Sang Dewi Merpati

Sang Dewi Merpati
BAB 24: PERTEMUAN AM DAN PHERON


__ADS_3


Pheron dan Am berjalan menyusuri Perpustakaan. Menuju buku yang berisi Novel dan dongeng rakyat.


“aku seperti pernah melihatnya disebelah sini.” Kata Pheron dengan melihat lihat rak buku yang ada di depan.


“ini dia ketemu. Cerita apa yang akan kamu cari Am?” Tanya Pheron.


“cerita tentang dua makhluk yang saling jatuh cinta namun mereka berasal dari dunia yang berbeda.” Kata Am.


“hahaha mendengarmu seperti itu, membuat aku jadi teringat tentang drama Gumiho. Bagaimana jika ini. Putri Duyung?” kata Pheron dengan menyodorkan buku dongeng itu.


Am melihat gambar di buku itu, dan menurutnya itu sangatlah terlalu indah. Karena Am adalah malaikat penjaga dan penguasa laut. Dia mengetahui semua isi lautan. Termasuk putri duyung.


“manusia menggambarkan mereka sangat cantik sekali.” Kata Am.


“mungkin karena dia adalah seorang putri jadi dia sangat cantik.” Kata Pheron mengandai-ngandai.


“memang terkadang ada yang cantik tapi hanya ada satu dengan perbandingan seribu. Padahal mereka pemalu sekali dan jarang sekali pergi ke permukaan laut. Darimana manusia bisa tahu keberadaan mereka.” Kata Am.


“sepertinya kamu sangat mengenal mereka Am. Lalu kamu tahu bahwa mereka pemalu sekali itu darimana?.” Tanya Pheron.


“ah tentu, karena memang aku mengenal mereka.” Kata Am.


“ya ya ya. Baiklah terserah kamu saja. Kamu mau baca atau tidak?” Tanya Pheron.


“iya, berikan aku tiga buku lagi. Yang mempunyai cerita yang sama.” Kata Am.


“baiklah sepertinya ada seorang kutu buku disini.” Kata Pheron dengan melirik Am dan meraba-raba buku di rak itu.


“bagaimana jika novel Twilight. ini juga The Sorcerer and The White Snake. Manalagi ya,,? Em… “ kata Pheron.


“kamu yakin dapat membaca buku setebal itu semua?” Tanya Pheron.


“ya.. tentu, jika ada novel yang menceritakan tentang malaikat dengan manusia.” Kata Am.


“kalau itu… bagaimana jika You’re My Angel. Bukunya tidak berada disebelah disini. Sebentar saya coba Tanyakan pada pustakawan. Tunggu disini! Jangan kemana-mana.” Kata Pheron.


Pheron berlari menuju pustakawan untuk menanyakan keberadaan buku tersebut. Sementara Am berdiri dan mulai membuka buku cerita putri duyung yang dipegangnya.


Am berdiri dan membolak-balik halaman buku di samping rak buku. Dari kejauhan Pheron melihatnya. Seperti seorang bidadari yang sangat mempesona dengan pantulan lampu di atasnya. Membuat wajah Am terlihat manis dengan alami. Pheron merasa kagum.


“sudah cantik, suka membaca buku. Idaman sekali.” Gumam Pheron dengan tersenyum.


“Am, disana!” panggil Pheron yang berjarak 50 meter dari tempat Am berdiri.


Am langsung bergegas menghampiri Pheron dan mengikutinya dari belakang. Setelah beberapa langkah, Pheron terhenti disalah satu rak buku sana. Pheron melihat dan meraba-raba buku dirak tersebut. Dia mencari novel yang berjudul you’re my angel. Melihat Pheron yang sedang mencari buku, Am juga demikian. Kemudian Am melihat tulisan yang berada di sisi buku.


“You’re My Angel.” Diantara keheningan dan kesibukan tangan mereka suara Am tiba-tiba terlontar.


“yah, itu buku yang saya maksud.” Ucap Pheron.


“Terimakasih Pheron, saya akan membacanya. Maaf telah merepotkan.” Kata Am.


“tunggu! Kamu mau membaca dimana?” Tanya Pheron.


“di tempat yang nyaman aku untuk membaca pastinya.” Kata Am.

__ADS_1


“kalau begitu kita bersama saja. A.. aku juga mau membaca buku.. em… ini. Aku akan membaca buku ini.” Dengan memilih buku yang asal, Pheron menjadikan alasan untuk menemani Am membaca.


“baiklah mari.” Kata Am.


“bagaimana jika kita duduk disana.” Ucap Pheron.


“bukan ide yang buruk.” Kata Am.


Mereka duduk di salah satu bangku perpustakaan. Am benar-benar penasaran dengan cerita yang telah dibukukan oleh manusia. Disisi lain dia juga berharap dapat menemukan penyelesaian dari masalahnya dengan Furqon.


Waktu terus menjelang sore. Am terus membaca buku yang tertumpuk itu. Pheron yang membuka buku tapi tak membacanya melihat Am yang sedang membaca dengan berkala. Melihat Am yang sangat antusias tentang buku yang dibacanya membuat Pheron memiliki pertanyaan dibenaknya.


