
Setelah menemani istri itu semalaman, Am kembali ke rumahnya.
Pagi itu Lais berangkat ke sekolah. Biasanya Lais lebih suka berangkat sekolah dengan berjalan kaki dari pada naik sepeda. Beda sama adiknya, Andira lebih suka naik sepeda gayuh saat berangkat ke sekolah. Kakak beradik itu memang selalu berbeda. Di sekolah, Lais merupakan murid teladan di sekolahnya. Dia pintar, jenius, tak pernah terlambat selama dia sekolah namun cuek. Sedangkan adiknya sering kesiangan, suka main hp saat jam kelas, dan supel.
Saat Am perjalanan menuju pulang, tak sengaja Lais melihat Am lewat dalam keadaan sedang memakai seragam sekolah.
"Am" batin Lais.
"Apa yang sedang dia lakukan?" batin Lais.
Lais hanya melihatnya lewat.
Lais ingin memanggilnya, tapi Lais masih kaku untuk melakukan demikian karena ini pertama kalinya dia penasaran dengan seseorang. Akhirnya suara panggilannya tersangkut di tenggorokan dan tak jadi keluar.
" Ah,,, biarkan saja, kenapa aku jadi ingin mengetahuinya?" kata Lais.
Dengan sikapnya yang tak ingin peduli Lais mempercepat langkahnya untuk berangkat ke sekolah.
...****************...
Seperti biasa, Am membangun rumah dengan kekuatannya.
Karena Am tak memiliki rasa kantuk dan lelah, akhirnya dia keluar lalu pergi ke dasar laut. Dan melihat-lihat pemandangan di sana. Dengan wujudnya sebagai air, Am menikmati healingnya keliling lautan.
Terlihat di sana banyak sekali batu karang, rumput laut, alga merah, dan ikan-ikan yang berenang ke sana kemari.
Saat Am duduk di sebuah batu, beberapa kelompok ikan menghampiri Am. Dan bercakap dengannya
"Wahai utusan Tuhan, apakah engkau membutuhkan nyawa kami lagi sekarang? Kami rela memberikannya padamu" kata salah satu kelompok ikan di sana.
"Tidak, saya ke sini hanya ingin melihat-lihat. Aku sudah tak ingin mengambil nyawa kalian demi kepentinganku. Maafkan aku pernah egois atas hidup kalian." kata Am.
"Meski demi kepentingan atau bukan, kami merasa terhormat jika nyawa kami engkau minta wahai utusan Tuhan" kata ikan-ikan itu.
"Betapa mulianya hati kalian wahai ikan, hati kalian penuh dengan kerelaan dan penerimaan. Aku pastikan nyawa ikan di sini semua akan kembali ke tempat yang indah di sisi Tuhan" kata Am.
"Terimakasih atas doanya, sebuah kehormatan bagi kami mendengar kalimat itu dari seorang utusan Tuhan" kata ikan-ikan tersebut.
Am tersenyum melihatnya.
...****************...
Waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Merupakan tanda bahwa kelas telah selesai dan masuk ke jam istirahat.
"Teng, Teng, Teng" bunyi bel.
Semua murid di sekolah terlihat sedang berhamburan keluar dari kelas.
"Waktunya ke kantin" teriak salah satu teman Lais.
Sedangkan Lais, masih duduk di bangkunya. Lais tipe yang tak terlalu banyak bicara, tampan dan pintar. Namun hal inilah alasan yang membuat Lais banyak di kagumi oleh murid perempuan lainnya. Baik teman sekelasnya maupun luar kelas.
__ADS_1
"Em, Lais! Maaf mengganggu sebentar, sebenarnya aku ingin bertanya tentang pelajaran matematika yang ini. Aku benar-benar masih belum faham dengan rumusnya" kata Helena yang merupakan salah satu teman sekelasnya Lais yang memiliki perasaan terhadap Lais.
Kemudian Lais mengambil satu bolpoin dan menulis keterangannya di buku Helena tanpa sepatah kata pun yang terucap.
Setelah selesai, Lais langsung berdiri dan meninggalkannya.
"Lais, maksudnya ini apa?" tanya Helena bermaksud menahan langkah Lais yang akan pergi.
"Do, kamu jelaskan padanya ya?" perintah Lais ke Aldo yang juga teman sekelasnya.
"Aku? Kenapa?" tanya Aldo.
Lais tak menjawab pertanyaan Aldo dan melangkah terus keluar.
"Hazz, dasar anak itu selalu saja" gumam Aldo.
"Hei, Helena sini aku ajarin kamu!" kata Aldo lagi.
