebih bagus jika dia menganggapnya seperti itu.” Kata Furqon.
Tapi dia sedang marah, aku hanya ingin menjelaskan padanya.
“kamu tahu kenapa dia marah?” tanya Furqon.
Am hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai tanda jawaban tidak tahu.
“dia marah karena menyukaimu.” Kata Furqon.
“apa? Aku? Bagaimana mungkin? Aku saja bukan manusia.” Kata Am.
“tapi wujudmu, cara bicaramu, dan reaksimu itu sama seperti manusia. Bahkan aku saja kadang lupa jika kamu sebenarnya…”
“ah sudahlah! Ayo kita pulang! Kata Furqon.
Furqon menarik tangan Am. Tapi Am menahannya.
“Tunggu ! bukankah aku harus bertanggung jawab atas ini kan?” tanya Am dengan menunjuk kearah tumpukan buku di meja itu.
“cepatlah!” kata Furqon.
Tiba-tiba Furqon mengambil sepertiga bagian dari tumpukan buku tersebut.
“dimana aku harus meletakkannya?” tanya Furqon dengan berjalan kaki menuju rak buku perpustakaan.
“ah iya disana!” Am bergegas mengambil buku yang tersisa lalu menjemput langkah Furqon hingga didepannya. Am menunjukkan jalan kepada Furqon.
Furqon tersenyum karena hubungannya sekarang membaik dengan Am.
(kenapa buku seperti ini terasa sangat berat ya?) batin Furqon.
Furqon menyadari jika badannya semakin hari semakin melemas.
*****
Sebelum Pheron pulang, Pheron melirik kedekatan Furqon dan Am dari kejauhan.
__ADS_1
Dan Pheron merasa jika mereka memang berjodoh.
"Sepertinya cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan.”
“Yah... bagaimana lagi?" Gumam Pheron.
*****
(kenapa Pheron menjadi marah tadi ya?, Furqon juga akhir-akhir ini juga sering marah. Dasar manusia emosinya mudah sekali berubah.) batin Am.
Pheron sudah tak terlihat disekitar Perpustakaan. Sedangkan Am dan Furqon pulang menggunakan mobil Ando yang telah dipinjam Furqon.
Saat perjalanan, tiba-tiba kuku Am bercahaya lagi.
Sementara tangan Furqon yang sedang menyetir itu gemetaran. Dalam sekejab kaki dan tangannya Furqon melemas. Hingga membuat Furqon tak dapat meneruskan untuk menyetir.
‘ckiiiiiiiiit’
Mobil itu di rem secara mendadak.
Am yang melihat kondisi Furqon. Melarang Furqon untuk menyetir lagi.
“istirahatlah dulu. Biarkan aku yang menyetirnya.” Perintah Am.
Am mengerti penyebab yang dialami Furqon.
“kamu bisa menyetir mobil?” tanya Furqon kaget.
“tentu saja bisa.” Jawab Am.
Am menggunakan kekuatannya untuk menyetir mobilnya.
“wah, ternyata malaikat juga bisa seperti ini ya? Ini benar-benar menakjubkan.” Kata Furqon.
“tentu saja. Tapi kebanyakan dari kami tidak ingin terlihat. Jadi kami selalu melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari makhluk bumi.” Kata Am.
Saat mobil akan sampai di pemukiman. Am memerintahkan Furqon untuk memegang stir mobil itu. Agar tidak ada yang curiga tentang kekuatan Am. Furqon menuruti apa yang dikatakan Am.
Sebelum sampai Rumah. Am ingin mengunjungi suatu tempat. Karena ini saat-saat terakhir baginya. Dapat mengunjunginya Bersama Furqon. Yaitu tempat dimana mereka pertama bertemu. Di pesisir laut.
“apa kamu masih kuat untuk berjalan?” tanya Am.
“ikutlah aku, aku ingin kita ke pesisir laut.” Kata Am.
Am menatap mata Furqon. Begitu juga Furqon menatap mata Am. Ada tatapan yang tulus disana.
Tubuh Am mendekat ke Furqon karena sedang menyetir mobil dengan kekuatannya . Membuat tatapan mereka sangat bermakna. Furqon mencium pipi Am yang berada di dekatnya itu.
Am membiarkan yang dilakukan Furqon tersebut. Terlihat wajah mereka saat itu memerah.
“ya, baiklah aku ikut!” bisik Furqon disebelah telinga Am.
(ini pertama kalinya Am mengatakan yang dia inginkan. Kenapa aku merasa…. jika Am akan pergi jauh.) batin Furqon.
Mobil Hitam itu terparkir di pinggir jalan terdekat menuju pesisir.
Am dan Furqon berjalan menuju pesisir bersama. Mereka saling menggenggam tangan yang erat. Dengan berjalan langkah kaki yang pelan.
“Am kenapa kamu ingin kemari? Ada apa sebenarnya?” tanya Furqon.
Suasana yang hening itu terpecah dengan pertanyaan Furqon tersebut. Furqon yang dari tadi mempunyai firasat yang tidak dia inginkan akhirnya kini dia lontarkan dengan pertanyaan.
Mendengar Furqon yang bertanya padanya. Am tidak ingin menjawabnya terlebih dahulu.
“sebentar lagi sampai, pasti pemandangannya sangat bagus.” Kata Am mengeles.
