Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 59: Marahnya Setan Dasim


__ADS_3


👣👣👣👣👣


"Tek, tek, tek, tek"


Lais tak merespon pertanyaan dari Am. Dia melanjutkan langkah kakinya ke depan.


"Hei, aku bertanya padamu bagaimana kamu bisa melihat sosok kuntilanak yang lewat tadi?" tanya Am.


"Jangan berpura-pura tak mendengarku" tambah Am.


Lais tetap melangkahkan kakinya.


"Ternyata aku salah, dia tak seperti Furqon. Bahkan dia sangat menyebalkan" batin Am.


"Hei, kau" tambah Am.


Lais hanya menolehkan wajahnya. Dia melihat Am sedikit mempercepat jalannya.


"Dimana rumahmu?" tanya Lais.


"Cukup di sini saja kamu mengantarku, terimakasih" kata Am dengan terus mempercepat langkahnya.


Namun Lais tetap mengikutinya. Hingga Am masuk ke dalam hutan.


Sebenarnya Lais sempat ragu. Tanpa berfikir panjang Lais tetap mengikuti Am di belakangnya.


Am mengetahui keberadaannya Lais.


"Sudah ku bilang cukup di sana, kenapa masih mengikutiku?" tanya Am dengan berjalan kaki.


"Aku hanya ingin melihatmu selamat" jawab Lais.


Mendengar ucapan Lais tadi, lagi-lagi membuat Am mengingat apa yang pernah diucapkan Furqon dulu. Saat mereka bertemu di pesisir di bawah bulan purnama. Furqon mengucapkan kalimat hampir sama seperti yang diucapkan Lais tadi.


"Kamu tidak takut dengan hutan yang seram ini?" tanya Am.


"Sebenarnya agak takut, tapi tekadku ingin melihatmu selamat lebih besar dari rasa takutku" kata Lais.


"Lalu bagaimana kamu akan kembali jika kamu takut?" tanya Am.


"Aku akan berlari, walau mereka sangat banyak di sini" kata Lais.


Am melihat ke sekelilingnya memang banyak jin yang sedang beraktifitas.


Tiba-tiba Am berputar kembali ke jalan yamg tadi mereka lewati.


"Kenapa kembali?" tanya Lais.


"Sepertinya kamu lebih membutuhkan untuk diantar daripada aku" jawab Am.


"Hei tapi," kata Lais.


"Kembalilah, tidak perlu mengantarku. Aku sudah berterimakasih dari sini" jawab Am memotong perkataan Lais.

__ADS_1


"Bagaimana dengan amanah dari ibuku? Aku disuruh untuk mengantarmu" tanya Lais.


"Dia menyuruhmu memgantarku, bukankah aku sudah kamu antar?" kata Am.


"Iya" kata Lais.


Mereka sampai di pinggir jalan lagi.


"Terimakasih telah mengantarku" kata Am.


Am langsung masuk ke hutan lagi. Melihat penolakan Am membuat Lais semakin penasaran padanya.


"Meski kamu memiliki kekuatan yang besar, tetap berhati-hatilah" kata Lais khawatir.


"Iya" jawab Am dengan melanjutkan langkahnya.


Sebelum pulang, Lais melihat Am hingga keberadaan Am tak nampak lagi. Kemudian Lais kembali ke rumah dengan memasukkan tangan ke dalam kedua saku celananya.


"Gadis yang aneh, memang sepertinya bukan manusia biasa" batin Lais.


...****************...


Karena setan Dasim tidak terima dengan peringatan Am saat di rumah Andira waktu itu, dia pergi ke Nabastala saat bulan Purnama. Lalu ingin melaporkan apa yang telah dilakukan oleh Am.


Terlihat semua malaikat di sana sedang berkumpul. Setan Dasim melantangkan suaranya.


"Hei Ajudan yang dibanggakan Tuan, dimana Tuanmu? Aku ingin berbicara sesuatu padanya" kata setan Dasim dengan sombong.


Ajudan langsung menanggapi kedatangan setan itu.


"Sepenting apakah dikau hingga berani kesini? Tuanku yang mulia tak bisa bertemu dengan asal semua makhluk" jawab Ajudan dengan lantang juga.


"Apa maksudmu?" tanya Ajudan.


"Mana Tuanmu dulu, aku tak mau mengulang kata-kata ku dua kali" kata setan Dasim.


"Dasar tak sopan" jawab Ajudan.


Di tengah perdebatan setan Dasim dan Ajudan, Tuan pun muncul.


"Aku mencium aroma yang bukan kaumku di sini" kata Tuan.