"Duh, kenapa jadi kamu sih! Nggak jadi dah! " kata Helena kecewa.
"Ha, ha, ha, ha, Kasian sekali kamu Do, ngajarin aja ditolak apa lagi nembak?" ejek Anton pada Aldo.
"Diem kamu cunguk! Yang penting kan niatku baik, daripada si Lais, bisanya nyuekin cewek" kata Aldo.
"Ha, ha, ha, sabar ya Do, dengan muka kita yang pas-pas an ini, pasti nanti kita akan dapat cewek yang tulus mencintai kita kok" kata Anton.
"Ngomong apa an sih lo? Stres ya?" kata Aldo.
...****************...
Saat Lais membuka pintu toilet, Lais menyiapkan dirinya matang-matang lalu memejamkan matanya sebentar.
Bagi Lais toilet adalah tempat yang buruk dari sekian ruangan sekolah. Karena di sini memang tempatnya para jin.
Lais memasuki pintu, ada jin di pojok ruangan. Saat di ruang kencing juga ada sosok jin di sana, membuat Lais cepat-cepat ingin pergi dari sana.
Setelah dari toilet, Lais pergi ke kantin untuk membeli makan siang.
Saat Lais datang di kantin, semua mata perempuan yang ada di sana tertuju kepada Lais. Salah satu gerombolan cewek yang makan di meja kantin membahas tentang ketampanan Lais.
"Wah,,, lihat dia tampan sekali. Bagaikan keturunan sang surya"
"Eh, denger-denger tidak ada satu pun cewek yang bisa mendekatinya selama ini"
"Dia benar-benar mengagumkan, andai saja aku jadi istrinya mungkin aku akan menyimpannya di kamarku dan biar aku saja yang bekerja"
"Hei, emang dia mau digitukan?" kata salah satu perempuan yang sedang makan bareng di meja kantin.
"Boro-boro digitukan, sama kamu aja dia pasti nolaknya wkwkwkwk" canda salah satu di kelompok meja itu.
Walau telinga Lais samar-samar mendengarnya, Lais tak merespon apapun.
Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan Lais telah datang. Lais membawa makanan itu. Kemudian dia memakannya di sebuah bangku yang ada di bawah pohon dekat kantin.
__ADS_1
"Penglihatan ini benar-benar mengganggu hidupku" gumam Lais.
Tiba-tiba Lais teringat dengan Am.
"Dengan kekuatannya yang seperti itu, pasti dia dapat membantuku" gumam Lais.
Lais melanjutkan makan siangnya.
...****************...
"Triiiing" suara pesan masuk ponsel Andira.
Pesan itu tertulis tentang panggilan untuk saudara Am telah dapat mengambil e-ktp di dispenduk.
"Tok, tok, tok" suara ketukan pintu.
"Ada apa ib,,," suara Andira terhenti setelah melihat orang yang mengetuk pintu kamarnya.
Andira tak menyangka, yang mengetuk pintunya adalah kakaknya.
"Kakak, ada apa? Kenapa tiba-tiba? Aku tidak sedang bermimpi disiang bolong kan? " tanya Andira.
"Emang kamu sedang tidur sekarang? Lihat badanmu saja sedang berdiri tegak sekarang" jawab Lais.
"Ya aneh saja baru kali ini kakak mengetuk pintuku" kata Andira.
"Kamu temannya Am kan?" tanya Lais.
"Iya, kenapa? Jangan-jangan Kakak tertarik pada kak Am ya?" ledek Andira.
"Hei, hati-hati kalau bicara" jawab Lais.
"Lalu apa? Ini pertama kalinya loh kakak menanyakan perempuan" kata Andira.
"Iya emang sih... Kak Am itu cantik sekali, tak heran jika cowok secuek kakak bisa suka padanya" tambah Andira.
"Ngomong apa sih? Haz kau ini, sudahlah" kata Lais lalu hendak melangkah pergi.
"Minggu besok aku mau ke rumah kak Am lo, sekalian nganter ktp kak Am yang sudah jadi dari dispenduk" sindir Andira.
Mendengar itu Lais menghentikan langkahnya.
"Jika kamu kesana harus kakak Antar, bahaya perempuan melewati hutan seram seperti itu sendirian" kata Lais.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" gumam Andira.
"Benarkah kak, kakak mau mengantarku minggu besok?" tegas Andira.
"Iya" jawab Lais lalu melanjutkan langkahnya tadi.
"Astaga,,, kenapa kebetulan sekali, apa kakak benar-benar menyukai kak Am?" gumam Andira.
"Baiklah" jawab Andira dengan suara lantang.
__ADS_1
Mendengar jawaban adiknya Lais tersenyum.