“Am, sebenarnya apa yang membuatmu ingin membaca buku seperti ini?” Tanya Pheron.


“aku hanya mencari jawaban Pheron.” Kata Am.


“jawaban apa?” Tanya Pheron.


“jawaban apapun yang aku butuhkan sekarang.” Kata Am, sengaja mengelak agar tidak menjawab tentang identitasnya.


“hari sudah semakin sore. Kamu butuh waktu setidaknya lima jam untuk menyelesaikannya. Apa kamu tidak akan pulang? Sebentar lagi perpustakaannya juga akan tutup.” Kata Pheron.


“tutup? Bagaimana ini aku harus menyelesaikannya sekarang juga.” Kata Am.


“bagaimana jika kamu meminjam buku yang belum terbaca saja dulu. Lalu kamu kembalikan jika sudah selesai membacanya.” Kata Pheron.


“apakah boleh?” Tanya Am.


“tentu.” Kata Pheron.


Am berfikir karena waktunya menjadi manusia hanya dalam tiga berikutnya.


“iya boleh tapi batas maksimal peminjaman hanya lima buku Am.” Kata Pheron.


“jadi kurang empat buku yang harus dicari lagi.” Kata Am.


“empat buku. Baiklah. Tunggu disini akan aku carikan.” Kata Pheron.


Pheron berjalan menuju rak buku lalu menoleh pada Am.


“untuk menghemat waktu. Kembalikan buku yang telah kamu baca ya Am.” Kata Pheron.


“iya siap” kata Am tegas.


Pheron bergegas mencari buku yang menceritakan kisah cinta dari alam berbeda. Beberapa menit kemudian Pheron mendapatkannya. Lalu mereka mendata diri untuk peminjaman buku.


“silahkan isi form ini.” Kata Pustakawan.


Am menerima Form itu. Kemudian dia menulis yang harus tertulis. Namun ada sesuatu Am yang belum mengerti.


“no. hp? Apa ini?” Tanya Am.


“kamu tidak memiliki hp?” Tanya Pheron terkejut.


“tidak.” Kata Am.


“astaga, aneh. Padahal hp itu menjadi barang wajib yang harus punya loh. Apa rumahmu seterpencil itu hingga tidak memilikinya?” kata Pheron meledek.

__ADS_1


“sudahlah tidak perlu di isi.” Kata Am.


“ini adalah hal yang wajib di isi.”


“Baiklah isi saja no. hp ku.” Kata Pheron.


“lain kali jika kamu menjadi istriku akan aku belikan.”


“bercanda.” Kata Pheron.


Kebetulan di form peminjaman mewajibkan no.hp harus diisi sedangkan Am tidak memiliki Hp. Akhirnya no.hp Pheron yang diisikan. Setelah itu, Am pamit pulang kepada Pheron.


“terimakasih atas bantuannya. Akan saya usahakan mengembalikan secepatnya.” Kata Am.


Wajah Pheron menengadah keatas langit. Dia melihat bahwa hari semakin malam.


“dimana rumahmu Am?” Tanya Pheron.


“aku tinggal di dekat pesisir.” Kata Am.


“astaga, bukankah itu jauh dari sini dan terpencil menyusuri hutan. Kamu sendiri kesini?” Tanya Pheron.


“iya aku sendiri, jangan khawatir. Aku sudah biasa berjalan.” Kata Am.


“kamu kesini tadi berjalan? Tidak kubiarkan kamu pulang berjalan lagi Am. Ayo aku antar.” Kata Pheron.


“bukannya menolak. Tapi aku sudah cukup merepotkanmu tadi. Jadi selama aku dapat melakukan aku ingin tidak merepotkan siapapun.” Kata Am.


“sama saja itu namanya menolak. Repot apa sih.enggak sama sekali. Malah aku akan kepikiran jika tidak mengantarmu Am.” Kata Pheron.


(dipikir-pikir memang jarak rumah Furqon kesini memang jauh. Kakiku terasa lelah. Tidak apa-apa kan hanya mengantar) pikir Am.


“baiklah kalau memang kamu memaksa.” Kata Am.


“tunggu disini.” Kata Pheron.


Pheron mengarah ke parkir perpustakaan. Dia mengambil mobil warna merah yang merk ferari.


“naiklah.” Kata Pheron.


Karena Am tidak pernah naik mobil dia tidak tahu cara membuka pintu.


“bagaimana caranya aku naik?” Tanya Am.


Mendengar pertanyaan Am. Pheron langsung cekatan membukakan pintu mobilnya.


“duduklah.” Kata Pheron.


Am masuk ke dalam mobil sesuai perintah Pheron. Kemudian Pheron menginjak gas mobilnya bergerak dengan sangat hati-hati.


Sedangkan Furqon yang tengah menunggu Am pulang terlihat sangat gelisah. Karena Am tak kunjung pulang hingga larut malam.


“kemana dia kenapa belum kembali?” gumam Furqon.


...----------------...


Tinggalkan jejak kalian dengan like, coment, gift atau vote.

__ADS_1


Setiap sentuhan tangan kalian sangat berarti.


Terimakasih... 🤗🤗🤗


__ADS_2