"Apa yang membuatnya berani kemari?" kata Tuan.


"Hei Tuan, salah satu kaummu berani-beraninya dia ikut campur dengan urusanku saat aku menggoda manusia" kata setan Dasim.


"Apakah setakut itukah kalian hingga melakukan hal demikian?" kata setan Dasim.


"Apa katamu? Takut?" kata Ajudan tak terima mendengar ucapan setan Dasim.


"Ha, ha, ha, ha, bukankah kaummu lah yang takut akan kekalahan? Hingga memberikan kekuatan kalian kepada manusia yang kalian sebut kotor itu?" kata Tuan.


"Hah, kami tak akan melakukan demikian jika dia tak diberi anugrah kekuatan oleh Tuhan" jawab setan Dasim.


"Maka dari itu kalian merasa takut bukan? Dan menjadikan alasan kalian untuk menggunakan cara itu" kata Tuan.

__ADS_1


"Kami tak takut, dari kelahiran kami memang bersumpah untuk menyeret manusia itu ke dalam kegelapan. Jadi apapun cara kami, itu bukan hak kalian untuk ikut campur" kata setan Dasim.


Semua malaikat di sana hening dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" bisik Ajudan.


"Am" jawab Tuan lirih kepada Ajudan.


"Dia tak bersalah Dasim, jika dia mempengaruhi pikiran dari manusia itu, baru itulah kesalahan. Jika dia hanya memberimu peringatan, itu bukanlah kesalahan" jawab Tuan.


"Saya tidak terima Tuan, ini tidak adil bagi kami" kata Dasim.


"Tuhan sudah adil, adil tidaknya itu tergantung rasamu sendiri" kata Tuan.


Tuan pun masuk setelah menjawab pernyataan Dasim.


Dasim pun semakin marah menggebu-nggebu dengan apa yang terjadi.


Hasratnya untuk mengelabuhi manusia semakin besar karena setelah kejadian ini.


"Lihat saja! akan ada banyak perceraian di muka bumi setelah ini, ha, ha, ha, ha, ha" kata Dasim saat perjalanan kembali ke bumi.


...****************...


Am berdiri di pesisir laut bersama hembusan angin yang menerpa rambutnya yang lurus itu. Dengan memejamkan matanya, Am teringat posisi Furqon saat mati di sini.


Dengan seketika Am membuka matanya dan terbelalak. Bagi Am rasa bersalah ini begitu dalam. Dan rasa bersalahnya ini membuat siksaan baginya.


Di dalam renungannya, tiba-tiba Am mendengar suara rintihan seorang istri yang diceraikan oleh suaminya.


"Mas, tolong jangan ceraikan saya bagaimana dengan nasib anak-anak jika kita berpisah" kata istri tersebut.


"Seharusnya kamu berfikir terlebih dahulu sebelum kamu tak mau patuh padaku" ucap suami.


"Ak, aku melakukannya karena memiliki alasan, kenapa kamu tidak ingin mengerti?" jawab istri tersebut.


"Tuhkan kamu membangkang lagi, sudahlah sepertinya memang cukup di sini" kata suami itu.


Di tengah-tengah pertengkaran mereka, Am melihat setan Dasim sedang melakukan segala cara untuk membuat mereka bertengkar. Am juga melihat beberapa malaikat yang kwalahan dengan pikiran manusia itu.


"Astaga, kenapa imam itu tak memiliki suatu *konsistensi di kepalanya? Seenaknya saja menceraikan istrinya setelah dia puas bermain-main dengannya" batin Am.


"Hah" Am menghela nafas*.


Setelah mereka benar-benar berpisah, setan Dasim tertawa dengan riangnya.


"Ha, ha, ha, ha, lihatlah! kaum kalian pasti akan kalah" kata setan Dasim.


Setelah itu, Am menghampiri ibu itu dengan wujud Dewinya.


"Menangislah,,,, hatimu akan merasa lebih tenang setelahnya" bisik Am kepada istri tersebut.


Istri itu menangis dengan sangat dalam untuk meluapkan segala emosinya yang terpendam.


"Sekarang apa keinginanmu? Akan aku kabulkan untukmu dengan izin Tuhan" bisik Am.

__ADS_1


Istri tersebut menengadahkan kedua tangan, lalu dia berdo'a. Dalam do'anya berisi Dia ingin anak-anaknya sukses kelak.


"Ini adalah do'a yang paling mujarab, saat hati seseorang dalam keadaan paling rendah dan tak berdaya" kata Am.


__ADS_2