
Semua orang terlihat berkumpul dan sedang memakai baju hitam.
Di tempat kubur, ibu Furqon berdiri bersama Am. Sedangkan bapak Furqon masuk ke lubang kubur untuk memasukkan jasad anaknya. Begitu juga Ando sahabatnya.
Awalnya Ando tak percaya dengan kabar ini. Namun dia memastikan ternyata kabar itu benar adanya. Betapa kaget Ando sahabatnya sejak kecil kini sedang berbalut kain kafan di hadapannya. Tak menyangka dan semua terjadi secara tiba-tiba.
Am yang sedang berdiri bersama ibu Furqon, merasakan keberadaan malaikat Mungkar dan Nakir. Tepat di bawah tanah yang sedang berwujud seekor cacing tanah, Mereka menunggu untuk menghampiri jasad yang baru di kuburkan itu.
"kamu bukan termasuk orang yang terkena siksa kubur Furqon. Itu membuatku merasa lega." batin Am dengan tersenyum.
Am mendengar percakapan mereka.
"Nakir, bukankah manusia ini tidak memiliki catatan apapun setelah umurnya 10 tahun? tapi umurnya seperti bukan 10 tahun saat dilihat sekarang." kata Mungkar.
"dia adalah manusia yang pernah dinaungi kekuatan malaikat karena kesalahan salah satu kaum kita. Jadi saat takdirnya meninggal umur 10 tahun. Setelah itu dia telah dianggap mati. Walau dia hidup dengan kekuatan itu." kata Nakir.
"begitukah? jadi dia termasuk manusia yang beruntung. Karena di usia 10 tahun tak ada dosa baginya sebelum dia baligh." kata mungkar.
"iya kamu benar. Dia manusia satu-satunya yang pernah memiliki cinta murni kepada salah satu kaum kita." kata Nakir.
Setelah Furqon dimakamkan, semua orang telah pergi kecuali Am, ibu dan ayah Furqon.
Mereka masih tak percaya dengan apa yang terjadi kepada anaknya.
Setelah beberapa waktu, setelah ibu Furqon meluapkan semua kesedihannya. Akhirnya mereka pulang.
Langkah kaki kami menuju pulang sebanyak 7 langkah.
Saat berjalan pulang, Am mendengar pertanyaan Mungkar Nakir kepada Furqon.
"man robbuka? Siapa Tuhanmu?"
"ma dinuka? Apa agamamu?"
"man nabiyyuka? Siapa nabimu?"
"ma kitabuka? Apa kitabmu?"
"Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu?"
"man ikhwanuka? Siapa saudaramu?"
Sedangkan saat kami pulang, di rumah Furqon banyak sekali para polisi datang untuk menyelidiki kasus Furqon.
Am yang kehilangan Furqon. Merasa bersalah dan teringat jika dia berada di dalam rumah Furqon.
Kemudian Am memutuskan untuk pergi dari rumah.
Am membereskan barang-barangnya yang ada di sana.
Besoknya Am pamit pergi kepada ibu dan bapak.
__ADS_1
Terlihat 3 orang di sana sedang duduk di ruang tamu.
"ibu, bapak, terimakasih selama ini telah memberikan kesempatan kepada Am untuk tinggal di sini. Am meminta maaf jika Am memiliki kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja. Setelah ini, Am mohon izin kepada bapak dan ibu untuk pergi dari sini." kata Am.
"Am kenapa tidak tinggal di sini saja? kamu bisa menemani ibuk di rumah." kata ibu Furqon.
"maaf ibu, bukannya Am menolak untuk tetap tinggal. Namun... jika Am tinggal di sini Am akan teringat dengan Furqon." kata Am.
"jika itu keputusanmu Am, baiklah silahkan. Tapi jika suatu saat kamu ingin kembali. Kembalilah! pintu rumah kami selalu terbuka untukmu." kata bapak Furqon.
"terimakasih bapak, ibu. Am pamit dulu." kata Am.
"tunggu nak, di dapur ada beberapa nasi. Bawalah untuk bekalmu ya nak." kata ibu Furqon.
"seperti inikah rasa memiliki keluarga?" batin Am.
Mendengar perhatian ibu Furqon, hati Am merasa tersentuh.
"baiklah ibu." jawab Am dengan tersenyum.