Mendengar jawaban Am, Furqon ingin diam terlebih dahulu. Dan ingin melihat setelahnya apa tujuan Am sebenarnya.
*****
‘rrrrr byur….’
Suara ombak itu terdengar, ditemani dengan angin sepoi-sepoi yang menusuk badan Am dan Furqon. Rambut Am terhempas dengan angin.
Am berdiri tepat disamping ombak laut tersebut.
“apa kamu ingat? Disini adalah tempat pertama kali kita bertemu Furqon?” tanya Am dengan menggenggam tangan Furqon.
“iya,” jawab Furqon.
“saat itu, aku sangat panik karena wujud manusiaku terlihat untuk pertama kalinya oleh manusia. Tapi kamu malah berlari dan mengejarku. Membuatku terpaksa menjawab hal yang tidak pernah aku lakukan. Aku meminta maaf atas itu.” Kata Am.
__ADS_1
“aku tahu posisimu saat itu seperti apa. Jadi tidak masalah.” Kata Furqon.
“oh ya, juga salah paham saat kamu mengurungku di kamar. Lalu aku berubah menjadi manusia juga di kamarmu akhirnya kamu salah paham dan marah padaku.” Kata Am.
“ah iya. Hahaha maafkan aku. Tidak seharusnya aku begitu.” Kata Furqon.
“tapi kan lalu aku mencarimu kemana-mana setelah itu. Tentu saja karena kamu yang nakal.” Tambah Furqon.
“aku nakal? Hei, kamu yang benar-benar kelewatan.” Tegas Am.
Mereka saling berbincang tentang perjalanan mereka dahulu. Dan saling bercanda.
Ditengah-tengah bercandanya mereka. Am terhenti dan mengingat tentang masalahnya. Wajah Am berubah drastis dari tertawa lepas sekarang menjadi terpaku dan menunduk.
(sungguh berat untukku harus meninggalkan masa-masaku ini.) batin Am.
‘tes.. tes.. tes..’
Air bening itu mengalir dari mata Am. Membasahi pipi diwajahnya. Melihat Am menangis, Furqon langsung terhenti. Lalu dia memegang wajah Am yang menunduk itu. Dengan lembut Furqon bertanya kepadanya.
“ada apa?” tanya Furqon.
“Furqon, kita harus berpisah. Kamu jangan mencintaiku. Aku mohon berhentilah.” Kata Am dengan menangis.
“kenapa? Apa alasanku untuk kita berpisah? Tentu saja tidak akan.” Kata Furqon.
“tapi Fur…” kata Am.
“syuuuut” telunjuk itu menutup mulut Am yang akan berbicara.
“jangan menangis lagi. Kamu tahukan wajahmu sangat jelek saat menangis. Membuat perutku mual saja.” Kata Furqon.
Furqon memeluk Am diiringi dengan mengelus-elus rambut Am yang sedang menangis itu.
“berat. Rasanya ini adalah pilihan yang berat Furqon.” Kata Am.
“bukankah ini yang kamu inginkan dari awal? Kenapa sekarang harus berhenti? Tanya Furqon.
“memang dulu aku menginginkannya karena dulu aku belum mencintaimu. Tapi sekarang, aku harus membuatmu berhenti demi kebaikanmu.” Kata Am.
“dengan menyuruhku berhenti apa ini memang kebaikan untukku? Apa kamu yakin Am?” tanya Furqon.
“sedangkan kamu tahu sendiri bagaimana rasanya seseorang yang sedang jatuh cinta?” kata Furqon.
“kamu tahu? Seseorang yang telah jatuh cinta, melihat yang dicintainya menangis seperti ini rasanya disini teriris. Apalagi jika dia tidak dapat kembali ke asalnya gara-gara dia. Tentu saja akan menjadi derita baginya.” Kata Furqon.
“kau tahukan aku juga orang yang jatuh cinta. Tentu saja aku tidak akan membiarkan orang yang kucinta memberikan nyawanya demi mengembalikan asalku.” Kata Am.
“tolong pahamilah posisiku.” Tambah Am.
“mulai sekarang kita jangan saling mengenal. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghentikan perasaan ini.” Kata Am.
“tidak. Aku tidak mau melakukannya.” Jawab Furqon.
“dengan seperti ini kamu akan tetap dapat hidup. Aku pun juga seperti itu. Walau aku tidak kembali. Itu bukan masalah bagiku Furqon.” Kata Am.
“Am ayolah jangan seperti ini.” Kata Furqon.
“pulanglah Furqon. Aku tidak bisa kembali.” Kata Am.
“tidak, aku menjemputmu agar dapat membawamu pulang.” Kata Furqon.
“tolong Furqon. Kumohon.” Pinta Am dengan menolehkan wajahnya.
“Amfitrite.” Panggil Furqon.
“bagaimana bisa aku.. meninggalkanmu.” Tambah Furqon.
“pergi! pergi Furqon. Nyawamu tinggal 3 kekuatan. Jangan kamu berikan padaku lagi. Kumohon pergilah Furqon.” Ucap Am.
Furqon teguh dengan pendiriannya akhirnya dia menggendong Am dengan paksa.
“hei, apa yang kamu lakukan?” kata Am kaget.
“tentu saja menggendongmu.” Jawab Furqon.
...----------------...
Tinggalkan Jejak kalian disini dengan like, coment, Favorit, Gift, atau Vote ya...
Terimakasih 🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1