Ibu membawakan beberapa makanan kepada Am. Memang Am tidak pernah merasa lapar, tapi dia ingin menghargai apa yang diberikan oleh ibu Furqon.
Sore itu semua telah siap. Am melangkahkan kakinya keluar. Terasa kakinya saat itu sangat berat untuk melangkah. Namun ini adalah caranya untuk menghapus rasa bersalahnya.
Tempat yang pertama tujuan Am sebelum meninggalkan desa Furqon adalah pesisir laut.
Di sinilah perjalanan Amfitrite sebagai seorang Dewi akan dimulai.
Menoleh ke kanan, dia teringat kenangan atas awal dari pertemuan dia dan Furqon. Saat bulan purnama bersinar, di situlah awal mereka bercakap-cakap sebagai sesama manusia.
Beberapa renungan yang dilakukan Am.
"Tak semua yang kita sayangi akan selalu berada di sisi kita. Karena sejatinya semua adalah milik Tuhan semesta." gumam Am.
Matahari mulai terbenam. Am masih terduduk di situ. Hingga malam menjemput.
Tiba-tiba Petir itu menghambar laut.
"craaaaaaaaaash"
Setelah petir itu menghambar laut, muncullah Ajudan dari pemimpin.
"Tuan ingin aku menjemputmu Amfitrite." kata Ajudan.
"baiklah." jawab Am.
Am mengikuti Ajudan yang berwujud petir itu. Sedangkan Am berubah menjadi seekor merpati.
Setelah perjalanan ke Nabastala. Dan sampai di sana. Am mengikuti Ajudan ke arah ruangan pemimpin.
"masuklah!" kata Ajudan.
Am masuk ke ruangan pemimpin.
__ADS_1
"saya memenuhi panggilan Tuan." kata Am.
"selamat atas keberhasilan misi mu Amfitrite. Sekarang kamu dapat kembali." kata pemimpin.
Am terdiam dan tak ada wajah senang pada dirinya.
"saya tidak ingin kembali Tuan. Maafkan saya." kata Am.
Mendengar jawaban Am pemimpin merasa kaget.
"apa maksudmu Amfitrite?" kata pemimpin.
"saya tidak ingin kembali menjadi malaikat Tuan. Tuan telah mengetahuinya jika saya selalu melanggar UU Nabastala. Jika Tuan berkenan, izinkan saya untuk menetap di bumi dan menolong makhluk yang membutuhkan pertolongan." kata Am.
"Amfitrite." pekik pemimpin.
Mendadak pemimpin merasa geram karena keputusan yang dibuat oleh Am.
"Ajudan, suruh malaikat yang tak tahu diri ini keluar dari ruanganku." kata pemimpin.
Ajudan menghampiri Amfitrite.
"saya akan keluar Ajudan." kata Amfitrite.
Saat Am keluar dari ruangan, Am menyadari mungkin ini adalah hal terakhir dia datang ke Nabastala. Dengan menunggu Rei untuk membuka gerbang kembali, Am berkeliling sebentar di sana.
"Tuan." kata Rei.
"aku tidak habis pikir dengan malaikat yang satu ini Rei. Apa aku melenyapkannya saja bersama dengan saudara-saudaranya?" kata pemimpin.
"lebih baik Tuan coba tanyakan dulu pada Tuhan Tuan. Bagaimana baiknya." kata Ajudan.
"Tidak... dia memang pantas untuk tidak kembali lagi kesini. Usir dia dari Nabastala Rei!" Titah pemimpin.
"baik Tuan." kata Rei.
Akhirnya Rei keluar dari ruangan pemimpin. Lalu dia menghampiri Am yang sedang melihat sekeliling Nabastala di sana.
"Am kamu harus segera pergi dari sini." kata Ajudan.
"hah, walau tak kamu suruh pun aku akan pergi Rei. Cepat bukakan gerbang Nabastala untukku." kata Am.
Am sangat marah dengan kematian Furqon. Ini membuatnya semakin membenci tentang peraturan malaikat. Dan tak mau lagi menjadi malaikat.
Ajudan membukakan gerbang Nabastala untuk Amfitrite pergi.
...----------------...
Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.
Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.
Terimakasih... 🤗🤗🤗
__ADS_1